Merah

1559 Words

Begitu Nada turun dari mobil, kegelapan itu langsung seketika terlihat. “Walah, pantesan...!” Aren yang menyusul turun menatapnya penasaran. “K-kenapa, Nad? Ada apa?” Yang ada di hadapan mereka adalah sebuah rumah di perkampungan yang berwujud mungil dan nyaris tanpa pekarangan. Pintu rumah langsung berhadapan dengan gang, hanya menyisakan sedikit ruang di depan untuk menaruh sepeda motor—sore itu mungkin Pak Irfan sudah pulang dari kantor. Gangnya pun sempit. Hanya cukup dilewati satu mobil, makanya lalu dibikin satu arah untuk kendaraan roda empat. Dinding rumah itu dicat hijau muda, dengan kusen pintu dan jendela dicat hijau tua. Dari luar saja sudah terlihat bahwa rumah Aren tak terlalu nyaman ditempati. Atapnya sedikit terlalu rendah, yang bisa terasa bagai neraka saat hawa panas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD