Radit

1964 Words
Benar juga. Cowok ini ganteng. Alisnya tebal. Wajahnya lebar sehingga terlihat galak dan tegas. Dan dagu yang kukuh itu pasti bagus andai dibiarkan ditumbuhi berewok tipis-tipis. Meski begitu Nada tak lama mengamati secara khusus saat anak itu ditempatkan Pak Basri di depan white board. Kalau ganteng lantas kenapa? Laki-laki yang tampan dan tegap plus tajir seperti Om Gading pun belum tentu berkelakuan bagus. “Anak-anak, ini ada murid baru, pindahan dari Bandung,” kata Pak Basri memperkenalkan. “Namanya Radit. Biar lebih akrab, biar dia sendiri yang kenalan sama kalian. Ayo, Radit, perkenalkan dirimu!” Satu lagi yang tak disukai Nada dari murid baru itu adalah raut wajahnya yang nampak seperti selalu dingin, ketus, dan jutek. Bahkan saat mengangguk dan tersenyum sopan pada wali kelas pun kesan tak positif itu masih nampak nyata. Dan memang betul. Saat ia mengamati anak-anak sekelas, sorot matanya tak seperti murid anyar yang butuh bersikap baik dan beradaptasi, melainkan seperti atlet mixed martial arts hendak bertanding! “Nama saya Radit. Lengkapnya Raditya Mahadewa. Di kelas X dulu saya sekolah di SMA Negeri 6 Bandung, lalu pindah ke Solo mengikuti orangtua yang dipindahtugaskan. Orangtua saya seorang PNS,” ia lalu tersenyum dipaksa lalu ke arah Pak Basri. “Sudah, Pak.” “Ya sudah. Kamu langsung duduk aja! Pelajaran jam pertama langsung kita mulai,” Pak Basri lalu mengedarkan mata mencarikan tempat duduk bagi Radit. Berkonsep modern dengan satu kelas hanya dihuni 20 murid membuat tempat kosong berlimpah. Banyak murid, terutama cowok-cowok, duduk nomaden tanpa partner tetap. Banyak juga yang lebih suka duduk seorang diri menguasai satu meja. Dan entah kenapa mata sang guru sejarah lantas mampir ke Nada. Pasti karena anak itu duduk di bangku terdepan. “Aren mana, Nad?” “Ikut Bu Siwi, Pak. Ada lomba debat bahasa Inggris di Akpol Semarang.” “Kamu duduk di situ dulu!” kata Pak Basri kemudian, pada Radit. “Itu Nada, murid paling rajin di sini. Nanti kenalan sendiri aja!” Radit mengangguk. “Baik, Pak.” Cepat sekali cowok itu sampai di meja Nada, bahkan sebelum Nada sempat bereaksi. Bukan apa-apa. Ia mau-mau saja duduk sebelahan dengan lawan jenis. Hanya saja ia tak terlalu memfavoritkan sosok Radit yang seperti kelupaan belum diajari orangtuanya soal perlunya bersikap ramah di depan orang lain. Mata anak itu sama sekali tak singgah lama pada Nada. Jangankan mengajak jabat tangan dan kenalan, sekadar menatap lekat saja tidak. Radit hanya melirik Nada sekilas, lalu duduk dan segera sibuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya. Dia seperti barang yang disimpan terlalu lama di lemari es! Sama sekali berlawanan dengan penjelasan di buku-buku dan brosur traveling bahwa Indonesia dihuni warga masyarakat yang ramah tamah dan baik budi. Sesaat kemudian suara keras menjurus cempreng Pak Basri sudah membuka kegiatan belajar-mengajar hari itu. Topik pembahasan jam itu adalah mengenai awal mula imperialisme dan kolonialisme Eropa. Nada tak kunjung membuka buku diktatnya pada halaman paling akhir yang dibahas dalam pertemuan sebelumnya. Ia malah memperhatikan Radit yang sibuk merogoh dan membolak-balik tasnya. “Nyari apa?” dan ia heran sendiri mengapa ia masih berbaik hati untuk bertanya duluan. “Bolpoin. Masa lupa kubawa...?” “Di bagian paling bawah, deket struk-struk MikroMart.” Radit melotot. Nada juga. Dan kemudian tangan cowok itu merogoh-rogoh makin dalam sebelum dengan gerakan lamban menarik sesuatu dari dalam tas: bolpoin warna biru beserta beberapa helai struk tak terpakai. “Buset! Lo paranormal ya?” Nada meneguk ludah. Speechless. Astaga! Itu tadi omongan siapa? Ia tidak merasa sengaja mengatakannya!   ***   Nada mengedarkan mata ke area food court. Dan satu kali lambaian tangan dari meja di tengah-tengah sana membuat langkah kakinya bergegas mantap. Itu Aren, yang berkulit hitam manis dan bermata bening. Cukup untuk membuat gadis itu tetap utuh sebagai makhluk cewek manakala tengah mengenakan baju unisex. Aren memang tomboi. Dan rambut yang dipotong pendek membuat orang-orang yang tidak awas memperhatikan kulit serta mata kerap keliru memanggilnya “Mas”! “Bu Siwi mana?” tanya Nada dan ikut duduk sambil mengeluarkan ponsel dari tas. “Nggak ikut ke sini. Cuman nurunin aku di depan situ tadi.” “Anak-anak debat juga nggak ada yang ikut turun?” Aren menggeleng. “Mereka mau langsung pulang. Kalau aku kan udah janji sama Bapak dan Ibu mau jalan-jalan ke mal.” “Mereka udah berangkat?” “Baru siap-siap. Kita masih sempat nongkrong dulu bentar, lalu muter-muter ke Gramed sampai para ortu tiba. Mama kamu juga mau ke sini, kan?” “Iya. Kan harus ada yang bayarin saat aku beli buku nanti.” Aren tertawa. “Sana, pesan dulu! Aku sih udah.” Nada melihat sekilas pada gelas besar berisi cola float yang dihadapi Aren. “Nggak makan?” “Ntar aja sama ortu. Sekarang belum lapar. Tapi kamu kalau mau makan ya terserah. Jangan nggak enak sama aku!” Nada mengedarkan pandang ke deretan gerai makanan yang ada di food court. “Aku ngemil aja, ah.” Ia bangkit, meluncur ke sebuah gerai batagor yang mendeklarasikan diri sebagai asli Bandung. Urusan batagor beres, ia berpindah ke gerai jus buah untuk memesan jus jeruk. Saat menunggu nota dibuat petugas gerai, sebuah tepukan kurang ajar di pundak mengagetkannya. “Nggak sama Mama, Nad?” Nada seketika ingin jadi atlet mixed martial arts. Itu Om Gading, agaknya juga ingin pesan jus. “Eh, oh... enggak, Om,” meski begitu, demi kesopanan terhadap orang dewasa, ia terpaksa menghadirkan senyum basa-basi. “Saya sama teman.” Duh, jangan sampai orang ini tahu nanti Mama akan ikut ke sini. Dia pasti ikit duduk bareng Nada dan Aren, menunggu sampai Mama datang nanti! “Cowok apa cewek?” Om Gading langsung mengedarkan pandang. “Cewek. Teman sebangku.” “Oh, kirain sama pacarmu.” Nada tertawa lagi. “Enggak punya pacar.” “Ah, mosok? Bohong kamu ya? Anak secantik kamu pasti banyak yang naksir. Tinggal pilih mana yang paling sreg. Persis seperti mama kamu tuh.” Sreg untuk dimasukkan tempat pembuangan akhir! Namun tentu saja itu cukup digemakan dalam hati. Nada mengakhiri siksaan dengan meminta diri sesopan mungkin. Lagipula nota pembayaran ke kasir sudah di tangan. “Salam buat mama kamu ya!” Nada mengangguk sesopan mungkin. “Iya, Om.” Tapi bohong! Dan saat balik lagi ke meja sesudah melakukan pembayaran dan membawa nampan berisi semangkuk batagor dan segelas jus jeruk segar, suasana roman mukanya terbaca Aren. “Ada apa? Kok mukamu kayak naga mau nyembur gitu?” “Aku ketemu Om Gading di counter jus. Nyebelin tuh orang! Sok akrab tepuk-tepuk pundak.” “Loh, namanya ayah tiri kan harus bisa akrab sama putri tiri.” Nada melotot. “Aku sembur beneran ni! Pake jus!” Aren ngakak. Ia lalu malah mendului Nada dalam hal mencicipi batagor. “Eh, tapi beneran dia sekarang udah resmi macarin mama kamu?” Nada menyejukkan hatinya terlebih dulu dengan mengunyah bakso bersaus yang memang bercitarasa tak mengecewakan. “Tauk tuh. Kayaknya sih iya. La chatting-annya di WA udah mesra gitu. Kayak kita  para ABG aja. ‘Hai lagi apa?’, ‘Udah makan belum?’, ‘Aku kerja dulu ya’. Baru aku tahu, orang tua-tua kalau lagi cinta-cintaan ternyata sama absurdnya dengan anak kecil penganut cinta monyet!” Aren ngakak lagi. “Dan di sss selalu Om Gading yang pertama komen tiap kali mama kamu bikin status. Di IG juga.” “Iya. Nyebelin banget! Herannya, Mama kok ya mau sama cowok kayak gitu.” “Dia ganteng, tau! Dan tajir juga. Kalau sukses jadi papa tirimu, minimal kamu dibeliin Lamborghini.” “Bukan itunya, Dodol! Aku tuh curiga Om Gading itu playboy. Dan Mama cuman salah satu dari sekian banyak pacarnya. Mama dimanfaatin karena smart dan cantik. Bahkan aku curiga sekarang ini dia ada di sini juga dalam rangka ketemu sama pacar-pacarnya yang lain.” Nada otomatis celingukan, mencoba menemukan bayangan Om Gading di sesela sekian banyak pengunjung Solo Grand Mall sore ini. “Tahu dari mana Om Gading punya banyak pacar?” Nada tertegun. Iya juga ya? Dari mana? Apa kasusnya sama dengan ketika tadi dia tiba-tiba saja langsung bisa mengimbangi obrolan Benu tentang si murid baru? Padahal jelas kemarin sore ia tengah naik bus patas AC jurusan Semarang-Solo! “Firasat perempuan,” katanya kemudian, pada akhirnya. “Kurang kuat tanpa bukti. Atau seenggaknya dari laporan seseorang yang beneran tahu. Eh, gimana tadi si murid baru? Beneran ganteng ya?” “Mayan lah. Tadi dia duduk di bangkumu, berhubung kamu pas nggak ada.” Aren membelalak. “Serius? Trus kalian udah kenalan belum?” Nada menggeleng. “Buat apa? Orangnya dingin gitu.” “Dingin?” “Iya. Muka datar terus, cemberut terus. Kayak nggak bisa senyum sama sekali. Kenalan sama yang model gitu bakal makan hati. Dan untung besok dia sudah minggat ke bangku lain.” “Nggak kayak Nathan ya? Dia kan ramah, untuk ukuran seorang seleb sekolahan.” “Tadi pagi aku tabrakan sama dia. Pas dia bawa buku-buku, trus buku-bukunya mencelat semua. Ada yang masuk selokan dekat koperasi.” Kehebohan Aren membuat Nada menceritakan kejadian tadi pagi. Namun ia skip dulu bagian misteri mengenai siapa sang penabrak sesungguhnya. Ia justru lebih sibuk mencermati reaksi Aren. “Kok kamu antusias gitu? Naksir Nathan ya?” Punggung Aren tegak. “Apa? Aku? Naksir dia? Idiiih, enggak lah! Fans dia kan bejibun! Aku nggak mau ntar di-bully cewek-cewek fans garis keras dia!” Nada memasang wajah datar. “Lo kira ini film teen romance, di mana si cewek culun protagonis disiksa geng cewek populer anggota cheerleaders gara-gara naksir si cowok ganteng tajir kapten tim basket!?” Aren ngakak. “Ya nggak juga. Cuman tahu diri aja. Dia kan kayak artis. Lah aku? Cuman sejenis cewek antah berantah yang kerap salah dikira mas-mas.” Bunyi panggilan telepon membuat perhatian Nada teralih. Saat piring batagornya diseret Aren, ia memungut ponsel di meja. Ada nomor tak dikenal meneleponnya. “Ya, halo?” “Halo, bener ini Nada ya? Nada Aurelia? Ini aku, Nathan, yang tadi nabrak kamu.” Nada melongo. “I-iya. Ada apa, ya?” “Apa kamu lagi di Grand Mall, di food court? Aku lihat ada cewek mirip kamu lagi duduk bareng Mas-mas. Si Mas pakai kemeja kotak-kotak.” Nada menatap Aren sekilas, sebelum celingukan lagi ke segala arah. “Lah, kamu lagi di Grand Mall juga?” “Iya. Aku barusan naik lewat eskalator deket food court pas lihat cewek mirip kamu. Jadi itu beneran kamu?” Mata Nada seketika mampir ke eskalator. Tentu sosok Nathan sudah tak terlihat lagi di sana. “Iya. Aku di food court, bareng Aren, teman sebangkuku. Dan dia memang pakai baju kotak-kotak. Tapi dia Aren. Cewek, woy! Bukan Mas-mas!” Aren mendelik kepo namanya disebut-sebut. Dan di seberang sana Nathan tertawa. “Oalah, dia cewek to? Kirain Mas-mas, hahaha…!” “Aren cewek. Asli. Hari ini dia nggak masuk karena ikut Bu Siwi lomba debat bahasa Inggris di Semarang. Ini baru balik, janjian ketemu di sini. Aku langsung kemari dari sekolah.” Aren heboh menggoyang-goyang siku Nada. “Itu siapa?” tanya dia, berbisik. Nada tak sempat menjawab pertanyaan itu karena ada pertanyaan lain dari Nathan. “Kalian masih lama gak di situ?” “Masih. Sampai malam. Ortu dia dan ortuku ntar mau nyusul ke sini.” “Oke deh. Ntar aku gabung kalian. Ini aku mau ke toko tanteku sebentar, lantas ke food court. Atau ntar kita nongki di tempat lain. Ada kafe bagus di lantai dasar.” Nada menyanggupi ajakan itu sebelum menutup ponsel. “Siapa itu? Kok namaku disebut-sebut…?” dan Aren masih kepo. “Ini, si Anu…” “Anu siapa?” “Jangan ke mana-mana! Ntar kukasih tahu namanya sesudah pesan-pesan berikut ini!” Nada bangkit dan beringsut meninggalkan meja. “Aku ke toilet dulu.” Aren meringis. “Ish… apaan sih?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD