Nada duduk. Suasana kafe sangat hangat dan nyaman. Di luar sana, kesibukan kota Paris terlihat apik dan menyenangkan. Semacam berada di satu negeri dongeng yang terlalu indah sehingga tidak realistis.
“Hai, aku Dayu.”
Gadis itu duduk. Cantik sekali. Rambutnya pirang. Asli. Wajahnya eksotik, campuran antara darah Eropa, Melayu, dan Oriental. Ia mengenakan rok terusan old fashioned berwarna hijau muda. Sebentuk bros berwarna hijau tua berbentuk kupu-kupu tersemat di d**a kirinya.
Nada menerima uluran jabat tangan gadis itu, yang sepertinya berumur dua atau tiga tahun di atasnya.
“Aku Nada.”
“Ya, aku tahu.”
“Oh, iya. Sepertinya kita pernah bertemu di dalam kotak tisu.”
“Yang jelas aku sudah menemukanmu..”
“Menemukanku? Apanya yang ditemukan?”
“Kekuatanmu, Nad.”
“Aku tidak punya kekuatan apa pun, selain bisa lihat hantu dan arwah penasaran. Aku cuman anak indigo biasa aja.”
“Keindigoanmu itu adalah bagian dari kekuatan itu. Apa yang kamu punya jauh lebih besar dari itu semua. Nanti kau akan belajar menemukan dan menggunakannya.”
“Di mana?”
Dayu tersenyum. “Bisa di mana saja. Itu tak terikat tempat, secara geografis. Karena semua telah masuk tataran nisbi.”
Alis Nada berkerut. “Apa pula itu nisbi? Aku nggak mudeng.”
Dayu tertawa. “Tenang! Nanti kamu juga akan tahu dan mudeng semuanya. Ini nanti akan menjadi hal terpenting dalam hidupmu.”
“Lebih penting dari tugas sekolah?”
“Jauh lebih penting. Begitu kau masuk, kau akan lupa pada sekolah. Dan lagipula, kau tak akan memerlukannya lagi.”
“Bagaimana kalau aku dimarahi guru?”
“Yang marah sama kamu akan disiram kuah gule kambing.”
“Lalu besok bagaimana? Ban motorku bocor. Perlu renang.”
“Mulai besok pelajaran sudah akan dimulai. Dengar, amati, rasakan! Semuanya akan jauh lebih dari yang bisa dijangkau pancaindera dan penalaran wajar.”
“Kenapa?”
“Tunggu saja! Sambil nunggu, kita main badminton, di All England. Pakai jurus dropshot Grasshopper.”
Tiba-tiba mereka sudah bermain badminton kejuaraan All England di National Indoor Arena, Birmingham. Nada bersimbah peluh. Kedudukan 20-14 untuknya. Championship point! Jika menang, ia akan membawa pulang hadiah berupa blender.
Nada terbangun. Ia mendengar suara azan subuh di masjid di seberang lapangan bola. Ia menghembuskan napas lewat mulut.
Mimpi yang aneh. Ia tak ingat apa-apa. Hanya saja ia tahu itu tadi aneh.
***
“Nad! Nada!”
Suara itu membuat Nada menoleh dan berhenti tepat di gerbang depan SMA Negeri 29 Surakarta. Di antara puluhan murid lain yang tengah berbondong-bondong melintasi gerbang, ia bisa dengan jelas melihat Benu tergopoh sedikit berlari mendatanginya.
Wajah anak itu berkeringat. Bagus. Berarti dia sudah sehat.
“Kok jalan kaki? Motormu mana?”
“Di rumah. Lagi malas naik motor.”
Mereka berjalan bersisian. Sesekali badan Benu menyenggol Nada saat ada rombongan murid yang bergegas dan tak sengaja mendorongnya.
“Trus kamu berangkat naik apa ini tadi?”
“Diantar mamaku.”
“Pulangnya?”
Nada mengacungkan ponsel. “Panggil ojek dong.”
“Oh, kirain...”
Nada tahu, Benu pasti hendak menawari tumpangan pulang. Bukan sekali-dua anak itu melakukannya, tiap kali mata berbinar saat tahu ia tak bermotor ke sekolah. Kali ini entah kenapa Benu diam saja.
“Eh, thanks yang kemarin ya,” kata anak itu kemudian. “Bener katamu. Begitu semalam aku ganti puter Obituary dan Demigod pakai headset, demamku langsung sembuh. Kayaknya mereka beneran berhenti menggangguku.”
“Tentu saja. Dan mereka senang karena kemauan mereka dipenuhi. Tapi daripada muter musik-musik serem kayak gitu, kenapa enggak K-pop aja? Terutama lagu-lagu ballad yang dari soundtrack-soundtrack drakor itu. Kalau lagunya slow dan mellow, pasti nggak akan ada yang terganggu karena berisik.”
Benu meringis seperti baru saja ditawari makan laba-laba.
“Aku nggak doyan K-pop. Kalau kamu, pasti koleksimu kayak gitu semua ya?”
Nada tersenyum simpul. “Nggak juga sih. Aku suka musik apa aja. K-pop juga, kalau emang cocok sama telingaku.”
“Eh, yang kuomongin kemarin sore beneran loh.”
Nada membelalak. “Jadi bener dia bakal masuk kelas kita?”
“Iya. Aku dikasih tahu Karin. Karin denger dari Ellen, sepupunya. Si Ellen kan anaknya Pak Basri wali kelas. Dia lihat daftar absen terbaru kelas kita, yang untuk hari ini nanti. Di situ sudah ada nama Raditya Mahadewa. Nah, pas Karin investigasi nama itu di sosmed, si Radit ini ganteng bukan main. Dunia kalian para cewek pasti bentar lagi bakal heboh. Kamu juga!”
“Ih, enggak lah. Aku nggak bakal gampang histeris lihat cowok ganteng. Tapi kenapa ya dia pindahnya ke sini nggak pas awal tahun ajaran kemarin? Kenapa kok baru sekarang setelah dua bulan masuk tahun ajaran baru? Nanggung kan?”
“Ntar tanyain aja ke dia kalau udah agak kenal. Dia pasti naksir kamu, Nad, soalnya kamu glowing.”
Nada mendelik. “Aku apaan?”
“Glowing,” Benu sedikit tersipu. “Kamu apa lalu ke salon habis dari rumahku kemarin sore?”
Spontan Nada meraba kedua pipinya. Ia juga tersipu, karena sepertinya baru kali pertama ini ada lawan jenis memuji penampilannya.
“Glowing dari Hongkong? Aku cuman pake sabun muka punya Mama.”
“Yah, pokoknya kamu akan bikin si murid baru naksir nanti. Kita tunggu aj...”
Kalimat Benu terputus saat mereka membelok melintasi koridor tepat di depan kios koperasi sekolah. Ia berteriak karena Nada memekik terkejut, dan mendadak jagad belantara dipenuhi buku-buku yang beterbangan kacau. Lalu satu sosok bayangan tegap mencelat sejadinya dan nyungsep menabrak tempat sampah besar hingga jatuh bergulingan meninggalkan suara berisik.
Anak-anak menoleh dan tertawa. Konyolnya, tak seorangpun yang bergegas mendekat untuk membantu anak itu berdiri.
Nada menutup mulut yang ternganga. Buset! Itu Nathan. Dan hanya dia yang bergegas sedikit berlarian mendekat.
“Ya, ampun! Ya, ampun! Maaf, nggak tahu...! Nggak lihat. Maaf.”
Nathan yang berbadan atletis menjurus kekar dan berkulit bersih mirip pemain sinetron itu buru-buru berdiri sambil sibuk membersihkan seragamnya.
“Aku yang minta maaf,” katanya. “Kamu nggak papa? Tadi aku lari-lari. Takut telat. Disuruh Bu Tira ngumpulin buku LKS anak-anak sekelas, udah ditunggu di ruang guru.”
Nada melongo. “Loh, bukannya aku yang nabrak kamu, Kak?”
Nathan menggeleng. “Bukan. Aku lari-lari dan nabrak kamu, pas di ujung barusan. Kamu nggak papa, kan? Ada yang lebam, lecet, patah tulang? Tadi nabraknya kenceng banget.”
Nada menggaruk tengkuk dan sibuk memandangi tubuhnya sendiri.
“Aku nggak papa kok. Eh, itu, buku-bukunya!” ia menatap ke arah lain dan menuding.
Nathan mendelik. “Waduh!”
Belasan buku jatuh berceceran kacau balau di seputaran koridor. Beberapa di antaranya masuk selokan kecil dan tercelup air kotor. Benu dan beberapa anak lain bantu mengambil semuanya satu demi satu. Nathan berlarian memunguti buku-buku di selokan. Nada juga.
Dan baru beberapa menit kemudian semua beres lalu dikembalikan ke Nathan. Masih syok menjurus linglung karena tergesa-gesa, anak itu berlarian menuju ruang guru sambil masih sempat melakukan pengecekan pada kondisi Nada sekali lagi.
“Kok aneh...?” gumam Benu, saat kemudian mereka sudah mendekati telundakan menuju kelas XI-IPA-2 di lantai atas.
“Aneh apanya?”
“Kan barusan Nathan yang nabrak kamu. Kenapa malah dia yang nyungsep sampai nabrak-nabrak gitu?”
Nada terpaku mematung tepat di kaki telundakan. Mata menatap lekat Benu.
“Serius dia yang tabrak aku? Kayaknya justru aku yang nabrak dia pas di belokan tadi.”
“Enggak, Nad. Dia yang nabrak kamu. Dan wajar karena dialah yang lari-lari kesusu, bukan kamu.”
Nada melihat lagi tempat sampah besar itu tadi, yang sudah kembali ditegakkan anak-anak. Dan untung isinya sudah dibersihkan Pak Gatot petugas cleaning service sekolah.
“Kenapa malah dia yang jatuh?” gumamnya.
“Nah, itu dia. Padahal Nathan kan atlet. Pas kelas XI dulu dia kapten tim basket. Dia juga atlet karate, dan sering ikut panjat tebing sama mendaki gunung.”
“Mosok sih?”
“Iya. Harusnya kan kamu yang kelenger dan bahkan mungkin gegar otak. Lawan-lawan tim SMA 29 di lapangan basket aja pasti mencelat tiap kali tabrakan sama Nathan. Ayo! Kenapa malah berhenti di sini? Aku belum fotokopi PR fisikanya Aren.”
“Duluan aja! Aku mau ke WC.”
Benu mengangguk, lalu berlarian menaiki telundakan.
Nada membelok menuju toilet siswa yang berlokasi tepat di bawah telundakan. Sepi sekali saat ia masuk. Baunya segar. Pak Gatot memang istimewa. Sejak ia direkrut ke situ, aroma sekolah mirip mal—atau minimal kayak rumah sakit. Sudah tak ada lagi bau tak sedap di toilet, terutama dikarenakan cowok-cowok yang malas menyiram bekas air seni mereka. Karena rutin diperiksa dan dibersihkan, aroma toilet selalu melegakan hati.
Dan mood yang baik membuat Nada sempat menengok ke cermin di depan wastafel sebelum masuk bilik kloset di toilet cewek. Apa maksud Benu tadi menyebut ia glowing? Apa anak itu mabuk?
Tapi belum lagi ia sempat menaruh perhatian pada rupa wajahnya pagi ini, sesuatu menyentaknya dan membuatnya sesaat susah bernapas.
Baru ia kembali teringat bahwa sore kemarin, sesudah bertemu Benu dan ibunya, ia menjalani pengalaman yang begitu khusus. Ia tak bersama Benu lagi hingga senja, saat menyadari sepeda motor dan tasnya bisa kembali secara misterius ke rumah.
Jadi dari mana ia mendadak tahu soal murid ganteng bernama Radit yang menurut rencana akan jadi anggota baru kelas mereka tak lama lagi?
Nada melongo berkacak pinggang di depan wastafel, lama sekali. Seorang murid kelas X masuk bilik. Saat keluar lagi, ia melihat Nada masih tetap ada di posisi sama, padahal ia cukup lama pipis dan membersihkan diri di dalam bilik toilet tadi.
Murid itu menatap bengong sambil lewat di belakang Nada, lalu ngacir ketakutan. Tak jadi cuci tangan.