Mama

1425 Words
Nada menyerahkan uang Rp 10 ribu pada sang tukang ojek, dan ia tak heran ketika pria berkumis tebal itu tak menampakkan gejala akan memberikan uang kembalian. Tarif ojek pangkalan dari gerbang utama perumahan ke rumahnya di Blok D biasanya adalah Rp 9 ribu. Susahnya adalah, saat kita membayar dengan uang lebih, terutama 10 ribuan, uang susuk alias kembalian yang Rp 1.000 tak pernah diserahkan—kecuali beberapa pengojek yang kenal baik sama Mama sejak dulu. Sayangnya, atau untungnya, ia sedang tak peduli itu semua sekarang ini. Yang penting sekarang sudah sampai di rumah, apalagi ini sudah sangat sore. Matahari sebentar lagi tenggelam. Ia tak tahu persis ini jam berapa, karena ponselnya sudah mati kehabisan baterai sejak tadi. Power bank ada di tas tentu saja, yang masih ada di kamar Benu, jadi ia tak bisa langsung mengisi daya saat baterai sekarat. Itu pula sebabnya tadi ia terpaksa berpindah dengan cara manual: naik angkot dari tempat bus luar kota menurunkan penumpang ke Griya Permata dan kemudian disambung dengan ojek pangkalan. Agak repot tentu saja, tak sepraktis menggunakan taksi atau ojek daring. Tak apa-apalah. Sudah merupakan suatu karunia ia bisa tiba kembali dengan selamat di tempat ini sesudah menempuh perjalanan satu setengah jam lebih dari Semarang. Dan dengan penyebab yang tidak lazim. Dengan badan lelah dan lengket, ia melangkah sedikit gontai menuju pintu depan. Carport kosong. Mama belum pulang. Memang tadi pagi Mama bilang baru akan tiba di rumah selambatnya pukul 19 dan seawalnya sebelum magrib, karena pesawat dari Bandung baru berangkat pukul 16. Dan baru pada momen seperti inilah ia mengagumi Mama yang selalu berpikiran taktis. Mengantisipasi keadaan-keadaan darurat, entah apa, Mama waktu itu membuat duplikat kedua dari kunci rumah. Kunci original dipegang Mama sendiri, sedang duplikat pertama ada padanya. Salinan kedua diletakkan di bawah pot bunga berukuran sedang di pinggir beranda. Saat mencetuskan gagasan itu, Mama sendiri belum bisa menggambarkan kira-kira keadaan darurat apa saja yang membuat mereka bakal memerlukan kunci ketiga. Sekarang baru Nada mengerti. Mama memang jenius sejati! Ia menarik napas lega saat mengangkat pot itu dan menemukan anak kunci di baliknya. Kunci kedua sudah pasti masih ada di tasnya, dan akan sangat melelahkan apabila harus kembali ke rumah Benu dulu untuk mengambil benda itu. Nanti saja ke sana, selepas magrib. Ia bisa bilang ke Mama bahwa ada tugas yang harus digarapnya bersama teman-teman. Nada melintas masuk dan langsung menghidupkan AC di ruang tengah. Ponsel mati ia taruh di meja makan. Ia tunda dulu kebutuhan untuk mengisi daya baterai. Yang lebih urgen adalah menenggak sebotol penuh air dingin dari dalam kulkas. Ia sudah setengah jalan menuju prestasi itu saat telinganya mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah. Mungkin itu Mama. Dan untungnya Mama tiba di rumah lebih lambat darinya. Andai tidak, pasti ia ditanya-tanya dari mana saja sampai bisa pulang setelat ini. Dan ia akan terpaksa mengarang-ngarang lagi, sebagaimana yang tadi sukses ia lakukan pada Dayu. Ia taruh botol air di meja, lalu beringsut mengintai keluar lewat jendela ruang tengah, tepat di tempat sofa panjang berada. Nada penasaran karena itu bukan suara Toyota Rush milik Mama. Kemungkinan Mama langsung pulang naik taksi daring dari Bandara Adisumarmo, tidak balik dulu ke kampus. Namun dugaannya salah. Sopir taksi daring tak mungkin membuat Mama berlama-lama mengobrol seperti itu. Mama sudah keluar dari mobil sambil membawa cukup banyak tas belanjaan. Bukannya langsung masuk, Mama malah bersandar pada jendela depan kiri mobil itu sambil bicara dan tertawa-tawa. Dan demi melihat ekspresi tawa Mama yang penuh binar, Nada langsung tahu siapa yang duduk di sisi kemudi meski sosoknya tak terlihat dari sini. Pasti Om Gading. Siapa lagi? Dan hanya dia satu-satunya makhluk di planet ini yang mau menyisihkan kesibukan seperti apa juga demi Mama. Sore ini tentu untuk menjemput Mama di bandara dan mengantarnya pulang. Nada sudah duduk menghadapi meja dan kembali menenggak air saat Mama masuk. Dan binar mata penuh kejora itu masih ada pada Mama. “Sama Om Gading, Ma?” tanya Nada kemudian, dengan intonasi yang susah dibilang bahagia. “Iya. Dia pas lagi di bandara, ketemu klien. Ya udah, sekalian antar Mama pulang. Besok Mama ngantor terpaksa pake taksi. Udah makan belum? Nih, Mama bawa gudeg Jogja khas Bandung. Rasanya nggak semanis gudeg yang di sini.” “Udah tadi,” Nada menyahut pendek, sebelum melintas masuk kamar untuk ganti baju. Anak itu muncul lagi dengan sudah mengenakan baju rumahan—kaos ketat tanpa lengan warna kuning cerah dan celana pendek biru tua. Meski faktanya memang sudah makan siang, ia tak tahan juga untuk tak mengecek semua bawaan Mama dalam tas-tas plastik itu. Semua berlogo Bandung. Berarti tak satu pun yang merupakan hadiah dari Om Gading. Mama sendiri kemudian malah menggelesot di sofa dan cengar-cengir sendiri menatap ponsel. Pasti sedang chat dengan teman-temannya di grup alumni SMA, atau dengan Om Gading. Lintasan pemikiran mengenai nama terakhir itu membuat kepala Nada panas dan butuh pendinginan. Tahu-tahu saja, gudeg di dalam kardus sudah acak-acakan oleh perilaku tangannya yang bahkan lupa belum ia basuh di wastafel. Dan benar kata Mama, rasanya memang cenderung asin gurih, bukan manis total seperti gudeg di sekitar sini. “Loh, katanya udah makan. Kok masih ganas di depan gudeg?” tahu-tahu Mama sudah ada di sisi Nada, mengacak-acak rambut putri semata wayangnya itu dengan gemas. “Lapar lagi,” sahut Nada, kembali singkat dan padat. “Kamu ada les dadakan lagi?” Mama lalu duduk dan menenggak air dari botol yang tadi Nada ambil dari kulkas. “Kok barusan masih pakai baju seragam?” Sekilas Nada mengamati mamanya. Pada usia 36 tahun, Mama memang masih nampak segar seperti cewek ABG—atau mahasiswi semester awal. Kulitnya yang bersih langsat masih kencang. Juga tubuh masih ramping tanpa masalah, mirip bentuk biola, atau gitar Spanyol. Tak jarang, saat keluar berdua dan bertemu kenalan baru, Nada kerap dikira adik Mama. Dan lebih sering lagi orang-orang tak dikenal salah mengira Mama sebagai mahasiswi baru. Tak aneh Mama cukup populer. Di medsos, semua yang Mama lakukan selalu berbuah likes dan komen hingga tiga ratusan biji. Akun Twitter dan Instagramnya sudah memiliki pengikut pada hitungan di atas 10 ribu. Para pria bahkan berondong sibuk caper. Dan itu diperkuat lagi oleh profesi Mama sebagai dosen sekaligus ilmuwan fisika terapan di Universitas Negeri Sebelas Maret alias UNS. Cowok mana yang tak suka cewek cantik plus jenius—tak peduli ia janda beranak satu dan anaknya sudah ABG? Tak terkecuali pria bernama Gading Harsasusena itu. Dan sepertinya dialah yang cukup beruntung mendapat perhatian balik dari Mama. Sedikit enggan, Nada kemudian mengangguk. “Matematika,” ujarnya. “Ah, para guru itu betul-betul kacau dalam manajemen waktu,” sahut Mama sebal. “Harusnya jadwal les dan pelajaran tambahan kan bisa dirancang sejak jauh-jauh hari. Masa apa-apa serba dadakan? Memangnya petugas pemadam kebakaran?” Sudah, sudah! Ini tak boleh terlalu berlarut-larut. Meski gudeg dalam kotak belum sepenuhnya tuntas, Nada buru-buru bangkit berdiri dan memisah material-material yang masih belum tersentuh tangan ke piring bersih untuk disantap lagi lain waktu. Ia taruh piring itu bersama hidangan lain buatan Bu Ranti yang sudah tersaji di meja makan di balik tudung saji. Ia harus selekasnya pergi entah ke mana agar Mama tak terus-terusan mendiskusikan hal-hal penting yang berawal dari karangannya! Nada mencuci tangan sebelum beringsut ke belakang untuk mengambil handuk. Ia tengah mengisi baterai ponsel menggunakan colokan di bufet ruang tengah ketika Mama muncul dari arah ambang pintu garasi. “Tumben jam segini motormu sudah masuk garasi. Biasanya kan kamu suka keluar rumah habis magrib.” Nada menoleh dengan mata mendelik. “Apa?” “Itu, motormu. Kok udah di garasi? Ntar emang gak akan ke mana-mana?” Tengkuk Nada dingin. Motornya ada di garasi? Sambil berkalung handuk ia melesat ke sana. Aman karena tak terlihat Mama, ia leluasa melotot. Memang benar. Sepeda motor matic-nya yang keluaran lima tahun lalu itu memang sudah ada di garasi, tepat pada tempat seharusnya di sudut kanan belakang, di seberang ambang pintu yang menghubungkan garasi dengan ruang tengah. Ia selalu taruh motor di sana karena mobil Mama pasti menyita tempat. Masalahnya adalah, tentu saja, siapa yang taruh motor itu di sana? Bukankah tadi benda itu masih terparkir di depan pendapa rumah Benu? Mama kaget saat Nada berlarian melewatinya menuju kamar. “Heh! Ngapain lari-lari?” Nada tak terlalu mendengar itu. Ia fokus menuju kamar, sekalipun masih dengan keraguan. Matanya terpana dengan tengkuk kembali merinding saat tiba di tempat yang paling personal baginya itu. Bahkan tangan gemetar. Sebab tas besarnya yang tiap hari mengusung begitu banyak buku teks tebal-tebal itu sudah rapi jali duduk di tempat semestinya, yaitu pada kursi meja belajarnya. Dan hingga semenit gadis itu merasakan sendiri seperti apa kakunya menjadi arca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD