Dayu

1918 Words
Nada celingukan. Apa-apaan ini? Bukankah ia baru saja membuka pintu kamar mandi di rumah Benu? Kenapa setapak melewati ambang, tahu-tahu ia ada di pasar? Dan pasar mana ini? Ia amati lagi suasana sekeliling baik-baik. Los pedagang memanjang di kanan-kirinya, saling berhadapan, terpisah oleh gang selebar kira-kira dua meter dan beratap plastik bergelombang sehingga cahaya matahari bisa masuk. Situasi lengang, karena pasar itu sudah jauh melewati jam sibuknya. Ini sudah pukul 15.30. Tak lama lagi sore tiba. Beberapa lapak sudah kosong. Hanya tersisa lapak-lapak yang menyediakan sembako, makanan kering, dan keperluan rumah tangga harian. Tak aneh sudah tak banyak lagi pembeli berlalu lalang. Para pedagang pun sudah sangat rileks menjaga lapak dan toko masing-masing. Beberapa bahkan mengobrol dengan rekan sesama penjual. Nada menengok ke belakang. Memang ada pintu di arah punggungnya, namun itu adalah pintu salah satu toko yang sudah tutup. Sebuah kunci gembok baja berukuran besar mengancing rapat daun pintu. Apa pun yang ada di dalam sana pastilah sangat berharga. Mungkin harta karun. Atau emas lantakan! Gadis itu memijit keningnya. Ia coba buka pintu. Tentu tidak bisa. Masalahnya, jelas dari arah itu tadi ia masuk—atau datang—ke tempat ini. Tapi pintunya berbeda. Yang ini biru gelap, sedang daun pintu kamar mandi rumah Benu berwarna hijau terang. Nada memencet-mencet dahi untuk memastikan ia masih berpikir benar. Lalu ia ucek-ucek mata untuk mengecek matanya tidak halu. Ya, ini jelas kejadian nyata. Bukan mimpi. Tapi peristiwa barusan benar-benar tak terjelaskan. Ia ambil ponsel dari saku rok abu-abu. Jamnya tak beda jauh dari saat tadi ia masuk rumah Benu. Lokasi lah yang mendadak jadi beda. Ia lalu bergegas keluar. Papan nama toko-toko pada sisi terluar pasar biasanya dilengkapi alamat lengkap. Atau bisa saja ia tepat keluar di sisi depan pasar, tempat nama pasar bersangkutan tercetak dengan huruf kapital besar-besar di sekitar gerbang utamanya. Dua kali membelok, ia melintasi pintu yang berukuran tak terlalu besar. Sepertinya itu salah satu pintu bagian samping. Deretan toko berbagai jenis dan juga lapak-lapak warung kaki lima menyongsong matanya begitu ia menapak sisi luar pasar. Matanya melakukan pemindaian. Toko busana muslim, toko sembato, toko emas. Aha! Ada satu yang memajang alamat lengkap. Dan matanya kembali melebar saat menatap bagian bawah papan nama toko emas yang bernama Semar Mas itu. Pasar Dargo? Di Semarang? Ia pejamkan mata rapat-rapat, lalu kembali membaca. Memang tak salah! Tulisan di atas sana itu menunjukkan bahwa ini adalah sebuah pasar bernama Dargo, di Kota Semarang, 100 kilometer lebih dari tempat tinggalnya—dari tempatnya membuka pintu kamar mandi tadi! Nada melangkah setengah linglung, lalu duduk saja di sebuah bangku plastik sekenanya. Entah itu punya siapa dan apa pula tujuannya diletakkan di tempat orang hilir mudik tepat di depan deretan toko-toko. Ia terdiam, menarik napas panjang berkali-kali. Oke, ini terlalu aneh. Bahkan sudah masuk kategori mustahil. Ia sudah teramat sering melihat hal-hal dan fenomena tak masuk akal yang tak ternampak oleh mata orang normal, tapi yang ini tadi benar-benar jauh di luar realita. Otaknya mencoba menebak dan menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi. Apakah ia dijahili makhluk halus penunggu rumah Benu dengan cara dilontarkan ke tempat lain secara acak? Atau apakah ia baru saja secara tak sengaja melewati portal antardimensi dan terlempar ke dunia paralel? Tapi sepertinya semua biasa-biasa saja. Ada becak, ojek, angkot Semarang yang berwarna oranye, dan juga dua jenis ojek daring warna hijau sedang duduk-duduk mengobrol menunggu orderan. Jika ini jagad paralel, kedua merek ojek online yang bersaing itu harusnya bukan Go-Jek dan Grab, melainkan nama-nama lain yang tak ada di dunia asalnya. Ini sepertinya memang sungguh-sungguh Kota Lunpia, yang beberapa kali ia datangi tiap kali Mama mengajaknya menginap di rumah Tante Winda di Tembalang. Ia pun satu kali pernah diajak belanja di sini sekian tahun lalu. Tapi sekali lagi, bagaimana caranya ia mendadak ada di sini? Tak ingat bahwa ia hari ini pernah naik bus atau kereta. Atau jangan-jangan ia mengalami semacam periode waktu yang hilang? Tapi sepertinya tidak. Sama sekali tak terasa ada jeda dan batas sama sekali antara saat ia mendorong pintu kamar mandi rumah Benu dan sedetik sesudahnya. Nada mengibaskan kepalanya. Baik. Satu-satunya cara hanyalah dengan mengakui bahwa ini memang terjadi—betapapun anehnya kejadian barusan. Lalu, jika otaknya sudah kembali berfungsi maksimal, ia tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk kembali lagi ke Solo. Dan memang baru sesaat kemudian ia menyadari betapa kosong perutnya saat ini. Gara-gara ulangan superpadat, ia dan Aren tak sempat satu kali pun mengungsi ke kantin. Dua kali jeda cukup diisi dengan ngemil keripik kentang sembari sibuk mengerjakan tugas. Dan sedianya ia tadi memang tak singgah lama di rumah Benu, agar bisa langsung pulang dan menyantap apa pun yang dimasak Bu Ranti di sana. Ia merogoh saku rok sebelah kanan dan menarik keluar selembar uang kertas. Napas lega terhela panjang karena yang ia temukan adalah merah seratus ribuan, bukan hijau dua ribuan. Uang segitu cukup untuk dipakai melakukan apa pun yang perlu dikerjakan hari ini, termasuk makan. Dan tepat hanya beberapa langkah darinya ada sebuah warung soto ayam kaki lima yang aroma bawang gorengnya sangat menggugah selera. Nada bergegas ke sana, sembari merasa canggung karena ia berseragam sekolah komplet tapi tanpa membawa tas, yang besar dan beratnya minta ampun itu. Tasnya tentu masih ada di kamar Benu, dan sekarang pasti anak itu dan ibunya tengah bingung mencari ia ada di mana! Ia masuk dan menjumpai warung itu sepi. Hanya ada satu pengunjung di ujung bangku panjang sebelah sana, seorang gadis berbaju hijau berusia 20-an yang cantik sekali. Gadis itu asyik bersantap sambil sibuk bermain dengan ponselnya. Nada memesan semangkuk soto ayam dan segelas es jeruk. Sembari menunggu pesanan, ia mengeluarkan ponsel untuk berkonsultasi pada Google bagaimana cara mencari bus antarkota tujuan Solo di sini. Tentu saja ia asing dengan hal-hal demikian, karena kunjungan-kunjungannya ke Semarang selalu bersama Mama. Tinggal naik mobil, tidur, tahu-tahu sudah masuk Banyumanik. Hari ini tentu tak bisa begitu. Ia harus cari sendiri jalan keluar dari sini. Pasti bisa. Toh juga bukannya akan naik puncak Gunung Everest. Pesanannya diantar tepat ketika kedatangan sebuah pesan SMS membuat alisnya berkerut. “Sialan...!” ia menggumam pelan. Lewat pesan itu, operator selulernya menginformasikan bahwa kuota datanya telah habis, sehingga penggunaan internet sesudah ini akan dikenai biaya data standar. Dan upaya cek pulsa menghasilkan angka hanya senilai Rp 1.200, yang tentu tak cukup bagus dipakai melakukan apa pun. Nada membuang napas, lalu menghibur diri dengan menyuapkan sesendok soto berdaging empuk disertai sate telur puyuh. Saat pulsa atau kuota data habis, normalnya ia tinggal rekues Mama. Sayang hari ini jadwal Mama padat, karena menjadi narasumber sebuah simposium fisika tingkat nasional di Bandung. Kalau ia SMS sekarang, boleh jadi pesannya baru dibaca Mama sore atau bahkan nanti malam. Dan yang seperti itu tak terjadi hanya sekali-dua, melainkan hampir setiap hari. Sambil mengunyah, matanya berkeliaran mencari gagasan. Yang termudah tentu mencari counter seluler, lalu membeli paket data termurah. Penting bisa digunakan mencari info lalu menggunakan aplikasi ojek menuju terminal bus terdekat. Namun saat matanya tertambat pada gadis yang amat cantik itu, sesuatu menggugahnya. Betul. Gadis usia 20-an itu memang cantik sekali. Dan bahkan melewati standar kecantikan para peserta kontes miss atau puteri ini-itu. Rambutnya tebal hitam sedikit berombak, dikuncir rapi pada bagian belakang kepala. Dagunya tebal lancip dengan pipi yang amat rapi. Sedang kulitnya adalah perpaduan putih bersih ala artis Korea namun juga bersemu kuning langsat yang sangat khas Jawa. Siang itu sang gadis mengenakan kemeja lengan panjang hijau pupus dan celana denim biru laut. Perpaduan warnanya sangat nyaman di mata. Dan itu entah kenapa membuat Nada tak segan bergeser mendekat tanpa ragu. “Mbak, maaf, boleh tethering-in bentar nggak?” yang jelas agak ganjil untuk ukurannya karena selama ini ia cenderung pendiam dan agak anti pada orang-orang asing. Gadis usia 20-an itu menoleh dengan sorot mata ramah. “Oh, iya, iya. Bisa dong. Bentar!” Ia langsung memutus apa pun yang barusan tengah menyibukkannya. Jemari yang lentik menari pada layar ponsel. “Nah, udah! Yang namanya Dayu.” Nada melihat nama itu pada daftar jaringan yang tersedia dan tertangkap oleh fitur Wi-Fi di ponselnya. “Password-nya apa?” “Ya nama itu juga.” Nada melihat layar ponsel sekali lagi. “Dayumargantari? Huruf kecil semua tanpa spasi?” Sang gadis mengangguk. “Yup. Mau chat sama pacar tapi kehabisan kuota?” Nada tertawa polos. “Bukan. Belum ada. Mau nyari bus jurusan Solo ngumpulnya di terminal mana.” Gadis itu melihat badge nama sekolah di bagian lengan kanan atas Nada dan mengernyit heran. “Wah, kamu anak Solo to? Kok hari gini jam segini malah nyasar ke Semarang?” Otak Nada bergerak cepat mengarang cerita. “Tadi disuruh Mama bawa titipan buat Tante. Kebetulan pas sekolah pulang awal. Jadi ya langsung berangkat. Sekarang mau pulang.” “Tadi berangkat naik apa emang?” “Travel. Dipesenin Mama. Lalu Mama suruh aku cari sendiri jalan pulang, buat ngetes udah gede apa belum. Dayu Margantari ini nama Mbak?” Gadis itu mengangguk. “Nama kamu sendiri siapa?” “Nada. Nada Aurelia.” Dayu mengulurkan tangan. “Kenalan dulu, yuk! Siapa tahu bisa ketemu lagi.” Nada tertawa dan menyambut tangan Dayu. Ia sepertinya tak salah mengecualikan gadis itu dalam keterkaitan dengan ajaran Mama soal “Don’t talk to a stranger!”. Dayu sepertinya bukan makhluk jahat. Dan detik berikutnya mereka sudah bertukar nomor telepon. Tentu tak susah habis ini langsung saling menemukan di belantara alam media sosial. “Bus-bus jurusan Solo dan Jogja kumpul di Sukun, Banyumanik. Kamu naik Go-Jek atau Grab aja dari sini. Palingan ongkosnya nggak sampai 10 ribu. Aku harusnya bahkan bisa antar kamu sampai rumah kalau pas nggak ada kerjaan penting di sini habis ini.” Nada membelalak. “Mbak dari Solo juga?” Dayu menggeleng. “Aku dari Jogja. Rumahku deket Pantai Parangtritis,” Dayu lalu teralih ke ponsel oleh bunyi pesan masuk di w******p. “Nah, ini dia. Aku udah harus bergerak lagi.” “Mau ke mana, Mbak?” Nada lekat mengamati Dayu yang segera berbenah dan berkemas. “Ke Simpanglima. Mau ketemu rekanan kerja. Daripada kamu terbatas cuman wi-fi pakai tethering HP-ku, mending kutransferin pulsa aja buat beli paket data. Lima puluh ribu cukup, ya?” Nada mendelik. “Ya, Allah, Mbak! Jangan banyak-banyak! Ini cuman buat keadaan darurat. Aku nggak nyadar kuota dataku udah habis.” Dayu bangkit sambil memunguti ponsel, komputer tablet, dan power bank yang besar minta ampun. “Nggak papa. Pakai aja!” ia lalu menoleh pada si ibu pemilik warung. “Bu, sekalian itungin pesenan Adik ini!” Mata Nada melebar makin parah. “Mbak, jangan! Aku jadi nggak enak ini.” Dayu menggeleng saat menarik keluar selembar biru 50 ribuan sesudah mendengar hitungan total pesanannya dan milik Nada. “Udah, ndak usah dipikir! Malah sekalian mempermudah si Ibu nyusuki.” Dan Nada masih melongo sedikit linglung saat Dayu menerima uang kembalian lalu bergegas menjauh sambil melambaikan tangan dan menarik keluar kunci kontak mobil. “Sampai ketemu lagi!” seru gadis itu. “Ikuti aja alurnya!” Nada mengangguk dan tersenyum. “Makasih, Mbak! Makasih sekali lagi.” Dayu balas senyum dan mengacungkan jempol, sebelum kemudian ia menghilang di antara kerumunan orang di pasar tepat di tepi tempat parkir. Baru sedetik kemudian Nada tertegun. Ikuti saja alurnya, kata Dayu tadi? Apa maksudnya? Ia menoleh ke ponsel saat muncul pemberitahuan lewat SMS bahwa nomornya telah menerima top up senilai Rp 50 ribu. Alisnya berkerut. Lah, kapan Dayu ngirimnya? Kan cewek itu baru genap sedetik menghilang dari pandangannya? Masa ia bisa ketuk-ketuk layar untuk memproses pentransferan pulsa seluler hanya dalam waktu tak sampai sedetik? Sekali lagi Nada hanya bisa menggaruk kepala.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD