Bab.2 Ternyata Hanya Aku Satu - satunya

1011 Words
Masih di ruang kerjanya, Alex merenungkan sesuatu, setelah mendengar informasi dari Dean. Kalau Meera dan Paul tidak pernah saling bersentuhan, karena sejak awal menikah, Paul sudah mengalami kelumpuhan. Senyuman sinis terukir di wajah tampan Alex, dan dia mengeluarkan foto Meera yang masih dia letakkan di meja kerjanya. *Hmm... Meera, ternyata hanya aku satu - satunya yang menyentuhmu, aku semakin yakin, kau masih sangat menyayangiku, aku tahu itu.* Setelah itu Alex pun tertidur di ruang kerjanya, sementara itu Meera yang masih terkunci di dalam kamarnya, dia pun terus menunggu pintunya dibuka. Selang dua jam, Meera yang mencoba merebahkan tubuhnya, dia mendengar suara pintu seperti dibuka. Langkah sepatu terdengar, Meera semakin memejamkan matanya dan tidak berani menoleh ke arah pintu itu, karena khawatir Alex yang datang. Namun dia salah duga, itu adalah salah satu asisten rumah tangga tertua yang sudah lama ikut dengan keluarga Alex. "Nyonya Meera... ini saya Nyonya." Meera pun menoleh kebelakang, dan dia langsung memeluk asisten rumah tangga yang juga masih dia kenal itu. "Bibi Milly..." "Sssttt Nyonya kenapa harus menangis, Nyonya akan aman di sini, Tuan Alex itu sangat menyayangi Nyonya Meera." "Bi aku udah nggak bisa sama Alex, aku udah menikah Bi. Dan Alex yang sekarang sudah berbeda, dia udah berubah menjadi kasar sekarang, aku takut sama Alex, Bi." "Hmm Nyonya ini kenapa harus takut, Tuan Alex menurut saya tidak pernah berubah, tetapi perubahan Tuan Alex saat ini, hanya karena dulu pernah diremehkan, Bibi tahu semua kehidupan Tuan Alex, Nyonya Meera tahu kan, Bibi mengurus Tuan Alex saat dia dibuang oleh orang tuanya, sampai Bibi yang membawanya dan mengurusnya hingga sekarang Tuan Alex bisa memiliki semua kekuasaan dan harta yang melimpah." "Jujur Bi, aku tidak terlalu tahu mengenai masa lalu Alex." "Tuan Alex itu sebenarnya dari keluarga yang sangat kaya, tetapi mereka membuangnya, karena menginginkan anak perempuan, sementara Tuan Alex laki - laki, Bibi hanya diberikan sedikit harta untuk mengurus Tuan Alex, tetapi karena Tuan Alex memilik tekad yang kuat, dia bisa keluar dari semua perjalanan kerasnya, dia bisa jadi Alex yang sekarang, itu karena kerja kerasnya, jadi Nyonya Meera tidak perlu takut dengan Tuan Alex, dia sangat menyayangi Nyonya, tidak mungkin dia melukai Nyonya." "Hmm seperti itukah, jujur aku masih takut, tiba - tiba dia masuk dan menyiksaku Bi." "Tidak mungkin Tuan Alex seperti itu, karena Bibi yang mengurusnya, dia tidak pernah mau melukai perempuan, Bibi tahu kondisi Nyonya saat ini sudah memiliki suami, Tuan Alex sudah menceritakan semuanya sama Bibi." "Ya dan Alex memintaku, menceraikan suamiku, Bi." "Sekarang Bibi tanya, Nyonya apa mencintai suaminya atau mencintai Tuan Alex?" "Jujur kalau ke suamiku aku hanya menikah karena Pak Paul pernah membantu keluarga kami dulu, aku tidak pernah mencintainya Bi, tetapi kalau ke Alex, jujur dia satu - satunya lelaki yang sangat dekat denganku Bi, dan sudah tahu luar dalamnya aku, tetapi kalau ditanya aku masih mencintai Alex atau tidak, aku belum bisa menjawabnya, karena terlalu sulit sekarang kondisinya, ditambah Alex sudah banyak berubah Bi." "Ya sudah, sekarang Nyonya lebih baik makan dulu sup nya mumpung masih hangat, ini ada s**u, buah juga, dan vitamin yang biasa Nyonya minum, semua sudah Tuan Alex siapkan, dia sampai kapan pun masih selalu menyayangi Nyonya, jadi tidak mungkin Nyonya dilukai apalagi disakiti, kecuali dia dikhianati dan dikecewakan, mungkin selamanya dia akan membenci orang itu." "Justru itu Bi, aku merasa sangat bersalah, karena tuntutan hidup, aku harus meninggalkan Alex, aku merasa dia membenciku saat ini." "Sabar Nyonya, semua butuh proses, sebenci - bencinya Tuan Alex sama Nyonya, tetapi kan di antara kalian pernah ada hubungan yang cukup dalam, saya tahu Tuan Alex pasti masih sangat menyayangi Nyonya, kalau tidak untuk apa dia sampai seperti ini, ingin selalu Nyonya sehat dan tinggal di tempat mewah dengan banyak fasilitas mewah." "Lalu selama aku dua tahun tidak bersamanya, apa Bibi tahu, dia pernah dekat atau berpacaran dengan wanita lain atau pernah menawan wanita lain." "Tidak pernah, bagaimana bisa membawa wanita lain, saat Nyonya pergi dan kabur dari sini dua tahun yang lalu, Tuan Alex kecelakaan parah, dan Bibi yang mengurusnya, sampai dia sembuh, bahkan dia sempat lumpuh, namun sementara, sampai dibawa berobat ke luar negeri, tetapi walau demikian dia tetap memantau Nyonya." "Bi bagaimana Alex bisa kecelakaan seperti itu? Bukannya dia lihai dalam mengendarai mobil." "Setelah dia merasa cintanya pergi, dia frustasi dan kejadiannya itu malam hari, Tuan Alex mengkonsumsi alkohol." "Separah itu kah Bi." "Ya... karena dia terlalu menyayangi Nyonya, saat dia hancur, dia selalu bercerita pada saya, Nyonya." "Alex... ya ampun, aku benar - benar nggak tahu Bi, kalau kepergianku ini sampai buat Alex kaya gitu." "Ya sudah, setelah makan, coba datangi Tuan Alex ke kamarnya, minta maaflah, dan jangan pernah menyerah ya, sebuah batu yang sangat keras, jikalau sudah diteteskan air berkali - kali pasti berlubang juga kan, nah itu juga yang akan terjadi pada Tuan Alex, sekeras - kerasnya hati Tuan Alex, suatu hari hatinya akan melunak juga." "Apa ke kamarnya Alex Bi! Nggak... ah nggak, aku takut Bi." "Takut kenapa lagi, udah percaya sama saya, Nyonya tidak akan kenapa - napa, yang penting jangan pernah menyerah." "Memangnya harus malam ini juga Bi?" "Mau sampai kapan menunggu, jangan pernah menunda sebuah masalah apapun, jika bisa diselesaikan dengan cepat, untuk apa menundanya, Nyonya, tenang saja, kalau sampai Tuan Alex berbuat sesuatu, itu juga hanya memberikan pelukan dan kecupan pada Nyonya." "Hah tidak, jangan sampai itu terjadi." "Kenapa, kalian kan pernah bersama, pernah memadu kasih, bukan orang yang baru kenal, ya sudah dimakanlah dulu ya sup hangatnya, saya mau lanjut ke dapur lagi, setelah itu silahkan ke kamar Tuan Alex ya." "Baiklah Bi, aku akan berusaha mengumpulkan keberanian." "Jangan pernah menyerah, sampai hati Tuan Alex melunak ya." "Ya Bi." Detik jam terus berjalan, serasa waktu mengejar Meera, dua jam berlalu, namun Meera masih takut untuk melangkah keluar dan ke kamar Alex. Dia ingat kembali yang semua Bibi Milly katakan, semakin lama menunda masalah, semakin lama selesainya. Meera pun akhirnya memberanikan diri, merapikan tatanan rambutnya, merapikan bajunya, dan memberanikan diri pergi menuju kamar Alex. Langkahnya semakin berat selangkah demi selangkah dia berjalan lirih, menaiki anak tangga, karena kamar Alex ada di lantai tiga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD