Setelah sampai di lantai tiga, pintu yang berwarna hitam dengan lapisan emas, itulah kamar Alex. Tangan Meera begitu gemetar, sangat takut, namun dia mencoba membangkitkan keberaniannya, Meera pun mengetuk pintunya Alex. Tetapi Alex juga belum menjawab apalagi membukakan pintunya, kedua dan ketiga kali mencoba mengetuk pintu kamarnya Alex, masih juga belum ada jawaban. Saat Meera tak sengaja mencoba membuka pintunya, benar saja, pintu itu terbuka dan belum sempat dikunci oleh Alex.
Meera mencoba masuk kamar Alex dan memanggilnya dengan lirih. Masih juga tidak ada jawaban, kamar yang cukup luas, megah, penuh dengan ornamen classic. Saat Meera baru saja masuk ke ruang tengah kamar Alex, tiba - tiba salah satu guci yang ada di atas lemari mau jatuh, dan dengan sigap entah dari mana datangnya tangan Alex menarik Meera, dan membuat Meera jatuh ke dalam pelukan Alex. Dan kedua bibir mereka saling bertemu dan terdiam beberapa detik.
"Kau ini untuk apa ke kamarku hah! Untung saja aku cepat menarikmu, kalau tidak guci itu jatuh dan menimpa kepalamu."
"Harusnya kau tidak perlu menolongku seperti ini."
"Dasar wanita keras kepala kau ini, bangun dan menjauh dari tubuhku. Lalu untuk apa kau ke sini?"
"A...aku mau meminta maaf, maafkan aku Alex."
Alex duduk di sofa yang ada di kamarnya, dan mengernyitkan dahinya. Sementara Meera mencoba bangun dan berdiri di depan Alex.
"Minta maaf, tetapi untuk apa?" tanya Alex dengan bingung
"Maafkan aku sudah membuatmu seperti ini, dan aku bersedia melakukan apapun, asalkan kau memaafkan kesalahanku, karena kebodohanku, kau sampai celaka."
"Kau tahu dari mana, kalau aku pernah kecelakaan, ohh Bibi Milly yang sudah memberitahumu, ya?"
"Ya."
"Meera... Meera, kau pikir dengan kata maaf saja cukup, untuk membalas rasa sakit hatiku, yang sudah kau buat."
"Aku salah, seharusnya tadi kau tidak perlu menolongku, biar saja kepalaku terkena guci kesayanganmu itu, biar aku bisa menebus semua kesalahanku."
"Kau ini, dipikir terluka itu enak, kau malah ingin kepalamu terluka, dasar wanita aneh kau ini."
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?"
"Kau yakin dan rela melakukan apapun, kau serius?"
"Ya...tetapi aku minta syarat waktu?"
"Syarat waktu? Apa maksudmu?"
"Apa yang kau inginkan dariku, untuk menebus semua kesalahanku dua tahun yang lalu?"
"Baiklah, apa kau mau menceraikan suamimu dan menikah denganku?"
"Ya tetapi aku punya syarat, kita menikah cukup tiga tahun saja, setelah waktu itu habis, maka kau lepaskan aku, bagaimana?"
"Okay... tetapi selama tiga tahun itu, kau tidak boleh melawanku, pergi tanpa ijin dariku, dan kau sangat dilarang dekat dengan lelaki mana pun, jika kau setuju, tanda tangani surat gugatan perceraianmu ini, maka aku urus perceraianmu, dalam waktu singkat kau pun sudah bercerai dan bulan depan kita bisa menikah."
"Baiklah aku setuju."
"Hmmm...ssshhh sebentar , tolong serumku di sana, ambilkan yah."
"Serum... apa kau sakit Alex." jawab Meera sembari mendekat ke arah Alex
"Ya... nggak apa - apa, aku hanya butuh serum penghilang rasa sakit itu, kau tolong bukakan, lemari kecilku dekat meja kerja ya."
"Ya... ya sebentar tahan ya Alex."
"Hmm..."
"Ini ya yang kotak merah panjang?"
"Ya itu ambilkan bawa ke sini, jarumnya ada di sebelahnya yang warna transparan."
"Hmm ya baiklah."
Meera pun mengambilkan serum dan jarum suntik untuk Alex. Dia begitu sedih melihat keadaan Alex yang tiba - tiba merasakan sakit.
"Ini serum dan jarumnya, apa perlu aku bantu?"
"Hmm... jangan, biarkan aku sendiri."
"Sudahlah, biarkan aku yang membantumu ya, aku ini kan dokter."
"Hmm...ya dokter cantik ya, ahhhh cepat Meera suntikan serumnya aku sudah tidak kuat, punggungku sakit sekali."
"Alex, sebenarnya ada apa, apa kau ada sakit parah? Jangan menggodaku, bisa serius tidak?"
"Ssshhh aahh bukan, ini cidera punggung dua tahun yang lalu, saat kecelakaan itu, punggungku sebagian tulangnya rusukku ada yang patah, dan dipasang pen belasan, jadi kalau saat kambuh, sakitnya luar biasa, dan serum ini yang bisa meredakan nyerinya, dan obatnya sangat luar biasa mahal, dan harus beli di Amerika."
"Ya Tuhan, maafin aku ya Alex, aku benar - benar merasa bersalah, aku berjanji akan merawatmu sampai sembuh."
"Jangan janji lagi Bu Dokter Meera, janjimu itu seperti layangan yang tiba - tiba bisa putus."
"Aku ini seorang dokter sekarang, berbeda dengan aku yang dulu."
"Aku tidak akan pernah sembuh, karena kecelakaan itu sangat parah, menghantam tulang rusukku, untung saja aku masih selamat, namun ya begini lah sampai kapan pun harus tergantung dengan serum pereda nyeri, jika tidak aku suntikan, maka aku bisa - bisa tidak bisa bangun dan tidak bisa berjalan."
Meera menatap wajah Alex yang masih begitu tampan, namun sedang menahan rasa sakit, karena reaksi serumnya itu baru bekerja sekitar tiga puluh menit, Meera memberanikan diri untuk merebahkan Alex ke dalam pelukan hangatnya.
"Maafkan aku ya, semua karena kebodohanku, kau yang harus menanggung akibatnya seumur hidup."
"Sudahlah, itu sudah berlalu juga, semua itu pasti akan ada sebuah pengorbanan yang harus kita bayar, aku ini lelaki sejati, tidak akan aku mengingkari janjiku, aku bukanlaha kau yang begitu mudah pergi dan berlalu bahkan lupa akan janji."
"Ya aku salah, silahkan jika kau mau menghukumku dengan apapun, aku ikhlas."
"Ssstt udah jangan bawel, aku ingin tidur di dalam pelukanmu, maaf kalau tubuhku cukup berat."
"Tidurlah." jawab Meera sembari membelai rambut dan kening Alex
Tangan Alex menggengam erat tangan Meera yang sedang membelai rambutnya.
"Diamlah, jangan pernah beranjak pergi dariku lagi, Meera."
"Ya aku tidak akan kemana - mana, rehatlah." jawab Meera yang tiba - tiba memberikan kecupan lembut di kening Alex
"Hmm... aku tahu, semua sentuhan lembut dan pelukan hangatmu ini, menandakan kau masih sangat menyayangiku."
"Sudahlah jangan terus bicara, biarkan obat itu menyatu dengan peredaran darahmu."
"Meera... aku ..."
"Kenapa lagi Lex?"
"Aku takut kehilanganmu lagi, aku tahu mungkin aku bukan lelaki yang lembut saat ini, karena duniaku sangatlah keras. Apa sikap kerasku semalam dan dua tahun yang lalu, membuatmu membenciku, aku sadar memang aku yang bersalah, aku ingin memulai semuanya dari nol, aku mohon maafkanlah salahku, sumpah demi apapun, demi untuk kamu, apapun yang akan terjadi nanti, aku ingin selalu bersamamu. Jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Hmm ... aku terpaksa waktu itu meninggalkanmu, maaf karena semua tuntutan hidup, hutangku cukup banyak dan aku tidak mau merepotkanmu, jadi aku terpaksa mengikuti keinginan ayah, dan menikah dengan Pak Paul. Aku sudah tidak seperti dulu, tubuhku sudah menjadi miliknya."
"Sssttt sudahlah, aku sudah tahu kejadian yang sesungguhnya, maafkan aku ya, yang mungkin sempat salah menilaimu, tubuhmu ini masih milikku, aku tahu Paul tidak pernah menyentuhmu, karena dia sudah lumpuh kan, jadi sudah jangan merasa kau ini buruk, aku sudah tahu semua kebenarannya, berapa hutangmu pada Paul, biar aku selesaikan besok."
"Hutang Ayahku sangatlah banyak, biarlah aku yang menanggung semua ini."
"Sssttt kau ini, berapa banyaknya?"
"Lima miliar."
"Hmm.. aku pikir lebih dari itu, besok aku urus ya, dan tanda tangani surat gugatanmu, biar pengacaraku bisa segera mengurusnya, besok aku minta Dean untuk melunasi semua hutang ayahmu sama Paul, sudah jangan lagi merasa sendiri, maafkan aku ya, karena sempat salah menilaimu."
"