Masih di dalam kamar Alex, mendengar Alex ingin melunasi semua hutang Meera, dia merasa tidak enak dan seperti menjadi beban, Meera ingin sekali bekerja untuk melunasi semua hutangnya dengan Pak Paul.
"Hmm... Meera, apa lagi yang kau pikirkan, Dokter cantikku?" tanya Alex dengan lembut, sembari bermanja dengan Meera dengan terus memeluk erat Meera sembari merasakan reaksi obat serumnya yang berangsur terasa mulai merasuki setiap inci tulang rusuknya.
"Ya, sepertinya tidak adil untukmu, menanggung semua bebanku, sementara itu hutang Papahku."
Alex bangun dari pangkauan Meera dan menatap lembut pada Meera, menyentuh lembut wajah Meera yang terlihat seperti lelah akan semua beban yang dia pikul.
"Kau ini kenapa bicara seperti itu, kau sebenarnya menganggapku apa sich, hmm?"
"Ya aku tahu, kamu tulus menyayangiku."
"Terus apa yang salah lagi sayang?"
"Lex...apa aku boleh?"
"Hmm boleh apa, kamu mau apa lagi?"
"Aku mau bekerja lagi, tolong ijinkan aku mencari pekerjaan tambahan, untuk mendapatkan uang, aku tidak ingin membuatmu terbebani, lima miliar itu banyak Alex."
"Heii... sini mendekat." jawab Alex sembari mengelus - ngelus lembut kepala Meera
"Kenapa?"
"Kamu itu wanita yang aku inginkan, aku sangat menyayangimu, kamu itu akan menjadi Ibu dari anak - anakku kelak, lima miliar itu tidak perlu kau pikirkan, biar itu menjadi urusanku, kesedihanmu, kesulitanmu saat ini atau untuk kapan pun, apapun masalahmu, itu semua akan menjadi tanggung jawabku, jadi tidak ada ya kau bekerja di luar, karena aku sangat luar biasa sanggup mengurus semua keperluan dan semua urusan yang menyangkut keluargamu, itu akan menjadi tanggung jawabku juga, kau hanya boleh menjadi dokterku, merawatku sampai ajal menjemputku, setelah mungkin aku sudah tidak ada nyawa lagi silahkan kau boleh pergi, tetapi selama aku masih sehat, jangan pernah ada niat aneh - aneh, apalagi berniat pergi dariku, dan merendahkan harga diriku, aku ini lelaki, mana mungkin membiarkan wanita yang aku sayang, harus susah payah bekerja di luar, sementara aku luar biasa bergelimangan harta."
"Tetapi...dengan apa aku menebusnya, aku ini pernah melukai hatimu Alex."
"Ssstt sudahlah, kau tinggalah di sini, di sisiku, jangan pernah berniat kabur lagi."
"Aku tidak mau melakukan cuma - cuma, ijinkan aku membalasnya."
"Ya itu mudah, kau tidak perlu bekerja di mana pun, rawatlah aku, dengarkan apapun yang aku katakan, dan jadilah istriku, itu sudah cukup, hmm akhirnya sudah lebih baik punggungku, terima kasih ya Meera."
"Lex... apa cidera punggungmu itu setiap hari kambuhnya?"
"Hmm tidak, kambuhnya jika kondisiku saat kurang fit saja, seperti terlalu lelah, dan banyak pikiran, ya perkiraan tiga bulan sekali, akan kambuh, tetapi saat kambuh, rasanya sakit luar biasa."
"Lalu bagaimana biasanya, jika sebelum ada aku di sini, siapa yang memberikan obat serummu?"
"Aku terkadang berteriak atau memencet bell darurat, mereka sudah tahu, jika aku memerlukan serumnya."
"Ya sudah lihat itu sudah jam berapa, sudah jam dua belas malam, rehatlah Lex."
"Ahh aaa... no, aku nggak mau tidur, kalau kamu nggak ada di sampingku."
"Lex, kita belum menikah, dan aku belum resmi bercerai dengan Paul."
"Aku tidak peduli, surat ceraimu besok segera diurus, aku mau mulai malam ini, kau temani aku tidur, tenang saja, aku akan jinak, tidak akan menerkammu dokter cantik."
"Hmm... aku tidak ada sedikit pun berpikir ke arah sana, dasar lelaki piktor kamu itu."
"Hah apa itu piktor, apa sich?"
"Apa sich, apa sich jangan pura - pura nggak tahu deh."
"Serius aku nggak tahu, apa sich?"
"Pikiran kotor, itu selalu ada di dalam kepalamu."
"Hmm... tetapi aku tampan kan, bahkan aroma parfumku selalu kau suka."
"Lex... please jangan dulu membahas masalah kita, aku lagi nggak ada pikiran jauh - jauh dulu."
"Kau ini kenapa sich, aku sudah berusaha lembut, kau ini sama saja dengan dirimu yang dulu, dingin dan tiba - tiba pergi."
"Masalahku belum selesai, aku khawatir mereka pasti mencariku."
"Siapa lagi yang mencarimu, Paul maksudnya, hmm?"
"Ayah dan Ibuku, adikku mereka pasti cemas, dari tadi ponselku bergetar, dan aku harusnya pulang, merawat Paul."
"No... tidak ada kata pulang, rumahmu selalu di sini, di tempat ini, aku beli Mansion mewah ini karena untukmu dan anak - anak kita nanti, jadi untuk apa kau pulang ke tempat yang sudah membuatmu susah, bayangkan, ayahmu rela hutang sebanyak itu, untuk apa, sampai harus mengorbankanmu, menikahi lelaki seperti Paul itu."
"Alex, setidaknya ijinkan sehari saja, aku berpamitan dengan mereka."
"No... jangan pernah berharap aku akan memberikanmu ijin, masalah orang tuamu, itu nanti kita urus, setelah besok aku lunasi semua hutangmu pada Paul, biarkan aku yang menemanimu, untuk menemui kedua orang tuamu."
"Lex... Paul itu bukan orang sembarangan, dia bisa melukaimu suatu saat, aku tidak mau melihatmu sampai terluka."
"Apa! Coba ulangi sekali lagi, hmm."
"Lex... aku serius, jangan bercanda, ini masalah nyawa."
"Yang bercanda itu siapa, aku hanya senang, kau begitu mengkhawatirkanku, masalah Paul aku sudah tahu, dia hanya sebuah kuman kecil dan kecilnya seperti semut, tidak ada apa - apanya denganku, dan aku tidak akan pernah takut dengan suamimu, Paul itu."
"Lex... percayalah, dia tidak akan tinggal diam, walau dia tidak bisa berjalan, tetapi otaknya selalu berjalan, dia bisa saja, memerintahkan orang - orang bayarannya, untuk melukaimu."
"Oh ya, coba saja, yang ada dia yang akan aku buat tidak selamat dunia akhirat, tidak ada sejarahnya seorang Alex, takut dengan siapapun, Paul urusan kecil, Meera."
"Kau ini dari dulu selalu saja, mengentengkan masalah."
"Meera, aku ini mempunyai kekuasaan di dua puluh negara - negara besar, jadi tidak ada yang perlu aku takutkan, sekiranya aku tidak ada di dunia ini, asalkan kau selamat dari lelaki hidung belang seperti dia."
"Ya sudah aku mau kembali ke kamar tamu. Kau rehatlah, jangan begadang, jaga kondisimu, aku besok akan membuat surat pengunduran diriku."
"Sudahlah tidak perlu, untuk apa, mereka juga sangat kecil memberikan gajimu, karena kau hanya seorang dokter bantu, Meera."
"Aku tahu akan hal itu, aku ikhlas meskipun tidak dibayar, karena niatku adalah menolong orang."
"Ya... ya aku tahu, kamu itu terlalu malaikat buat orang lain, tetapi tidak bisa bersikap malaikat padaku, kau itu wanita jahat, yang sudah melukaiku, Meera."
"Lex... aku kan sudah minta maaf, kenapa masih kau ulangi terus."
"Karena aku suka membuatmu kesal, karena dengan demikian, kau lebih terlihat menggemaskan, ya sudah istirahatlah lebih dulu, aku masih ingin ke ruang kerjaku, ada hal yang harus aku bereskan sebentar, tidurlah di ranjangku, nanti aku menyusul."
Cuupppp ( Alex memberikan kecupan lembut di kening Meera )
Alex pun keluar dari kamarnya dan menuju ruang kerjanya. Sembari memeriksa informasi di ponselnya.