Bab.5 Kerjasama Dengan Mr Liem

1017 Words
Sesampainya di ruang kerja, Alex memanggil Dean, untuk membahas kerjasama di bidang penjualan barang ilegal. Ada email masuk, yang meminta Alex untuk menjadi satu - satunya distributor untuk perlengkapan keperluan militer Mr Liem. "Hmm Dean, bagaimana, apa kau sudah baca email dari Mr Liem, yang sudah aku forward padamu?" "Ya Boss, sudah." "Mr Liem ini salah satu petinggi negara yang ingin membeli semua barang yang sudah kita tawarkan padanya, untuk kebutuhan militer mereka, apa mereka sudah tahu bagaimana sistem transaksi pembayarannya dan proses pengantaran barangnya." "Ya masalah harga beliau tidak pernah masalah, karena harga kita cocok, asal kualitasnya terbaik, Boss Alex." "Oh lalu, apa kau sudah memberitahu masalah mekanisme transaksinya?" "Sudah Boss, dan ini kali pertama kita ada kerjasama dengan Mr Liem." "Masalah kualitas barang - barang kita, semua sudah tahu kualitas kita bagus, walau harga kita dibawah harga standard.Yang tidak bisa aku bayangkan, mengapa Mr Liem, lebih membeli dari barang - barang dari kita, karena setahuku, di Korea sana sudah lengkap masalah persenjataan mereka." "Ya itu betul Boss Alex, tetapi kata mereka lebih bagus kualitas kita." "Okay, dia udah memberikan uang muka ya sebagai tanda bukti jadinya transaksi." "Sudah di transfer Boss, saat nanti barang sesuai, dia langsung melunasinya." "Okay berarti kita ke Korea bagian selatan apa utara?" "Ke Korea bagian utara, Boss." "Hmm apa stok kita di wilayah Korea masih ada tidak?" "Ada Boss, kurang lebihnya, sekitar lima ratus pcs, sementara itu yang tersisa." "Mr Liem, mintanya berapa pcs?" "Tiga ratus, dan jika real barang kita bagus, Mr Liem, kemungkinan akan menjadi client tetap kita." "Lusa kita sudah harus tiba di sana, Boss." "Okay ini masih hari sabtu, lusa berarti hari Senin ya." "Ya Boss Alex." "Ya sudah buatkan surat kontrak kerjasamanya, nanti dokumen itu akan kita bawa, ke Korea." "Baik Boss." Dua jam berlalu, Alex pun bangun dari kursinya menuju kamarnya. Menuruni anak tangga, karena ruang kerja Alex ada di lantai empat, dengan kemeja hitam nya nampak terlihat sangat tampan, berkarisma. Alex membuka pintu kamarnya dengan sangat lirih, agar tidak terdengar oleh Meera. Alex melepaskan apapun yang ada ditubuhnya dia menuju kamar mandi dan mengganti semua pakaiannya, dengan pakaian yang lebih santai. Selesai membersihkan dirinya, Alex secara perlahan mengambil bantal dan gulingnya, dia sempat memandangi wajah cantik Meera dengan sangat dekat sekali, napas Meera yang begitu segar baginya, membuat jantungnya tidak karuan, dia menahan hasrat itu, karena dia masin tahu, status Meera masih sah istri orang, Alex pun melangkah lagi menuju sofa bednya, dan tertidur di sana. Baru saja Alex memejamkan matanya perkiraan baru sepuluh menit, mimpi buruk itu datang lagi, dan membuat Alex sesak napas, seperti terengah - engah. Mimpi buruk itu selalu menghantui Alex tiap malam, di mana dia dibawa ke sebuah kejadian nya yang membuatnya terluka, di mana Ayahnya meninggalkannya begitu saja dengan membuangnya ke jalanan. Alex pun mengigau, berteriak, hingga membuat Meera terbangun karena terkejut, mata Alex masih terpejam, tetapi dia terus mengigau. Meera yang mendengar ini, segera mendekat ke arah Alex, yang saat itu ada di sofa bednya. "Lex, kau kenapa, Lex... bangunlah, tenang aku ada di sini." "Meera... kau kah itu?" tanya Alex yang seketika membuka matanya dan baru bisa bernapas lega "Kau ini sebenarnya kenapa? Apa kau mimpi buruk hmm?" "Ya.. mimpi itu setiap malam datang, membuatku marah, kesal, sesak dada." "Heii, minumlah air putih ini dulu, ceritalah ada apa?" "Mimpi itu mimpi yang sangat buruk, saat aku masih kecil, di mana Ayahku meninggalkanku begitu saja, membuangku di tengah jalan, bersama Bibi Milly, aku berteriak memanggil Ayah, tetapi mobilnya semakin melaju kencang, sesak rasanya, aku salah apa, hanya karena aku bukan anak perempuan yang mereka inginkan." "Hmm... tenanglah, mimpi itu hanya sebuah bunga tidur, apa yang ada di mimpimu, itu semua real isi hati dan pikiranmu sendiri, karena kau masih menyimpan kepaitan Lex. Aku bingung, kenapa mereka malah membuangmu, bukannya anak lelaki itu adalah anak yang paling pas menjadi penerus." "Panjang ceritanya, pada dasarnya, bagi mereka anak lelaki itu hanya menyusahkan, nakal dan tidak bisa di atur, itu kata Bibi Milly, karena dia mendengar langsung dari Ayahku. Sementara anak perempuan bagi mereka adalah sebuah aset, yang bisa membuat mereka tambah kaya raya." "Hmm... aku paham sekarang, jadi semua ini hanya demi kekayaan yang tiada tandingan." "Ya bisa dibilang seperti itu, Ayahku terlalu tamak dalam hal kekayaan duniawi dan kekuasaan." "Lalu apa kau sudah tahu di mana keberadaan Ayahmu saat ini ada di mana?" "Aku tidak peduli, mau di alam baka pun dia, aku sudah tidak peduli." "Lex... mungkin saja saat ini Ayahmu sudah sadar, dan pasti dia mencarimu." "Untuk apa, bagiku tidak penting, dia lah yang sudah membuat aku seperti ini, tidak mau mengakui anak sama saja dia sudah menelantarkan anak - anaknya dengan sengaja, karena dia melakukannya itu dengan sadar, bukan saat depresi." "Aku tahu bagaimana rasa sakitnya, aku tahu, kau punya keluarga tetapi berasa kau hidup sebatang kara." "Ya begitulah, hanya Bibi Milly yang sudah aku anggap orang tuaku sendiri, entah apa yang terjadi padaku, saat dulu tidak ada Bibi Milly." "Alex..." "Hmm... ada apa dokter cantikku." "Jangan merayuku dengan gombalan recehmu, kau tidak pantas seperti itu." "Ya aku tahu. Aku hanya ingin selalu membuatmu nyaman, karena aku sadar terkadang aku tempramen." "Aku juga sedang mulai belajar memahamimu, ya intinya, apapun sebuah ujianmu, di masa lalu, masa kecilmu tidak baik, tetapi Tuhan kirimkan Bibi Milly, yang mau membesarkanmu, itu anggaplah sebuah proses, dan dibalik masalah, ujian, pasti akan ada jawaban untuk sebuah kenaikan level dari Tuhan." "Hmm... jangan berat - berat pencerahan nasehatmu." "Mulai lebay, kau ini lelaki yang sukanya melebih - lebihkan, sudah tidurlah, di ranjangmu sendiri, biar aku yang di sofa bed." "Nggak... yang benar itu kita satu ranjang, temani aku, agar aku tidak bermimpi buruk lagi." "Memangnya kau ini anak kecil, Lex kau itu sudah dewasa, bahkan usiamu lebih tua dua tahun dariku, jadi dekatkan dirimu dengan Tuhan, aku jamin tidak akan lagi mimpi buruk itu datang di setiap malammu." "Kau ini jangan ceramah padaku, duniaku sudah berat, jangan kau tambah lagi Meera, tidurlah, jangan pernah menjauh dariku, sedikit pun." jawab Alex yang seketika menarik Meera ke dalam pelukannya Lampu utama dimatikan, lalu lampu tidur dinyalakan, mereka berdua tertidur dengan lelapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD