Malam berlalu dengan cepatnya, Meera terbangun dan melihat kamar sudah tidak ada lagi Alex di sampingnya. Bibi Milly yang melihat Meera masih malas - malasan di atas kasur, hanya tertawa.
"Nyonya lelah sekali rupanya ya, apa Nyonya dan Tuan Alex sudah memadu kasih lagi, sampai - sampai Nyonya tertidur selama dua hari."
"Hah! Dua hari? Nggak Bi aku dan Alex tidak melakukan itu, Alex sempat kambuh punggungnya. Mana mungkin Bi, perasaan baru semalam deh aku tertidur di sini."
"Itukan perasaan Nyonya, tetapi yang real kejadiannya, Nyonya memang sudah tertidur selama dua hari, Tuan Alex juga tidak berani membangunkan Nyonya."
"Ya ampun seriusan, aku sangking lelahnya, aku sampai tertidur selama itu."
"Tidak apa - apa Nyonya, mungkin fisik Nyonya terlalu lelah."
"Hmm by the way, Alex ke kantor ya Bi, apa lagi ke mana?"
"Tuan Alex lagi pergi ke Korea Utara, biasa ada urusan bisnisnya. Mungkin sudah sampai sekarang, dan sedang meeting atau sedang mengurus tendernya."
"Oh ya Bi, Bibi tahu nggak, kalau Alex itu ada bisnis sampingan apa?"
"Masalah itu Bibi kurang paham, yang jelas tender - tender besar saja, tetapi untuk bidangnya dan jalur bisnisnya Bibi tidak tahu Nyonya."
"Oh... aku kira Bibi Milly tahu, ya sudah aku mau mandi dulu, terus mau membereskan ruangan Alex."
"Hmm.. ya Nyonya, silahkan."
Meera membersihkan dirinya, lalu kembali menuju kamar Alex lagi, untuk merapikan ruangan Alex. Beberapa barang terletak sangat tidak rapih, bahkan ada pecahkan gelas, saat Meera selesai membersihkan semuanya, kamar Alex jauh lebih bersih. Meera berkeliling melihat sekeliling kamar Alex, dan ada suara klinting yang tidak sengaja tertendang kakinya Meera. Dia pun mencari sumber bunyi itu, dan saat dia melihat siluet emas, dia menunduk, dan akhirnya Meera menemukan sebuah peluru, dia segera menyimpannya, setelah itu ada sebuah kamar penghubung yang saat dibuka sangatlah susah, seperti kamar rahasia yang langsung terhubung dengan kamar sebelah.
'Kamar .... hmm kalau bisa saja aku buka, ahh tetapi tidak perlu aku tahu, ini bukan kapasitasku, ini rumah Alex.' gumam Meera dengan pelan
Saat dia sudah selesai merapikan seluruh ruangan kamar Alex, ponselnya bergetar, ya Alex masih menggunakan nomor lama. Karena Meera pun masih menyimpannya. Ponselnya dibuka dan ada notifikasi pesan whats app yang bertuliskan;
*Aku pergi sebentar, aku akan kembali secepatnya, tunggu aku pulang, cause I am gonna love you until the end* (pesan singkat Alex pada Meera)
Saat Meera membaca pesan singkat whats app dari Alex, dia hanya tersenyum dan sudah hafal, Alex selalu seperti itu, jika hatinya sedang bahagia. Sementara di tempat lain, Paul Romero, suami dari Meera yang juga merupakan mafia juga, mulai kesal, karena Meera tak kunjung pulang, bahkan semua panggilan teleponnya dan pesan singkat whats app tak juga direspon oleh Meera.
Salah satu anak buah kepercayaan Paul, yang bernama Vior, dia membawakan informasi dari rumah sakit di mana Meera bekerja.
"Selamat pagi Tuan Paul, saya membawa berita penting."
"Masuklah Vior. Jadi bagaimana hasal investigasimu semalam, di mana istriku, kenapa dia masih juga belum kembali, aku pikir dia menginap di rumah sakit."
"Hmm ya begini Tuan Paul. Jadi kata para perawat dan para security di sana, mereka melihat Nyonya Meera sudah keluar dari rumah sakit pada malam hari, tepatnya pukul delapan malam, namun setelah itu mereka tidak tahu lagi kemana Nyonya Meera, tetapi saya udah cek semua kamera cctv di sekitar rumah sakitnya, kebetulan ada warga sekitar yang memiliki rekamannya, lokasinya tepat di depan rumah sakit tempat Nyonya Meera prakter dokternya."
"Lalu, bagaimana kelanjutannya."
"Ini Tuan Paul, silahkan lihat rekaman videonya, di sini jelas, saat begitu keluar, dia sempat menyebrang jalan, lalu Nyonya Meera diculik oleh segerombolan lelaki, memakai topeng hitam. Dan Nyonya Meera dimasukan ke dalam mobil fan hitam, sepertinya mereka bukan orang sembarangan dan mungkin saja sangat mengenal Nyonya Meera, karena kalau mereka mengincar harta Nyonya Meera itu tidak mungkin, karena Nyonya Meera sangatlah sederhana."
"Kurang ajar! Siapa yang sudah berani menyentuh istriku, dia akan berhadapan langsung denganku, Vior aku tidak mau tahu, hari ini kau kerahkan semua pasukanmu dan cari sampai ketemu di mana istriku, dan bawa Meera pulang." jawab Paul sembari mengepal tangan
"Baik saya permisi dulu, saya segera infokan apapun berita terbaru."
"Silahkan Vior, jangan lupa lacak nomor plat mobilnya."
"Siap Tuan Paul."
Setelah melihat ruang kerjanya sepi, Paul Romero berjalan dengan kursi rodanya dan membuka sebuah lemari, yang isinya banyak sekali peralatan tempurnya, untuk bisnis gelapnya.
'Meera kau ada di mana jelitaku, aku bersumpah, jika aku menemukan siapa yang sudah menyekapmu, aku akan melenyapkannya dengan tanganku sendiri. Aku merindukanmu, aku rindu sentuhanmu, di mana kau selalu merawatku dengan ketulusanmu.' ucap Paul dengan lirih
Saat Paul sedang memikirkan dan mengkhawatirkan keberadaan Meera, Ayah Meera datang untuk menemui Meera. Karena seharian ponsel Meera tidak merespon panggilan telepon Ayahnya, salah satu asisten rumah tangga memberitahu Paul akan kedatangan Ayahnya Meera. Pau pun keluar dan menemui mereka dibantu oleh kursi rodanya.
"Selamat pagi Tuan Paul, maaf kedatangan saya mungkin sudah menganggu Tuan."
"Hmm.. tidak juga Pak, silahkan duduk, ada apa?"
"Apa Meera ada di rumah, atau sedang sakit?"
"Kenapa seperti itu pertanyaannya?"
"Seharian dari malam hingga pagi ini, tidak biasanya, Meera tidak menjawab telepon saya, Tuan."
"Oh.. ya dia juga belum pulang, saya juga sedang menunggunya."
"Lho kenapa Tuan Paul, apa kalian bertengkar, sehingga putri saya pergi dari rumah Tuan."
"Tidak... kami tidak pernah ada salah paham, tenang saja, mungkin saja dia sedang main ke rumah temannya."
"Oh tetapi saya sudah coba menghubungi semua teman dekatnya, tetapi mereka bilang Meera tidak bersama mereka."
"Sudah Bapak tenang saja, saya sudah meminta orang - orang saya untuk mencari keberadaan Meera."
"Ya sebetulnya kedatangan saya ke sini, bukan untuk keperluan sama Meera."
"Lalu apa, apa ada masalah keuangan lagi, Pak?"
"Ya... kebetulan saya mau membeli tanah, dan ke depannya saya bangun kos - kosan, ya memang sangat besar, tetapi niat saya mau meminjam dengan Tuan Paul, jika ada itu juga."
"Berapa yang Bapak butuhkan, untuk membangun kos - kosan itu perkiraan berapa, tidak perlu meminjam, saya pasti bantu."
"Hmm sekitar sepuluh miliar."
"Oh okay, ya sudah besok saya transfer ya, cukup segitu."
"Cukup luar biasa Tuan, terima kasih banyak."
"Hmm ya sudah tidak ada keperluan lagi kan, jika memang tidak ada, Bapak bisa pulang, besok saya kirim uangnya."
"Baiklah Tuan Paul, saya pamit dulu."
"Silahkan."