Cinta sesaat akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Tapi cinta sejati akan melepaskan untuk kebahagiaannya.
"Lid, kenalin. Namanya Abi, dia suami aku!"
Lidya tampak tersenyum kikuk. Ia mengangguk pelan sambil melempar pandangnya kearah Abi. Entah kenapa matanya tiba-tiba memanas dan sedikit berair. Hingga detik berikutnya, buliran bening itu tiba-tiba menetes.
Lidya menyekanya dengan kasar membuat Salwa menatap bingung kearah Lidya.
"Loh, Lid. Kamu kenapa?" Salwa meraih jemari Lidya dan menggenggamnya.
Lidya menggeleng dan masih mencoba melempar senyumnya. Tapi yang terjadi airmatanya semakin deras mengalir. Sementara yang dilakukan Abi hanyalah bisa menatap wajah kecewa Lidya.
"Kenapa nangis?" tanya Salwa lagi.
Lidya kembali menyeka kedua matanya dan menggeleng. "Aku nggak apa-apa. Aku cuman keinget sama Davin. Kayaknya aku nggak bisa lama-lama disini. Permisi!"
Lidya tak menunggu jawaban dari Salwa, ia beranjak dari tempat duduknya dan langsung masuk ke dalam kamar Davin. Ia berlari menghampiri tempat tidur Davin dan menumpahkan tangisnya.
Meletakkan kepalanya di sebelah tempat tidur Davin yang kosong dengan posisi tangan menggenggam jemari dingin Davin.
"Mungkin ini emang salah. Kenapa aku harus jatuh padanya?" lirih Lidya. Ia mendongak untuk menatap wajah Davin. "Maafin aku, Dave! Maafin aku! Aku bener-bener nggak bisa membohongi hatiku. Selama ini dia yang selalu ada disampingku, yang selalu nguatin aku. Tapi ternyata dia milik orang lain!"
Lidya kembali menenggelamkan wajahnya pada tempat tidur Davin yang berwarna putih itu. Ia kembali menangis. Menyesali apa yang telah ia lakukan. Rasa bersalah bergelayut dalam hatinya. Ia telah menduakan cinta Davin.
Sebuah gerakan kecil yang menyentuh jemarinya membuat Lidya menghentikan tangisnya. Ia kembali mendongak dan menatap wajah lelap Davin lalu pandangan matanya beralih menatap jemari Davin yang ada dalam genggamannya.
Senyum Lidya merekah. Ia lalu mengangkat tangan Davin dan menciumi punggung tangannya berkali-kali. "Apa kamu bisa dengerin aku, Dave?" tanya Lidya.
Hening dan tak ada gerakan dari jemari Davin. Lidya kembali mencium tangan Davin.
"Please, bangun. Bawa aku pergi jauh dari sini. Jauhkan aku dari rasa asing ini. Rasa yang seharusnya nggak ada dan hanya ada buat kamu!"
Malam menjelang, Salwa sudah terlelap diatas tempat tidurnya. Kejadian hari ini benar-benar diluar dugaan Abi dan ia bisa melihat raut kekecewaan terpancar dari wajah Lidya.
Apa wanita itu menyukainya?
Entahlah. Abi tidak bisa menyimpulkan. Ia juga takut jika rasa ini hanya cinta sepihak. Ingin sekali ia menyalahkan waktu kenapa mempertemukan dengan seorang Lidya disaat ia sudah melabuhkan hatinya dengan Salwa.
Bayangan wajah Lidya yang tengah menangis terus menari-nari dalam benaknya. Abi beranjak dari sofa dan memilih melangkah keluar kamar. Entah dorongan dari mana, langkah kakinya menuju kamar rawat Davin.
Abi berdiri didepan pintu kamar Davin. Ia melihat dari pintu kaca, Lidya terlihat meletakkan kepalanya di sisi tempat Davin. Tangannya menggenggam jemari Davin. Dilihat dari pergerakannya, sepertinya Lidya belum terlelap. Tangan mungil itu sesekali mengusap pipinya yang basah.
Untuk kedua kalinya rasa sesak memenuhi rongga d**a Abi. Tangannya perlahan mendorong pintu kaca itu perlahan dan spontan Lidya menoleh.
Mata Lidya membulat melihat Abi berdiri diambang pintu kamar Davin.
"Abi?" serunya lirih. Ia berdiri dari duduknya, melepas genggaman tangannya dan menghampiri Abi. "Kok kamu ada disini?"
"Bisa kita ngobrol sebentar?" tanya Abi balik. Lidya hanya mengangguk lalu mengikuti langkah Abi yang menuju taman rumah sakit.
Ada sebuah kursi panjang bercat putih dan Abi memilih duduk disana. Lidya menyusul dan duduk disebelah Abi.
"Gimana keadaan Salwa?" tanya Lidya. Mati-matian ia menahan rasa sakit didadanya. Lidya menarik nafas diam-diam dan membuangnya dengan sangat pelan. Mencoba mengusir rasa perih hatinya.
Abi menoleh dengan memasang wajah sendu. "Maaf. Aku nggak kasih tau kamu soal ini!"
Lidya seketika terkekeh pelan. "Kok minta maaf? Emangnya kamu salah apa?"
Abi menggeleng pelan. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap langit malam. Kepalanya sedikit mendongak. Mata Lidya mengerjap pelan. Ia menikmati lekuk wajah Abi dari samping.
"Pernikahanku dengan Salwa sudah berjalan 2 tahun!"
Lidya seketika tersadar mendengar ucapan Abi yang begitu tiba-tiba. Ia melempar pandangannya kearah lain. 2 tahun bukan waktu yang singkat. Bagaimana mungkin ia tega merusak kebahagiaan Salwa?
"Tragedi maut yang membuat aku menikahi Salwa!"
Kening Lidya mengernyit dan kembali menatap wajah Abi. "Maksudnya?" tanya Lidya pelan.
"3 tahun yang lalu, aku membuat seorang gadis berumur 19 tahun yatim piatu. Aku menabrak mobil yang berisikan 3 orang. Dua lainnya meninggal sementara 1 lainnya kritis," Abi menundukkan wajahnya, mengusap wajahnya dengan pelan sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Hampir 1 tahun Salwa koma. Saat ia terbangun dari tidur panjangnya, Dokter memvonis kalo kedua kakinya tidak bisa difungsikan lagi. Keretakan ditulang ekor membuat saraf kakinya mati dan ia lumpuh!"
Lidya menelan salivanya. Matanya berair seketika. Apa yang menimpa Salwa hampir mirip dengan apa yang menimpa Davin. Keretakan tulang ekor. Apakah Davin akan bernasib sama seperti Salwa?
"Rasa bersalah yang membuat aku menikahi Salwa. Awalnya aku merasa kasihan dengannya tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukainya. Tapi kejadian pahit kembali menimpanya!"
"Semakin hari, tubuh Salwa semakin rapuh. Dokter memvonis Salwa menderita kanker rahim dan dengan sangat terpaksa, Dokter mengangkat rahim Salwa!"
Lidya membekap mulutnya sendiri. Tak percaya dengan apa yang didengarnya. Wanita cantik itu begitu menderita.
"Penderitaan Salwa ternyata belum berakhir sampe disitu. 6 bulan setelah operasi itu, muncul benjolan di payudaranya. Dan---kamu pasti tau apa yang terjadi sekarang!"
Lidya benar-benar tidak kuat lagi. Ia menangis terisak. Begitu berat penderitaan Salwa. Apa mungkin ia tega menambah beban hidup wanita itu lagi?
"Hidupnya sekarang sangat bergantung pada obat-obatan." Abi semakin menundukkan kepalanya.
Tangan Lidya terulur perlahan dan mengusap lembut pundak Abi. Abi yang begitu ceria dan ramah ternyata menyimpan sebuah rahasia. Abi yang selalu menghiburnya ternyata ia sendiri hidup dalam kesedihan.
Abi menoleh saat merasakan usapan lembut dipundak kanannya. Lidya langsung melempar senyum hangatnya.
"Aku yakin kamu kuat!" seru Lidya lirih.
Abi ikut tersenyum lalu mengangguk. "Boleh aku meluk kamu?"
Mata Lidya sedikit mendelik mendengar permintaan Abi. Tapi ia segera menepis pikiran buruk itu. Mungkin saat ini Abi butuh seseorang untuk meluapkan kesedihannya. Lidya mengangguk pelan dan dalam hitungan detik, kedua tangan Abi sudah mengunci tubuhnya.
Hawa hangat yang disalurkan Abi membuat Lidya memejamkan matanya. Tangannya terulur mengusap punggung Abi.
'Maafin aku Salwa. Aku mencintai suamimu. Tapi percayalah. Aku tidak akan merebutnya darimu. Karena aku tau, Abi bukan untukku!'
Surabaya, 18 Juni 2018
ayastoria