Dua puluh Tujuh"Apa aku harus mengambil amplop itu ya?" Sepanjang melewati lorong menuju ruang kerja pribadinya Archie terus memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya. "Tuan!" Archie melirik Yuna yang barusan memanggilnya. "Maaf, Tuan, jam 11 siang nanti Anda harus menemui artis yang menjadi BA di perusahaan kita," ujar Yuna mengingatkan jadwal pertemuan Archie. Archie mendesah lelah, ia merasa malas kalau harus menemui wanita genit yang kemarin ditemuinya. "Ada lagi?" "Sore nanti Anda dan pak Fariz akan menemui klien yang dari UEA. Untuk hari ini hanya itu saja jadwal Anda." "Baiklah, terima kasih." "Permisi, Tuan." Yuna segera berlalu meninggalkan Archie. "Wanita itu lagi?" Archie mengembuskan napas lelah. Memikirkannya saja sudah membuat malas. "Bagaimana mungkin ada wanita

