Dua puluh EnamThe Emperor Archie menghela napas dalam, dia menatap sebuah ruangan yang baru saja selesai direnovasi. Ruangan yang rencananya diperuntukkan bagi Axel, sepupunya. "Tuan." Archie berbalik. "Pak Fariz, ada apa Pak?" "Maaf Tuan, Tuan Besar memanggil Anda." "Terima kasih, Pak, saya segera ke sana." Archie yang sudah melangkah meninggalkan Fariz, tiba-tiba saja berhenti dan kembali berbalik menghampiri pria itu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" "Axel mulai kapan masuk kerja?" "Mungkin 2 atau 3 hari lagi,” "Hm. Terima kasih." Fariz menatap kepergian Archie, walau di dalam hati penuh tanya. Namun pria dewasa itu hanya bisa menyimpannya di dalam hati saja. Archie menatap ragu pintu ruang kerja Tuan Evander. Tidak biasanya sang ayah memanggil dirinya. Setelah menghembusk

