episode 18

1220 Words
maaf terlambat, jangan lupa setelah membaca berikan komentar dan kasih love 25 Agustus 2020 Mata hati Episode 18             “Minumlah.” Fransis menyodorkan segelas s**u coklat pada Sang kekasih yang kini duduk di atas tempat tidurnya, di pandanginya wajah cantic yang selalu dirindukannya tersebut, ia tidak yakin masihkan dalam hati gadis cantic tersebut Namanya masih berada di atas tahta tertinggi mengingat cara pandang gadis itu seakan tak rela melepaskan Frans Ferdinan.             Seiran menerima gelas s**u tersebut, ia tersenyum tipis, pria itu tidak pernah melupakan bahwa dirinya sangat menyukai s**u coklat,”Seiran, apa kau masih mencintaiku?” Fransis mendudukkan diri di samping Sang kekasih.             Seiran memegang gelas itu, entah apa yang membuat pria itu menanyakan tentang perasaannya, tapi kenapa juga sekarang bibirnya terasa sangat berat untuk mengatakan kalau dirinya masih sangat mencintai pria itu,”Frans.” Ia menoleh pada kekasihnya, tangannya terulur menyentuh pipi putihnya, halus dan lembut tidak berubah sedikit pun kecuali sinarnya mulai meredup, pucat seperti mayat. Greb.. Fransis menggenggam tangan Sang kekasih yang masih berada di pipinya, diambilnya tangan tersebut lalu dikecupnya lembut,”Jangan pernah dustai perasaanmu, meski aku telah kembali tapi sedikitpun tidak ada niatku mengekangmu. Aku sungguh mencintai dalam hatiku, hingga akhir waktuku di dunia ini, hatiku tetap milikmu.” Tatapan yang lembut penuh kasih sayang membuat gadis itu meneteskan air mata, bagaiamana mungkin hanya kurun waktu 3 bulan dirinya bisa pindah kelain hati, bukankah pria itu yang telah mencelakai kekasihnya.             “Tidak, Frans. Aku masih sangat mencintaimu seperti dulu, oh ya, tadi kau bilang ingin mengenalkanku pada seorang gadis yang telah menolongmu. Mana gadis itu? Bolehkah aku bertemu dengannya sekarang?” tanya Seiran memintak persetujuan.             Fransis tersenyum lembut, ia pun bangkit dari tempat duduknya, tangannya terulur memitak Sang kekasih menyambut uluran tangannya, mengerti maksud kekasihnya, Seiran mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan kekasihnya, dengan sekali hentakan gadis itu sudah jatuh dalam pelukannya,”Menikahlah denganku,” bisik Fransis lembut.             Seiran tertegun, kenapa hatinya sekarang ragu untuk menerima lamaran pria itu, tapi ia tidak boleh menyakitinya demi seorang pria yang telah membohonginya dan berniat memisahkan mereka, ia pun mengangguk dalam dekapan hangat Sang kekasih,”Ya, Frans.”             Fransis tersenyum tipis, dia bukan tidak tahu kalau sekarang gadis itu bimbang dengan perasaannya sendiri, lagi pula bukankah sangat mustahil untuknya menikahi gadis yang dia cintai karena ia tidak akan mungkin bisa membahagiakannya, penyakitnya sudah sangat parah, menurut medis sisa hidupnya tidak akan sampai bertahan hingga sebulan. Dia hanya ingin bisa melihat gadis itu bahagia bersama orang yang bisa mencintainya dengan benar tanpa menggunakan cara licik, demi cinta harus melenyapkan sahabat sendiri.             “Seiran, apapun yang terjadi nanti, kau harus tetap bahagia.” Fransis melepaskan pelukannya, matanya menatap gadis itu sedih, karena pertemuan kali ini adalah untuk perpisahan yang abadi.             “Kenapa kau terlihat sedih, Frans?” tanya Seiran bingun saat melihat Sang kekasih tiba-tiba mentapnya sendu.             “Tak apa. Sudah, ayo! Sekarang aku akan membawamu menemuinya, dia juga akan menjadi pegawai di perusahaan Lonenlis,” balas Fransis berusaha mengalihkan pembicaraan. Untuk apa juga gadis itu alasan kesedihannya, menurutnya tau atau tidak semua sudah tidak penting lagi, semuanya juga tidak akan pernah berubah.   ***             Ranze memandangi bunga-bunga yang ada di taman belakang, sungguh suatu tindakan ketidak sopanan menjadi seorang tamu bukannya duduk yang baik justru berkeliling seperti rumah sendiri,”Bunga tulip yang sangat indah, itu juga ada bunga mirip burung.” Tangannya terulur untuk memetic satu tangkai, lagi-lagi dia lakukan tanpa permisi.             “Ranze.” Gadis itu menolehkan kepalanya kebelakang, terlihat seorang pria yang telah mencuri perhatiannya bergandengan tangan dengan kekasihnya, hatinya terasa perih mengetahui kenyataan bahwa pria itu telah kembali pada yang dicintainya, tapi ia tidak mampu berbuat apapun baginya cinta tak harus memiliki, ia hanya ingin melihat pria yang paling dicintainya bahagia bersama yang ia cinta sebelum Tuhan mengambil nyawanya.             Ranze memaksakan bibirnya untuk tersenyum, ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan menghampri pria itu,”Apa kau mencariku?” tanyanya dengan senyum mengembang.             “Hn, aku memang mencarimu. Aku ingin mengenalkan kekasihku padamu, jadi kau tidak perlu berpura-pura menjadi istriku lagi. Bukankah sekarang kau tidak berada di desa dimana banyak orang mengatakan kau gadis tidak laku?” balas Fransis. Gadis itu mengangguk, matanya teralih pada Seiran, gadis itu memang sangat cantic dan terlihat elegan, pantaslah seorang Fransis Lonenlis bisa jatuh cinta padanya, tidak seperti dirinya yang hanya seorang gadis kampung yang bahkan tidak memiliki apapun.             “Kau tidak perlu merasa sedih, yakinlah suatau hari kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Seseorang yang bisa menjagamu, mencintaimu hingga akhir waktu.” Pria tersenyum lembut membuat hati Ranze terasa semakin sakit, bukan karena tidak bisa memiliki hati orang yang dia cintai, tapi maksud pria itu adalah bahwa kenyataan hidupnya sangat terbatas.             “Hei, namaku Ranze. Kau tahu, Fransis sangat mencintaimu hingga tidak mampu melirik gadis cantic sepertiku.” Gadis itu mengulurkan tangannya. Untuk sesaat ia merasa Seiran enggan untuk membalas uluran tangannya mungkin karena merasa dirinya tak layak menyentuh gadis cantic tersebut, ketika ia hendak menarik tangannya kembali, Seiran menyambut tangannya.             “Seiran, terimakasih telah menolong calon suamiku. Aku tahu dia sangat mencintaiku, aku  juga sangat mencintainya.” Ranze tersenyum mendengar balasan gadis itu, tapi entah kenapa hatinya merasa ragu bahwa gadis itu benar-benar mencintai Fransis.             “Ranze, kau boleh tinggal disini, kamarmu ada disebelah kamar kita,” ucap Fransis sambil memeluk pinggang Sang kekasih. Gadis itu mengangguk kemudian dia segera pergi melihat kamar yang telah disiapkan untuknya.                    Seiran mengalihkan perhatiannya pada Sang kekasih, gadis itu terkejut melihat wajah itu terlihat sangat pucat, bahkan hidungnya mengeluarkan darah. Tangannya terulur menyentuh hidung Sang kekasih. Fransis hanya diam melihat sikap kekasihnya, sejujurnya ia hanya merasa kepalanya pusing dan perutnya terasa tertusuk pisau, dia tidak sadar kalau hidungnya mimisan. Seiran menarik tangannya kembali, di tatapnya jari telunjuk yang terkena noda darah tersebut,”Kau sakit apa, Frans?” tanyanya.             Fransis tersentak mendengar pertanyaan gadis itu, matanya mengikuti arah pandang Sang gadis, cairan kentan berwarna merah tertempel dalam jari telunjuk kekasihnya, ia pun menyentuh hidungnya, matanya membulat melihat nida darah yang tertinggal di jarinya, sepertinya penyakitnya sudah mengalami komplikasi.             “Sayang, aku tidak apa-apa. Ini hanya aku kelelahan saja,” ucapnya berbohong. Seiran menaikkan pandangannya, matanya menatap nanar Sang kekasih. Ia tahu kekasihnya berbohong dengan menutupi penyakitnya, selama ini ketika Ferdinan menyamar menjadi Fransis, pria itu bilang kalau dalam tubuhnya mengidap penyakit kangker lambung stadium akhir, gadis itu tidak akan mudah percaya begitu saja, karena tidak ada orang sakit yang bergerak begitu bebas, ia pun mengeceknya langsung kedokter dan terbukti pria itu sehat wal afiat. Itu artinya Ferdinan tahu kalau Fransis sakit keras.             “Kau berbohong! Kau anggap aku tidak tahu kalau selama ini kau telah menyembunyikan penyakitmu dariku?! Aku ini calon istrimu, aku berhak tahu semua tentangmu, Fransis. Atau kau selama ini tidak pernah menganggap diriku ini penting untukmu?!” bentaknya.             Fransis hanya terdiam, ia tidak menyangka gadis itu sangat marah hanya keran dirinya tidak menceritakan masalah penyakitnya, dia tidak pernah bermaksud membohongi gadis itu, tapi dalam hatinya hanya tidak ingin membuat orang yang paling dicintainya sedih dan mengkhawatirkannya,”Seiran, aku-,” ucapnya terpotong.             “Cukup! Kau tidak ingin aku tahu semuanya,’kan? Kau tidak ingin aku perduli padamu bukan? Baik. Sekarang terserah padamu, aku pergi.” Gadis itu pun membalikkan tubuhnya. Fransis ingin sekali mengejarnya, tapi tubuhnya terasa sangat lemah, kepalanya berdenging, perutnya terasa sangat sakit,”Seiran, maafkan aku.” Ia pun memuntahkan darah segar dari mulutnya, pandangannya mulai kabur hanya bayangan Sang kekasih yang semakin jauh. Bruk… Seiran menghentikan langkahnya ketika mendengar suara benda jatuh, ia pun membalikkan tubuhnya, matanya terkejut melihat pria yang paling dicintainya tersungkur dengan darah menyembur dari mulutnya. “FRANSIS…..”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD