“Mau berapa lama lagi kau duduk di sana Nona Kyo? Aku butuh kopiku, sekarang!”
“Apa dia selalu pemaksa seperti itu?” Kyomi berdecak kesal.
Dia pun beranjak dari tempatnya sebelum Bian kembali meluang.
Kanaka terkekeh, “ Terkadang, kau harus kuat menghadapinya. Omong-omong dia menyukai kopi hitam dengan sedikit gula.” Cetus pria itu.
“Ya, aku tahu dia sudah memberitahu ku kemarin dan sepertinya rata- rata pria arogan menyukai kopi pahit. Kau juga ingin kopi?” Tawar Kyomi.
Kanaka menggeleng dan segera berdiri juga.
“Aku akan pergi karena sepuluh menit lagi aku ada meeting. Mungkin lain waktu aku akan mencicipi kopi buatanmu. Aku tidak suka kopi pahit.” Kanaka mengerling jenaka.
“Aku akan mengingatnya, baiklah terima kasih sudah mengantarku tadi.”
“Ya Tuhan, Kyomi kerongkonganku hampir kering!”
Kyomi dan Kanaka segera membubarkan diri. Kanaka keluar ruangan dan Kyomi menuju mesin pembuat kopi.
“Kopi Anda, Tuan?” Kyomi meletakkan kopi di atas meja.
Dia berdiri di samping pria itu, menunggu perintah selanjutnya dari sang Bos. Hari ini detik ini Kyomi memutuskan akan berdamai dengan keadaan. Dia akan belajar mencintai pekerjaannya. Dia membutuhkan perusahaan ini untuk melunasi kredit keluarganya.
“Hmm.” Gumaman singkat yang di berikan Bian sebagai jawaban membuat bingung. Haruskah dia tetap berdiri di tempat atau dia harus undur diri.
“Bagaimana liburanmu?” Tanya Bian tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas yang sedang dia pelajari.
“Liburan?” Kyomi mengulang sepenggal kalimat Bosnya.
“Ya, aku sudah bertanya sebanyak dua kali dan kau tidak memberikan jawaban yang jelas sama sekali.”
“Aku tidak pergi berlibur, Tuan.” Kyomi tidak memiliki waktu untuk berlibur yang justru akan menghamburkan uang secara percuma. Dia harus berhemat, bagaimana mungkin dia pergi berlibur? Gosip dari mana pula itu?
“Sayang sekali mengingat perusahaan memberikanmu toleransi cuti dua hari secara mendadak. Bukankah sangat beruntung Nona Kyo? Kau menyerahkan surat pengunduran diri dan tiba- tiba muncul seolah tidak terjadi apa- apa?” Percayalah, kalimat sindiran itu si sampaikan dengan nada di tarik- tarik. Sengaja di lakukan untuk membuat lawan berbicaranya tidak berkutik.
“Maafkan aku, Tuan dan terima kasih atas kemurahan hatimu karena sudah bersedia menerimaku kembali.” Benar saja, Kyomi merasa sebagai tersangka detik itu juga.
“Ya, sudah sewajarnya kau berterima kasih atas kebaikanku kembali ke tempatmu.”
“Tempatku?” Ya, Kyomi belum tahu di mana tempatnya. Di mana meja kerjanya? Dia berharap bukan di ruangan yang sama dengan Bian. Di luar ruangan, dia melihat ada dua meja di sana. Semoga saja dia di tempatkan di sana.
“Ya, tempatmu.”
“Di mana?” Tanya Kyomi menuntut jawaban yang lebih jelas.
“Tidak mungkin di atas pangkuanku Nona Kyo. Tentu saja di luar!”
Umpatan hampir saja keluar dari mulut Kyomi. Yang gadis itu lakukan adalah menggigit ujung lidahnya agar tidak menyemburkan makiannya. Lebih baik dia segera pergi demi kesehatan mental dan keselamatan karirnya. Selalu saja Bian mengungkit masalah pangkuan setiap ada kesempatan. Tanpa menghiraukan ucapan Bosnya, Kyomi segera melangka. Di ambang pintu langkahnya terhenti mendengar kalimat yang di lontarkan Bian selanjutnya.
“Nona Kyo, aku tidak menyukai rambut tergeraimu.”
Kyomi sontak berbalik dan menemukan pria itu justru terlihat sedang fokus dengan layar komputernya. Namun, sejurus kemudian Bian mengangkat kepala.
“Kau dengar yang aku katakan?”
Kyomi mengangguk dan segera mengikat rambutnya secara asal. Hal sepele seperti ini tidak perlu di perdebatan walau sedikit tidak masuk akal.
“Aku permisi!” Kyomi berbalik menarik pintu dan segera keluar.
Baru saja dia mendaratkan pantatnya di kursi. Telepon yang ada di atas meja sudah berdering nyaring. Kyomi menoleh ke arah pintu yang tidak lain adalah ruang Bian. Dengan ragu dia mengangkat telepon.
“Kemarilah!” Perintah pria itu dan langsung menutup sambungan teleponnya.
Kyomi mengembuskan nafas panjang sebelum beranjak dari tempatnya untuk kembali masuk ke ruangan Bosnya yang tidak jelas.
“Kau membutuhkan sesuatu, Tuan?”
“Ambilkan bolpoin itu!” Bian menunjuk dengan menggunakan dagu ke arah bolpoin yang dia maksud.
Kyomi melebarkan mata tidak percaya, secara bolpoin yang pria itu maksud berada tepat di hadapannya. Di hadapannya!
“Maksudmu, bolpoin yang ada di hadapanmu?”
Bian mengangguk dengan wajah lempeng, tanpa banyak berkomentar lagi. Kyomi segera mengambil benda tersebut dan memberikannya pada Bian. Oh Tuhan, ini sudah keterlaluan sebenarnya. Hanya tinggal mengulurkan tanggang Bian bisa menggapai benda tersebut. Tidak harus membutuhkan bantuan Kyomi. Ayolah, hal itu tidak akan membuatnya terluka.
“Apa lagi yang kau lakukan di situ? Keluarlah! Bayanganmu mengganggu konsentrasiku.” Bian mengibaskan tangan untuk mengusir Kyomi agar segera berlalu.
Sabar Kyomi, Bosmu ini memang sedikit tidak waras. Kyomi memperingatkan dirinya sendiri.
“Aku menunggu perintahmu, Tuan.”
“Dan aku baru memberikan perintah baru saja Kyo. Keluar!”
Kruukkkk.. kruukkkk..
Bian menurunkan tatapannya ke perut gadis yang ada di hadapannya. Sementara Kyomi refleks memegang perutnya dengan kedua tangan seolah meredam suara memalukan yang baru saja terdengar. Kyomi meringis malu, perutnya keroncongan karena menahan lapar.
“Aku melupakan sarapanku.” Akunya yang memang benar adanya.
Dia terlalu gugup membayangkan reaksi Bian begitu melihatnya kembali ke perusahaan setelah melayangkan surat pengunduran diri dengan sombong. Bian yang mendengar penuturan wanita itu mendongak dan menatap Kyomi datar seraya mengangkat sebelah alisnya.
“Kau sengaja membuat dirimu kelaparan?” Tuding pria itu sembari menyunggingkan senyum mengejek.
“Sengaja bagaimana?” Kyomi terlihat bingung.
Dia tidak mengerti konsepnya, bagaimana bisa ada seseorang membuat dirinya dengan sengaja menderita kelaparan. Kelaparan, hey itu sedikit memalukan!
“Agar kau pingsan di hadapanku untuk menarik perhatianku, mungkin.” Kata Bian dengan wajah lempeng yang meminta ingin di tinju. Tentunya Kyomi tidak akan keberatan untuk melakukannya.
“Maaf Tuan, aku rasa percaya dirimu terlalu berlebihan. Jika aku harus melakukan hal itu tentunya tidak di hadapanmu kau bukan typeku. Permisi!” Tanpa menunggu jawaban Bian, Kyomi berbalik dengan langkah cepat.
“Menarik perhatian? Yang benar saja.” Gerutu Kyomi.
Telepon di mejanya kembali berdering. Kyomi berdecak dia tahu jika yang menelepon sudah pasti bos menyebalkan.
“Aku belum selesai berbicara dan kau sudah pergi. Tidakkah kau merasa sikapmu itu sangat sopan, Nona Kyo?”
“Lalu bagaimana dengan tudinganmu? Kau pikir kau cukup menawan di mataku hingga aku rela menahan lapar agar pingsan di hadapanmu, heh?”
“Kembali ke ruanganku!”
“Aku tidak mau!”
“Aku hitung sampai tiga, Kyo..”
“Aku lapar dan aku perlu makan.”
Tut.. tut.. tut..
Kyomi memutuskan sambungan telepon sebelum Bian keluar dari ruangannya dua segera berlari menuju lift. Benar saja, Bian keluar dengan wajah kesal saat dia sudah berada di dalam lift.
“Kembali kau, Kyomi!”
“Nanti setelah aku mengamankan perutku.” Pintu lift pun tertutup, Kyomi bersorak kegirangan. Kekesalannya terhadap pria itu terbalaskan sedikit.
“Apa aku keterlaluan?” Sesal Kyomi begitu dia sampai di lantai dasar.
“CK! Dia yang keterlaluan.” Kyomi menggeleng.