“Selamat pagi, nona Kyo!” Bian langsung memberikan tas kerjanya untuk di bawa Kyomi yang kini sudah jadi Sekretaris sekaligus Asistennya.
“Selamat pagi, Tuan.” Kyomi menjawab tanpa minat saat bertemu dengan Bosnya di lantai dasar. Dan menurutnya itu bukan awal hari yang baik.
“Belikan aku sarapan, Sandwich tanpa tomat, pakai telur dan mintalah daging yang banyak. Untuk minumnya orange jus tanpa gula dengan sedikit es. Tidak dingin dan tidak panas.”
“Sekarang?” Tanya Kyomi seraya menulis apa yang di perintahkan Bian padanya.
“Nanti setelah kau mengantar tasku ke ruangan.” Bian mendorong tubuh Kyomi masuk ke dalam lift.
“Omong-omong Nona Kyo aku tidak menyukai wanita pendek.”
“Apalagi maksud pria ini.” Gumam Kyomi dalam hati.
Dua minggu sudah berlalu dan selama menjadi asisten Bian. Kesabaran Kyomi benar-benar di uji, pria itu selalu meminta sarapan yang berbeda setiap hari. Kyomi juga harus menata rambut serapi mungkin sesuai perintah Bian, yang tidak boleh di gerai. Terkadang Bian juga mengatur cara berpakaiannya. Kyomi yang sering mengenakan celana di minta sesekali menggunakan rok atau dress. Untuk hal itu sampai detik ini Kyomi mengabaikan aturan tidak jelas tersebut. Selain dia memang tidak pede menggunakan rok atau dress. Dia juga tidak memiliki banyak koleksi tentang dua benda tersebut. Satu-satunya rok yang dua miliki berwarna hitam selutut.
“Ya pria memang cenderung menyukai wanita yang tinggi dan langsing.” Kyomi menanggapinya dengan sewot.
Hubungan antara Bos dan Sekretarisnya tidak pernah akur, tapi untuk beberapa menit dalam sehari keduanya terkadang berbicara layaknya teman kerja pada umumnya. Terlihat normal walau hanya beberapa saat.
“Nah, itu maksudku.” Bian menjentikkan jari.
“Wanita pendek sedikit tidak sedap di pandang jadi, Nona Kyomi katakan padaku bagaimana caramu untuk menyiasati tubuhmu yang pendek itu.” Lanjutnya.
Hidung Kyomi kembang kempis menahan amarah. Bisakah omongan Bosnya itu di sebut tindakan mencela. Sungguh dia ingin melaporkan Bian atas tuduhan body shaming.
“Apalagi maksud Anda Tuan?” Desisnya dengan kepala mendongak. Jika bersanding dengan Bian tingginya memang hanya sebatas d**a pria itu.
“Berhenti mengenakan sepatu flat shoes, mulai besok pakailah sepatu heels.
“Memangnya ada aturan tertulis seperti itu? Sepertinya Anda terlalu mencampuri penampilan saya Tuan. Dan ini sedikit tidak masuk akal.” Jika sedang kesal, Kyomi pasti bersikap formal.
“Tentu saja masuk akal, kau seorang Sekretaris harus enak di pandang. Dan soal aturan yang kau pertanyakan ada di surat kontrak. Berpenampilan menarik.”
Pintu lift terbuka, dan itu mengurungkan niat Kyomi yang akan melayangkan protes karena Bian sudah langsung keluar.
“Letakkan tasku di atas meja, waktumu 10 menit dari sekarang. Jangan ada yang salah dengan pesanan yang aku sebutkan tadi. Kau mengerti?”
Kyomi meletakkan tas Bian ke atas meja dengan sedikit kasar. Sebelum Bian menegurnya, dia langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan tersebut.
“Pendek? Bagaimana bisa seorang pria memiliki mulut yang menyebalkan seperti itu lihat saja aku akan membalasnya. Pakai heels? Yang benar aja.” Gerutu Kyomi menggerutu sambil berjalan cepat.
Setiap pagi dia selalu berpacu dengan waktu hanya untuk sekedar membeli sarapan. Flat shoes yang dia pakai tentu saja sangat membantunya, dia bisa berlari dengan mudah.
“Sepertinya Bian membuatmu kesal lagi.” Kata Kanaka yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya menyamakan langkah mereka.
“Selamat pagi Tuan.” Sapa Kyomi sebagai formalitas.
“Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak terlalu formal Kyomi. Jadi katakan, kali ini Bian membuat ulah apa lagi?”
Ya, Kyomi dan Kanaka sering bertemu saat membeli sarapan. Tidak jarang Kanaka berperan sebagai pahlawan yang menyelamatkan Kyomi jika terlambat. Di mata Kyomi, Bian dan Kanaka benar-benar dua sosok pribadi yang sangat berbeda. Jika Bian type pria menyebalkan yang mudah untuk di benci maka Kanaka sebaliknya tipikal pria lembut penuh perhatian yang mudah untuk di sukai. Di balik sikap yang penuh perhatiannya itu Kanaka juga sedikit playboy, dia suka menggoda banyak wanita.
“Dia memintaku menggunakan heels. Menurutmu apa aku sangat pendek?” Adunya dengan bibir mengerucut kesal.
“Bian mengatakan hal itu?”
“Ya dengan gaya yang sangat menyebalkan.”
“Menurutku kau type wanita yang enak untuk di peluk, di dekap tidak terlalu pendek.”
“Ck, si playboy tapi terima kasih sudah menghiburku.”
“Aku tidak sedang merayumu Kyomi.”
Sampainya di cafe di lantai bawah Kanaka membukakan pintu untuk mereka masuk. Lihatlah cara Bian dan Kanaka memperlakukan wanita juga sangat berbeda. Bian tidak pernah membuka pintu untuknya. Bian type pria manja yang harus dilayani, benar-benar merepotkan. Kanaka menyebutkan pesanannya begitu juga Kyomi juga menyebutkan pesanannya.
“Biasanya Bian tidak menyukai tomat di makanannya, kau yakin akan memesan itu Kyo?” Tanya Kanaka.
“Ya, dia memesan seperti itu dengan saos tomat yang banyak.” Bohongnya.
Kyomi sengaja memesankan pesanannya tidak sesuai apa yang di katakan Bian. Itu sebagai balasan atas hinaan pendek yang Bian berikan.
“Sama Orange juice, aku mau yang panas.”
Kanaka semakin mengerutkan dahi mendengar pesanan Kyomi.
“Kau sungguh yakin Bian memesan seperti itu?”
“Ya.” Kyomi menerima pesanannya dan seperti biasa Kanaka lah yang membayarnya.
“Kau tidak memesan untuk dirimu?” Tanya Kanaka sebelum mereka meninggalkan cafe.
“Aku sudah sarapan.” Jawabnya.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi.”
***
Bian melihat jam begitu Kyomi memasuki ruangannya dia berdecak karena Kyomi datang tepat waktu. Menjahili Kyomi sudah seperti hiburan tersendiri baginya. Sejak mengangkat Kyomi jadi Sekretarisnya Bian semakin rajin mendatangi kantor. Dulu dia menyerahkan kepercayaan kepada Kanaka untuk menangani perusahaan.
“Tidak ada yang salahkan dengan pesananku Nona Kyo, ingat aku aka..”
“Akan memotong gajiku jika sampai permintaanmu tidak sesuai perintah. Selamat menikmati Tuan.” Sela Kyomi, dan dia langsung pergi dari hadapan Bosnya.
Kyomi berdoa dalam hati semoga Bian tidak menyadari apa yang sudah dia lakukan. Kyomi duduk manis di kursinya menunggu reaksi Bosnya. Biasanya Bian tidak akan memeriksa makanannya dan langsung di makan. Dan..
“KYOMI KEMARI KAU!” Teriak Bian.
Kyomi bersorak sebelum beranjak dari kursi memenuhi panggilan Bosnya.
“Ada apa Tuan? Apa yang terjadi?” Tanya Kyomi dengan pura-pura memasang wajah panik.
“Apa yang kau masukkan ke dalam sandwichku?” Geram pria itu dan Kyomi semakin bersorak di dalam hati melihat kemarahan yang terpampang jelas di wajah Bian.
“Sesuai pesanan yang Tuan katakan.” Jawabnya dengan mimik tidak bersalah.
“Kau memasukkan saos dan tomat.” Desis Bian. Tangannya terulur meraih minumannya dan Kyomi menunggu apa yang terjadi berikutnya.
BYUUURRRRR!
Bian menyemburkan minuman karena suhunya yang terlalau panas lidahnya terbakar.
“Ya Tuhan, Tuan membasahi semua berkas yang ada di atas meja. Cara makanmu kacau sekali Tuan.” Kyomi mengambil tisu dan memberikannya kepada Bian dengan air wajah kalem seolah bukan dirinya penyebab kekacauan ini.
Bian mengepalkan tangan mencoba menahan amarah atas kelancangan Sekretarisnya yang bertingkah bagaikan kelinci liar yang mengibarkan bendera perang.
“Gajimu aku potong 50 persen Nona Kyomi!”