Malam Beracun

1259 Words
Gedung tua di pinggiran Belawan itu tak pernah menyambut tamu dengan ramah. Malam turun dengan lembap, seolah memberi isyarat akan datangnya bencana. Di dalamnya, Almira duduk bersandar pada tiang bambu, tubuhnya kaku dan dingin, namun mata gadis itu tetap tajam, menyala dengan api yang tidak bisa dipadamkan hanya dengan ancaman atau jeriken bensin. Sejak ia diseret paksa dari mobil yang seharusnya membawanya bertemu Arkha, Almira tahu ini bukan penculikan biasa. Kalimat-kalimat para preman itu terus terngiang di kepalanya: “Biar dia tahu, proyeknya nggak diterima di sini!” “Kalau cewek ini kebakar di sini, berita akan lebih cepat meledak.” Mereka tidak menginginkan uang tebusan. Mereka ingin darah. Simbol. Dan Arkha Hadisaputra, pria yang bahkan belum mau menemuinya, akan menjadi pihak yang disalahkan. Tapi Almira bukan gadis sembarangan. Ia mungkin baru menginjak usia dua puluh tahun, mungkin baru pertama kalinya berada di kota sebesar Belawan sendirian, namun dia membawa warisan paling penting dari keluarganya, kecerdasan dari keluarga Pratama tidak pernah diragukan lagi. Dengan tangan terikat dan lutut berdarah, Almira diam-diam memutar ulang semua pengetahuan survival yang pernah dia pelajari. Saat matanya menangkap sudut besi berkarat di lantai, dia tidak ragu. Luka di pergelangan tangan hanya rasa sakit sementara. Jauh lebih penting menyelamatkan nyawanya dan proyek yang selama ini bahkan tak pernah menghargainya. Setelah berhasil melepaskan diri, dia tidak langsung kabur. Tidak, Almira bukan tipe yang lari meninggalkan masalah. Ia memalsukan tanda-tanda kebocoran bahan bakar. Menyalakan alarm palsu. Dan seperti yang dia prediksi, para preman panik, lalu masuk ke dalam. Kesempatan itu dia gunakan untuk keluar, mengendap di antara bayangan malam, lalu menelpon jaringan darurat Hadisaputra yang diberikan Eyang Gendhis sebelum keberangkatannya. Sepuluh menit kemudian, dunia berubah. Sirene meraung. Polisi dan pemadam datang. Para preman tertangkap basah sebelum sempat menyulut api. Almira duduk di dalam ambulans, lengan kirinya sudah dibalut perban. Bajunya sobek di beberapa bagian, namun wajahnya tetap tegak. Meski pucat, tak ada satu pun kata mengeluh yang keluar dari mulutnya. Ketika seorang petugas keamanan dari Hadisaputra Group menghampirinya, nada suaranya penuh rasa hormat. “Kami sudah menghubungi Tuan Arkha. Beliau dalam perjalanan ke sini.” Almira hanya mengangguk. Tak ada senyum, tak ada tangis. Hanya kelegaan dan sedikit nyeri yang ia rasakan saat menyadari bahwa dia baru saja menggagalkan rencana pembakaran besar sendirian. Ia menatap langit malam Belawan yang mulai dihiasi bintang. “Aku datang untuk menyerahkan dokumen, tapi justru aku yang menyerahkan nyawaku.” Tapi dia tak menyesal. Bahkan sedikit bangga. Setidaknya malam ini, dia bukan hanya seorang calon istri bayangan. Dia bukan mata-mata seperti prasangka Arkha. Dia adalah seseorang yang menyelamatkan nama besar Hadisaputra, bahkan sebelum resmi menjadi bagian darinya. *** Langkah sepatu kulit yang tegas menggema di lorong rumah sakit Belawan. Semua mata petugas medis dan keamanan menunduk ketika pria dengan jas gelap dan tatapan membunuh itu melintas. Arkhana Mahardika Hadisaputra bukan sekadar pewaris nama besar, dia badai yang bisa menyapu siapa pun yang menghalangi jalannya. Dan badai itu kini masuk ke ruang IGD dan melihat gadis itu. Almira duduk di ranjang periksa dengan luka di lengannya, perban di pelipis, dan mata yang masih menyala. Bahkan dalam keadaan terluka seperti ini, ia tidak tampak lemah. Dan itu entah kenapa membuat Arkha semakin kesal. “Kenapa kamu di sini?” tanya Arkha, nadanya dingin, seperti uap es yang memeluk dinding baja. Almira mendongak pelan, menatap pria itu tanpa gentar. “Karena Eyang Gendhis memintaku menyerahkan langsung dokumen proyek pada Anda.” Arkha mengangkat alis, tertawa pendek, bukan karena lucu, tapi karena muak. “Dan kamu pikir aku akan percaya kalau kamu ke Belawan hanya karena disuruh?” Arkha mendekat, nadanya tajam. “Atau ini bagian dari skenario keluarga Pratama untuk menyabotase proyek ini? Mengirim mu ke sini." Almira menahan nafasnya. “Saya baru hampir dibakar hidup-hidup oleh mafia, Pak. Bukan datang untuk berperan drama.” “Persis!” Arkha menunjuk ke arahnya. “Dan itu masalahnya! Kamu nyaris terbunuh di proyekku. Kalau berita ini bocor ke media, satu Belawan akan bilang aku mengorbankan calon istri demi ambisi. Ini bukan penyelamatan, ini bencana PR!” Almira memutar wajah, menahan panas di matanya. “Saya menyelamatkan proyek ini. Kalau saya lari, gedung itu pasti terbakar. Tapi tidak, saya bertahan, karena ini penting untuk Anda!” “Untukku?” Arkha menyeringai miring. “Jangan berlagak peduli. Keluarga kamu sudah cukup merusak hidup keluargaku. Aku tidak butuh tambahan dari kamu.” Diam. Untuk beberapa detik, hanya suara alat monitor dan napas tertahan Almira yang terdengar. “Kalau begitu kenapa Anda kesini, Pak." Arkha melangkah mendekat, namun tak menjawab. Matanya hanya memaku wajah Almira, seolah ingin membaca motif tersembunyi di balik keberanian gadis itu. Lalu akhirnya, dia berkata dengan dingin, “Pulang. Sekarang.” Tapi Almira menatapnya, tak bergeming. “Tidak. Saya akan tetap di sini sampai Anda sendiri yang membawa saya kembali ke Harua, sebagai istri sah Anda, atau sebagai wanita yang Anda usir dengan tangan Anda sendiri.” Mata mereka saling bertaut. Arkha tidak terbiasa ditantang. Apalagi oleh perempuan dengan luka di lengannya, tapi keberanian yang bahkan rekan bisnisnya pun tak punya. Dan justru karena itu, Arkha semakin benci. Karena untuk pertama kalinya, ada seseorang dari keluarga Pratama yang tidak tunduk. Dan hatinya yang selama ini beku mulai retak oleh rasa yang tak seharusnya ada. Langit malam di Belawan dibalut pekat tanpa bintang. Angin dari laut membawa udara lembab menyusup ke celah jendela villa, menambah dingin yang tak hanya terasa di kulit, tapi juga di hati mereka yang menyimpan perang batin masing-masing. Almira tertidur di kamar tamu lantai dua. Setelah semua kejadian yang mencekam siang tadi, tubuhnya benar-benar kelelahan. Namun, jauh di bawah sana, di ruang kerja yang remang dengan cahaya lampu meja, Arkha masih menatap layar laptop, matanya merah karena terlalu lama menahan kantuk dan pikiran yang tak kunjung tenang. Tok. Tok. Pintu ruang kerja terbuka pelan. Riana melangkah masuk dengan nampan di tangan. Secangkir teh hangat dan sepotong roti manis tersaji rapi. “Mas Arkha, aku tahu kamu belum makan. Ini teh herbal dari Mama, katanya bisa bantu istirahat,” ucap Riana lembut. Arkha menoleh sebentar. Ia tak punya tenaga untuk menolak. Ia hanya mengangguk singkat dan kembali menatap layar. Beberapa menit setelah meneguk teh itu, kepalanya terasa berat. Pandangannya mulai kabur. Tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri pelan, namun kakinya goyah, dan pikirannya tak fokus. “Sial…” gumamnya, menggenggam pelipis. Dengan sisa kesadaran, Arkha menyeret tubuhnya keluar ruang kerja menuju kamarnya. Tapi saat membuka pintu kamarnya, ia terhenti. Lampu kamar temaram. Tirai dibiarkan setengah tertutup, dan di tengah ranjang, Riana telah menunggunya, mengenakan gaun tidur tipis nyaris transparan, senyum manisnya penuh maksud. “Aku tahu kamu hanya butuh alasan untuk menghapus semua luka, Mas Arkha…” bisiknya lembut. “Biarkan aku jadi tempatmu melupakan segalanya malam ini…” Arkha menatapnya dalam. Napasnya tak beraturan. Tubuhnya bereaksi karena efek obat, tapi kesadarannya masih tersisa. Ia memejamkan mata, mencoba menarik napas dalam-dalam. “Keluar,” suaranya serak, namun tegas. Riana mendekat. “Mas, kamu tidak perlu berpura-pura kuat. Aku tahu kamu butuh aku. Bukan perempuan itu.” Arkha menahan diri. Wajahnya menegang. Dan ketika Riana mencoba menyentuh pipinya, Arkha meraih pergelangan tangannya dan melemparkannya menjauh. Tak keras, tapi cukup membuat Riana terkejut. Plak. Tangan Arkha mendarat di pipi Riana, tak kuat tapi tegas. "Jangan pernah ulangi ini lagi," katanya dingin. "Jangan pernah anggap aku bisa dibeli dengan permainan murahan seperti ini." Riana tercekat. Matanya membulat, tak percaya Arkha berani menamparnya. Arkha menatapnya dengan sorot tajam, meski tubuhnya hampir roboh. Dengan sekuat tenaga, ia meninggalkan kamar itu dan menyeret tubuhnya ke kamar tamu, satu-satunya tempat yang bisa ia percayai saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD