Pria Dingin

1113 Words
Langit Malaca sore itu tampak kelabu, seperti cerminan suasana hati Almira yang masih menggantung. Sudah tiga hari ia tinggal di rumah besar Hadisaputra, dan setiap hari adalah ujian. Arkha nyaris tak pernah bicara padanya. Jika pun bicara, suaranya datar, singkat, dan penuh penolakan yang dibungkus sopan santun kaku. Hari pertama, Almira menyapanya di ruang kerja. Arkha hanya menoleh dan berkata, “Tolong jangan ganggu. Ini bukan rumah tamu.” Hari kedua, Almira mencoba membawakan teh ke ruangannya. Arkha menatap cangkir itu dan hanya berkata, “Aku tidak minum apapun yang tidak saya pesan.” Hari ketiga, Almira menyapa dengan senyum. Arkha hanya lewat begitu saja, seperti tak mengenal. Namun yang paling menjengkelkan justru datang dari Riana. Riana, yang mengaku sebagai “anak angkat” keluarga Hadisaputra, selalu punya cara menyakiti tanpa terlihat. Ia begitu manis di depan Eyang Gendhis, tapi berubah jadi duri tajam saat hanya berdua dengan Almira. Hari itu, Almira baru saja mengganti vas bunga di ruang utama sesuai permintaan Eyang Gendhis. Riana masuk, lalu menatapnya dari atas ke bawah. “Kau tahu kenapa bunga itu selalu mawar putih?” tanya Riana tajam. Almira menjawab, “Karena Eyang Gendhis menyukai simbol kesucian dan ketenangan.” Riana mendecak. “Dan kau, yang datang menggantikan Nadia, apa kau masih bisa menyebut dirimu suci?” Almira menahan napas. Perlahan ia meletakkan vas bunga. “Aku tak punya waktu untuk debat dengan orang yang tidak punya urusan dengan hidupku,” jawab Almira tenang. Riana mendekat. “Kau pikir kau bisa betah di sini? Kau pikir Arkhana akan menyentuh wanita seperti kau?” Almira menatapnya, tersenyum miring. “Aku tidak perlu disentuh siapa pun untuk merasa berharga.” Tanpa menunggu balasan, Almira pergi meninggalkan ruangan. Malamnya, Riana menyabotase makan malam Almira. Ia memesan staf dapur untuk “tidak menyediakan makanan khusus” yang biasanya diberikan tamu penting. Almira hanya mendapatkan roti yang sebentar lagi basi dan sup hambar. Tapi ia tetap makan tanpa protes. Saat Eyang Gendhis bertanya, “Kenapa kau makan seadanya?” Almira menjawab, “Saya suka makanan sederhana. Biar tidak lupa rasa bersyukur.” Riana yang duduk di seberang hanya tersenyum sinis. Tapi Arkha, yang baru turun dari lantai atas, memandang Almira dengan tatapan yang berbeda. Ia tidak berkata apa-apa, tapi dalam hati... mulai muncul pertanyaan. “Kenapa dia tidak mengadu? Kenapa dia tidak pergi? Apa yang dia cari sebenarnya?” Arkha tau jika tiga hari ini Riana sering mengganggu Almira, tapi dia diam saja, justru seakan berharap Riana terus mengganggunya. Keesokan harinya, pelayan pribadi Almira mengaku diminta Riana untuk ‘pindah ke luar kamar’ dengan alasan kebersihan. Almira bangun kesiangan karena alarm kamarnya dicabut, dan nyaris dipermalukan saat rapat keluarga pagi. Namun ia tetap tampil tenang. Rambut disanggul sederhana, blazer putih, dan wajahnya bersih meski tanpa riasan. Ia duduk di kursi tamu dengan sopan. Arkha datang terlambat ke rapat. Tatapannya tajam ketika melihat Almira, yang duduk sendiri tanpa ada yang menyambut. “Kenapa kamu di sini?” tanyanya datar. Almira menjawab dengan senyum kecil. “Karena saya masih punya empat hari lagi untuk bertahan.” “Kalau kamu berharap aku akan luluh,” kata Arkha dingin, “maka kamu salah rumah. Aku akan pastikan kamu tak betah dan pergi.” Almira menatap mata pria itu. “Silakan coba. Aku datang kesini dengan tekad menikah denganmu. Jika memang hidupku menderita, itu sudah suratan takdirku.” Dan Arkha... untuk pertama kalinya... kehilangan kata-kata. Malam harinya, di kamar kerja Arkha... “Dia tidak mengeluh,” ujar salah satu pelayan kepada Arkha yang tengah memeriksa dokumen. “Dia juga menolak bantuan dari Eyang. Katanya dia ingin bertahan karena prinsip.” Arkha meletakkan penanya. Pandangannya kosong sesaat, lalu terarah ke jendela. “Kenapa dia tidak menyerah? Apa sebenarnya yang dia sembunyikan?” *** Pagi itu, Eyang Gendhis memanggil Almira ke ruang baca yang penuh aroma kayu tua dan lembaran-lembaran sejarah keluarga. “Kamu akan berangkat ke Belawan sore ini,” ujar Eyang sembari menyerahkan map kulit cokelat tua. “Bawa ini ke tangan Arkha. Jangan titip ke siapa pun.” Almira menerima map itu dengan sedikit kening berkerut. “Kenapa saya, Eyang?” “Karena dia keras kepala, dan hanya kamu yang belum ia tolak habis-habisan.” Eyang tersenyum lirih, lalu menambahkan, “Tunjukkan kalau kamu bukan hanya calon istri di atas kertas.” Di Belawan, Arkha berada di kantor proyek. Ruangannya dingin, penuh layar CCTV yang menyorot ke berbagai penjuru pembangunan hotel yang masih menuai penolakan warga. Asisten pribadinya masuk dengan gugup. “Tuan, calon istri Anda... Nona Almira... akan datang ke sini. Katanya membawa dokumen langsung dari Ibu Ny. Gendhis.” Arkha tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri dan menatap layar monitor. Sorot matanya tajam, penuh keraguan. “Mereka pikir aku bodoh? Mengirim wanita itu hanya untuk memantau pergerakan proyek ini.” “Katakan saya sedang rapat. Jangan izinkan dia masuk ke lokasi jika tiba. Biarkan dia tunggu. Kalau dia menyerah, bagus. Kalau tidak... anggap saja ujian.” Almira tiba di Belawan dengan mobil pribadi Eyang. Ia sudah menghafal alamat, mengenakan blouse biru muda, dan celana kulot putih. Map kulit itu ia peluk erat seperti membawa sebuah rahasia negara. Namun sesampainya di depan gerbang lokasi proyek, ia dihentikan oleh petugas keamanan. “Maaf, Ibu. Tidak ada izin kunjungan. Pak Arkha sedang tidak bisa diganggu.” “Tapi saya diminta Eyang Gendhis untuk menyerahkan ini langsung ke tangan beliau.” Petugas hanya mengangkat bahu. Almira duduk di kursi tunggu kecil yang panas, menahan kesal, menahan gengsi. Tak disangka, kerumunan warga mulai berdatangan dari arah jalan utama. Poster-poster berisi penolakan proyek mulai dikibarkan. “Tolak pembangunan hotel!” “Tanah kami bukan milik konglomerat!” Massa mulai ricuh. Seorang wanita tua melontarkan batu ke pagar. Almira hendak beranjak mencari tempat aman, tapi seseorang menyentuh bahunya dari belakang. “Mbak, ikut kami aja dulu. Bahaya kalau di sini.” Wajah pria itu ramah, tapi matanya... tajam. Terlalu tajam untuk sekadar peduli. Almira ragu, tapi sebelum bisa menolak, dua pria lain muncul dari arah berlawanan. “Cepat, sebelum massa makin gila!” “Mobil kamu sudah kami amankan di belakang. Lewat sini!” Dibawa ke gang sempit, Almira merasa ada yang tidak beres. Namun sebelum ia sempat lari, kain gelap telah menutupi wajahnya, dan dunia pun menggelap. Di layar ruang kontrol, Arkha menatap pemandangan massa yang semakin memburuk. Salah satu asisten panik masuk. “Pak... Nona Almira menghilang. Mobilnya ditinggal, dan dia tidak terlihat di area mana pun.” Arkha langsung menegang. Wajahnya berubah, tidak lagi sedingin es, tapi lebih seperti baja yang disiram api. “Cari dia. Sekarang.” Suara itu tajam, tak terbantah. Untuk pertama kalinya, nama Almira menggema di ruang pengambilan keputusan Hadisaputra... bukan sebagai alat politik, tapi sebagai seseorang yang harus ditemukan, apa pun caranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD