Saya Butuh Waktu

1165 Words
Almira menatap megahnya bangunan yang menjulang di hadapannya. Pintu gerbang tinggi berlapis emas, taman yang rapi seperti hasil sapuan pelukis, dan rumah besar bergaya kolonial modern dengan sentuhan marmer di setiap sisinya. “Ini rumah... atau museum kerajaan?” gumamnya pelan sambil menarik koper kecilnya. Ia melangkah pelan menuju pintu utama. Langkahnya ragu, tapi niatnya bulat. Begitu pintu terbuka oleh pelayan, aroma bunga melati dan kayu manis menyambutnya. Sebelum sempat bertanya, seorang gadis dengan penampilan anggun namun tatapan tajam muncul dari lorong sebelah kanan. Gadis itu mengenakan gaun satin hijau zamrud dan sedang membawa nampan berisi cangkir-cangkir kopi. “Permisi, saya—” Dukk! Nampan beserta kopi panas itu terayun ke depan... namun Almira dengan sigap menghindar, melangkah ke samping dengan luwes. Bukannya Almira yang terkena, gadis itu malah kehilangan keseimbangan dan— “Aaaahhh!!” Cesssshhh! Kopi panas itu tumpah... ke gaun mahal gadis itu sendiri. “Astaga!” Gadis itu menjatuhkan nampan, matanya melotot, rambutnya berantakan. “Aduh, saya minta maaf! Tapi saya benar-benar tidak sengaja—” “Dasar kampungan! Kamu pikir ini pasar?!” bentaknya tajam. Almira menahan diri untuk tidak membalas. “Tadi kamu yang jalan nabrak, dan saya sudah bilang permisi...” “Beraninya kamu bicara begitu di rumah ini?! Kamu bahkan belum sah jadi siapa-siapa!” Almira menghela napas. “Saya hanya mau bantu, tapi kalau kamu lebih suka jadi korban dramatis, silakan.” Ia mundur pelan. “Saya tidak mau menjadi penyebab kamu benci kopi seumur hidup.” Gadis itu terdiam sejenak, mulutnya terbuka namun tak mampu membalas. Sementara Almira, dengan tenang melanjutkan langkah menuju ruang tengah. Di sana, di ujung ruangan megah berlangit-langit tinggi dengan lampu gantung kristal, duduk seorang wanita tua dengan rambut keperakan dan sorot mata bijak, Eyang Gendhis. Wajah tua itu langsung berseri melihat kedatangan Almira. “Nah... akhirnya datang juga. Kamu pasti... Nadia?” Almira tersenyum ragu. “Bukan, Eyang. Saya Almira. Sepupunya Nadia.” Eyang Gendhis menaikkan alis. “Oh? Lalu...?” “Saya yang akan menggantikannya,” ucap Almira mantap. “Karena sesungguhnya, perjodohan ini sejak awal memang antara saya dan Pak Arkhana.” Eyang Gendhis terkekeh, menggenggam tangan Almira. “Anak manis, kenapa kau menyebut cucuku dengan ‘Pak’? Seperti menyebut lurah saja.” Almira tersenyum canggung. “Soalnya... jujur saja, kami terpaut cukup jauh usia. Jadi saya refleks.” “Hahaha!” tawa Eyang menggelegar, membuat dua pelayan di pojok ikut tersenyum. “Kau memang berbeda, ya. Dan kamu... kamu datang dengan caramu sendiri.” Almira mengangguk. “Saya tahu ini bukan keputusan mudah. Tapi saya lebih memilih memasuki kandang harimau dengan kepala tegak... daripada kandang emas yang penuh tipuan.” Eyang Gendhis mengangguk, sorot matanya dalam. “Kamu anak yang menarik, Almira. Dan jujur saja... aku sudah lelah dengan gadis-gadis yang datang kemari hanya membawa ambisi dan kepalsuan.” Almira tersenyum lembut. Dan tanpa ia tahu... dari lantai atas, berdiri seseorang yang baru saja tiba. Dengan tangan di saku dan tatapan meneliti, Arkhana melihat ke bawah, matanya menangkap gadis yang beberapa jam lalu nyaris jatuh di rest area... Gadis yang kini duduk di sofa keluarganya, dengan senyum yang terlalu percaya diri untuk ukuran tamu baru. "Dia?" gumam Arkha pelan. Mulutnya terangkat sedikit. Setengah bingung. Setengah tertarik. Dan untuk pertama kalinya... ia merasa ingin tahu. “Arkha, duduklah dulu.” Suara Eyang Gendhis terdengar tenang namun penuh wibawa. Arkha turun dari lantai dua, langkahnya tenang tapi sorot matanya tajam. Jasnya tak terlalu formal, namun rapi, mencerminkan karakternya dingin, tertutup, dan selalu menjaga jarak. Almira berdiri begitu melihat pria itu, dan mata mereka pun saling bertemu. Sekilas, ia mengenali wajah itu. Pria di rest area. Yang menyelamatkannya dari jatuh. Yang kemudian pergi tanpa sepatah kata. Arkha pun menatap Almira dengan ekspresi tak terbaca. “Jadi ini…” Ia mengarahkan pandangan ke neneknya. “Ini calon istri yang Eyang maksudkan?” “Namanya Almira Pratama,” kata Eyang Gendhis sambil tersenyum. “Bukan Nadia. Tapi dialah yang seharusnya menjadi Hadisaputra.” Arkha tak duduk. Ia menyilangkan tangan di d**a. “Eyang tahu saya tidak pernah menyetujui pernikahan ini.” “Kau memang tidak pernah menyetujuinya, karena hatimu terlalu sibuk menyimpan dendam,” ujar Eyang, tatapannya langsung menembus lapisan kebekuan Arkha. “Tapi ini tentang keluarga, Arkha. Tentang menepati janji yang dulu dibuat oleh kakekmu dan Kakek Tama.” Arkha menoleh ke Almira. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi sorot matanya bertanya. "Kau pun tahu ini absurd, kan?" Almira tidak gentar. Ia menatap balik pria itu. “Saya pun tak menyetujui pernikahan ini… awalnya.” Arkha mengernyit. “Tapi kemudian saya berpikir,” lanjut Almira, nadanya kalem tapi mantap. “Jika dua keluarga ini pernah bersatu karena rasa hormat, bukan dendam, mungkin yang dibutuhkan sekarang bukan cinta instan, tapi kemauan untuk menyelesaikan masa lalu yang belum tuntas.” Suasana ruang tamu menjadi hening. Arkha tersenyum kecil. Sinis. “Jadi kau datang ke sini untuk menebus dosa keluargamu?” “Tidak,” jawab Almira cepat. “Saya datang untuk menyelamatkan kakak sepupu saya. Dan untuk tidak menikah dengan pria yang lebih buruk seperti Anda.” Sebuah tembakan tepat sasaran. Eyang Gendhis terkekeh pelan. “Anak ini tidak datang dengan tangisan. Dia datang dengan tekad.” Arkha menoleh tajam ke neneknya. “Eyang, saya bilang... saya tidak mau menikah! Apalagi hanya demi menyatukan dua nama keluarga yang sudah retak. Ini bukan strategi bisnis!” “Benar,” jawab Eyang. “Tapi kamu lupa… kamu tidak hanya mewarisi perusahaan. Kamu mewarisi sejarah. Kamu pikir aku akan diam saja melihat cucuku hidup penuh dendam dan terus menghancurkan dirinya dengan amarah?” Arkha mengatupkan rahangnya. Lalu menatap Almira sekali lagi. “Kau tahu siapa aku?” tanyanya datar. “CEO termuda di negara ini?” jawab Almira tenang. “Yang bisa menghancurkan proyek siapa pun hanya dengan satu email? Yang hatinya beku sejak dulu karena trauma kehilangan dan ditinggalkan orang yang dicintainya?” Arkha melangkah maju, alisnya terangkat. “Kau menggali latar belakangku?” “Sama seperti kau pasti sudah tahu siapa aku sebelum aku tiba di sini.” Suasana terasa panas tapi menggelitik. Eyang Gendhis mendesah puas. “Kupikir kalian akan saling membunuh di pertemuan pertama. Tapi ini justru... menarik.” Arkha menatap sang nenek, lalu ke Almira. “Kau terlalu berani.” “Dan kau terlalu mudah marah,” balas Almira sambil tersenyum manis. “Kita cocok.” Untuk sesaat, ada bayangan tawa yang nyaris muncul di bibir Arkha. Tapi ia membuang muka. “Saya tetap tidak akan menikah hanya karena Eyang memaksa.” Eyang Gendhis berdiri. “Kamu bisa menolak, Arkha. Tapi kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan. Nama, warisan, dan... masa depan yang bisa kamu pilih untuk diperbaiki.” Arkha diam. Ia memandang jendela besar, lalu berkata pelan, “Saya butuh waktu.” Eyang mengangguk. “Kamu punya waktu seminggu. Kalau kau masih menolak, pernikahan ini batal. Tapi jika kau menyetujui... maka bersiaplah. Karena gadis ini bukan perempuan biasa.” Arkha melirik Almira satu kali lagi. Dan kali ini, ia benar-benar merasa tertarik. untuk mengusir, ego dan dendamnya masih terlalu tebal untuk diurai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD