Pelarian Sang Pengantin

1254 Words
Bandara Kota Dhaha malam itu terasa begitu sesak meski langit sedang tak menangis. Di pojok kursi ruang tunggu keberangkatan, seorang gadis ber-syal coklat duduk terpaku. Bahunya bergetar. Matanya sembab. Nadia Larasati tak bisa lagi menyembunyikan ketakutan yang menggerogoti dadanya. Tiket di tangannya sudah hampir lecek. Pesawat menuju Malaca akan lepas landas dalam satu jam. Tapi bukan itu yang membuat napasnya tersengal, melainkan... kenyataan bahwa ia akan dikirim seorang diri ke keluarga Hadisaputra keluarga yang katanya berdarah dingin, penuh dendam, dan pemilik masa lalu yang kelam terhadap keluarganya sendiri, bahkan ayahnya sendiri tak berani mengantarkan dirinya. Ia bukan sekadar dijodohkan. Ia dikirim menuju kandang harimau... sendirian. “Nadia.” Suara lembut namun tegas itu membuat Nadia tersentak. Ia menoleh. Matanya melebar saat mendapati sosok Almira Pratama berdiri di hadapannya, mengenakan coat panjang warna krem dan scarf biru muda. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tegar. “Al..?” suara Nadia tercekat. Almira tersenyum kecil, lalu duduk di samping adik sepupunya itu. Ia menggenggam tangan Nadia yang dingin dan gemetar. “Kamu gak perlu pergi ke Malaca,” katanya lembut. Nadia menggeleng kuat. “Jangan, Almira. Jangan bilang kamu mau... menggantikan aku? Itu gila! Keluarga Hadisaputra bukan orang biasa. Kamu tahu kan, Papa kamu pernah dituduh jadi penyebab kematian ayahnya Arkha! Kalau mereka tahu kamu anak Pak Gunawan...” “Aku tahu,” sela Almira cepat. “Dan aku juga tahu... apa yang aku hadapi. Tapi lebih baik aku yang masuk ke perangkap itu, daripada kamu yang dihancurkan perlahan-lahan, dan sekaligus menebus kesalahan papa yang memang saat itu tidak punya pilihan lain.” Nadia terisak, menggenggam erat tangan Almira. “Tapi... kenapa kamu rela? Kamu sendiri kan baru akan lamaran dengan Aldian...” Almira tertawa pelan. Tapi tawa itu hampa, seperti melepaskan luka yang lama dipendam. “Aldian mencintai wanita lain, Nad. Semua orang tahu. Aku hanya pelarian. Dan sekarang dia melamarku bukan karena cinta, tapi karena ingin memanfaatkan koneksi Papa di proyek kota baru.” Ia menatap jauh ke arah pintu boarding yang terus berganti angka. “Masuk ke kandang harimau atau masuk ke dalam perangkap emas, sama-sama membuatku terluka. Tapi kalau aku harus memilih... lebih baik aku yang kembali pada janji lama itu. Lagipula, yang pertama kali dijodohkan dengan Arkhana adalah aku.” Nadia menggigit bibir. Matanya basah. “Kamu yakin akan baik-baik saja?” “Aku nggak yakin,” jawab Almira jujur. “Tapi kamu harus pergi ke tempat yang lebih aman. Ke tempat Rio. Aku yang akan ke Harua menggantikanmu. Mulai sekarang... Dan pulanglah setelah aku bertemu dengan keluarga Hadisaputra. Nadia tak bisa berkata-kata lagi. Dalam pelukan sunyi, ia menyerah pada Almira yang keras kepala, seolah menyerahkan takdirnya. Dan satu jam kemudian, Almira Pratama terbang menuju Malaca, menuju rumah keluarga Hadisaputra sendirian tanpa keluarga, ini semua demi keamanan agar Arkha tidak marah melihat keluarga Pratama, tapi dengan nyali dan luka yang ia genggam erat di dadanya. Malaca menyambut Almira dengan udara panas yang menggigit dan lalu lintas yang membuat pusing kepala. Ini kali pertama ia menginjakkan kaki di kota besar ini. Bandara terlihat megah, tapi tidak ada satu pun wajah yang dikenalnya. Tidak ada penjemput. Tidak ada papan nama. Tidak ada sambutan. “Pantas aja semua orang takut sama keluarga Hadisaputra,” gumam Almira, menyeret koper mungilnya sambil menunduk melihat peta digital. “Orangnya aja nyuruh nikah tapi lupa nyuruh jemput.” Perjalanan menuju kota Molaca terasa seperti perjalanan menuju planet asing bagi Almira Pratama. Ia menatap keluar jendela taksi, menahan kantuk dan kekhawatiran. Ini pertama kalinya ia pergi sejauh ini tanpa siapa pun di sisinya. Tidak ada Nadia. Tidak ada Papa. Hanya satu alamat dan tekad untuk mengubah takdir. “Non, kita isi bensin dulu ya. Ada rest area sebentar lagi, bisa sekalian makan kalau mau,” ujar sopir taksi. Almira mengangguk lesu. “Iya, Pak. Saya juga lapar.” Rest area itu tampak ramai. Banyak keluarga, pekerja, dan pasangan yang singgah. Tapi saat Almira masuk ke restoran kecil bergaya semi terbuka, suasana hangat itu langsung hancur oleh teriakan seorang wanita. “Kamu pikir aku buta?! Aku lihat sendiri kamu suap-suapan sama dia di mobil!” Seorang ibu muda berdiri dengan satu tangan menggendong bayi, tangan satunya menunjuk tajam ke seorang pria berkemeja mahal yang tampak bingung. Di meja seberang, seorang wanita dengan makeup tebal berusaha kabur ke dapur. “Pelakor! Jangan kabur kau ya! Sini kau!” Restoran mendadak seperti arena gladiator. Para pengunjung terdiam, sebagian mulai merekam pakai ponsel, sisanya sibuk pura-pura menyesap teh sambil nguping. Dan seperti biasa... Almira tidak bisa diam. Dengan langkah cepat dia mendekati sang ibu. “Kak, sabar dulu. Ini tempat umum, kasihan bayinya... dia pasti bingung lihat Maminya berubah jadi Power Rangers.” Si ibu menatap Almira. “Kamu siapa?!” “Saya... aktivis rumah tangga sementara. Yang kebetulan lapar, tapi gak bisa makan karena lihat beginian.” Almira menatap sang pria. “Dan Mas, kamu cakep, tapi otaknya tinggal di mana? Bayi masih merah, udah selingkuh. Mau dicetak berapa dosa, Mas?” Seisi restoran terdiam... lalu ada yang tertawa pelan. Bahkan si pelakor ikut menahan senyum geli. Tapi suasana berubah lagi saat si bayi menangis kencang. “Aduh adik sayang... ssshh, ssshh,” Almira cepat mengambil bayi dari pelukan ibunya. “Sini, Kak, biar saya bantu...” Namun saat Almira berusaha menenangkan si bayi sambil berjalan pelan di lorong restoran, kakinya menginjak tutup botol dan — “WAAAH—!” Semua orang tersentak. Almira nyaris jatuh terjungkal bersama bayi mungil itu... Hingga dalam sekejap, sepasang tangan kuat menangkap tubuhnya dari belakang. “Got you,” ucap suara berat, tenang… dan dingin. Almira mendongak tepat di hadapannya berdiri seorang pria dengan rahang tegas, mata tajam, dan tatapan menusuk. Kemeja hitamnya rapi, dan aromanya seperti... parfum mahal yang tidak dijual di minimarket. Almira tercekat. Napasnya tercekat. Jantungnya berdetak tak karuan. “Te... terima kasih,” ucapnya pelan. “Jaga langkahmu. Bayi itu bukan mainan,” ucap pria itu dingin. Tapi sebelum Almira sempat menjawab, suara marah lain datang lagi. “Hei kamu! Kamu siapa berani-beraninya ambil anak saya?!” si ibu tadi datang menghampiri. “Eh? Loh? Tadi aku bantu, sekarang dimarahin?” Almira bingung. “Kalau anak saya kenapa-kenapa gimana?! Tanggung jawab, dong!” Si pria selingkuh pun ikut-ikutan marah. “Jangan sok pahlawan. Kamu hampir jatuhin anak orang, tau?!” Almira melongo. “Tadi saya penyelamat, sekarang saya tersangka? Ini restoran atau drama kolosal sih?” “Sudah,” ucap pria dingin yang tadi menyelamatkannya. Nadanya tetap tenang, tapi tajam seperti silet. “Kalian berdua ribut di tempat umum, membuat keributan. Dan sekarang menyalahkan orang yang membantu? Kalau tidak mau lebih malu, pergi.” Pasangan itu langsung terdiam. Tatapan pria itu terlalu menekan. Terlalu... mengintimidasi. Dalam satu detik, pasangan ribut itu mengambil bayi mereka, melirik sekitar... lalu kabur ke luar restoran seperti maling ayam, meninggalkan sang pelakor. Almira terdiam, lalu terkikik geli. “Tadi kayak film laga. Sekarang kayak film kartun.” Ia berbalik hendak mengucapkan terima kasih sekali lagi... namun pria yang menyelamatkannya sudah berjalan menjauh. “Eh, Bapak Penolong!” Dia mengejar, tapi pria itu menoleh hanya sebentar. “Kalau sudah tidak apa-apa, sebaiknya kamu tidak mencampuri urusan yang bukan milikmu,” katanya. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia masuk ke mobil hitam mengilap, pintu ditutup otomatis, dan melaju pergi seperti adegan James Bond. Almira terdiam. Mulutnya setengah terbuka. “Dingin amat. Emang cowok-cowok malaca semuanya begitu ya?” Ia menatap mobil yang pergi... lalu tiba-tiba hatinya berdetak. Kencang. Ia bahkan belum tahu... bahwa pria dingin itu adalah orang yang akan menjadi suaminya dalam waktu dekat. Dan... nasibnya baru saja mulai bergeser.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD