Angin malam menyapu pelan kain gorden tua yang tergantung miring di dapur kecil tempat Almira tidur. Lampu gantung berkedip sekali, dua kali… lalu kembali menyala redup. Ia belum bisa tidur. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya terus berputar tentang uang, tentang rumah, tentang harga diri. Pintu belakang mendadak terbuka keras. BRAK! Almira terlonjak. Di ambang pintu berdiri Rafa, langkahnya limbung, bau alkohol tajam menusuk udara. Ini kali pertama Almira melihat Rafa seperti itu, tampang yang sebelumnya terlihat dewasa dan tenang, kini berubah menjadi bayangan kelam yang mengancam. “Al... mira…” suara Rafa berat, tidak seperti biasanya. Almira berdiri pelan. “Mas Rafa? Kamu… baik-baik saja?” Rafa menutup pintu di belakangnya, langkahnya menyeret, dan pandangannya kosong. “Kamu… cantik

