Jaga Almira

1126 Words

Tenda bakso Rafa selalu ramai menjelang sore. Uap kaldu mengepul dari panci besar, menyebarkan aroma daging dan bawang goreng yang menggoda. Suara sendok beradu dengan mangkuk, tawa pelanggan, dan gelegak kuah menjadi musik latar yang mengisi sudut jalan itu. Di balik meja kecil, Almira berdiri dengan senyum sopan. Meskipun usianya masih 20 tahun, tapi tangannya lincah mencatat pesanan, menyeka meja, dan mengantar mangkuk ke pelanggan dengan cekatan. Tapi senyum itu tak sampai ke matanya, cahaya di sana telah meredup. Bukan karena lelah. Tapi karena tatapan sinis dari seorang wanita yang sejak tiga hari terakhir selalu mengintai dari pojok dapur semi-terbuka. “Rafa! Kita sudah cukup punya pegawai. Kenapa harus bawa dia ke rumah juga?!” Suara tajam Sari, istri Rafa, terdengar seperti c

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD