Senja merambat pelan di langit Malaca meninggalkan semburat jingga yang menari-nari di sela pepohonan. Di balkon kamar atas rumah besar keluarga Hadisaputra, Eyang Gendis duduk termenung dengan secangkir teh melati yang mulai mendingin di tangannya. Udara sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Hatinya resah, dan firasatnya sebagai seorang wanita tua yang kenyang akan pahit-manis kehidupan, sedang berbicara lirih dalam diam. Tak lama, seorang pelayan perempuan masuk tergesa. Di tangannya sebuah ponsel dengan layar menyala. “Eyang… ini berita dari Dhaha. Tentang Pak Gunawan.” Eyang Gendis menoleh perlahan. Alisnya terangkat saat mendengar nama yang begitu akrab di masa mudanya. “Gunawan?” gumamnya pelan. “Ayah Almira?” Pelayan itu mengangguk sambil menyodorkan ponsel. Di layar, ter

