Bangkrut

1004 Words

Bukan Almira kalau tidak bisa menyembunyikan luka dengan senyum. Tapi malam ini, bahkan senyum pun terasa berat. Ia menatap langit kelabu, berharap bisa menangis bersama hujan. Tapi tidak bisa. Matanya terlalu kering oleh kepedihan yang tak sempat jatuh jadi air mata. Tiba-tiba, pintu toko di belakangnya terbuka. Dua wanita paruh baya yang tadi sibuk membereskan rak, kini berdiri di ambang pintu sambil berbincang. “Iya, Pak Gunawan itu... kasihan, ya. Katanya jatuh sakit tadi siang.” “Iya, denger-denger saham perusahaannya anjlok. Terancam bangkrut. Karyawan banyak dirumahkan.” “Padahal dulu beliau itu disegani... CEO jujur, pekerja keras. Sekarang malah begini...” Almira sontak menoleh. Pak Gunawan? Ayahnya? Darahnya berdesir. Nafasnya tercekat. Dunia seperti berhenti. “Apa maksu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD