Gadis Keras Kepala

1326 Words

Suasana villa keluarga Hadisaputra pagi itu sunyi, terlalu sunyi. Burung-burung pun seolah enggan bersuara. Eyang Gendhis keluar dari kamarnya perlahan, berselendang sutra tipis, tubuhnya sedikit membungkuk, tapi matanya masih tajam. Langkahnya pelan namun penuh wibawa, seperti seorang jenderal tua yang tahu medan perang masih membara. Di ruang tamu, hanya ada Arkha yang duduk sendirian menatap tablet di tangannya, seolah sibuk, padahal hanya untuk menutupi kekacauan dalam pikirannya. "Almira di mana?" Suara Eyang Gendhis lirih, tapi tegas. Penuh tuntutan. Arkha diam. Matanya tak berpaling dari layar. Tapi jarinya tak bergerak. Tak satu kata pun keluar. "Kau usir dia, Arkha?" Suara Eyang naik satu oktaf. Kini pelayan yang sedang membersihkan lantai pun ikut menunduk dan menahan napas

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD