Antar Dia Ke Dhaha

1061 Words
Ruangan itu terasa seperti ruang sidang. Semua mata tertuju padanya. Nampan di tangan Almira bergetar. Gelas teh di atasnya berdenting pelan, saling membentur. Tapi tak ada yang memperhatikan. Arkha melangkah maju. Napasnya berat. Rahangnya mengeras. “CCTV sudah diperbaiki pagi ini,” katanya dingin, nyaris tak terdengar, tapi cukup tajam untuk menusuk siapa pun yang mendengarnya. “Kami lihat rekamannya barusan.” Almira mengerutkan kening. “Rekaman?” Arkha menatap lurus. Sorot matanya tidak memberikan ruang untuk keraguan. “Kamu satu-satunya yang masuk ke ruangan itu. Sekitar pukul satu lewat lima belas. Dan lima belas menit setelah kamu keluar, alarm api menyala.” Almira menggigit bibirnya, perlahan meletakkan nampan teh ke meja samping. Tangannya kaku. “Aku memang ke bawah. Tapi hanya untuk mengambil laptopku yang tertinggal di ruang baca. Bukan ke ruang kerja Arkha,” ujarnya pelan, tak lagi menatap siapa-siapa. “Dan aku tidak menyentuh apa pun.” Riana melipat tangan, matanya penuh kemenangan terselubung. “Oh ya? Lalu kenapa jejak sepatu basahmu ditemukan di depan lemari arsip utama?” Almira menoleh. “Aku tidak masuk ke sana.” Arkha melangkah lebih dekat. Wajahnya kini hanya sejengkal dari wajah Almira. Tatapannya menusuk seperti bilah baja dingin. “Berhenti berbohong.” Napas Almira tercekat. “Aku tidak bohong.” “Berhenti… berbohong.” Nada suara Arkha naik satu oktaf, tak bisa disangkal lagi amarahnya membuncah. “Aku tidak akan membakar dokumen penting perusahaanmu! Aku bahkan tidak tahu ada apa di dalamnya!” suara Almira meninggi, untuk pertama kalinya. Getar ketakutan menyelip, tapi ia berdiri tegak. “Kenapa kamu selalu berpikir aku datang untuk menghancurkan?!” Arkha menatap tajam. “Karena dari awal, kau memang bagian dari kehancuran.” Deg. Almira membeku. Kalimat itu… terlalu tajam untuk sekadar kemarahan. “Aku tidak percaya padamu,” lanjut Arkha, suaranya lebih rendah, tapi justru lebih menyakitkan. “Dan mulai sekarang, kamu tidak punya alasan lagi untuk tinggal di rumah ini.” “Arkha…” suara Dani mencoba menengahi, tapi Arkha mengangkat tangan. “Bawa kopermu. Sekarang. Kau pergi malam ini juga.” Almira mematung. Matanya menatap pria itu yang semalam membalut lukanya, yang pagi tadi masih menyisakan bayang perlindungan kini menjadi orang pertama yang melemparnya keluar. “Kalau aku keluar malam ini, aku tak akan kembali,” ucap Almira pelan, nyaris berbisik. “Aku bukan maling. Aku bukan penghianat.” Arkha menatap kosong, dingin. “Bagus.” Deg. Seperti ada yang runtuh dalam dirinya. Almira tidak berkata lagi. Ia berbalik, berjalan perlahan ke kamarnya. Setiap langkah seperti menapaki batu tajam. Pelan. Teratur. Tapi mematikan dari dalam. Tidak ada yang mengejarnya. Tidak ada yang memanggil namanya. --- Satu jam kemudian, gerimis turun di pelataran rumah Hadisaputra. Langit menggantung berat. Almira berdiri di depan pintu utama, satu koper kecil di sisinya. Sweater tipisnya sudah basah di pundak. Rambutnya menempel di pipi. Tapi ia tak peduli. Tidak ada payung. Tidak ada pamit. Langkah-langkah berat terdengar dari dalam rumah. Arkha muncul. Tapi tak ada kata maaf. Tak ada penyesalan. Hanya dia dengan kemeja rapi, berdiri di bawah lampu gantung, dengan bayangan panjang membelah antara mereka. Almira mengangkat wajahnya. “Biar aku yang bilang terakhir,” ucapnya pelan, “Aku memang bukan siapa-siapa, Arkha. Tapi aku juga bukan penjahat. Dan satu hal yang akan kamu sesali nanti adalah kehilangan seseorang yang bahkan belum sempat kamu kenal sepenuhnya.” Lalu ia menunduk sedikit. Sopan. Tegas. Dan pergi tanpa menoleh. Koper beroda kecil itu bergulir membelah gerimis malam. Menghilang. Sementara Arkha hanya berdiri di ambang pintu, dadanya bergetar, tapi wajahnya tetap dingin. Seperti batu karang yang tak tahu kapan akan patah oleh ombak. Almira berdiri di depan gerbang villa keluarga Hadisaputra. Malam turun perlahan, menyelimuti tubuhnya yang gemetar oleh dingin dan amarah yang tertahan. Ia tidak membawa koper, tidak pula membawa tas kecil atau ponsel. Hanya dirinya, selembar baju tipis, dan luka yang dalam di d**a. Pintu gerbang itu tertutup dengan suara dentuman pelan. Suara yang bagi Almira terdengar seperti palu yang memvonis hidupnya. Dia diusir. Tanpa penjelasan yang masuk akal. Tanpa diberi kesempatan membela diri. “Kamu pikir aku akan percaya semua sandiwara ini? Pergi dari hidupku, sebelum aku benar-benar kehilangankan kendali,” kata Arkha dengan dingin tadi suaranya lebih dingin dari udara Harua yang menusuk malam ini. Almira mengusap matanya cepat. Dia tak ingin air mata jatuh lagi. Tapi sekeras apa pun dia mencoba, pipinya tetap basah. Bukan hanya karena ucapan Arkha, tapi karena ia tidak tahu harus ke mana. "Nona Almira!" Suara seseorang memanggil dari belakang. Dani. "Biarkan aku antar kamu pulang ke Dhaha. Setidaknya, biar aku yang—" "Enggak," Almira memotong cepat. Ia menggeleng, meski suaranya bergetar. "Aku nggak mau pulang." Perusahaan paman... mereka menggantungkan hidupnya pada proyek ini. "Kalau aku pulang sekarang, semua orang akan bilang aku w************n yang meninggalkan pertunangannya demi pria lain, yang ternyata membuangnya. Dan aku… aku nggak tahu harus bilang apa ke Papa." Dani terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Almira melangkah pelan, sendirian menuruni jalan setapak yang gelap. Setiap langkahnya seperti dihantam batu. Sandalnya rusak. Bajunya mulai kotor. Tapi lebih dari semua itu, hatinya terasa seperti dikosongkan paksa. Ia menumpang mobil umum seadanya. Duduk di kursi belakang, memeluk tubuh sendiri, menatap keluar jendela yang penuh embun. Pandangan matanya kosong. Seolah dunia tak lagi bersahabat. Almira meninggalkan kopernya dia sengaja hanya membawa ATM dan berharap mereka akan menjemput nantinya. Di pikirannya, semua berputar. Tuduhan. Amarah. Keheningan Arkha. Tatapan dingin. Rasa malu. Keluarga. Pengkhianatan. Dan terutama, perasaan cinta yang mulai tumbuh... yang justru sekarang membunuhnya perlahan. Di sebuah penginapan kecil yang jauh dari kesan mewah, Almira akhirnya berhenti. Ia menyewa kamar mungil dengan sisa uang di kantongnya. Kasurnya keras, lampunya remang, dan dindingnya tipis. Tapi ia tak peduli. Dan yang lebih mengenaskan dia hanya mampu membayar untuk semalam. Entah kenapa ATM dia tetiba terblokir begitu pula dengan kartu kreditnya. Ia menatap langit-langit kamar, lalu menarik napas pelan. “Aku nggak akan pulang… belum saatnya.” Almira beranjak dari ranjangnya dia pun mendekat ke arah jendela dan melirik ke bawah, seperti dugaannya Dani asisten Arkha sedang bersandar di mobilnya sambil merokok. Almira tahu bahwa keluarga Hadi Saputra tidak akan membiarkan dirinya terlantar. Gadis itu pun memutuskan untuk turun, "Dani, kenapa kamu mengikuti terus!" Dani sedikit tersentak sambil tersenyum malu. "Saya hanya diminta untuk mengantar Mbak Almira pulang ke Dhaha." "Bilang sama Tuan kamu, kalau dia minta aku pulang ke Dhaha suruh dia antar aku sampai rumah," ucap Almira sembari melangkah pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD