Kamar itu sunyi, hanya suara detak jam dan desiran angin dari jendela yang terbuka. Almira duduk di tepi ranjang, mencoba membuka perban di lututnya dengan tangan gemetar. Darah sempat merembes sedikit dari goresan di kaki, namun ia enggan memanggil siapa pun.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arkha muncul, tanpa mengetuk, membawa kotak P3K. Wajahnya tetap datar, mata tajamnya tak memperlihatkan emosi.
“Kenapa nggak bilang kamu berdarah sampai seperti ini?” tanyanya dingin.
“Aku masih bisa rawat sendiri,” jawab Almira, tak menatap. “Cuma luka kecil…”
Tanpa bicara, Arkha mendekat. Ia menarik bangku kecil dan duduk di hadapan Almira, mengambil kaki gadis itu dengan lembut mengejutkan Almira yang langsung menegang.
“Aku pernah belajar menangani luka,” gumam Arkha, membuka kapas dan cairan antiseptik. “Waktu ayah sakit dulu, aku sering lakukan ini sendiri.”
Almira terdiam. Suara Arkha malam itu terdengar lelah, bukan sekadar dingin.
Saat cairan menyentuh luka, ia meringis kecil.
“Kalau sakit, tahan,” ucap Arkha tanpa melihat ke atas.
“Aku sudah terbiasa sakit,” bisik Almira lirih, namun cukup jelas untuk membuat tangan Arkha berhenti sebentar.
Ia menatap Almira. Lama. Dalam diam itu, ada sesuatu yang bergeser… sedikit demi sedikit.
Tak ada sindiran. Tak ada sarkasme. Hanya dua pasang mata yang saling berbicara dalam bahasa luka masing-masing.
“Terima kasih, Pak Arkha,” ucap Almira, nyaris berbisik.
Arkha bangkit, mengambil salep, lalu membalut luka Almira dengan perban bersih. Ia melakukan semuanya dengan tangan hati-hati seolah takut menyakitinya lebih dari yang sudah terjadi.
“Jangan nekat lagi. Kamu memang keras kepala, tapi Malaca belum tentu ramah. Kalau kamu kenapa-kenapa, aku yang disalahkan.”
Almira hanya menunduk, tersenyum tipis meski matanya hangat. Di balik dinginnya, dia melihat sesuatu di Arkha… yang mulai retak dari kebekuan.
Angin malam menerobos celah jendela kamar yang belum sempat ditutup sempurna. Lampu gantung redup menggantung di atas kepala mereka, mengukir bayangan samar di dinding. Di ruangan itu, dua hati yang penuh luka saling duduk dalam keheningan yang menggantung.
Arkha berdiri bersandar di dekat meja tangan bersilang di d**a, tatapannya tajam tapi sulit ditebak. Sementara Almira duduk di tepi tempat tidur, masih dengan perban di kakinya, memeluk bantal kecil seolah mencari perlindungan dari pikirannya sendiri.
Ia baru saja ditolong, diangkat, dirawat oleh pria yang selama ini memperlakukannya seperti musuh. Almira, si gadis kecil dari Dhaha, merasa jantungnya berdetak tak karuan. Ia tak tahu apakah ini bentuk syukur, kekaguman, atau sekadar harapan yang ia ciptakan sendiri.
"Aku hanya ingin bilang... terima kasih," bisik Almira, suaranya nyaris tenggelam dalam sunyi.
Arkha tak menjawab. Matanya hanya sekilas melirik, lalu kembali menatap ke luar jendela.
“Kalau kau bukan orang yang kaku dan menyebalkan,” lanjut Almira sambil berusaha tersenyum, “mungkin aku bisa saja... jatuh cinta padamu.”
Arkha mengangkat alisnya, tapi tak berkata sepatah pun.
Entah keberanian dari mana datangnya, Almira bangkit pelan, tertatih mendekati pria itu. Tatapan matanya ragu, tapi ada cahaya hangat di dalamnya, cahaya kekaguman yang tulus. Ketika jarak mereka hanya sejengkal, Almira menatap wajah Arkha yang tajam dan maskulin.
“Aku serius…” ucapnya lagi.
Lalu sebelum logika sempat ikut campur, Almira mencium Arkha.
Lembut, penuh getaran, polos dan hangat. Bukan ciuman seorang wanita matang, tapi ciuman seorang gadis muda yang baru pertama kali jatuh hati. Ia tak tahu apakah itu benar atau salah yang ia tahu hanya satu hatinya berdebar karena pria ini.
Arkha tidak membalas. Tidak juga mendorong. Ia hanya membeku. Tak menyangka bahwa gadis itu, yang biasanya keras kepala dan lugu, bisa bertindak seberani ini. Bibir mereka bersentuhan dalam hening yang memekakkan.
Dan ketika Almira mulai menarik diri dengan wajah memerah, hendak meminta maaf, tangan Arkha mencengkeram pergelangan tangannya.
"Apa kau pikir ini lucu?" tanyanya, suara dinginnya kembali seperti salju tipis yang menggigit kulit.
Almira membeku. Tapi Arkha tak melepaskan. Sebaliknya, ia menarik Almira kembali, dan mencium gadis itu dengan sengaja tajam, dalam, dan penuh kekuasaan. Tidak selembut tadi, tapi seolah ia ingin menunjukkan siapa yang berkuasa.
Dalam pikirannya, dendam lama meletup.
Arkha dengan sengaja mencium Almira, perlahan tangannya mulai menarik pinggul dan perlahan melepas kancing baju Almira.
Menyadari tindakan Arkha berlebihan Almira pun ingin melepaskan diri, namun tidak bisa. Hingga terpaksa gadis itu menggigit bibir Arkha.
Arkha tersenyum puas dan Almira hanya bisa menangis.
Kalau kau main api... aku akan membakar semuanya sampai habis.
Lalu ia melepas Almira. Dengan senyum tipis yang penuh misteri, ia berbisik,
“Jangan ulangi itu lagi, Almira. Tapi jika kau melakukannya... aku tak akan sekadar membalas dengan ciuman.”
Kemudian ia melangkah keluar, membiarkan Almira berdiri sendirian, wajahnya merah bukan karena malu, tapi karena ketakutan.
"Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Tapi hari ini… waktu kamu menggendongku… kamu merawat lukaku… itu pertama kalinya aku merasa dilindungi sejak aku datang ke Malaca."
Arkha masih tak menjawab. Ia menutup kotak P3K pelan, menatap lurus ke depan.
Arkha mematung. Matanya menatap lurus ke depan, rahangnya menegang.
Almira langsung mundur selangkah, wajahnya memerah. "Ma—maaf. Aku tidak tahu kenapa aku—"
Tapi belum sempat dia melanjutkan, Arkha berdiri. Gerakannya cepat, mendekat ke arahnya, membuat Almira terperanjat.
Tanpa aba-aba, tangan pria itu menahan dagunya, menatap langsung ke dalam matanya.
"Kamu pikir ini lelucon?" suara Arkha pelan, tapi dingin. "Ciuman seperti itu… dari gadis sepertimu… kau kira akan mengubah apa pun?"
Almira terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
Tangan Arkha masih di dagunya. Terlalu lama. Terlalu dekat.
Lalu dia tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tapi tawa sinis yang menampar jauh lebih keras daripada makian.
"Apa ini balas budi karena aku tak membiarkanmu mati ditabrak truk tadi pagi?"
Almira tersentak. Matanya mulai berkaca.
Arkha menurunkan tangannya, melangkah mundur. "Dengar baik-baik, Almira. Jangan pernah mencium seseorang yang tidak pernah mencintaimu. Itu menyedihkan."
Kata-kata itu melukai lebih tajam dari sembilu. Almira tidak menjawab. Tak bisa. Di dadanya, harapan kecil yang selama ini ia simpan… remuk.
Arkha membalikkan badan dan berjalan ke arah tangga, meninggalkan Almira sendiri di ruang yang kini dipenuhi keheningan dan penghinaan tak kasat mata.
Namun sebelum benar-benar pergi, Arkha berbicara tanpa menoleh.
"Dan jangan pernah kira aku lupa siapa keluargamu."
Kemudian, langkah kakinya memudar, sementara air mata Almira jatuh satu-satu di lantai dingin, sama dinginnya dengan hati pria yang hampir saja dia percayai.
Pagi di Malaca datang tanpa sapa. Langit mendung, menggantung rendah seolah menjadi pertanda akan badai yang lebih besar dari sekadar hujan.
Almira berdiri di balkon kamarnya, masih dengan perasaan berat setelah malam sebelumnya dihantam kata-kata Arkha. Dingin. Menyakitkan. Tapi entah mengapa, hatinya justru semakin kuat.
Namun kekuatan itu diuji lebih cepat dari yang ia sangka.
Sekitar pukul sepuluh pagi, pelayan villa berlarian. Suara pintu dibuka kasar. Teriakan pelayan laki-laki dan suara tangis dari salah satu staf mengejutkan semua orang di rumah besar itu.
“Kebakaran! Dokumen perusahaan terbakar!”
“Yang ini terbakar juga, Pak!”
“Semuanya di ruang kerja bawah hangus!”
Arkha yang baru saja turun dari lantai dua langsung mendekati ruang kerja utama. Matanya menajam melihat tumpukan map hitam terbakar sebagian. Beberapa hard disk eksternal hancur, dan satu laptop rusak tak bisa dibuka.
Dani yang datang tergesa dengan wajah panik segera mendekat. “Semalam semua masih utuh. Kita sudah kunci. Tapi tadi pagi file yang berisi rancangan utama proyek Harua sudah lenyap.”
Arkha terdiam dan suasana hening sesaat. Namun bukan karena bingung.
Melainkan karena amarah yang mulai meletup perlahan.
Tak lama, Riana muncul dari balik tangga, dengan raut wajah yang dibuat bingung. “Itu ruangan yang semalam terakhir dibersihkan oleh Almira, kan?”
Semua kepala menoleh.
Almira yang baru saja tiba dari arah dapur dengan nampan teh yang akan ia bawa ke ruang kerja membeku di tempat.
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
Riana melipat tangan. “Kamu satu-satunya yang masuk ke ruang kerja setelah semua orang tidur. Aku sempat lihat kamu jalan sendiri lewat lorong bawah.”
“Karena aku ambil laptopku yang tertinggal, bukan ke ruangan Arkha,” jawab Almira pelan tapi tegas.
Namun suasana sudah berubah.