Dasar Gila

1090 Words
Mobil hitam itu masih terparkir di bawah rindang pohon trembesi tua. Tersembunyi. Seperti pemiliknya, yang terbiasa menyimpan niat dan rasa dalam diam panjang. Di balik kaca gelap, Arkhana Hadisaputra menyandarkan kepala ke kursi, rahangnya mengeras, dan matanya tak lepas dari sosok yang terus-menerus menolak takluk. Almira Pratama. Ia mengamati setiap gerak gadis itu, sikapnya yang terlalu tenang, langkahnya yang terlalu tegak, bahkan senyumnya yang terasa seperti tamparan ke wajahnya sendiri. Seharusnya gadis itu gentar. Paling tidak, merasa cukup terhina oleh bisik-bisik warga Harua yang sengaja ia biarkan tersebar. Namun tidak. Gadis itu malah… tersenyum. Arkha menarik napas panjang. Menahan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama. Antara kesal, kagum, dan rasa bersalah yang enggan ia akui. Lalu suara jeritan itu memecah pagi. “Mainanku! Jangan—!” Refleks, tangannya meraih gagang pintu. Pandangannya tajam menembus celah pepohonan. Seorang bocah lelaki berlari ke tengah jalan. Bola plastik menggelinding cepat, dan dari arah berlawanan, truk besar melaju kencang. Klaskon meraung. Terlalu dekat dan terlalu cepat. Arkha nyaris melompat keluar, namun sosok yang lebih cepat darinya sudah lebih dulu menabrak batas logika. Almira. Tubuh mungil itu menghunjam angin. Langkahnya tanpa ragu, tanpa takut. Ia meraih bocah itu, menariknya ke sisi trotoar dan tubuhnya sendiri jatuh keras menghantam aspal. Truk membelok. Bola mental ke selokan. Dan di sana, Almira terduduk dengan lutut dan telapak tangan berdarah. Arkha membeku sepersekian detik. Lalu bergerak. Kakinya menghantam aspal, berlari secepat yang bisa ia kendalikan. “Gila kau… Almira!” Napasnya memburu. Ia berlutut di samping gadis itu, tangannya nyaris menyentuh luka di lutut Almira, namun terhenti di udara. Ia hanya menatap. Darah. Nafas tersengal. Tapi ekspresi gadis itu... Masih tetap tenang. Masih mampu tersenyum pada bocah kecil yang memeluknya erat. “Kamu nggak apa-apa? Sudah, jangan nangis, ya. Mainannya masih utuh, tuh…” Arkha tidak mengerti. Bagaimana bisa seseorang setenang ini dalam rasa sakit seperti itu? Ia menelan amarah. Entah pada siapa. Pada Almira yang terlalu nekat. Atau pada dirinya sendiri yang bahkan tak sempat bergerak lebih cepat dari perempuan yang baru saja ia rancang untuk dilukai oleh lingkungan. “Apa yang kau pikirkan?” suaranya dalam dan rendah. “Kau bisa mati tadi.” Almira menoleh. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, namun tatapannya tajam. Tajam dengan cara yang membuat Arkha merasa tertelanjangi. “Kalau aku mati, aku pastikan itu karena sesuatu yang berharga, bukan karena desas-desus warga atau omelanmu yang seperti mesin ketik rusak.” Arkha nyaris tertawa, kalau saja dadanya tidak sesak. Gadis ini... tidak bisa dihancurkan. “Masuk mobil.” Nadanya lebih datar, namun ada nada gentar yang menyusup. “Aku bisa jalan sendiri.” “Almira. Masuk. Mobil.” Perintah itu keluar seperti gemuruh petir yang bergetar, bukan karena marah, tapi karena takut. Dan gadis itu… untuk pertama kalinya, patuh. Sebelum masuk, Almira menoleh ke arah bocah kecil dan menyerahkan bola plastik yang penyok. “Lain kali hati-hati, ya. Kakimu lebih berharga daripada bola plastik.” Anak itu mengangguk, memeluk bolanya seolah menyimpan keberanian gadis itu dalam diamnya. Warga Harua yang tadi bergunjing… kini diam. Mereka menyaksikan. Merekam. Dan meski tak ada yang berani bicara, tatapan mereka berubah. Sinis… menjadi bingung. Bingung… menjadi hormat. Arkha masuk ke dalam mobil tanpa suara. Almira duduk di sampingnya, diam, tangan bergetar menahan luka. Mesin dinyalakan. Tapi tak satu pun dari mereka bicara. Karena di dalam mobil itu, keduanya menyadari satu hal: Keheningan lebih keras dari argumen apa pun. Mobil Arkha melambat saat memasuki pelataran villa Hadisaputra. Hening mengalir di antara mereka seperti kabut yang menggantung di langit Malaca, sunyi, namun menyimpan dentum yang belum pecah. Tanpa bicara, pria itu turun. Gerakannya tenang namun tajam. Ia memutar ke sisi penumpang, membuka pintu dengan gerakan cepat dan dingin seperti kebiasaan. Almira tidak langsung turun. Tangannya mencengkeram ujung rok, napasnya lambat mencoba menenangkan denyut di dadanya yang terasa seperti lonceng tua dipukul terlalu keras. Lututnya berdenyut nyeri. Tapi bukan itu yang membuatnya ragu. “Aku bisa jalan sendiri.” Suaranya pelan. Nyaris tak bernyawa. Ia tahu itu kebodohan, tapi gengsinya terlalu keras kepala untuk membiarkan tubuhnya jatuh lagi… setidaknya tidak di hadapan pria itu. Kakinya menyentuh tanah. Satu langkah. Lalu satu lagi. Namun nyeri itu membuncah seperti pecahan kaca di bawah kulit. Ia menggigit bibir, mencoba bertahan, tapi tubuhnya oleng. Tangan terulur ke udara, tak sempat menyentuh apa pun. “Aw...” Erangan pelan itu keluar sebelum bisa ditahan. Dan tepat saat itu, suara langkah tumit terdengar dari tangga villa. Almira menoleh perlahan, dan di sana berdiri Riana. Gaun satin lavender membalut tubuhnya, rambut tergerai seperti baru bangun dari tidur yang disengaja untuk terlihat manis. Namun matanya, mata itu tak menyembunyikan racun. “Oh… sudah pulang? Almira kenapa? Terluka? Kok... jadi drama?” Nada suaranya seperti belati berbungkus gula. Almira tak menjawab. Ia hanya mengatur napas, berusaha kembali berdiri tegak meski lututnya kembali bergetar. Namun tubuhnya kembali goyah dan kali ini, lengan kokoh Arkha menyambar dari samping. Pelukannya kuat. Tegas. Bukan kelembutan, tapi penguasaan. Dan Almira terpaksa bersandar, meski hatinya ingin berontak. “Kenapa nggak bilang dari tadi kalau nggak bisa jalan?” Nada Arkha terdengar datar. Bukan cemas, tapi frustrasi, entah pada dirinya atau pada dirinya sendiri. Almira menatap lurus ke depan, bibirnya mengatup. Tapi kemudian, “Aku nggak mau digendong.” Jawabannya keras kepala. Tegas. Tapi nadanya retak di ujung. “Kenapa?” Ia menoleh. Pelan. Lalu membisikkan kalimat yang lebih tajam dari apa pun yang pernah ia katakan sebelumnya. “Karena ada yang sedang menonton… dan sepertinya dia lebih pantas kamu gendong duluan.” Matanya tak goyah saat itu. Dan untuk sesaat, Arkha membeku. Lalu matanya bergerak. Menyapu ke atas tangga. Mata mereka bertemu, Arkha dan Riana. Dan dunia seolah diam selama satu detik yang menggantung panjang. Tanpa kata, Arkha mengangkat tubuh Almira ke pelukannya. Satu tangan menyusup ke bawah lutut, satu lagi di belakang punggung. Ringan. Tegas. Tanpa ragu. “Kalau nggak mau digendong…” suaranya terdengar dingin. Namun... pelan-pelan retak. “…tutup matamu.” “Ma—maaf?” Suara Almira gugup, namun tubuhnya tak menolak. Hanya matanya yang terbuka sebelum perlahan, menurut. Ia menutup mata. Dan ketika matanya terbuka sedikit, ia melihat Riana, masih berdiri membatu di atas tangga. Wajahnya pucat. Tangannya mengepal. Napasnya tak teratur. Namun Arkha melewatinya begitu saja. Tanpa satu pun lirikan. Tanpa satu pun kata. Langkah pria itu stabil, membawa Almira ke dalam rumah yang terasa terlalu megah untuk luka-luka mereka. Dan untuk pertama kalinya… Almira merasa tak kalah. Bukan karena Arkha menggendongnya. Tapi karena kali ini, ia tak terlihat lemah. Ia terlihat... dimenangkan. Dan Riana untuk pertama kalinya, merasakan sesuatu yang bahkan lebih pahit dari penolakan, ia dilupakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD