Bagian Tujuh: Kisah Masa lalu

1002 Words
Dokter Herman menggelengkan kepalanya. "Herman? Bagaimana dengan keadaan Benua?" tanya Kalina menatap cemas. Kalina tidak pernah merasa secemas ini. Apalagi sekarang yang sakit adalah Benua. Dokter Herman melirik Kalina, Pria itu menggiring Kalina untuk keluar dari kamar Benua. Sepertinya Herman tidak mau berbicara di kamar Benua. "Herman, Benua tidak pa-pa 'kan?" tanya Kalina sekali lagi. Kalina terlihat takut. "Lin, apa selama ini Benua sering mengalami mimisan?" tanya Dokter Herman. Kalina berpikir, beberapa hari lalu ia melihat Benua Mimisan. Bukan sekali tapi 2 kali. Dan Kalina menyimpulkan bahwa memang benar Benua sering mimisan. Karena ia melihat ada tissu darah di tong sampah kamar Benua. "Iya..." jawab Kalina pelan. Dokter Herman menghembuskan nafas kasarnya. "Coba besok kamu bawa Benua ke rumah sakit. Biar aku bisa cek darahnya," saran Dokter Herman. "Cek darah?" ujar Kalina sedikit kaget. "Her, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Benua harus cek darah?" tanya Kalina khawatir dengan kondisi Benua. "Kita nanti lihat hasilnya Kalina, semoga apa yang aku perkirakan tidak terjadi." jawab Herman menenangkan Kalina. Kalina menangis, pikirannya over thinking. Apalagi setelah mendengar ucapan Herman. **** Gemi menatap bangku kosong milik Benua. Hari ini tumben sekali, lelaki itu tidak masuk sekolah. Apa kejadian kemarin begitu sangat parahnya? Sehingga membuat Benua tidak masuk sekolah? Gara-gara mimisan itu? Gemi menopang dagunya, mengunakan tangan yang bertumpu pada meja. Tidak ada Benua sehari hidupnya benar-benar hampa. Perempuan itu tersenyum, ketika mengingat sikap manis dari Benua. Lelaki yang selalu sabar menghadapi dirinya. Padahal Gemi sudah menunjukkan sikap tidak baiknya. Tetapi Benua masih tetap bertahan. Tiba-tiba senyum Gemi pudar, saat sosok lelaki yang mirip dengan Benua masuk kedalam kelasnya. Gemi membuang mukanya malas. Dan tanpa di duga, Bumi berjalan kearahnya. Bumi memberikan ponselnya pada Gemi. Gemi mengkerut kan keningnya heran sekaligus bingung. "Benua..." ucap Bumi singkat. Gemi langsung paham dengan apa yang di katakan oleh Bemi. Ia meraih ponsel Bumi. "Halo?" Suara itu berasal dari seberang sana. "Iya Ben?" tanya Gemi. "Ah syukurlah, Bumi benar-benar memberikan ponsel nya kepada kamu..." ujar Benua lirih. "Lo gak pa-pa 'kan? Ada yang parah emang? Kok gak masuk sekolah," tanya Gemi sedikit khawatir. "Ah enggak kok, hanya perlu istirahat. Jadi gak masuk sekolah," balas Benua. "Saya cuma mau bilang, untuk hari ini kita tidak bisa belajar. Mungkin besok, kita sudah mulai belajar seperti biasanya..." jelas Benua. Bahu Gemi merosot, mendengar perkataan Benua. Ia sedih karena tidak bertemu dengan Benua. "Oh iya gak pa-pa, semoga cepat sembuh. Istirahat aja," ujar Gemi di iringi dengan senyuman. "Iya, terimakasih Gemi. Semangat untuk belajar hari ini. Jangan tidur, dan jangan rindu sama saya..." ucap Benua di iringi dengan kekehan. Gemi menahan senyum, pipinya merah. "Gak usah ge-er deh..." cetus Gemi tidak terima. Benua tertawa. "Ya sudah kalau begitu, kasih ponselnya kepada Bumi. Nanti dia ngomel, seperti mak-mak kompleks..." kata Benua membuat Gemi tertawa. Gemi menyerahkan ponsel Bumi kepada lelaki angkuh itu. "Udah sana! Pergi lo," usir Gemi kepada Bumi. "Tanpa lo usir, gue juga mau pergi..." kata Bumi sembari melangkah menuju pintu kelas. "Dasar mak-mak kompleks." gumam Gemi. Karena teringat dengan ucapan Benua. *** Kalina membantu Benua turun dari mobil, mereka sedang berada di halaman rumah sakit. "Ma, sebenarnya Benua kenapa? Apa ada yang parah?" ujar Benua bertanya-tanya. "Tidak sayang, kamu tidak pa pa. Cuma butuh di cek lebih lanjut." jawab Kalina, wanita itu memberikan jawaban yang sedikit menenangkan Benua. Mereka masuk kedalam ruangan dokter Herman. "Ayo Benua, sini om bantu..." kata Herman memapah Benua. Benua melakukan tes darah. Kalina yang berada di luar rungan was-was sendiri takut jika Benua kenapa-napa ***** Sementara itu, Gemi sedang duduk di balkon kamarnya. Menikmati semilir angin. Perempuan itu sesekali meminum jus mangga yang ia buat tadi. Pandangan nya jatuh pada, awan kuning, dengan sedikit warna jingga. Gemi masih menerawang masa lalunya. Dulu, sewaktu Gemi kelas 1 perempuan itu tidak setomboy, dan urak-urakan sekarang. Meski temannya kebanyakan lelaki, tapi Gemi masih berdandan ala perempuan umumnya. Sekolah pertama, Gemi sekolah di SMA Galaksi. Salah satu sekolah terbaik di kotanya. Dulu Gemi masih suka dengan rambut tergerai, yang di hiasi pita di sekeliling rambut, atau juga dengan bandana warna-warninya. Tapi itu dulu, dulu sebelum kejadian satu tahun itu terulang. Gemi tersenyum masam, air matanya menetes. Apalagi ketika mengingat satu nama, Bumi Sejagad Mahendra. Lelaki yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Bukan apa-apa, perubahan Gemi untuk menjaga dirinya. Ia tidak mau di lecehkan seperti dulu? Di lecehkan? Dulu sewaktu kelas 1 SMA, Gemi bertemu dengan Bumi. Sosok yang sangat di kagumi oleh banyak kaum hawa. Termasuk dirinya, cinta? Tidak Gemi tidak pernah merasakan cinta, selain kepada Benua. Gemi merasakan Cinta baru kemarin. Gemi hanya kagum, dengan sosok Bumi. Pertemuan mereka bukan sekali dua kali, saat pertama kali Gemi bertemu Bumi. Keesokannya ia selalu bertemu dengan Bumi. Gemi yakin, semua ini sudah di rencanakan oleh Bumi. Hingga pada suatu hari, Bumi yang benar-benar bersikap manis. Dengan gayanya, dan pasti siapa pun yang melihat perlakuan Bumi pasti akan mengira bahwa lelaki itu, adalah lelaki baik-baik. Termasuk Gemi. Bumi meminta Gemi untuk menjadi kekasihnya. Gemi yang benar-benar dirundungi oleh rasa kagum yang berlebihan pun, tanpa pikir panjang perempuan itu menerimanya. Dan kejadian itu terjadi, dimana Bumi hanya mempermainkan Gemi. Gemi hanya menjadi bahan taruhan Bumi dan teman-temannya. Gemi tidak terlalu memusingkan Bumi yang hanya mempermainkannya. Karena Gemi tidak memiliki rasa kepada Bumi. Tapi satu hal yang membuat Gemi tidak terima, Bumi sudah menidurinya... Gemi tersadar dari tidur, dengan baju berantakan. Serta dengan Bumi yang tidur di sebelahnya. Bumi hanya memakai celana pendek tanpa baju. Bukan hanya itu, foto-foto intim dirinya dan Bumi tersebar di kalangan teman-teman Bumi. Gemi hanya bisa menangis, ketika degan sadisnya Bumi mengatakan bahwa dirinya memacari Gemi karena taruhan dengan teman-temannya untuk meniduri Gemi. Gemi juga tidak berani bilang siapa-siapa, baik itu Maminya atau pun Papinya. Dan perubahan Gemi di mulai pada hari itu. Dimana ia tidak lagi melihat rasa sayang dari lelaki, kecuali Papi, Abang dan Adiknya sendiri. Gemi tida percaya. Sekarang Gemi takut. Takut jika Benua sama. sama-sama mengkhianati dirinya. Seperti Bumi. Dan pada hari itu juga, Gemi bersumpah tidak akan memaafkan Bumi. Sampai kapan pun. Ia benar-benar benci kepada Bumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD