Gemi meminum air yang baru saja di belikan oleh Benua. Panas matahari membakar kulit Gemi. Benua yang melihat itu pun, beranjak dari tempat duduknya. Belum sempat Gemi berbicara, Benua sudah pergi. Gemi kembali meminum air mineralnya.
Perempuan dengan rambut tergerai itu sedikit gerah. Ia pun mengibas Ibas kan tangannya agar keluar Angin. Benua datang, membawa kantung plastik hitam. Gemi menatap Benua yang tersenyum kepadanya.
Tanpa banyak bicara, Benua membuka kantung plastik berisi topi, dan 2 ikat rambut.
"Gerah 'kan?" tanya Benua. Gemi mengangguk. Dengan cekatan lelaki itu menguncir rambut Gemi yang berada di sebelah kiri.
Setelah itu juga, di sebelah kanannya. Benua tersenyum, melihat hasil karyanya. Rambut Gemi di kuncir dua, sangat cantik. Setelah itu Benua juga memasangkan topi pada kepala Gemi.
"Selsai. Sekarang gak panas, lagi, " ujar Benua sedikit merapihkan rambut Gemi.
Sementara Gemintang, perempuan itu masih diam. Jantungnya berdetak lebih kencang. Perlakuan Benua sungguh manis sekali. Sebagai seorang perempuan wajar bukan?
"Jantung gue kenapa lagi. " gumam Gemi, Benua sedikit mendengarnya.
"Ha? Kenapa Gem?" tanya Benua.
"E..... enggak pa-pa," jawab Gemi, manahan debaran di dadanya. Tidak mungkin jika Gemi terus terang kepada Benua.
"Makan dulu yuk, lo belum makan 'kan?" ujar Gemi. Benua mengangguk mereka berdiri dan Benua menggenggam tangan Gemi. Gemi terdiam, lagi jantungnya kembali berpacu.
'Ini gue kenapa sih! Jantung gue astaga! Gue gak punya penyakit jantung kan! ' batin Gemi.
Mereka sampai di sebuah cafe yang berada di taman hiburan tersebut. "Kamu mau makan apa? Biar saya pesankan," ujar Benua.
"Te.... terserah," jawab Gemi.
"Ya sudah tunggu sebentar," ujar Benua lalu pergi dari hadapan Gemi.
Setelah Benua pergi, Gemi membuka ponselnya. Perempuan itu lantas mencari di google tentang apa yang ia rasakan saat bersama Benua.
Jawabannya sangat mengejutkan. Gemi, jatuh cinta kepada Benua. Coba garis bawahi, jatuh cinta?
"Beneran ini? Gue jatuh cinta sama Benua?" ujar Gemi bertanya-tanya.
Gemi menatap Benua dari jauh, dari segi fisik, semua tampak sempurna. Tapi mengapa ia harus jatuh cinta dengan Benua? Kenapa? Satu hal yang membuat Gemi tersenyum miris. Benua baik, tapi tidak menuntut kemungkinan jika Benua sama dengan Bumi.
Benua adalah adik kembaran Bumi, lelaki yang sangat ia benci. Kenapa Benua harus menjadi adik kembaran Bumi?
"Tuhan apa yang harus gue lakuin. Gue gak mau punya rasa ini," kata Gemi lirih. Benua datang membawa makanan.
"Selamat makan," ucap Benua dengan senyuman manisnya.
Gemi kembali memegang d**a kirinya. Bahkan dengan melihat senyuman Benua saja membuat jantungnya berontak. "Setelah ini mau main lagi?" tawar Benua.
"Bo....boleh," jawab Gemi gugup. Mereka melanjutkan makannya dengan suasana hening.
***
Hari sudah sore, berbagai macam permainan sudah mereka coba. Mereka berdua duduk di kursi umum. Benua menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, begitu juga dengan Gemi.
Mereka saling tatap, saling senyum. Hingga senyuman Gemi pudar, perempuan bertopi itu menegakkan duduknya.
"Benua lo mimisan...." ujar Gemi panik, perempuan itu mengusap hidung Benua.
Gemi baru ingat, dirinya mempunyai sapu tangan. Gemi mengambil sapu tangan dan mengusap lembut hidung Benua. "Ben, ini kenapa?" tanya Gemi panik.
"Saya gak pa-pa, Gem..." ujar Benua lirih.
"Kita pulang..." ucap Gemi. Gemi berdiri, begitu juga dengan Benua. Benua tampak tak berdaya lelaki itu akan jatuh namun, dengan cepat Gemi menahannya.
"Kita ke rumah sakit. " ujar Gemi.
"Tidak, jangan. Antar kan saya pulang." kata Benua memeluk Gemi.
Gemi memapah tubuh Benua, hingga sampai di parkiran. Benua memberikan kunci mobil kepada Gemi. Gemi membukakan pintu mobil untuk Benua. Setelah itu, gadis itu juga masuk kedalam mobil.
Gemi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perempuan itu juga menggenggam tangan Benua. Sesekali Gemi harus membagi fokusnya, antara Benua dan Jalanan.
Tadi, Benua sudah memberikan alamat rumahnya. Tak berapa lama, Gemi sudah sampai di depan gerbang rumah Benua. Gemi memencet klakson membuat satpam membuka gerbang.
Setelah mematikan mesin mobil, perempuan bertopi itu bergegas membantu Benua. Gemi memapah Benua, di sambut oleh Kalina.
"Benua..." ujar Kalina menghampiri Gemi.
"Ya ampun nak, kamu kenapa?" tanya Kalina panik.
Mereka membawa Benua ke kamar Benua. Di tangga Gemi berpapasan dengan Bumi. "Bumi, ayo bantu adik kamu." kata Kalina.
Mereka membawa Benua ke dalam kamar Benua. Benua di baringkan di ranjang.
"Mama telpon dokter Herman dulu..." ucap Kalina menghubungi Dokter keluarganya.
Bumi menyelimuti Benua, lelaki berkaos putih polos dengan celana pendek pendek itu menatap Gemi sengit.
Kalina masuk kedalam Kamar Benua, mencairkan suasana antara Benua dan Gemi.
"Kamu Gemintang?" tanya Kalina.
"Ah iya tante..." jawab Gemi sembari tersenyum.
"Kalina, Mamanya Benua dan Bumi. Benua pernah bercerita tentang kamu ke tante..." ujar Kalina. Gemi pun menganggukkan kepalanya.
Gemi melirik jam dinding di kamar Benua. Sudah jam setengah enam sore. Pasti Diva mencarinya, apa lagi Gemi tadi tidak izin kepada Maminya.
"Emh, tante Gemi mau pamit pulang. Udah mau malam." ujar Gemi menatap Kalina.
"Iya, hati-hati di jalan. Kamu pulang sama siapa?" tanya Kalina. Gemi terdiam, tadi Gemi ke sini mengunakan mobil Benua.
"Naik taksi tante..." jawab Gemi tersenyum.
"Eh jangan. Bumi kamu antar kan Gemintang ya..." ujar Kalina membuat Bumi mau pun Benua melebarkan matanya.
"Ma, biar pak Roni aja yang yang antar dia," balas Bumi.
"Eh gak usah tante, Gemi pulang sendiri aja." ujar Gemi menolak dengan halus.
"Pak Roni kan lagi cuti. Gak Gemi, perempuan gak baik pulang sendiri," ujar Kalina. Gemi hanya pasrah, dan Bumi tidak bisa membantah Mamanya.
****
Disinilah keduanya, berada di suasana hening. Bumi melirik Gemi. "Lo apain Benua? Sampai begitu?" tanya Bumi sengit.
Gemi melirik sekilas Bumi. "Gue bukan lo, manusia licik!" ketus Gemi.
Bumi tertawa."Gimana, kalau kejadian itu ke ulang lagi?" ucap Bumi dengan kekehan di akhirnya.
"Jangan ngimpi! Gue gak sebodoh dulu!" seru Gemi dengan nada ketusnya.
Bumi menghentikan mobilnya. Gemi akan membuka pintu namun, tangannya di cekal oleh Bumi. "Bagaimana pun, lo mantan pacar gue Gemi," kata Bumi, menunjukan smirknya.
"Dan kebodohan gue, adalah mau jadi mainan lo!" ketus Gemi, melepaskan cekalan tangan Bumi. Lalu keluar dari mobil Bumi.
Begitu mobil Bumi pergi, Air mata Gemi meluruh. Mengingat kejadian itu, harga dirinya hancur di depan Bumi dan teman temannya. Bumi benar-benar jahat. Dan sekarang Gemi takut jika Benua akan sama dengan Bumi.
"Lo bodoh Gemi! Bodoh banget! " ujar Gemi menyalahkan dirinya sendiri.