Bagian Lima : First Day

1450 Words
Benua memarkirkan mobilnya di halaman rumah Gemintang. Gemi turun dari mobil Benua terlebih dahulu. Sementara Benua menyusulnya dari belakang. Gemi mengetuk pintu utama rumahnya. Tak berapa lama Diva membuka Pintu. "Kakak udah pulang?" tanya Diva, Gami pun mencium tangan Diva. "Iya Mi," jawab Gemi, sementara fokus Diva teralih pada lelaki di belakang Gemi. "Selamat siang tante..." sapa Benua ramah. Lelaki itu juga mencium tangan Diva. Diva tersenyum. "Selamat siang..." balas Diva seraya tersenyum kepada Benua. "Saya Benua tante, teman satu kelasnya Gemi..." ucap Benua memperkenalkan diri. "Oh, saya Diva Maminya Gemi.." jawab Diva sembari tersenyum. "Kalau begitu ayo nak Benua masuk dulu..." ajak Diva, Benua pun masuk kedalam rumah Gemi. "Loh? Geminya mana tadi?" ucap Diva. Benua hanya tersenyum. "Sebentar ya, tante carikan Gemi dulu..." sambung Diva. "Iya tante..." balas Benua sopan. Diva berjalan menuju kamar Gemi, wanita itu membuka pintu kamar Gemi. "Cie...anak Mami, udah bawa cowok aja ke rumah..." ledek Diva duduk di ranjang Gemi. "Apaan sih Mi, orang kita cuma mau belajar aja!" bantah Gemi memakai kaosnya. "Eh tapi sambil modus-modus dikit juga gak pa-pa kok, kak! Sesekali coba deh, ngerasain suka sama lawan jenis..." usul Diva. "Nanti Gemi jadi makhluk bucin lagi!" seru Gemi. Diva tertawa, perempuan itu jadi ingat, bagaiman dulu ia juga bucin kepada Angkasa. "Semua orang pasti akan ngalamin fase Bucin kak. Liat deh besok. Kakak juga bakal jadi bucin..." ucap Diva tersenyum. "Satu yang harus selalu kakak ingat! Jaga diri kakak baik-baik, ok?" ucap Diva menepuk bahu Gemi. Gemi tersenyum sembari mengangguk. "Sini peluk dulu! Mami udah lama gak meluk kakak.." ucap Diva, Gemi pun memeluk Diva. **** Sementara itu, di ruang tamu keluarga Semesta, Benua mengamati ruang tamu itu. Dinding ruangan berwarna kuning dengan sentuhan warna hijau pandan. Di salah satu sisi, ada sebuah piguran foto besar. Terlihat di situ ada Gemi, kedua orang tua Gemi serta saudara Gemi. Benua baru tau, kalau Gemi hanya memiliki 2 saudara laki-laki. Benua menebak, yang satu kakak dan yang satu adik Gemi. Di bawah piguran foto itu, ada juga beberapa figuran foto kecil. Ada foto bayi, bahkan foto Gemi ketika kecil pun ada. Benua mengangkat Foto Gemi ketika kecil. Bahkan ketika Gemi masih kecil pun perempuan itu sudah cantik, pipinya yang benar-benar seperti bakpau. Saat sedang asyik mengamati foto Gemi kecil. Suara dari ambang pintu utama, membuat Benua menengok kearah orang yang baru saja datang. "PITER PULANG!" teriak anak berseragam SMP itu. Benua tersenyum menyambut Lelaki itu. "Lo? Siapa?" tanya Piter. "Perkenalkan, saya Benua temannya Gemi..." ucap Benua sembari mengulurkan tangannya. Ah tak lupa senyuman masih terpasang di sudut bibirnya. "Oh hay bang! Gue Jupiter, panggil Piter ya! Jangan Jupi! Ingat! Jangan Jupi!" ucap Piter membuat Benua terkekeh. "Oke, Piter..." balas Benua. "Oh iya bang! Kak Gemi mana?" tanya Piter. "Gak tau tadi kedalam.." jawab Benua. Tak berapa lama, Gemi datang perempuan dengan cepol asal itu turun dari anak tangga. "Heh! Jupi! Semalam lo makan mangga gue ya!" seru Gemi begitu melihat Piter. "En...enggak!" jawab Piter berkilah. "Kata Mami lo yang makan Jupi!" seru Gemi. "Enggak salah....huaaa kabur..." ujar Piter sembari berlari. "JUPI!" teriak Gemi menahan kesalnya. Benua yang melihat itu pun tak bisa menahan tawanya. Diva menggelengkan kepalanya, wanita itu membawa beberapa cemilan serta minuman. "Kamu ini lo kak, masalah mangga kok di ributin.." cibir Diva. "Gak tau kenapa Mi, kalau apa-apa di ambil sama si Jupi tuh gak ikhlas Gemi. Nih ya, kalau rambut Gemi rontok 1 aja. Dan di temu sama tuh Jupi, Gemi gak bakal ikhlas," ucap Gemi kesal. Diva pun menggelengkan kepalanya. "Silakan nak Banua di makan, maaf ya seadanya.." ucap Diva. Benua tersenyum manis "Iya tante, maaf sudah merepotkan," balas Benua dengan tersenyum manis. "Ah tidak, namanya juga tamu..." jawab Diva sembari tersenyum. "Kalau begitu tante ke dalam ya..." ucap Diva lalu pergi. Benua hanya mengangguk, sementara Pandangannya teralihkan kepada Gemi yang sedang menatapnya. "Ayo mulai belajarnya, " ucap Gemi dengan malas. Mereka duduk  lesehan di ruang tamu. Dan mulai fokus pada buku paket yang di berikan oleh ibu Ririn. Gemi masih serius menatap beberapa paragraf di depannya. Sementara Benua, lelaki itu tersenyum sembari menanatap Gemi. Gemi yang mulai risih pun menengok kearah Benua. "Kenapa?" tanya Gemi tidak suka. "Gak pa-pa lanjut aja." balas Benua, membuat Gemi mengangkat bahunya acuh. Mereka kembali fokus, sementara itu dari arah tangga, Piter sedang berjalan menuju dapur. "Kak, Main game yuk!" ajak Piter membuat Gemi menatap adik bungsunya. Mata Gemi nampak berbinar mendengar kata 'Game' tapi, Perempuan itu melirik Benua. "Ayolah kak, bukannya kakak udah pinter? Ngapain belajar? Mending kita mau game, dapetin chicken dinner..." ujar Piter mempengaruhi Gemi. Gemi masih mempertahankan binar matanya, perempuan itu tergiur sekali dengan perkataan Piter. Tapi....lagi-lagi, malaikat dalam dirinya mempengaruhi Gemi. "Ayo kak!" ajak Piter lagi. "Minggir sana lo setan!" seru Gemi kesal sembari melempar bantal sofa kearah Piter. "Ah elah!" kesal Piter sembari pergi dari ruang Tamu. Benua masih mengamati wajah Gemi, bahkan saat raut wajah Gemi berubah kesal pun, ia tetap mengemaskan... *** Gemi menatap malas pada buku paket di depannya. Sudah terhitung 5 hari, kegiatannya hanya berpacaran dengan buku paket. Sementara Benua, yang berada di depannya pun menatap Gemi heran. "Kamu kenapa?" tanya Benua kepada Gemi. Gemi melirik malas Benua. "Gak mood belajar!" ketus Gemi, menidurkan kepalanya pada meja ruang tamu. Benua melakukan hal yang sama, membuat mereka berhadapan dan saling pandang. "Ngapain lo ngikutin gue?" ujar Gemi menatap Benua. Benua tersenyum, lelaki itu menatap lekat Gemi. "Kamu bosen?" tanya Benua. Gemi tak menjawab, perempuan itu menatap tajam Benua. "Gimana kalau kita untuk hari kita gak belajar, dan kita pergi kesuatuh tempat. Kamu mau?" tanya Benua, Gemi mengkerut kan keningnya bingung. "Mau ke mana emang?" tanya Gemi menatap Benua. Benua hanya tersenyum manis. "Udah mau ikut gak?" ujar Benua, secara spontan, Gemi menganggukkan kepalanya. Mereka membereskan buku, Dan setelah itu pergi dari rumah Gemi. Benua mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sementara Gemi, melirik Benua dengan wajah seriusnya ketika sedang menyetir mobil. Gemi terdiam, untuk sesaat melihat wajah Benua. Lelaki itu selalu sabar menghadapinya, sifatnya yang kadang membuat orang malas dengan Gemi. Tapi tidak dengan Benua, Benua bisa memahami Gemi, dan jujur saja Gemi nyaman bersama Benua. Gemi tersenyum tipis, mengingat beberapa hari ini dirinya selalu bersama Benua. Sampai saat ini, Benua masih menjadi salah satu teman nya di SMA Tri Sakti. Seperti sekolah sekolah sebelumnya, tidak ada yang mau berteman dengan Gemi. Apalagi setelah mereka tau, bahwa Gemi rivalnya Bumi. Mengingat Bumi, sejujurnya Gemi takut. Takut jika Benua akan melakukan hal yang sama, sama seperti apa yang di lakukan Bumi Dulu. "Hey ngelamun?" ucap Benua menggoyangkan sedikit bahu Gemi. "Eh..Udah sampai?" kaget Gemi, Benua tersenyum tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi Gemi. "Udah, ayo turun..." ajak Benua, mereka pun turun dari mobil Benua. Gemi menatap sesuatu di depannya. 'Taman Hiburan?' Sudah lama sekali, Gemi tidak menginjakan kaki untuk bermain di taman Hiburan. Yang Gemi ingat, terakhir kali ia menginjakkan kaki di sini ketika kelas 1 SMP. "Ayo masuk." ajak Benua menarik lembut tangan Gemi. Gemi menatap tangan Benua dan tangannya. Mereka masuk kedalam taman hiburan tersebut. "Mau naik apa dulu?" tanya Benua menatap Gemi. Gemi nampak berpikir. "Tornado boleh..." ujar Gemi menatap are permainan tersebut. "Kamu gak takut?" tanya Benua. Membuat Gemi melirik lelaki yang lebih tinggi beberapa cm darinya. Benua tersenyum, lelaki itu mengacak-acak rambut Gemi. "Gak usah takut, 'kan ada saya..." kata Benua mengulas senyum. Entah mengapa, rasanya ada jutaan kupu-kupu yang terbang membawa Gemi melambung jauh. Pipi Gemi terlihat merah, Benua dapat melihat itu. Ah Benua sungguh gemas dengan Gemi. Benua kembali menggenggam tangan Gemi membuat perempuan itu tersadar dari lamunannya. Setelah membeli tiket, keduanya langsung duduk dan memasang pengaman. Benua menatap Gemi, yang raut wajahnya sedikit panik. "Gak usah takut, ada saya disini." ujar Benua tersenyum kepada Gemi. Gemi terdiam, menatap pancaran bola mata Benua yang benar benar menyejukkan. Benua mengambil tangan Gemi lalu menggenggamnya. Dan setelah itu arena permainan mulai di jalankan. Hembusan angin menerbangkan rambut Gemi, Dan perempuan itu juga menggenggam erat tangan Benua. Beberapa menit kemudian, arena permainan sudah di berhentikan. Kepala Gemi sedikit pusing. Untuk berdiri saja rasanya tidak kuat. Tanpa sadar, Gemi menjatuhkan kepalanya pada d**a Benua. Perempuan itu juga melingkarkan tangannya pada pinggang Benua. Gemi dapat menghirup, aroma tubuh Benua yang sangat-sangat membuatnya tenang. "Kamu kenapa?" tanya Benua mengelus puncak kepala Gemi. "Pusing..." jawab Gemi masih mencari kenyamanan di d**a bidang Benua. "Kita duduk di sana ya," ujar Benua menuntun Gemi untuk duduk di salah satu kursi. Gemi masih memeluk Benua, rasanya sangat nyaman. "Mau minum? Saya belikan minum dulu..." ujar Benua menawari Gemi minum. "Gak usah lo di sini aja..." ucap Gemi, Benua tersenyum dan mengusap lembut bahu Gemi. Siapa pun orang yang melihat, mereka seperti sepasang kekasih. Gemi yang terlihat manja kepada Benua, serta Benua yang terlihat begitu sabar menghadapi Gemi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD