Bagian Empat: Jatuh Cinta

1654 Words
Gemi mengaduk mie ayamnya, suasana begitu riuh di kantin siang itu. Semenatara Benua, tampak sedang memakan bekalnya. "Lo beneran gak mau makan mie ayamnya?" tanya Gemi, entah sudah beberapa kali perempuan itu mengajukan pertanyaan yang sama. "Gak Gem, saya 'kan sudah bawa bekal..." jawab Benua tersenyum. "Lo selalu bawa bekal gitu 'ya?" tanya Gemi melirik Benua sembari menyendokan mie ayam dalam mulutnya. "Dari dulu saya selalu bawa bekal..." ucap Benua tersenyum menatap Gemintang. Sementara Gemi hanya mengangguk. "Kalau lo bawa bakal terus, jadi lo gak pernah jajan di kantin? Gak pernah makan mie ayam seenak ini?" tanya Gemi, membuat Benua menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. "Rugi tau lo gak nyobain mie ayam ini... " ucap Ujar Gemi menyedokan kembali mie ayam kedalam mulutnya. Benua tersenyum menatap Gemi yang dengan lahap menyantap mie ayamnya. Karna terlalu lahap, Gemi sampai tidak tauu bahwa sudut bibirnya terdapat noda saus. Tangan Benua terulur untuk mengusap lembut sudut bibir Gemi. Membuat Gemi menghentikan aksi makannya. "Belepotan..." ucap Benua masih tersenyum. Gemi menatap Benua, jantung Gemi berpacu lebih kencang. Semua yang ada dalam diri Benua membuat Gemi terpesona. Gemi melanjutkan aksi makannya, ketika Benua juga melanjutkan aksi makannya. Mereka hening, hingga seorang adik kelas berjalan menghampiri mereka. "Kak Benu..." panggil seorang perempuan  membuat Gemi dan Benua menatap kearah adik kelas tersebut. "Meysha? Kenapa?" tanya Benua. Perempuan bernama Meysha itu duduk di sebelah Benua. "Euem kak, bu Ririn bilang kita di suruh buat ke ruangan pak Wahit..." ucap perempuan bernama Meysha tersebut. "Kenapa emang?" tanya Benua masih menatap Meysha. "Masalah olimpiade tahunan. Kali ini aku jadi partner kakak..." ucap Meysha sembari tersenyum. Benua ikut tersenyum lelaki itu mengusap puncak kepala Meysha. Bukan apa-apa, Benua sudah menganggap Meysha adiknya sendiri. Pandangan Meysha beralih pada Gemintang yang menatap kearah mereka berdua. Benua yang melihat Gemi dan Meysha berpandangan pun menatap kearah keduanya. "Mey kenalkan ini Gemintang teman kakak.." ucap Benua mengenalkan Gemi kepada Meysha. "Teman?" tanya Meysha membuat Benua mengangguk. Meysha tersenyum dalam hati ia senang karena Perempuan di hadapannya ini hanya Teman Benua. "Kenalkan kak, aku Meysha..." ujae Meysha sembari mengulurkan tangan kepada Gemi. "Gemintang, panggil aja Gemi.. " balas Gemi membalas uluran tangan Meysha. Meysha hanya mengangguk sembari tersenyum. "Kakak masih lama makannya?" tanya Meysha. "Gak kok ini udah selsai..." jawab Benua menutup kotak bekalnya. "Kalau gitu, ayo kak nanti keburu bel masuk.." ajak Meysha membuat Benua menganggukkan kepalanya. "Gemi, saya tinggal dulu ya.." ucap Benua mengusap lembut puncak kepala Gemi. Membuat Gemi kaku. Gemi pun mengangguk. "Mari kak, Meysha duluan.." ucap Meysha sembari mengandeng tangan Benua. Gemi menatap Benua dan Meysha yang sudah pergi. Gemi dapat merasakan bahwa Meysha menyukai Benua. Dari semua tingkah Meysha Gemi tau itu. Gemi pun mengangkat bahu nya acuh dan melanjutkan untuk menghabiskan mie ayamnya. *** Setelah membayar makanannya, Gemi berjalan menuju kelas. Di ujung koridor, ada perempuan berambut pirang yang pernah mendorong tubuhnya tempo lalu. Gemi masih ingat nama perempuan itu, Sarah. Yah, perempuan yang mengaku sebagain queen bully di SMA Tri Sakti ini. Ternyata Sarah tidak sendiri perempuan itu bersama kedua teman tamannya. Ternyata dugan Gemi benar, bahwa Sarah sedang mengerjai salah satu siswi cupu. "Rasain lo cupu! Makanya jangan berani berani sama gue!" seru Sarah menjambak rambut siswi itu. Gemi menatap heran kepada murid murid yang ada di koridor ini. Mengapa mereka tidak menolong siswi itu? Mereka malah tampak acuh dan tidak perduli. Gemi melangkah dengan cepat, perempuan itu sengaja menyenggol tangan teman Sarah yang sadang mengarahkan telur busuk kepada korban bullyannya. Bukannya mengenai korban bullyannya? Telur busuk itu mendarat di pundak Sarah membuat Gemi tertawa. "Inka! Lo bego!" geram Sarah. "Ma....maaf Sar, gue gak sengaja tadi gue di senggol sama dia?!" ucap perempuan bernama Inka itu. Sarah beralih menatap Gemi yang sedang menertawakan nya. "Lo anak baru!" gertak Sarah. Gemi menatap angkuh Sarah. "Lo sengaja 'kan?" tanya Sarah berapi-api. "Kalau iya kenapa?" balas Gemi menantang. Sarah geram perempuan itu mengambil telur busuk lainnya untuk menimpuk Gemi. Gemi berjongkok begitu telur busuk itu melesat kearahnya. Alhasil telur busuk itu mengenai wajah teman Sarah yang berada di belakang Gemi. "Sarah! Kenapa lo lempar gue!" keluh teman Sarah. Sementara Gemi sudah tertawa terbahak-bahak. "Sialan! Tunggu pembalasan gue!" seru Sarah lalu pergi dari hadapan Gemi di ikuti oleh teman temannya. Gemi pun kembali melangkah, namun langkahnya terhenti ketika sesuatuh menyentuh pergelangan tangannya. "Kak..." panggil seorang perempuan. Gemi melihat perempuan Cupu itu menahannya. "Makasih, sudah mau menolong, Ayu... " ucap perempuan itu. Gemi manatap kasihan kepada perempuan bernama Ayu itu. "Kacamata lo rusak?" tanya Gemi. Perempuan itu menatap kacamatanya. "Iya kak.." ucap perempuan itu. "Terus lo liatnya gimana?" tanya Gemi. "Aku bisa liat kok sedikit. Meski sedikit tidak jelas..." jawab perempuan bernama Ayu itu. "Mau gue antar ke kelas?" tanya Gemi memberi penawaran. "Kakak mau?" tanya Ayu. Gemi tersenyum. "Ayo gue antar..." ucap Gemi menarik lembut tangan Ayu. Sementara itu, Benua yang menatapnya dari jauh pun tersenyum. Memang benar, Benua tidak salah untuk menyukai seorang Gemintang. **** Gemi menatap malas pelajaran Kimia di depannya. Perempuan itu sedikit menguap, karena mengantuk Gemi pun mencondongkan wajahnya. Kedua tangannya menjadi bantalan. Lalu tanpa beban dosa. Gemi pun mulai memejamkan mata. Sementara itu, Bu Nilam yang sedang mengajar di depan pun sempat memperhatikan Gemi. Perempuan berbadan Gempal itu pun berjalan menuju Gemi. Dan mengebrak meja Gemi. Gemi kaget, perempuan itu menatap malas kepada guru di depannya. "Bagus ya! Tidur di jam pelajaran saya!" bentak bu Nilam. Membuat Gemi memejamkan matanya. Gemi juga menggaruk leher bagian belakangnya. Bu Nilam menatap Gemi dengan mata tajamnya. "Sekarang kamu kerjakan soal di depan!" perintah bu Nilam, Gemi melirik sekilas soal di papan board di depan. Perempuan itu menjatuhkan bahunya. "Kalau saya bisa mengerjakan soal itu. Saya boleh lanjut tidur saya ya bu..." ucap Gemi dengan santai kepada bu Nilam. Bu Nilam sedikit berpikir, soal Kimia di depan sama sekali belum ia ajarkan kepada murid muridnya. Karena materi itu adalah materi kelas 12. "Baiklah..." ucap Bu Nilam tersenyum angkuh. Ia yakin, Benua yang pintar saja belum tentu bisa mengerjakan soal di depan. Lalu bagaimana dengan perempuan yang hanya tau tidur saja. Gemi berdiri, perempuan itu berjalan dengan percaya dirinya berjalan menuju papan board. Gemi mengambil spidol, dan membaca sedikit soal di depan. Senyumnya terbit, jari lentiknya mulai berkerja. Gemi tampak serius, perempuan itu sesekali menghitung dengan jari  jarinya. Setelah selsai, Gemi mengoreksi kembali jawabannya. Perempuan manis itu menutup spidol dan tersenyum sombong ke arah bu Nilam. Bu Nilam terdiam, sesekali ia menaik-turun kan kacamatanya. Wanita berbadan gempal itu berjalan menuju Gemi. "Luar Biasa! Jawabannya benar," ucap Bu Nilam membuat Gemi tersenyum. "Bagaimana bisa kamu mengerjakan soal ini?" ucap bu Nilam bertanya-tanya. Gemi tidak menjawab. "Saya boleh tidur 'kan bu?" tanya Gemi, membuat bu Nilam diam. Sedetik kemudian bu Nilam mengangguk. Mau bagaimana lagi, bukan kah ia sudah berjanji tadi. Gemi tersenyum, ia pun kembali ke kursinya dengan langkah ringan. Sembari tersenyum. Hal itu, membuat teman-teman satu kelas Gemi salah fokus akan senyuman yang baru mereka lihat. Lesung pipi di pipi kanannya membuat Gemi tambah cantik. Gemi tidak sadar, bahwa ia sedang menjadi pusat perhatian. Tak terkecuali Benua, lelaki itu benar-benar terpesona. Mulai dari segi kepintaran Gemi, bahkan Benua saja masih bingung dengan soal di depan. Sementara Gemi? Sudah tertidur kembali dengan posisi semula. **** "Jadi saya selaku panitia olimpiade tahun ini, akan menyampaikan beberapa hal.." ucap Bu Ririn. Gemi hanya terdiam, lalu kenapa dirinya ikut di panggil. "Bu ini 'kan yang ikut lomba aja. Dan saya tidak berkepintingan di sini. Jadi, saya keluar aja ya bu.." ucap Gemi, saat akan berdiri Bu Ririn kembali bersuara. "Tidak Gemi! Kamu tetap di sini," ucap bu Ririn membuat Gemi mendesah kesal. "Meysha, kamu akan saya pindah kan di tim cadangan.." ucap bu Ririn, Meysha diam. "Dan kamu Gemintang? Kamu dan Benua akan menjadi tim inti di tim ini..." jelas bu Ririn membuat Gemi dan Meysha terkejut. "Loh kok saya bu? Gak mau ah!" bantah Gemi. "Saya tidak terima penolakan. Kamu harusnya bersyukur karena ada banyak murid di sekolah ini yang sangat ingin menjadi tim inti olimpiade tahunan..." ucap bu Nilam sementara Gemi hanya memutar bol matanya malas. "Benua, kamu dan Gemintang mulai belajar hari ini! Karna 1 bulan lagi kalian akan menghadapi lomba. Dan kamu Meysha kamu juga belajar, nanti kamu bisa mengantikan Benua atau Gemi jika mereka berhalangan...." jelas bu Ririn. Benua tersenyum, satu bulan untuk dekat dengan Gemi? Tidak akan ia sia-siakan hal itu. Mereka semua keluar dari ruangan bu Ririn. Meysha sedikit kecewa dengan keputusan bu Ririn. Untuk menjadi tim Inti, tidak lah mudah. Bahkan Meysha harus melewati beberapa tes untuk masuk kedalam tim Inti. Sementara Gemintang? Bahkan yang di lihat oleh Meysha perempuan itu tidak mengikuti tes sama sekali. "Gemi nanti kita mulai belajar 'ya?" ucap Benua, Gemintang yang berjalan di sebelah Benua pun melirik sekilas Benua. "Males!" jawab Gemi jutek. Sementara Benua mengulum senyum. "Kita kan harua bersiap Gem, mau di mara--" "Iya iya iya. Males gue di ceramahin sama tuh orang! " seru Gemi lalu berjalan lebih dahulu. Sementara Benua tersenyum, dan menyusul Gemi. Meysha masih berdiri di koridor sekolah. Menatap Benua dan Gemintang. Meysha tidak munafik, dirinya memang menyukai Benua. Namun sepertinya, Benua menyukai Gemintang. Yah lelaki itu menyukai Gemintang. **** Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Benua memasukan buku-bukunya kedalam tas. Sementara Gemi? Jangan di tanyakan. Perempuan itu sedang tidur dengan tangan sebagai bantalannya. Benua duduk di depan Gemi, mengamati raut wajah damai. Kecantikan Gemi bertambah, ketika kedua mata bulatnya tertutup. Benua tersenyum, entah dorongan dari mana, Benua mengelus-elus puncak kepala Gemi. Membuat Gemi terkejut. "Ngapain lo!" ucap Gemi. "Gak pa-pa, saya mau bagunin kamu. Tapi kamu terlalu pulas tidurnya.." balas Benua mengulas senyum. Sementara Gemi mengucek matanya. "Jangn di kucek.." ucap Benua "Biarin! Biar lo ilfil sama gue. Nih ada belek.." ucap Gemi menunjukan belek di jari telunjuknya. Benua tersenyum, lelaki itu sama sekali tidak jijik dengan Gemi. "Jadi kita belajar bareng?" tanya Benua. Gemi berdecak. "Gak ada pilihan lain 'kan?" Tanya Gemi dan Benua pun tersenyum. Mulai hari ini, Benua tidak akan menyia-nyiakannya , kesempatan ini. 30 hari bersama Gemintang....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD