Gemi berjalan menuju kelasnya, sesekali ia digodai oleh para siswa yang berada di koridor pagi itu. Sampai saatnya, mata Gemi bertatap kepada Bumi dan Pacarnya, yang juga melintas di depan Gemi.
Gemi hanya memutar bola matanya malas. Perempuan dengan rambut yang di ikat satu itu, melewati meraka berdua dengan cueknya. Tangan Gemi di cekal oleh Bumi.
"Lepas!" seru Gemi membuat Bumi mengeratkan cekalannya. Tangan Gemi sampai memerah.
"Lo tuh kalau lewat di depan gue harus sopan," ucap Bumi sembari terkekeh. Gemi memutar bola matanya malas.
"Sopan? Lo siapa? Guru, kepala sekolah? Atau tukang kebun sekolah?" balas Gemi menaikan satu alisnya ke atas.
Bumi melepaskan cekalannya pada tangan Gemi. "Gue, penguasa di sekolah ini. Semua murid takut sama gue..." ucap Bumi dengan suara rendahnya.
Gemi tertawa, perempuan itu melipat tangannya di d**a. "Oh ya?" ucap Gemi pura-pura kaget. Perempuan itu mencondongkan wajahnya pada wajah Bumi. "Tapi sayang, gue gak takut sama lo!" seru Gemi sembari terkekeh di depan wajah Bumi.
Membuat Bumi mengepalkan tangannya. Bumi sudah tidak bisa mengontrol emosinya lelaki itu hendak melayangkan tinju kepada Gemi. Gemi yang membaca pergerakan Bumi pun menangkisnya.
"Ini yang namanya pemimpin? Kalian mau? Di pimpin banci kayak dia? Dab kalian juga takut sama banci kayak Dia?" ucap Gemi kepada semua murid yang berada di Koridor.
"Selamanya! Gue gak akan pernah takut sama lo? Ban-ci!" seru Gemi mendorong tangan Bumi.
Gemi terdorong ke belakang, ketika Perempuan berambut pirang itu mendorong tubuhnya. "b***h!" seru perempuan itu.
Seorang lelaki membantu Gemi berdiri. "Kamu tidak pa-pa?" tanya Benua sembari membantu Gemi berdiri, namun Gemi menepisnya Gemi melirik tidak suka kepada Benua.
"Gue bisa sendiri!" ketus Gemi.
"Udah lah Ben, ngapain lo tolongin perempuan gak tau diri kayak dia!" seru perempuan berambut pirang itu.
"Sarah! Berulang kali saya sudah bilang jangan seperti itu! Kamu bisa mencelakai Gemi.. " ucap Benua kepada perempuan berambut pirang itu. Sementara perempuan berambut pirang itu memutar bola matanya kesal.
"Gue gak perlu pembelaan lo," ucap Gemi lalu pergi dari hadapan Benua dan yang lainnya.
Gemi pun berjalan, tapi tujuan nya bukan kelas. Ia terus menyusuri menaiki anak tangga, dan sampai lah dia di rooftop sekolah. Di rooftop itu ada sebuah sofa. Gemi menatap langit biru di depannya.
Perempuan itu menerawang kejadian 1 tahun yang lalu, Dimana menjadi awal kebencian Gemi kepada Bumi. Gemi bukanlah perempuan kuat, seperti halnya cover di dirinya. Sisi kerapuhan Gemi terlihat jika perempuan itu mengingat kejadian itu.
Di mana Bumi mempermalukan Gemi. Gemi tersenyum sinis, ia bersumpah tidak akan memaafkan Bumi sampai kapan pun. "Gue benci sama lo!" seru Gemi memejamkan matanya.
*****
Tidak terasa, Gemi sudah lama berbaring di sofa rooftop. Perempuan itu bangun, melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 10:15 menit, itu artinya sudah istirahat. Gemi bangkit pun berjalan menuju kelasnya.
Sampai di kelas, sepi hanya ada Benua yang sedang membaca buku. Benua melirik kearah Gemi yang akan duduk di mejanya. Lelaki itu menyimpan buku nya lalu, berjalan mendekati Gemi.
"Kamu dari mana?" tanya Benua duduk di depan Gemi.
Gemi melirik sekilas kepada Benua. "Bukan urusan lo!" ketus Gemi.
"Maafkan kesalahan Bumi, kalau kamu membenci Bumi. Tolong jangan benci saya..." ucap Benua.
Gemi menatap Benua. "Kenapa lo begitu perduli sama gue?" tanya Gemi masih dengan menatap Benua.
Benua tersenyum, tangannya terulur untuk membenarkan letak rambut Gemi. "Karna saya ingin menjadi teman kamu..." ucap Benua masih dengan senyuman yang tarpasang.
Gemi terdiam, ia terpesona dangan senyuman manis Benua. "Gue gak perlu teman..." ucap Gemi mengalihkan pandangannya.
Lagi Benua tersenyum. "Manusia adalah mahluk sosial, dan kamu pasti membutuhkan teman..." ucap Benua.
"Saya mau kok jadi teman kamu..." sambung Benua menawarkan diri.
"Apa lo ngelakuin semua ini karena Bumi yang nyuruh lo?" tanya Gemi sembari tersenyum sinis. "Kalau pun itu alasan lo? Gue gak tertarik!" seru Gemi lalu berdiri. Saat Gemi akan pergi Benua manarik tangan Gemi. Membuat Gemi jatuh dalam pelukan Benua.
"Bumi tidak pernah menyuruh saya untuk melakukan hal itu. Saya tulus ingin menjadi teman kamu.." balas Benua sembari tersenyum manis kearah Gemi.
"Saya akan menjadi teman yang baik untuk kamu..." sambung Benua, Gemi tersadar ia mendorong bahu Benua kasar.
"Gak usah pegang pegang gue!" Ketus Gemi, Benua hanya tersenyum.
"Jadi, boleh 'kan? Saya menjadi teman kamu?" tanya Benua.
"Terserah!" jawab Gemi lalu pergi dari hadapan Benua.
****
Benua keluar dari mobilnya, lelaki itu tersenyum sembari melangkahkan kaki untuk masuk kedalam rumahnya. Di dalam rumahnya, ada Kalina yang sedang membaca majalah. Perempuan berambut pendek itu tersenyum melihat anak bungsunya baru saja pulang dari sekolah.
"Selamat siang anak Mama..." sapa Kalina mencium kedua pipi Benua.
"Ma, Benua ke atas dulu, ya.." ucap Benua masih dengan senyuman yang mengembang.
Benua pergi dan masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu merebahkan tubuhnya pada ranjang. Gemintang Libra Semesta, entahlah sejak kapan ia menyukai perempuan itu. Yang jelas awal pertemuannya di koridor sekolah pagi itu adalah awal dari segalanya.
Gemintang bukan lah cinta pertama Benua. Sebelumnya, Benua pernah menyukai Sarah. Pacar dari Bumi, mereka Benua, Bumi serta Sarah adalah teman sedari kecil. Sarah lebih memilih Bumi, entahlah lah mungkin Bumi lebih kuat dari pada Benua..
Benua bangkit dari rebahannya. Lelaki itu menatap lemari berkaca di depannya. Benua dapat melihat ada sedikit darah yang keluar dari hidungnya. Tangan Benua beralih untuk mengambil tissu di meja yang tidak jauh darinya.
Lelaki itu mengusap pelan hidungnya, Benua merasakan akhir-akhir ini ia sering mimisan. Bahkan darah yang keluar cukup banyak. Lelaki itu tersenyum kaku. Setelah itu ia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan hidungnya.
Benua menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Wajahnya putih pucat. Tak ambil pusing, Benua pun keluar dari kamar mandi dan sudah mendapati Bumi yang tertidur di ranjangnya.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo.." ucap Bumi memecah keheningan siang itu.
Benua tak menjawab, lelaki itu masih menunggu Bumi untuk berbicara. Sementara Bumi mendudukkan tubuhnya dan menatap Benua.
"Jangan sesekali belain tuh perempuan di depan gue.." ucap Bumi dengan nada mengancam.
"Tidak bisa, karena Gemintang sudah menjadi teman saya.." jawab Benua dengan nada seperti biasanya.
"Murid di SMA TRI SAKTI bukan cuma Gemintang! Lo masih bisa berteman dengan murid lain Ben!" seru Bumi.
"Saya cuma mau berteman dengan Gemintang..." balas Benua. "Apa semua itu salah?" tanya Benua, membuat Bumi menatapnya.
"Salah..." ucap Bumi lalu pergi dari hadapan Benua.
"Saya memang tidak tau, mengapa Gemintang bisa begitu membenci kamu. Tapi kamu dan saya berbeda. Meskipun kita kembar, tapi kita beda. Kamu dengan prinsip dan karakter kamu. Begitu juga dengan saya. Saya juga punya privasi dan kamu tidak boleh mengatur atur saya.." ucap Benua, sementara Bumi yang tadi sempat menghentikan langkahnya pun kembali melangkah untuk keluar dari kamar Benua.
Bumi benar-benar keluar dari kamar Benua. Lelaki itu masuk kedalam kamarnya. Ia melihat betul, figuran foto dirinya bersama Benua. "Gue cuma gak mau Gemintang memanfaatkan lo Ben. Gue sayang sama lo..." ucap Bumi tulus.
Setelah Papanya meninggal, Bumi merasa harus menjaga Kalina, Mamanya dan tentu saja Benua adik kembarnya. Sebisa mungkin, Bumi akan melindungi kedua orang yang sangat berarti di hidupnya.
****
Benua melihat Gemintang yang baru saja masuk kedalam area sekolah. Membuat lelaki penebar senyum itu menghampiri Gemi. "Selamat pagi Gemi..." ucap Benua dengan senyuman manisnya pagi ini.
Gemi melirik sekilas Benua, wajah juteknya masih terlihat. "Hem.." sahut Gemi singkat.
"Ke kantin yuk! Kamu belum sarapan 'kan?" tanya Benua, membuat Gemi menghentikan langkahnya. Gemi melirik Benua dari mana Benua tahu bahwa dirinya belum sarapan.
"Ayo nanti keburu Bel.." ucap Benua menarik lembut tangan Gemi yang masih diam mematung.
Mereka sampai di kantin. "Sebentar, saya pesan kan makanan dulu ..." ucap Benua lalu pergi meninggalkan Gemi yang masih mengamati pergerakan Benua dari belakang.
Gemi pikir, Benua dan Bumi sama. Tapi setelah melihat sifat asli dari Benua. Mereka berdua berbeda, Benua sangat baik memperlakukannya. Layaknya perempuan yang di hormati oleh lelakinya. Dan satu lagi, Benua lebih berwarna dari pada Bumi.
Entah sejak kapan, Bumi duduk di sebelah Gemi. "Jangan pernah lo peralatan Benua buat ngehancurin gue.." bisik Bumi membuat Gemi menoleh kearah Bumi.
Gemi mengerutkan keningnya bingung. "Gue tau, lo benci sama gue. Urusan lo sama gue. Jadi jangan libatin Benua sama masalah kita.." ucap Bumi menatap tajam Gemi.
Kini Gemi tahu arah pembicaraan Bumi. "Gue gak selicik itu!" seru Gemi membalas tatapan tajam Bumi.
Bumi mengangkat sudut bibirnya. "Lo pikir gue percaya?" ucap Bumi mencondongkan wajahnya pada wajah Gemi. Bumi melirik Benua yang sudah berjalan kearah mereka.
"Ingat, jangan pernah main-main sama gue.." Bisik Bumi, sedikit pun Gemi tidak takut dengan ancaman Bumi.
Bumi sudah pergi, bertepatan dengan Benua yang baru sampai. "Gemi, kamu tidak apa-apa? Apa yang di lakukan oleh Bumi?" tanya Benua nampak khawatir dengan Gemi.
Sementara Gemi hanya menggelengkan kepalanya. Benua tersenyum, lelaki itu membenarkan letak rambut Gemi yang pagi ini berkuncir dua.
"Sekarang kamu makan saya pesan kan sandwich buat kamu ...." ucap Benua memperlihatkan 3 potong sandwich dan dua gelas s**u kotak.
Benua mengambil s**u kotak itu dan meminumnya. "Lo gak makan?" tanya Gemi, Benua menatap kearah Gemi lelaki itu tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya sudah sarapan. Cepat makan, nanti keburu bel masuk..." ucap Benua dan entah mengapa, Gemi menuruti perkataan Benua.