***
Hari-hari berlalu. Masalah Hiro dan Adnan sudah benar-benar berakhir. Namun kehidupan Ana tak pernah sama seperti dulu lagi. Kini, ia terikat perjanjian rahasia dengan Elang. Meskipun hanya mereka berdua saja yang tahu, tapi Ana adalah tunangan Elang saat ini. Ana terkekang dengan ikatan itu. Namun, tak ada pilihan lain baginya selain menyetujui apapun yang Elang inginkan.
Kemarin, Badu menemui Ana di lokasi syuting. Mantan pacarnya itu memaksa untuk makan siang. Ana setuju karena bermaksud untuk menyentak Badu bahwa hubungan mereka tidak bisa seperti dulu lagi. Ana juga meminta Badu menerima Zera karena yang lelaki itu cintai adalah Zera, bukan dirinya. Badu tidak menerima apapun yang Ana katakan. Ana juga tidak mengerti, padahal Ana sadar betul yang Badu cintai adalah Zera.
Hari ini Ana memutuskan untuk makan di restoran paforitnya. Dulu, dia sering pergi bersama Badu ke sini. Namun, hari ini lelaki itu bukan datang bersamanya melainkan bersama Zera.
Ana menghembuskan napasnya dengan berat. Meskipun perasaannya pada Badu tidak sedalam lautan, tapi tetap saja ada rasa kesal melihat Badu bersikap mesra secara sengaja di depannya.
Belum sempat ia menghabiskan makanan yang dia pesan, Ana sudah meninggalkan mejanya. Dia tak suka melihat Badu bersikap seperti itu. Bukan karena Ana tak sanggup menahan cemburu, tapi karena Ana tak suka Badu memanfaatkan perasaan Zera untuk membuatnya cemburu. Badu terlalu kekanakan.
Ana berdecak sebal saat mendengar Badu meneriakan namanya. Dapat dirinya tebak, Badu pasti menyusulnya. Astaga! Apa kabar perasaan Zera? Badu benar-benar keterlaluan.
"Ana! Tunggu, An!" sekuat mungkin Ana membawa langkah kakinya berlari. Dia berharap Badu tidak berhasil menangkapnya, tapi harapan itu sirna ketika telapak tangan Badu melingkari pergelangan tangannya. Menariknya hingga Badu berhasil mendekapnya. "Ana," lirih Badu memohon. Ana menangis, dia tidak suka dengan situasi ini. Badu salah paham, Ana tidak cemburu karena dia bermesraan dengan Zera. Namun, Ana kesal kenapa Badu tidak menyadari perasaannya juga.
"Apa lagi, Badu? Kenapa kamu sejahat ini? Kamu manfaatin perasaan Zera? Keterlaluan kamu, Badu," banyak sekali pertanyaan yang belum sempat terucap oleh Ana. Perempuan berparas cantik itu menggeleng keras, berharap Badu mengerti apa yang dia lakukan ini adalah salah.
Badu seolah tidak mendengar apapun yang Ana katakan. Dengan cepat lelaki itu meraih wajah Ana dan menciumnya. Ana yang terkejut tak sempat mengelak. Ana mendorong Badu dengan keras, meski lelaki itu hanya menjauhkan kepalanya saja. Lalu, entah sejak kapan Zera sudah berada di depan keduanya dan suara tamparan terdengar sangat keras.
Ana terkesiap, bukan dia yang mendapat tamparan itu, tapi Badu. Ana tak sempat mengatakan apa-apa saat Zera berjanji pada Badu bahwa ini adalah terakhir kali baginya. Kemudian Zera pergi begitu saja. Ana hanya sanggup menggelengkan kepala. Dia menatap Badu dengan tatapan putus asa. "Ini yang kamu mau, Badu?" tanya Ana. Kini matanya menatap tajam lelaki itu.
"Zera pasti sangat membencimu. Aku harap kamu bisa dapatin maafnya lagi," setelah mengatakan itu Ana pun pergi meninggalkan Badu yang terdiam sambil menunduk ragu.
Sementara itu, Ana langsung kembali ke apartemennya. Dia benar-benar menyayangkan apa yang baru saja Badu lakukan. Entah apa yang akan terjadi pada Badu dan Zera, tetapi yang pasti bukan sesuatu yang baik bagi keduanya. Ana dapat melihat kebencian yang ada di mata Zera sesaat setelah perempuan itu menampar pipi Badu.
Entahlah, masalah Ana terlalu banyak. Dia tak yakin bisa membantu mereka berdua. Namun, jika Ana bertemu Zera, ia akan menjelaskan semuanya.
***
Pagi di hari sabtu. Ini seharusnya menjadi hari libur bagi banyak orang. Namun, Ana tidak bisa libur begitu saja. Menejernya sudah mengirimkan jadwal pemotretan untuk hari ini. Sehingga pagi-pagi sekali Ana sudah mandi dan bersiap diri.
Tak ada kata mengeluh, pekerjaan ini Ana sendiri yang pilih. Ana mencintai pekerjaannya. Sampai kapanpun dirinya tak akan lelah melakukan ini. Hidupnya sudah banyak berubah sejak menjadi seorang model.
"Iya sebentar!" ujar Ana saat bel apartemennya berbunyi. Perempuan berparas cantik itu berlarin kecil untuk membukakan pintu pada tamunya. "Pemotretannya sampai jam berapa, Kak Cici?" tanya Ana saat mengetahui tamunya adalah manajernya.
Cici meletakan kantong plastik berisi makanan yang dia bawa. "Sampai jam sebelas," jawabnya.
"Itu berarti aku bebas di atas jam sebelas ke atas?" tanya Ana bersemangat. Dia tak ada waktu untuk memikirkan masalahnya. Hidupnya sudah cukup berat, lebih baik dibawa happy dari pada merenung seorang diri. Begitu prinsip hidup Ana selama ini.
Cici mengangguk singkat, "Iya! Tapi awas aja kalau sampai kamu bikin ulah lagi, An! Masalah yang terakhir saja tante Silvia nanyain kamu mulu. Lagian kenapa nggak angkat telpon sih?" Cici merasa kesal pada sikap Ana.
Ana meringis, "Maaf, bukan nggak mau angkat tapi aku nggak mau bikin Mama ikutan setres," ucap Ana sambil memelas pada manajernya itu. Cici memutar bola matanya di depan Ana. Dia memang lebih tua Lima tahun dari Ana. Baginya, Ana sudah seperti adiknya sendiri. Cici juga sudah menikah dan memiliki anak berusia Empat tahun. Meskipun hanya seorang manajer, tetapi Ana juga sudah menganggap Cici seperti kakaknya sendiri.
"Asal jangan bikin masalah lagi, An. Nggak kapok dari kemarin diteror media?"
"Kapoklah! Nggak bisa ngapa-ngapain aku, Kak. Di mana-mana ada wartawan. Tapi maklum sih, kan selain model aku juga artis papan atas," Ana menaik turunkan alisnya. Sengaja mengatakan itu untuk menggoda Cici.
Cici menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan apa yang ada di dalam benak Ana. Kemarin Ana menceritakan putusnya hubungannya dengan Badu karena sudah tak cinta, tapi Cici yakin artisnya itu masih memiliki rasa pada Badu Admaja. Cici curiga, Ana sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Jangan-jangan kamu lagi nyiapin sesuatu yang lebih gereget lagi untuk santapan wartawan, An?" Cici menatap Ana curiga. Membuat perempuan berperawakan tinggi dengan porsi badan yang pas itu pura-pura menyibukan diri dengan plastik yang Cici bawa.
"Apaan ini, Kak?" tanya Ana yang dengan sengaja mengalihkan pembicaraan. Hal itu jelas membuat Cici semakin mencurigainya. Cici sudah mengenal Ana sejak Ana masih remaja. "Katakan! Apa yang kamu sembunyikan kali ini, Ana?" tanya Cici mendesak Ana. Namun, dengan lihai Ana mengelak untuk menjawabnya.
"Astaga Kak Cici! Nggak ada apa-apa," cengirnya.
"Tuh lihat, nggak ada, kan?" alih-alih bersikap serius, Ana justru mengajak Cici main-main. Ana sengaja mencari sesuatu di tubuhnya seolah apa yang Cici maksud dia sembunyikan di sana.
"Anaaaa," geram Cici. "Cepat sarapan!" ujarnya. Cici tahu Ana tidak akan mengatakan apa-apa. Cici harus menggigit jari, tugasnya bertambah lagi karena harus mengawasi Ana secara diam-diam untuk mengetahui apa yang sebenarnya Ana sembunyikan darinya.
Cici membantu Ana menyiapkan sarapan untuk mereka. Meski sudah sempat sarapan bersama keluarga, tetapi Cici selalu menyisakan sedikit lambungnya untuk sarapan bersama Ana. Sebab artisnya itu enggan makan, takut gemuk katanya. Padahal tubuh Ana tidak pernah menggendut meskipun dia memasukan makanan berlemak ke dalam lambungnya.
"Astaga Kak! Kenapa makanan berat semua," Ana mencebikan bibirnya setelah membuka plastik makanan yang manajernya bawa. "Jangan paksa aku makan ini, aku nggak mau!" ujarnya. Ana menyingkirkan makanan yang ada di depannya itu.
Cici berdecak kesal. Dia baru saja mengambil piring sebagai wadah nasi uduk yang juga menjadi menu sarapannya bersama keluarga pagi tadi. Cici mendorong makanan itu ke hadapan Ana lagi. "Ini hanya nasi uduk, An!" ujarnya.
"Justru itu, Kak Ciciiii, ini nasi kakak cantik," balas Ana yang kembali menyingkirkan sepiring nasi uduk.
"Makan sekarang atau aku berhenti jadi manajer kamu," Cici sangat yakin ancamannya ini akan berhasil membuat Ana memakan sarapannya. Secara, Ana kan takut sekali Cici mengundurkan diri.
Ana menghela napasnya dengan berat, "Ini bukan karena aku takut kehilangan Kak Cici ya, tapi karena aku nggak tahu harus cari ke mana lagi manajer sebaik Kakak." mau tak mau Ana menarik piring berisi nasi uduk itu lagi ke hadapannya. Mulai mengunyahnya dengan hati-hati.
"Aku nggak akan habisin ini. Tenang aja," Nasi uduk ini sangat enak, tapi Ana harus menahan diri untuk tidak menghabiskannya. Ana benar-benar takut tubuhnya berubah bentuk. Tentu dia takut kehilangan karirnya karena hal itu.
Mendengar Ana berkata seperti itu, membuat Cici sibuk menahan senyumnya. Seperti biasa, Ana dan gengsinya itu tak bisa membuat Cici mendapatkan jawaban jujur darinya. Iya, itu lah kenapa beberapa rekan selebriti menilai Ana artis yang sombong, angkuh dan sulit didekati. Namun, bagi yang sudah mengenalnya dengan baik, Ana ini adalah sosok yang tidak terduga. Dia berhati lembut dan mudah tersentuh.
Cici berdehem keras saat melihat nasi uduk yang Ana makan tinggal sedikit lagi. Ana yang menyadari maksud manajernya buru-buru meneguk minum. "Aku selesai," ucap Ana terlihat tak rela melewatkan sisa nasi uduk di piringnya.
Cici menghelan napasnya. Ia meletakan sendok yang tadi dirinya gunakan untuk menyuapkan nasi uduknya. Dengan tegas, Cici kembali mendorong piring Ana ke depan artisnya itu. "Habiskan!" ujarnya.
Ana tampak menahan diri untuk tidak segera meraih sendok dan piringnya itu. Dia berlagak seolah Cici yang memaksa. "Karena Kak Cici memaksa, maka nggak ada pilihan lain selain habisin sarapan ini," ucap Ana. Kemudian tangannya sudah kembali memegang sendok. Dalam beberapa menit kemudian, nasi uduk itu sudah kandas. Ana bersendawa, melupakan pandangan orang-orang di luar sana. Tentangnya yang anggun dan mempesona. Ck. Ana tidak sesempurna itu. Dia juga memiliki sikap yang apa adanya di depan orang kepercayaannya.
"Enak, An?" pertanyaan Cici membuat Ana malu sendiri. Dia menyengirkan giginya yang putih dan rapi. "Itulah kenapa aku melarang Kak Cici bawain sarapan dari rumah," balas Ana.
Cici mengangguk-anggukan kepalanya. "Sudah siap untuk berangkat ke pemotretan?" lagi-lagi sebuah pertanyaan diutarakan oleh Cici.
Kali ini Ana yang menganggukan kepalanya. "Siappp Bu Bos!" jawabnya.
Setelah itu, Ana dan Cici membereskan peralatan makan yang tadi keduanya gunakan. Kemudian mereka meninggalkan apartemen untuk menuju lokasi pemotretan. Cici salut pada Ana yang memiliki semangat tinggi dalam bekerja. Artisnya itu tak pernah mengeluh walaupun selalu mengidamkan waktu luang.
"Ana semangat," teriak Cici. Beberapa saat lalu mereka sudah sampai di lokasi. Ana juga sudah siap melakukan pemotretan.
"Semangat!" Ana membalas Cici hanya dengan gerakan mulut dan tangannya saja. Semangat, ini masih langkah baru bagi Ana setelah apa yang terjadi padanya beberapa waktu terakhir ini. Meskipun ada Elang yang harus Ana hadapi ke depannya.
.
.
Berambung..