Bab 5. Elang Samudra

1500 Words
*** Wajah Ana sangat masam saat selesai pemotretan. Harusnya, dia bergembira karena pekerjaannya hari ini telah usai. Namun, karena kehadiran seseorang membuat Ana kesal setengah mati. "Kenapa?" tanya Ana yang tak suka basa basi setelah ia menarik tamu tak diundangnya itu. Adalah Elang yang mendatangi Ana ke lokasi syutingnya. "Aku bosmu di masa depan, jadi kenapa aku nggak boleh melihat kinerjamu di lokasi syuting?" Elang menjawab. Ana memutar bola matanya dengan jenuh. Bosnya yang sekarang saja tidak pernah mau repot datang ke lokasi syuting. Lagi pula bukan urusan si bos untuk hal yang seperti ini. Banyak yang harus seorang atasan urus selain memantau secara langsung artisnya ke lokasi syuting. Elang pasti hanya beralasan pikir Ana. "Tapi sekarang kamu bukan bosku!" ujar Ana dengan sebal. Entah kenapa setiap kali melihat wajah Elang, ia selalu teringat masa lalu. Elang pernah sangat menyakitinya. Ana tidak akan pernah melupakan itu. "Ahh ketahuan, baiklah Ana aku akan jujur kenapa aku datang ke lokasi pemotretan kamu hari ini," ucap Elang. "Aku kangen sama tunanganku," bisiknya tepat di telinga Ana. Perempuan cantik itu sampai merinding dibuatnya. Dengan cepat Ana mendorong Elang agar menjauh. "Apa-apaan sih?!" deliknya tak suka. "Jangan berisik! Nanti ada yang dengar." Ana memberi peringatan pada Elang. Matanya menatap tajam penuh dengan perhitungan. Lihat saja! Kalau sampai media tahu tentang pertunangan bodoh ini, Ana akan membalas Elang dengan setimpal. "Sayang.." "Elang!" geram Ana. Dia bertanya-tanya kapan Elang tidak membuatnya kesal? Mulut lelaki itu harus dijahit dulu rupanya agar tidak banyak bicara. Haruskah Ana menjahitnya sekarang? Dijahit lakai mulut sepertinya tidak masalah. Astaga! Ana menepuk dahinya sendiri. Bisa-bisanya ia memikirkan ciumannya bersama Elang beberapa waktu lalu. Tolonglah, Ana sudah membiarkan Elang menciumnya dua kali! Jangan sampai lelaki itu mendapatkan yang ketiga. Demi apapun Ana tak akan membiarkannya. Namun, sepertinya Ana hanya sanggup menahan pikirannya karena yang sedang terjadi justru sebaliknya. Entah sejak kapan Elang sudah meraup bibir Ana dan dengan sangat bodoh, Ana membalasnya. Ana terhimpit saat Elang mendorong tubuhnya ke dinding. Kejadian itu menyadarkan Ana dari situasi yang ada. Sial! Dirinya terkecoh lagi oleh kenikmatan yang bibir Elang tawarkan. "Lepasin gue!" ujarnya saat berhasil mendorong kepala Elang. Namun, Ana heran kenapa Elang masih saja berusaha untuk menciumnya lagi. Mata Elang juga sudah menggelap, bagai seseorang yang sudah dibutakan napsu. Padahal mereka hanya mempertemukan bibir masing-masing secara singkat. Ana jadi bertanya-tanya, apa kehidupan di luar sana telah menjadikan Elang seperti binatang buas? Yang suka sekali memangsa. Plak! Suara tamparan terdengar keras. Ana menggigit bibirnya dengan kuat. Dia baru saja menampar pipi Elang tanpa kelembutan sama sekali. Namun, yang Ana lihat adalah Elang sedang terkekeh sambil memegangi pipinya yang memerah. "Sakit juga tamparan kamu, An," komentar lelaki itu dengan santai. Ana mengerutkan dahinya. "Kamu gila ya Elang?" bukankah Elang seharusnya marah karena telah dia tampar? Tapi kenapa Elang justru tertawa seperti ini. Ana kan bisa meneriakinya jika Elang marah padanya. "Iya, aku tergila-gila sama kamu, Ana." jawab Elang dengan serius. Ana dapat melihat itu ketika kekehannya menghilang, tergantikan dengan senyum manis dan matanya yang menatap tegas. Ana sendiri sampai salah tingkah dibuatnya. "Kamu ngomong apa?" tanya Ana pura-pura tak mengerti. Dia memalingkan wajahnya dari Elang dengan cepat. Elang menghela napasnya dengan berat. Andai Ana tahu maksud dan tujuannya menjadikan Ana sebagai tunangan adalah karena ingin wanita itu kembali padanya. Andai Ana mengerti dan bersedia untuk itu, mungkin Elang akan merasa sebagai lelaki paling bahagia di dunia. Namun, sepertinya Ana sulit didekati. Bagaimana pun juga, kesalah pahaman yang terjadi bertahun lalu sudah membuat perempuan itu terluka. Elang benar-benar harus meluruskan segalanya. Apa lagi dirinya betul, alasan kenapa Ana mudah sekali menyelingkuhi pasangannya adalah karena dirinya juga. Elang bersalah dan merasa harus bertanggung jawab. Dia tak bisa membiarkan Ana berada di dalam kesalah pahaman itu selamanya. "An," panggil Elang dengan lembut. Dia sedang menatap Ana dengan serius. "Mulai besok aku yang akan gantiin Papa untuk menghandle perusahaan. Malam ini kamu mau luangkan waktumu untuk makan malam sama aku?" Ana terkejut mendengar pertanyaan itu. Biasanya, Elang hanya pandai memaksa. Setelah bertemu lagi dengan lelaki itu, yang dirinya lakukan hanyalah memaksa Ana untuk menurutinya. Kini, dia bertanya dengan sopan pada Ana. Seharusnya Ana bisa menolak dengan menggunakan kesempatan ini. Namun, kepala cantik Ana justru mengangguk mengiyakan ajakan itu. Astaga! Ana merasa ada yang salah dari otaknya. "Terima kasih," ucap Elang sambil menoel hidung Ana dengan gemas. Ana harus berpaling karena wajahnya mendadak memerah. "Nanti malam aku jemput," tegas Elang. Setelah itu dia pamit pergi, meninggalkan Ana yang sedang memegangi dadanya. Degup itu terasa lembut, tetapi sangat jelas. Dia pun tak mengerti kenapa bisa merasakan ini lagi setiap kali Elang bersikap baik padanya. Ana tidak bisa tinggal diam, dirinya harus melakukan sesuatu untuk menghentikan degup ini. Ana mengangguk mantap, dia sudah memiliki rencana yang baik untuk menghalau apapun yabg sedang dirinya rasakan kini. "Ana ada apa?" tanya itu menyadarkan Ana dari diamnya. Ketika Ana menoleh, Cici sudah berada tepat di depannya. Sedang menatapnya penuh selidik. "Jangan bilang kamu dan Pak Elang memiliki sesuatu yang nggak aku ketahui?" tanya itu tepat sasaran, tetapi maaf Cici karena Ana tak bisa memberitahumu segalanya. "Pak Elang memintaku memastikan makan siangmu dengan baik, ada maksud apa beliau mengatakan itu, Ana?" sekali lagi Cici bertanya bagai detektif. Ana menggeleng tegas. Bibirnya tersenyum cantik. "Nggak ada apa-apa Cici. Pak Elang hanya memberiku semangat agar bekerja lebih baik lagi. Dengan begitu Top Model yang aku sandang nggak malu-maluin," terangnya penuh kebohongan. Elang tak pernah membahas itu. Setiap kali Elang menemuinya, yang dibahas hanya tentang hubungan mereka. Ck. Ana kadang berpikir keras kenpa Elang masih saja mengejarnya. Padahal banyak perempuan cantik di luar sana yang tentu saja menarik perhatian banyak pria. Elang terlalu keras dalam berusaha untuk menyakitinya lagi. Namun, maaf Ana berjanji untuk tidak tertipu lagi. "Jangan macam-macam An, mulai besok dia itu bos baru kita." peringat Cici. "Aku tahu Kak Cici, tenang aja." balas Ana. "Kadang aku heran sama kamu, An. Kamu cinta sama pekerjaan ini, tapi masih saja bikin scandal nggak penting yang bisa hancurin karir kamu," kata-kata Cici benar adanya. Mendadak Ana termenung. Apa dirinya selama ini terlalu meremehkan scandal yang dia ciptakan? "Tapi kan aku nggak bermaksud membuat media tahu, Kak," balas Ana. Dia memang suka sekali melewati batas, tapi demi apapun dia tak pernah ingin media tahu tentang semua itu. Hanya saja, dirinya kurang beruntung hingga vidionya yang sedang berselingkuh bersama Badu waktu itu menjadi viral. Ah, sudahlah. Ana jadi kesal sendiri pada apa yang Litia lakukan pada hidupnya. Iya, ini semua kam gara-gara wartawan itu. Ck. Ana memang belum berbicara lagi dengan Litia sejak waktu itu. Meskipun hubungannya dengan Hiro baik-baik saja. "Sudahlah," Cici melambaikan tangannya. "Ini ada pesan di ponselmu," ucap Cici. Segera Ana meraihnya. "Tante Kina?" tanya Ana penasaran. Setahunya, sejak dirinya ketahuan selingkuh, tante Kina seperti memusuhinya. Tak pernah ingin mengangkat telponnya. Tante Kina kecewa padanya. Namun, masih berhubungan baik dengan orang tuanya. "Nanti malam jangan lupa ke rumah, kita makan malam bersama." Ana membaca pesan teks yang tante Kina kirimkan padanya. Ana mengerjap lucu, dia menatap Cici dan ponselnya secara bergantian. "Ini bukan pesan nyasar Kak Cici?" tanya Ana masih tidak percaya. "Tante Kina nggak marah lagi sama aku?" tanyanya lagi. Ck. Cici berdecak sebal. "Ini kesempatan kamu untuk minta maaf sama tante Kina. Jangan bersikap menyebalkan lagi di depan matanya," ucap Cici penuh peringatan. "Astaga aku kan nggak bermaksud," sahut Ana tak terima dengan perkataan Cici. "Terserah! Ayo pulang, sekalian pilih gaun mana yang mau kamu kenakan nanti malam," "Siapppppp!" ujar Ana sambil menempelkan ujung jarinya ke dahi, membentuk hormat. Pukul Tiga sore Ana baru saja mendapatkan gaunnya. Bukan dari dalam lemari, tapi dari salah satu butik langganannya. "Gila ya kamu! Dari tadi kita keliling An, tapi ujung-ujungnya balik lagi ke gaun yang ini," tentu saja Cici protes setelah menemani Ana berkeliling dengan pakaian menyamar seperti ini. Cici bisa saja pergi ke butik sendirian, tapi Ana memaksa untuk memilih sendiri gaunnya. Ana menyengir tanpa dosa, kini mereka telah kembali ke apartemen. "Maaf Kak Cici, tapi ini kan perdana tante Kina mau bicara lagi sama aku," ucap Ana dengan manja. Inikah model papan atas yang selalu disebut-sebut anggun dan mandiri? Ck. Ana itu sebenarnya sangat manja. "Sana mandi. Aku yakin make up nanti lebih memakan waktu lagi," sindir Cici tanpa takut Ana tersinggung. "Iya kakak.." dengan sengaja Ana menhawab seperti itu. Ck dirinya terlalu bersyukur menemukan Cici menjadi manajernya. "Astaga!" pekik Ana saat mengingat sesuatu ketika dia baru saja akan membuka pintu kamar mandinya. "Ada apa?" Cici pun tekejut mendengar pekikan itu. Ana menoleh ke belakang. "Aku melupakan janjiku pada Elang malam ini," jawabnya tanpa sadar. "Apa?" dan Cici pun terkejut lagi. Pupil mata Ana membesar saat menyadari apa yang baru saja dia katakan. Dengan cepat Ana menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Ana tahu tak ada gunanya melakukan itu. Manajernya sudah terlanjur tahu. Pemilik tubuh dengan porsi yang pas itu melepas telapak tangannya yang sedang menutup mulutnya itu. Dia meringis saat melihat wajah manajernya tampak murka. "Nanti aku jelasin," dengan cepat Ana berbalik, masuk ke dalam kamar mandi. "Aku mandi dulu Kak Cici. Nanti aku jelasin!" teriaknya. . . . . Bersambung. Note: Update setiap hari :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD