Bab 6. Makan Malam

1971 Words
*** Ana menyenderkan tubuhnya pada daun pintu. Jantungnya masih berdegup takut saat melihat mata manajernya yang melotot marah. Tentu saja, siapa yang tidak bertanya-tanya saat tahu artisnya akan makan malam dengan bos baru mereka. Apa lagi Ana menyebut nama Elang dengan santai, seolah perempuan itu memang sudah terbiasa memanggil namanya. "Kenapa ini mulut lemes sih?" kesal Ana pada dirinya sendiri karena sudah keceplosan. "Terus ini gimana? Aku lupa udah janji sama Elang," Ana menepuk jidatnya. "Ah nggak penting!" ujarnya. Ana memutuskan untuk mandi dengan segera. Dia tak ingin membuat Cici menunggu terlalu lama. Ana juga sudah memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada manajernya itu tentang ia yang mendadak jadi tunangan Elang. Beberapa saat kemudian perempuan berparas cantik itu keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar bugar. Dirinya menatap ngeri pada Cici yang seolah siap menancapkan pedang padanya. "Ceritakan!" ujar Cici tak mau menunggu terlalu lama. Ana menghela napasnya dengan berat. Dia harus mulai dari mana ini? Apa dari saat mereka masih sangat muda? Astaga, cerita ini akan sangat panjang, pikir Ana. Namun, dia tak memiliki banyak pilihan. Jika tidak menceritakan dari awal, maka Cici pasti masih akan bertanya-tanya padanya. "Aku dan Elang sebenarnya sudah saling mengenal sejak lama," Ana memulai ceritanya. Dahi Cici mulai berkerut kacau. Dia tak bisa melepaskan tatapannya dari Ana barang sedetik pun. Ana tahu manajernya pasti sangat bingung. "Elang itu mantan pacar aku," terang Ana. Dia benar-benar bingung bagaimana cara menceritakan kisahnya pada Cici. "Apa?" kaget Cici mendengar pernyataan artisnya. "Maksud kamu?" dahinya yang berkerut menunjukan betapa banyaknya pertanyaan dalam benak wanita itu. "Aku kenal Elang saat kami masih anak-anak," "Jangan sepototng-sepotong Ana! Ceritakan dengan singkat, padat dan jelas!" ucap Cici merasa geregetan karena Ana tampak enggan mengungkit masa lalunya itu. Ana menghela napasnya dengan berat, dirinya memang sangat enggan membuka luka lama itu. Namun sudah terlanjur, dia harus menceritakan semuanya pada Cici jika tak ingin membuat Cici terus menerus mencurigainya. "Aku kenal dia dari kecil. Terus kami pacaran di usia remaja. Orang tuanya merekrutku jadi model di perusahaan mereka saat itu. Namun, kami putus karena Elang selingkuh," jelas Ana. Wajar jika Cici tidak tahu cerita ini, saat itu dia baru menjadi manajer Ana. Sesaat setelah Elang menyelingkuhinya, Elang langsung terbang ke London untuk melanjutkan pendidikannya. Sementara Ana masuk ke agensi dan bertemu dengan Cici. Bola mata Cici seakan keluar. Dia tak menyangka Ana dan Elang memiliki hubungan yang tak pernah terbayangkan. Mereka pernah menjadi sepasang kekasih. Pantas saja bos baru mereka itu tampak tak segan menemui Ana. Bahkan sering kali kedapatan sedang memandangi Ana. Astaga! Seharusnya Cici bisa menebak hal ini dengan cepat. "Kalian masih saling mencintai?" tanya Cici dengan curiga. Meskipun Ana menggeleng dengan cepat, Cici tahu masih ada rasa di antara mereka. Dia mencebikan bibirnya, "Lupakan dia, Ana." ucap Cici. "Iya! Aku sudah lama nggak cinta sama si tukang selingkuh itu," balas Ana berusaha untuk tidak peduli. Lagi, Cici mencebikan bibirnya. "Ngatain Elang tukang selingkuh, sendirinya juga begitu," Cici sengaja menyindir Ana. "Apa semua gara-gara Elang?" tanya Cici. Namun lagi-lagi Ana menggeleng dengan cepat. "Mana mungkin!" ujarnya tak terima. Dia selingkuh karena terlalu mudah jatuh cinta. Dirinya sudah sangat move on sehingga cepat menyukai lelaki lain. Setidaknya itulah yang selama ini coba Ana tanamkan dalam benaknya. "Syukurlah. Terus kenapa wajah kamu kayak gitu?" Cici mengedikan dagunya kepada Ana. Dalam sekejap telapak tangan Ana menyentuh wajahnya sendiri. "Nggak apa-apa. Ihh Kak Cici kenapa sih?" Ana risih saat Cici menatapnya dengan intens. Akhirnya, Ana mengalah, dia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. "Sebenarnya malam ini aku punya janji sama Elang," ucap Ana memulai kejuiurannya yang lain. Cici menganggukan kepalanya, dia sudah tahu itu karena beberapa saat lalu Ana sudah mengatakannya dengan jelas. "Lanjutkan!" ujar Cici. "Dia ngajak aku makan malam," Ana menggigit bibirnya. "Kamu merasa nggak enak karena nggak nepatin janji?" alis Cici terangkat sebelah. Ana menganggukan kepalanya. "Iya," pupil mata Ana membesar saat melihat Cici menahan tawanya. "Aku merasa nggak enak karena dia bos kita! Bukan karena masih cinta." ucap Ana dengan cepat demi membuang jauh-jauh apa yang sedang manajernya pikirkan. "Hooh terserah kamu, An. Aku sebagai manajer kamu nggak bisa nyaranin apa-apa. Keduanya sama-sama penting, tapi melihat dari rumitnya hubungan kalian kamu bisa pura-pura lupa sama janjimu itu pada Elang," ucap Cici sambil bersedekap. Dia sedang menunggu pertanyaan dari Ana. "Kenapa?" Cici tersenyum mendengar itu. Dia memang sudah menunggu tanda tanya dari Ana. "Karena kamu tidak mencintai Elang lagi. Dia juga belum menjadi bos kita secara resmi. Paling tidak karirmu masih bisa lanjut sampai besok. Lagi pula terlalu egois bila Pak Elang memutus kerja sama hanya gara-gara hubungan rumit kalian," "Sementara tante Kina," Cici tampak berpikir keras. "Kenapa kamu harus datang ke sana? Itu karena kalian harus memperbaiki hubungan kalian. Tante Kina pernah kamu kecewain, sementara Pak Elang pernah ngecewain kamu. Sampai sini paham?" tanya Cici usai mengeluarkan pendapatnya. Ana terlihat memikirkan itu. Benar juga, terlepas dari keputusannya yang memang ingin mengabaikan ajakan Elang, dirinya kini mempunyai alasan yang kuat untuk tidak menepati janji makan malam dengan mantan kekasihnya itu. Lagi pula ini tidak baik bila diteruskan. Meski Elang mengklaimnya sebagai tunangan, tapi Ana tak bisa membiarkan Elang terus menerus masuk kembali ke dalam kehidupannya. "Kak," panggil Ana. Cici tampak menaikan salah satu alisnya. "Aku sebenarnya saat ini adalah tunangan Elang," bola mata Cici kembali melotot setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut artisnya itu. "Astaga! Scandal apa lagi ini, An?" pekiknya. Ana meringis ngeri, lalu mengalirlah cerita dibalik kenapa dirinya mendadak menjadi tunangan lelaki itu tanpa pengetahuan siapa-siapa tentu saja. Cici menghela napasnya dengan berat. Sebagai manajer, dia merasa bersalah karena tidak tahu apa-apa. Ana bahkan menanggung semuanya sendirian. Entah sampai kapan Ana akan merahasiakan ini jika dia tidak keceplosan tentang makan malam itu. "Maafin kakak ya An, kamu menanggung semuanya sendirian," ucap Cici dengan lirih. Ana menggeleng tegas. "Ini bukan salah kak Cici. Ini urusanku sama Elang, Kak. Tenang aja, semua pasti baik-baik aja," ucap Ana menenangkan. Ana menepuk tangannya. "Ayo bantu make up-in aku, mau yang simpel aja. Nggak usah pakai make up artis," ucapnya. "Tapi lipstiknya tetap warna merah ya," katanya menyebut warna lipstik andalannya. "Kamu jadinya mau makan malam sama siapa?" "Tante Kina lah," cengiran itu tampak sedikit canggung di mata Cici. Namun akhirnya Cici ikut mengembangkan senyumnya. Biarlah, jika memang Ana memilih untuk berpura-pura baik-baik saja, maka Cici juga akan melakukan hal yang sama. Ana mungkin diam-diam membenci Elang karena pernah menyakitinya, tapi Ana juga masih menyimpan perasaan untuk lelaki itu dan takut untuk mengungkapnya. *** Tepat saat jarum jam menunjukan pukul Tujuh malam Ana sampai di rumah besar milik Admaja. Penampilannya tampak anggun meskipun hanya mengenakan make up simpel. Hanya saja menjadi cetar ketika bibirnya dipolos dengan warna merah menyala. Tampak berbanding terbalik dengan gaun putih yang dirinya kenakan. Rambut panjang bergelombangnya sengaja dia gerai agar penampilannya semakin terlihat anggun. Ana bak dewi yunani yang cantik dalam mitologi. Kulitnya yang seputih s**u tampak sangat menawan. Dia tidak merasa kedinginan ketika hanya menggunakan gaun dengan lengan terekspos. Mungkin, diriya sudah terbiasa dan merasa baik-baik saja dengan itu. "Terima kasih," ucap Ana saat salah satu asisten rumah tangga membukakan pintu usai dia mengetuknya. Ana masuk dengan langkah kaki yang sengaja dia perlambat. Tidak ada Ana yang urakan, dia betul-betul menunjukan apa yang publik inginkan. Tentu saja, sebagai seorang model sekaligus artis papan atas, Ana tak bisa membiarkan penampilannya tampak buruk di mata umum. Ana menghentikan langkah begitu melihat seluruh keluarga Admaja sudah berkumpul di meja makan yang sama. Hanya tinggal satu kursi kosong yang bisa Ana tebak adalah miliknya. Ana berdehem untuk menetralisir kegugupannya saat melihat Badu juga ada di sana. Bukan karena Ana masih menginginkan lelaki itu menjadi pacarnya, tapi karena Ana baru sadar apa yang telah dirinya lakukan dulu sungguh keterlaluan. Wajar jika tante Kina sampai marah padanya. "Selamat malam," sapa Ana. Benar, dia harus menghadapi ini. Tante Kina sudah memberinya signal untuk berbaikan. Semua mata menatap Ana, mereka semua tersenyum kecuali Badu. Dia tampak murung dan menunduk saja. "Sini, An," suara tante Kina yang mengajaknya duduk membuat Ana menghembuskan napas dengan lega. Dia melebarkan senyumnya meskipun masih tampak canggung. "Tante," sapanya sambil memeluk tante Kina. Ada perasaan haru yang tiba-tiba saja datang saat Ana melakukan itu. "Duduk, Nak." ucap Kina setelah mengurai pelukan mereka. Ana mengangguk singkat. Dia menoleh ke samping hanya untuk mendapati Badu yang duduk tepat di sebelahnya, yang masih saja menundukan kepala. "Du," panggil Ana. Dirinya merasa tak enak sendiri berada di meja makan yang sama lagi dengan lelaki itu. Meski sudah tidak mengharapkan apa-apa tentang hubungan mereka, tapi Ana masih berharap mereka berteman seperti dulu. Sebelum bumbu-bumbu cinta menghancurkan mereka. "Hai," balas Badu. Dia baru saja mengangkat kepalanya saat Ana menyapanya. Badu tampak tersenyum canggung. Kejadian dua hari yang lalu masih terekam jelas dalam benaknya. "Ayo kita mulai saja makan malamnya," Kina mengintruksikan semuanya untuk mulai makan malam. Ana mengalihkan tatapannya pada wanita yang telah melahirkan Hiro dan Badu itu. "Terima kasih tante," ucap Ana saat tante Kina memberinya lauk, sama seperti yang Kina lakukan pada Litia, calon menantunya yang duduk diam di sebelah Hiro. Melihat bagaimana tante Kina memperlakukannya, Ana yakin kejadian kemarin belum diketahuinya. Tante Kina juga terlihat biasa saja pada Badu. Karena jika tante Kina tahu, dia pasti sudah memarahi Badu habis-habisan. Apa lagi ini Zera, anak dari sahabatnya juga. Ana menghela napasnya dengan berat. Meskipun dia merasa lega karena tante Kina sudah memaafkannya, tetapi masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Mungkin setelah dia bicara pada tante Kina, dirinya akan meminta Badu meluangkan waktu untuk bicara sebentar. Hubungan mereka tak bisa menjadi seperti ini. Mereka sendiri yang harus memperbaikinya meski tak mungkin pacaran lagi. "An, gimana kabar kamu?" tanya tante Kina membuka obrolan makan malam ini. Ana yakin dirinya bukan bintang tamu yang akan menjadi bahasan dalam acara ini, tetapi tetap saja ia canggung berada di antara mereka setelah scandal itu. "Baik. Tante sendiri apa kabar?" Ana merasa salah menanyakan itu. "Soal yang waktu itu Ana minta maaf, tan," buru-buru ia menambahkan. Kina tampak tersenyum ikhlas. Dia menggelengkan kepalanya, "Nggak apa-apa, kalian masih muda. Lagi pula karena kejadian itu tante dapat menantu seperti Litia," "Ahh bukan maksud tante nggak puas sama kamu, tapi Litia mencintai Hiro, begitu pula sebaliknya," ucap Kina dengan cepat menerangkan maksudnya. Ana mengerti, dia tidak tersinggung sama sekali. Dirinya tidak merasa terkalahkan oleh Litia. Buktinya, dia bisa memiliki dua Admaja ini dalam waktu yang sama. Ck. Dalam keadaan seperti ini saja Ana masih membanggakan tingkahnya. Ingin sekali Ana mencuci otaknya agar tidak berpikiran seperti itu. "Nggak apa-apa tante. Aku bersyukur Hiro menikahi Litia dan bukan aku," ucap Ana menyahuti. Tante Kina tampak setuju dengan itu. "Aku benar-benar minta maaf ya tante. Sama om juga, aku minta maaf," lagi, Ana mengulang maafnya. Kali ini dia juga meminta maaf secara langsung pada kedua orang tua Badu dan Hiro. Mereka menganggukan kepala. "Habisin makan malam kamu, An. Badan kamu semakin hari semakin langsing saja," tante Kina menambah lauk ke dalam piring Ana, padahal lauknya sejak tadi tak sanggup Ana sentuh. Semua lauknya berlemak. Hal itu membuat Ana bingung sendiri. Berat badannya akan bertambah bila dia nekat mengunyah semua makanan itu. Ana menoleh saat mendengar Badu menghela napasnya. "Sudah ma jangan ditambah lagi. Ana nggak akan sanggup habisin itu," ucapan Badu membuat Ana menatapnya dengan lekat. Matanya berkaca-kaca saat Badu berinisiatif memindahkan sebagian lauk dan nasi ke dalam piringnya. "Sanggup?" tanya lelaki itu sambil menatap Ana setelah ia selesai memindahkan lauknya. Ana mengangguk mantap. "Terima kasih," ucapnya. Melihat itu, Kina tersenyum. Meski dalam Kina merasa ada yang berbeda, keduanya tampak canggung satu sama lain. Kina curiga mereka sudah benar-benar mengakhiri hubungan mereka seperti yang kemarin Hiro katakan. Kecurigaannya itu betul-betul menjadi kenyataan saat Ana mengajak Badu bicara usai makan malam. Tanpa sengaja Kina mendengar obrolan mereka. Kina mendengar dengan sangat jelas Badu mengatakan bahwa dirinya mulai takut kehilangan Zera. Hanya itu yang sempat Kina dengar karena Ana dan Badu tidak mengatakan apa-apa lagi selain saling menatap satu sama lain. . . Bersambung. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD