***
Ana pikir dirinya akan kecewa setelah mendengar Badu menunjukan rasa takut atas menghilangnya Zera. Ana pikir dia akan terluka, tetapi tidak. Ana tidak merasakan apapun selain merasa sedih atas apa yang Badu rasakan.
Ana tidak kecewa, dia hanya merasa kasihan pada Badu atas keterlambatannya menyadari perasaannya untuk Zera.
Kemarin malam Badu tampak sangat kacau karena Zera tidak menghubunginya dan tidak bisa dihubungi juga. Beruntung, tante Kina belum tahu apa-apa soal kejadian ini. Jika sampai dia tahu, Ana yakin beliau akan sangat kecewa pada Badu.
"Jadi, mulai sekarang kamu dan Badu berteman?" pertanyaan manajernya menyadarkan Ana dari lamunannya tentang makan malam kemarin.
Ana tersenyum tipis, lantas mengangguk mantap untuk menjawab itu. Syukurlah, hubungannya dengan Badu membaik. Mereka memang tak bisa bersama seperti dulu, tetapi berteman demi menyambung silatuhrahmi adalah suatu hal yang benar. "Mana bisa Badu jauhin diriku yang cantik ini," ucap Ana sambil bercanda.
Cici mencebikan bibirnya, "Cantik sih," wanita itu tampak menilai penampilan Ana dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. "Tapi nyebelin," lanjutnya. Kini Ana yang mencebikan bibirnya. "Nyebelin gini banyak yang mau loh," lagi, Ana mengajak Cici bercanda.
"Terserah! Ini jadwal syuting hari ini," Cici melempar jadwal kegiatan Ana hari ini. Jangan heran melihat interkasi mereka, karena keduanya memang begitu. Mereka tidak seperti manajer dan artisnya yang harus bicara formal jika hanya berdua saja. Kecuali di luar, Cici akak lebih berhati-hati bicara dengan Ana, begitu pula Ana. Dari bicara saja dia harus terlihat anggun di mata banyak orang.
Ana meraih buku khusus yang selalu Cici bawa ke mana-mana itu. "Astaga! Sebanyak ini, Kak?" tanya Ana.
"Jangan mengeluh, itu hanya sebagian. Aku sudah menyaring yang mana yang kamu suka," ucap Cici pada Ana. "Lagi pula sebelum ke lokasi syuting, kita ke Management dulu," terangnya.
"Baik komandan!" balas Ana sambil menyengirkan giginya. "Aku siap-siap dulu," lanjutnya. Cici menganggukan kepalanya. Mereka baru saja menghabiskan sarapan yang tadi Cici bawa. "Biar aku yang bereskan itu. Kamu siap-siap sana!" ujar Cici mencegah Ana yang baru saja ingin membereskan bekas makan mereka.
Dengan senang hati Ana mengangguk setuju. "Terima kasih, Kakak!" ujarnya sambil bergaya ala orang luar. Ck. Entah luar mana itu, dia hanya sering melihat adegan itu di tv.
Ana berlari saat menuju kamarnya. Cici menggelengkan kepalanya melihat itu. "Anggun dari mananya?" Cici berdecak melihat tingkah artisnya. Dia menyayangkan image yang Ana sandang adalah model papan atas yang anggun. Ck. Mentang-mentang Ana sering berlenggok di atas karpet merah, bukan berarti dia benar-benar anggun seperti yang terlihat.
Ana itu benar-benar gadis ajaib bagi Cici. Sebagai manajer yang sudah bertahun menemaninya, Cici tahu persis karakter Ana yang sesungguhnya. Gambaran seorang Anastasya Ruby yang anggun hanya akan terlihat di depan kamera saja.
Cici terkekeh, menertawakan fans yang tertipu oleh keanggunan artisnya. Wanita yang sudah memiliki satu anak itu membawa piring kotor ke wastafel. Dia mulai mencucinya, lalu membilasnya. Piring kotor yang hanya berjumlah dua itu di susun di raknya. Cici menarik sudut bibirnya saat memperhatikan dapur Ana. Sebagai seorang artis dan model, Ana memiliki kesibukan. Jadwalnya selalu saja padat, tetapi Ana wanita yang mandiri dibalik sikapnya yang kadang menyebalkan itu.
Di mata Cici, apartemen Ana termasuk bersih dan rapi meskipun artisnya itu tidak memiliki pembantu. Ana sendiri yang kadang menyempatkan diri untuk membersihkan apartemennya. Memang, di luar sana selain anggun, Ana juga tampak seenaknya saja. Namun, sesungguhnya Ana adalah perempuan yang memiliki seribu kebaikan. Dia tidak sejahat dan seegois kelihatannya.
Cukup lama Cici melamun, dia tersadarkan oleh dering ponsel Ana yang tidak tertinggal di atas meja makan. Cici mengerutkan dahi saat melihat siapa yang menelpon. "Elang?" Cici menggelengkan kepala, Ana menamai kontak mantan pacarnya dengan SI BEGOK ELANG.
Entah apa yang akan Elang lakukan ketika dia mengetahui itu. Padahal, hari ini Elang resmi menjadi bos baru mereka.
"Siapa Kak Cici?" tanya Ana yang ternyata telah selesai bersiap-siap. Cici menyerahkan ponsel itu kepada empunya. "SI BEGOK ELANG," ucap Cici sambil mengedikan bahunya. Bola mata Ana seakan keluar. Astaga! Kenapa Elang masih saja sibuk menghubunginya? Padahal sejak semalam Ana sudah menghindari telpon darinya.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Cici penasaran.
"Ya ampun Kak Cici! Kakak lupa soal makan malam yang kubatalkan?"
"Ingat," jawab manajer Ana itu dengan sangat santai. "Kenapa harus menghindar?" tanyanya lagi.
"Karena aku nggak tahu harus bilang apaaa??" jawaban Ana membuat Cici menarik salah satu sudut bibirnya. "Kenapa bisa gitu?" kejarnya.
Ana terlihat salah tingkah. "Aduh nggak ngerti. Ayo berangkat!" ujarnya. Cici mengangguk-anggukan kepalanya.
Mereka meninggalkan apartemen dengan mobil khusus yang biasa mengantar jemput Ana saat akan syuting. "Tapi, kamu nggak bisa lagi menghindari, Pak Elang, An," bisik Cici saat mereka sebentar lagi akan sampai di gedung yang bertuliskan Most Entertainment itu.
Ana menoleh pada manajernya dengan cepat. "Astaga! Mulai hari ini Elang resmi gantiin Papanya!" pekik Ana.
Jika sebelum ini dia berencana pura-pura lupa tentang makan malam dengan Elang ketika bertemu langsung dengan lelaki itu nanti, maka Ana benar-benar lupa soal Elang yang hari ini resmi menjadi bos barunya. Ana juga lupa tujuan mereka datang ke manajemen terlebih dahulu adalah karena ingin ikut menyambut lelaki itu. Ya Tuhan, Ana harus bersikap seperti apa nanti?
"Aku boleh izin nggak, Kak? Mau ke..."
Cici menunjuk wajah Ana sambil tersenyum remeh. Detik berikutnya, wanita itu menggerakan telunjuknya, "No, no, no! Kamu harus hadir di sana sebagai publik figur yang paling laris di Most Entertainment." Ana tahu dia tak bisa membodohi Cici kali ini. Dia menghela napasnya dengan berat, tak ada pilihan lain selain menampakan batang hidungnya di sana. Bahu Ana melemas, dia tertunduk lesu. Lalu banyak kata andai yang coba dirinya rangkai. Andai dia bisa lenyap sejenak, mungkin dia akan menghilang sekarang juga.
Ana juga tidak paham kenapa dia merasa tak enak hati pada Elang. Dia tiba-tiba saja menyesali perbuatannya yang tidak mengabari Elang sama sekali atas batalnya janjinya semalam.
Secuiryty apartemen mengatakan bahwa seseorang menunggunya hingga larut. Ketika si penjaga gerbang apartemen itu menjelaskan ciri-cirinya, Ana yakin itu adalah Elang. Lelaki itu juga berkali-kali mengiriminya pesan. Namun, tak satupun Ana balas. Ana hanya bingung harus mengatakan apa pada Elang. Oleh karena itu dia memilih untuk mengabaikannya.
***
Seperti yang Ana duga, dirinya pasti canggung berada dibarisan paling depan untuk menyambut bos baru mereka yang tak lain adalah Elang. Ana tidak tahu bagaimana prosedur di manajemen lain soal ini, tapi manajemennya menegaskan bahwa hari ini seluruh staf dan public figur harus datang pada peresmian bos baru mereka.
Ana menggenggam tangannya dengan resah. Dia berkeringat. "Astaga! Nggak harus gugup seperti ini juga, kali!" pekik Ana di dalam hatinya. Ana jadi sebal sendiri terhadap apa yang dia rasakan kini. Apa lagi saat Elang mulai menampakan ekstensinya. Ana sampai menegang di tempatnya.
Kata sambutan demi kata sembutan terdengar di sekitar untuk Elang. Seluruh staf serta public figur memberi lelaki itu selamat atas jabatan barunya. Hanya Ana yang tertunduk diam. Cici sampai harus mencubit pinggangnya agar Ana mengangkat kepalanya dan melakukan hal yang sama seperti yang lainnya. "Aduh," ringisan Ana akibat cubitan Cici membuat Elang meliriknya.
Garis tipis di bibir Elang terbentuk begitu ia menemukan perempuan yang sejak semalam dia cari. Perlahan tapi pasti Elang menghampiri Ana. Dia memperhatikan perempuan itu dengan seksama. Ana sampai menelan ludahnya dengan susah payah sejak Elang tiba di depannya dan mengamatinya seperti itu. Dia ingin sekali protes, tapi dirinya tak bisa melakukan itu sekarang juga.
Orang-orang akan curiga padanya. Lalu, dalam waktu singkat mulut mereka pasti mulai bergosip. Bukan Ana takut dirinya di gosipkan. Dia sudah terlalu sering dibicarakan sana dan sini. Namun, Ana tak bisa membiarkan apapun yang terjadi padanya dan Elang diketahui banyak orang.
"Most," ucapan Elang membuat Ana mengerutkan dahinya. Sementara yang lain mulai berbisik, mencoba mengartikan kata itu sambil menelisik penampilan Ana. "Bukankah artis kita yang satu ini benar-benar sesuai dengan nama manajemen yang menaunginya?" Elang menoleh ke sebelahnya, yang berarti dia sedang bertanya kepada asistennya.
Gelak tawa asistennya yang terdengar dibuat-buat membuat ruangan yang tadinya senyap menjadi ramai seksetika. "Betul sekali Pak Elang. Mata anda tak salah dalam menilai. Namun, perlua Bapak ketahui pula bahwa Anastasya Ruby adalah ratunya dalam menciptakan scandal," ucapnya. Lagi-lagi asiste Elang tertawa keras. Dia juga sengaja menengadahkan tangannya dan menggerakannya agar yang lain ikut tertawa.
Elang mengangguk-anggukan kepalanya. "Benarkah?" tanyanya pura-pura tak tahu. Padahal Elang tahu segalanya.
"Kalau begitu aku sendiri yang akan mendisiplinkannya,"
Mata Ana membola mendengar itu. Dia bertukar pandang dengan Cici. Meminta manajernya itu mengatakan sesuatu. Namun Cici menggelengkan kepala. Dia juga memohon pada Ana untuk tidak mengatakan apa-apa lewat isyarat.
Riuhnya suara tawa dibuat-buat yang tadinya terdengar, kini mendadak senyap. Tatapan tajam yang Elang berikan pada Ana membuat siapa saja ketakutan. Namun, Ana tidak. Dia mendadak memiliki keberanian melihat Elang yang mencoba menantangnya. Ana membalas tatapan Elang dengan tak kalah tajam. Dia menggenggam tangannya dengan erat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk melawan Elang Samudra, mantan pacar yang saat ini telah resmi menjadi bos barunya.
"Terima kasih, Pak Elang. Saya dengan senang hati diawasi oleh anda," ucap Ana membalas tantangan yang Elang berikan padanya. Sudahlah, karena Elang ingin sekali membuatnya menderita, maka Ana tidak bisa diam saja dan membiarkan keinginan itu terwujud.
Apa yang akan Elang rencanakan, dengan senang hati Ana gagalkan. Dia tidak akan membiarkan Elang menghancurkannya sekali lagi. Elang akan menerima balasan darinya kali ini.
.
.
Bersambung.