***
Elang terkekeh, sejenis meremehkan. Dia mengatupkan bibirnya lagi dan berbalik menatap hadirin. "Baiklah, terima kasih atas sambutan kalian yang hangat. Saya ingin Most Entertainment semakin sukses ke depannya," Elang kembali menghadap Ana setelah mengatakan itu kepada siapapun yang hadir menyambutnya ini.
"Dan kamu ikuti aku ke ruanganku sekarang juga!" ujarnya pada Ana. Setelah itu, Elang melanjutkan langkah kakinya, menuju ruang kerja ayahnya dulu yang kini resmi menjadi miliknya.
Ingin sekali Ana menolak, ia mengepalkan tangannya dengan kesal. Demi apa sikap Elang pagi ini begitu menyebalkan. Sejak bertemu lagi, Ana memang memiliki firasat buruk pada lelaki itu. Selama ini Ana berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya.
"Anastasya Ruby!"
Ana terkejut mendengar seruan itu. Iya sadar tak ada pilihan lain selain mengikuti ke mana Elang pergi. Dengan kesal Ana berlari kecil mengejar Elang yang sedang menghentikan langkahnya. "Iya Pak! Saya di sini," sahut Ana ketika dirinya tepat berada di belakang Elang.
Lelaki itu menoleh sekilas sebelum kembali melangkahkan kakinya. Senyum tipis terpatri di wajahnya.
"Silakan duduk Pak Elang," ucap asistennya. Elang mengangguk singkat. "Tinggalkan kami berdua," yang Elang maksud adalah ia dan Ana. Beruntung, asistennya mengerti maksud dari bos barunya itu.
Kini, seperti yang Elang inginkan. Di ruangannya hanya tersisa dirinya dan Ana saja. Elang memutar tubuhnya dengan gerakan yang lambat. Dia sudah sangat penasaran kenapa Ana menghilang secara tiba-tiba semalam. Tunangan rahasianya itu harus diberi pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Elang tidak suka diabaikan. Apa lagi orang yang mengabaikannya adalah Ana, cinta pertamanya.
"Ada yang mau kamu jelasin, Ana?" Elang bertanya sekaligus menyindir Ana secara sengaja.
Ana tampak salah tingkah. Dia tidak berani menatap mata Elang kali ini. "Nggak ada!" jawab Ana dengan cepat. Dia tidak memiliki niat untuk menerangkan apapun pada Elang.
"Oya?" suara itu terdengar sangat dekat. Ana terkesiap saat dia menolehkan kepalanya. Entaj sejak kapan Elang berada tepat di depan matanya. Namun, apa yang Elang lakukan telah berhasil membuat degup jantung Ana menggila. Ana memundurkan tubuhnya, dia memberi jarak pada Elang. "Apa maksudmu?" suara Ana meninggi setelah berhasil menguasai diri.
"Kenapa marah, hem?" bukannya menjauh, tetapi wajah Elang semakin mendekat. Lelaki itu seolah dengan sengaja menguji kesabaran Ana.
"Siapa yang marah?!" balas Ana dengan sebal.
"Aku!" serua Elang serentak dengan kepalanya yang menjauh. Ana sampai terkejut karena suara Elang yang cukup keras.
Beruntung ruangan ini kedap suara sehingga kecil kemungkinan orang-orang di luar sana mendengar pertengkaran mereka. "Jangan keras-keras, nanti mereka dengar," geram Ana sambil membawa jari telunjuknya ke bibir Elang. Meskipun Ana tahu ruangan ini kedap suara, tetapi Ana masih memberi Elang peringatan.
Sayang, kelakuannya itu membuat Elang menyusun rencananya dengan cepat. Elang sengaja berteriak memanggil nama Ana sehingga Ana membekapnya. "Astaga Elang!" geram Ana yang terlanjur kehabisan kesabaran. Tanpa sadar perbuatannya itu menipiskan jarak di antara mereka.
Hanya beberapa centi lagi hidung keduanya bisa bersentuhan. Elang semakin bersemangat memanfaatkan situasi dan kondisi. Tanpa ingin menunggu lama, Elang memindahkan tangannya ke pinggang Ana hingga mereka benar-benar tidak memiliki jarak sama sekali.
Ana terkesiap saat hidungnya menyentuh hidung Elang. Pupil mata perempuan itu membesar dalam sekejap. Sementara degup jantungnya bertalu kencang. Suaranya bagai gendang yang ditabuh keras.
Ternyata, tak hanya Ana yang terkejut. Si pemilik rencana pun merasakan hal yang sama. Elang tampak menahan diri untuk tidak terkesiap atau sekedar membiarkan pupil matanya membesar. Elang berusaha mengalihkan perhatiannya dari telaga hitam milik Ana yang seakan menghasutnya untuk semakin tenggelam pada benda lain yang ada di wajah perempuan itu. Namun, mata Elang salah sasaran.
Dia menelan ludahnya dengan susah payah setelah melihat bibir tipis berpoles lipstik warna merah milik Ana yang terpampang jelas di depannya. Demi apa godaan ini jauh lebih besar dari sekedar tenggelam ke dalam mata Ana.
Jika Elang tidak mengalihkan perhatiannya dengan segera, dia yakin dirinya akan khilaf untuk yang ketiga kalinya. Elang menggeleng tegas. Dia tak bisa melakukan itu atau Ana akan semakin membencinya.
Elang berdehem setelah ia menjauhkan dirinya dari Ana. Tak hanya Elang saja yang merasakan kecanggungan, tetapi juga Ana. Perempuan itu terlihat mengipasi dirinya sendiri dengan menggunakan kedua tangannya. Wajah Ana bahkan memerah hingga sampai ke telinga.
"Aku.." ucap Ana sesekali melirik Elang. "Aku pergi dulu!" ujarnya.
"Ahh i..iya." balas Elang. Setelah itu Ana betul-betul meninggalkan Elang sendirian.
Elang mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak menyangka akan mengalami situasi yang canggung lagi bersama Ana. Bibirnya tertarik membentuk senyuman, dia merasa gembira karena bukan hanya dirinya saja yang salah tingkah perihal kedekatan mereka. Ternyata Ana juga merasakan hal yang sama. Namun, mantan pacar yang kini menjadi tunangannya itu diam-diam juga salah tingkah. Elang yakin sekuat apapun Ana menghindar, perasaan itu masih terlalu nyata di antara mereka. Elang telah bertekat akan menyembuhkan luka Ana karena Elang menyadari Ana sering kali berganti pasangan bahkam selingkuh adalah karena dirinya dulu.
Hati Ana terluka karenanya sehingga Elang merasa bertanggung jawab untuk menjadi obatnya. Ana harus benar-benar jatuh cinta, bukan hanya perasaan sesaat yang membuatnya linglung hingga menyakiti hati banyak lelaki. Elang bersumpah, dirinya akan segera mendapatkan maaf Ana. Lalu setelah itu, Elang akan menikahinya.
Mantap sekali rencana lelaki itu, tetapi tanpa dia sadari sejak dia menyelingkuhi Ana beberapa tahu yang lalu, Ana sudah membangun benteng yang kuat untuk menghalau namanya. Ana betul-betul serius tentang durinya yang tak akan pernah memaafkan Elang. Dia hanya akan membalas lelaki itu dan berusaha lepas darinya selamanya.
"Ahh sial! Aku belum sempat bertanya apa alasan Ana menghilang semalam," geram Elang karena baru saja mengingat tujuannya membawa Ana bersamanya ke ruangan ini. "Tapi bagus juga, akan ada alasan lagi untuk menemui Ana nanti," ucapnya kemudian.
Sementara itu, Ana masih saja berusaha menenangkan diri dari apa yang baru saja terjadi. Perempuan itu memilih sembunyi di toilet untuk meredamkan merah di pipinya. "Astaga! Ini kenapa sih? Nyebelin banget!" sebalnya karena wajahnya yang putih masih saja memerah.
Ana sibuk menambahkan riasan di wajahnya, tetapi bagaimana ia mengingat napas Elang berhembus tepat mengenai permukaan wajahnya membuat Ana kembali memerah. Bahkan kali ini panasnya sudah sampai ke leher.
"Elang begok!" geramnya tertahan. Tentu saja Ana masih sangat waras untuk tidak mencari perhatian di tempat ini. Dia masih ingin menikmati hidup normalnya. Dirinya belum siap untuk mendengar gosip tentangnya lagi, terlebih di manajemen. Ana bergidik ngeri, jangan sampai rekan-rekannya mengetahui bahwa saat ini dirinya dianggap sebagai tunangan oleh bos mereka.
"Amit-amit," ucap Ana tak terima akan hal itu. Pasti sangat mengerikan ketika semua orang bergosip tentangnya dan Elang. Membayangkan itu membuat Ana berpikir keras, bagaimana pun caranya, dia harus segera melepaskan diri dari Elang Samudra.
Ana mengangguk mantap, dia sudah menemukan satu-satunya cara yang akan membuat Elang kesal padanya, lalu melepaskannya.
"Ana!"
Bumm
Itu suara pintu yang dibuka secara paksa oleh seseorang. Ana meringis, "Keluar kamu!" itu suara Cici. Ana lupa kalau mereka harus segera ke lokasi syuting.
Ana membuka salah satu bilik toilet yang ia tempati. Saat matanya yang memejam terbuka perlahan, dia mendapati Cici sedang berkacak pinggang. Ana melarikan matanya ke bilik toilet lainnya. Dia menghembuskan napas lega. Untunglah tak ada siapa-siapa di sini.
"Nggak ada siapapun! Ayo pergi." ucap Cici dengan tegas. Dia pasti kesal sekali karena Ana menghilang. Bagaimana tidak, Cici rela menunggu tepat di depan pintu ruangan Elang demi menjaga kesopanan agar tidak mengganggu apapun yang mereka bicarakan. Namun, yang ia dapati setelah bermenit kemudian adalah Elang keluar tanpa Ana. Saat Cici bertanya di mana artisnya, Elang mengatakan bahwa Ana sudah pergi.
Sudahlah, sutradara sudah menelpon berkali-kali. Mereka memang sudah telat datang ke lokasi syuting.
"Kak Cici maaf," cicit Ana saat mereka sudah masuk ke mobil dan meninggalkan manajemen. Ana sedikit tak enak pada manajernya itu. Ana betul-betul lupa soal jadwal syuting. Dia juga toledor karena tidak menghubungi Cici dengan cepat setelah keluar dari ruangan Elang. Tadi, Ana hanya sibuk memikirkan cara tentang bagaimana meredam kemerahan yang ada di wajahnya.
Cici bersedekap. Kadang, bersama Ana memang harus sedikit tegas dan galak. Jika tidak, Ana akan melakukan apapun yang dia suka. Cici tak ingin kecolongan lagi seperti yang sudah-sudah. "Makanya lain kali dibaca dulu jadwal syutingnya. Jangan hanya dilihatin sekilas," tegur Cici yang mengingatkan Ana pada kebiasaannya.
"Iya Kak iya," cengir Ana. Kini, dia tahu manajernya tidak marah lagi.
"Ngomong-ngomong apa yang tadi kalian bicarakan?" pertanyaan Cici membuat wajah Ana kembali merona. Hal itu tentu saja mengundang tanya bagi Cici. "Kenapa wajah kamu?"
Dengan cepat Ana menatap wajahnya. "Ke.. Kenapa?" tanya Ana pura-pura tak tahu. Padahal, hanya dengan membiarkan telapak Tangannya menagkup wajahnya seperti ini sudah membuat Ana tahu maksud Cici. Telapak tangan Ana terasa panas karena pipinya yang memerah.
"Coba lihat!" Cici memaksa Ana melepas tangannya. Namun, Ana bertahan untuk tidak ketahuan. "Apanya?" tanya Ana setelah Cici menghentikan tingkahnya.
Cici tampak memeprhatikan Ana. "Di mana tadi?" dia balik bertanya.
Ana mengerutkan dahi karena tidak mengerti. "Maksud Kak Cici?" Ana betul-betul tidak mengerti apa yang manajernya itu tanyakan.
Cici terdengar berdecak. "Di mana Pak Elang cium kamu?" pupil mata Ana membesar. Pertanyaan macam apa itu? Bodohnya, meskipun jawabannya tidak seperti yang Cici tuduhkan, tapi wajah Ana semakin merona saja. Cici mengangguk singkat, dia mengerlingkan matanya.
"Nggak seperti yang Kak Cici bayangkan." ucap Ana sambil melotot. Cici terkekeh, dia mengabaikan ancaman yang Ana berikan lewat matanya itu. "Terus seperti apa, Nona?" godanya. "Kak Cici!" geram Ana tertahan.
.
.
Bersambung.