***
Sesampainya di lokasi syuting, Ana langsung bersiap. Make up artis sudah menunggunya sejak tadi. Setelah itu, perempuan berperawakan tinggi itu mulai melakukan rutinitasnya.
"Terima kasih semuanya," ucap Ana setelah syuting selesai. Bukan berarti mereka akan langsung pulang. Ana masih ada pemotretan di beberapa tempat. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di sini, Ana kembali bersiap untuk ke lokasi selanjutnya.
Cici juga sudah siap. Mereka meninggalkan lokasi syuting yang satu itu untuk menuju lokasi yang lainnya. "Ini makan siang dulu," ucap Cici sambil mengeluarkan makan siang yang tadi dirinya pesan saat Ana sedang syuting.
Ana menerimanya. Dirinya memang sudah sangat lapar. Jadwal Ana hari ini memang sangat padat. Sehingga tak sempat makan siang di restoran seperti yang biasa mereka lakukan. Apa lagi lokasinya berbeda-beda dan memiliki jarak tempuh yang lumayan jauh.
Tidak apa-apa, Ana tidak mengeluh. Dia sangat mencintai pekerjaan ini. "Kak Cici nggak makan?" tanya Ana penasaran karena hanya ada satu kotak makan siang saja di depannya. Cici menggelengkan kepala, "Sudah tadi saat kamu masih syuting," jawabnya. Memang, waktu sudah menunjukan pukul setengah satu siang. Seharusnya mereka istirahat dulu sebelum melanjutkan syuting. Namun, karena ini adalah syuting terakhir dalam pengambilan adegan film yang Ana bintangi, maka mereka kejar target agar selesai sebelum makan siang.
Oleh karena itu, mereka semua menunda makan siang demi menyelesaikan pekerjaan ini. Ana tidak masalah karena dia sudah terbiasa.
"Ohh, lauknya sama kak?" tanya Ana. Sekali lagi Cici mengangguk. "Iya, habiskan dulu makananmu," ucap Cici.
Ana mencebikan bibirnya, dia enggan makan siang meskipun lapar karena lauk yang manajernya pesan ini sangat berlemak. "Nggak usah mikirin gemuk deh, perut kamu perlu di isi. Nanti kekurangan energi. Masa makan buah mulu?!" Cici mulai protes dengan pola makan Ana yang lebih suka makan buah-buahan dari pada nasi.
Memang betul, makan buah itu menyehatkan, tapi perut juga harus di isi dengan makanan berlemak, karbohidrat dan protein agar tubuh berenergi dan tidak loyo. Makanan berlemak juga bisa di konsumsi asal tidak berlebihan. Dan menurut Cici apa yang dia berikan pada Ana sama sekali tidak berlebihan. Ana saja yang terlalu memikirkan berat badannya.
"Nanti juga kamu gemuk kalau sudah nikah!" ujar wanita berusia tiga puluhan itu sambil memperlihatkan lengannya yang berisi. Bola mata Ana melotot, dia meringis ngeri membayangkan tubuhnya yang sempurna berubah karena kelebihan berat badan. Amit-amit, sekalipun nanti dia akan menikah dan mempunyai anak, Ana berjanji tak akan membiarkan tubuhnya berubah bentuk sampai bagai raksasa.
"Makan!" seruan Cici mengejutkan Ana. Buru-buru ia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Ini yang Ana takutkan, ketika dia mulai menyukai makanan itu, dia tak bisa berhenti. Dirinya mendadak lupa akan ketakutannya tentang kelebihan berat badan. Lihat saja sekarang, hanya dalam beberapa menit saja kotak makan siangnya sudah habis. Semua makanan yang tadi dia tatap dengan ngeri kini hilang tak bersisa.
Ana bersendawa, "Kenyang banget aku," ucapnya. Cici hanya bisa menggelengkan kepalanya takjub melihat tingkah artisnya itu. "Jaga tingkahmu, ada supirmu di sini," bisikan Cici menyadarkan Ana dari ulahnya. Dengan cepat perempuan itu merapikan diri. Dia pura-pura tertawa seraya berkata, "Aku masuk angin," hal itu membuat Cici memutar bola matanya. Ana memang memiliki seribu satu cara untuk melindungi imagenya.
Ck. Sekalipun ribuan scandal yang ia ciptakan, tetapi Ana selalu lolos dari pemberitaan. Kecuali yang terakhir. Tentang cinta segitiga antara dua Admaja. Sejujurnya, Cici sudah sangat ketakutan karir Ana akan hancur, tapi Ana terlalu beruntung untuk itu. Entah seberapa hebat dewi keberuntungan Ana hingga dirinya masih menerima kontrak kerja sama setelah menciptakan scandal yang tentu saja membuat Cici sakit kepala.
Artisnya memang luar biasa. Dia selalu lolos dari marabahaya. "Kenapa kak Cici?" tanya Ana saat Cici menatapnya dengan lekat. Tak terasa, dulu Cici mendapati Ana masih remaja. Tamat SMA kalau tidak salah. Kini artisnya sudah berumur Dua Puluh Lima tahun. Mereka sudah bekerja sama selama Tujuh tahun. Waktu pertama kali mengenal Ana, Cici pikir dia tak bisa seakrab ini dengannya.
Seperti kebanyakan orang di luar sana dalam menilai Ana. Gadis itu terlalu arrogant karena sikap anggunnya. Dia jarang sekali memulai percakapan dan lebih banyak diam. Itu adalah kesan pertama yang Cici rasakan ketika bertemu Ana. Namun, pada pertemuan-pertemuan selanjutjya, Cici menyadari Ana tidak seanggun kelihatannya. Dia hanya membangun sifat itu di depan publik saja.
Cici betul-betul menyukai Ana yang cantik dan anggun, tetapi dia juga merasa baik-baik saja pada sifat Ana yang pecicilan dan suka bicara saat mereka hanya berdua saja. Itulah kenapa Cici bertahan di samping Ana sampai saat ini.
"Nggak terasa ya An, sudah Tujuh tahun lamanya kita kerja bareng," ucap Cici menjawab pertanyaan Ana yang telah dirinya biarkan menggantung lama.
Ana mengangguk, mengiyakan apa yang Cici katakan. "Bertahun ke depannya masih bareng ya Kak," pinta Ana. Jika Cici mengundurkan diri, Ana tak yakin bisa mendapatkan manajer sebaik Cici lagi.
"Aamiiin. Doakan kita sama-sama sehat," Ana merasa lega mendengar itu. Tentu saja dia akan berdoa untuk Cici. Ana meraih tangan Cici untuk dirinya genggam. "Terima kasih ya Kak Cici," ucapnya dengan tulus. Selama ini, Cici selalu memperlakukan Ana dengan baik meskipun kadang ketus. Namun, Ana tahu apa yang Cici lakukan adalah untuk kebaikannya juga.
"Sama-sama," balas Cici tak kalah tulus.
Mobil berhenti setelah itu, membuat keduanya juga ikut menghentikan obrolan mereka. "Ayo turun," keduanya turun dari mobil dan langsung menuju ruang persiapan.
Make up artis Ana sudah sampai lebih dulu. Karena wajah Ana harus kelihatan segar, mereka melakukan make ulang. Wajah Ana dibersihkan terlebih dahulu sebelum kembali dilukis oleh Jimmy, lelaki yang Ana percayakan untuk merias wajahnya.
Setelah siap, Ana masuk ke ruang pemotretan. Kali ini, Ana akan melakukan pemotretan untuk salah satu brand terkenal di seentro negeri. Dia senang sekali saat pertama kali menerima tawaran ini. Oleh karena itu, Ana akan memberikan yang terbaik hari ini.
"Bagus Ana!" pujian mengalir untuk Ana saat ia menyelesaikan pemotretan. Ana tersenyum bangga pada hasil yang telah dirinya usahakan. Dia mengucapkan terima kasih pada semua orang yang terlibat dalam pemotretan ini.
Setelah itu, Ana dan Cici kembali meninggalkan lokasi. Mereka masih harus datang ke lokasi selanjutnya. "Semangat! Ini yang terakhir," ucap Cici saat memberi Ana sebotol minuman.
Mereka sudah sampai di lokasi pemotretan yang selanjutnya. Ana juga sudah siap dengan riasan barunya. Perempuan itu mengangguk mantap, dia selalu bersemangat dalam melakukan pekerjaannya. "Jam lima selesai, semangat kak Cici nanti aku traktir," balas Ana. Hal itu membuat Cici terkekeh. Hari ini jadwal mereka padat sekali, tapi semangat Ana tak pernah luntur. Begitu pula dengannya, Cici tidak bisa menjadi loyo dan kelelahan saat Ana sendiri masih sanggup tersenyum.
Cici melirik jam yang melingkar pada pergelangan tangannya. Sesuai dugaan Ana, pukul Lima sore pekerjaan mereka telah selesai. Sekali lagi Ana banjir pujian atas kesuksesannya saat melakukan pemotretan. Tak salah bila dirinya disebut-sebut sebagai model ternama. Bagaimana Ana menghadapi blitz kamera, bagaimana dia tersenyum atau berwajah datar di depan kamera benar-benar tampak profesional.
Ana betul-betul berbakat. Terkadang, fotografer tak perlu mengarahkannya. Sekalipun mendapat arahan, Ana dengan cepat menguasainya. Sehingga tidak memakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan pemotretan. Tak peduli sebanyak apapun gambar yang harus diambil.
"Ayo pulang Kak Cici," setelah beres-beres, Ana mengajak Cici pulang. Dia melirik jam tangannya. Tiga Puluh menit yang lalu mereka baru saja menyelesaikan pemotretan. Namun, baru sekarang mereka betul-betul bisa meninggalkan lokasi.
Cici mengangguk singkat, "Ayo, kayaknya kita pesan makanan aja deh An. Kamu nggak apa-apa kan makan malam sendiri? Kakak harus mampir dulu ambil pesanan Papanya Juli," ucap Kak Cici merujuk pada suaminya.
"Okay, nggak apa-apa Kak. Tapi, tetap bareng sampai apartemen kan?" tanya Ana.
"Iyalah. Memangnya tempat tinggal kita nggak searah?"
Ana terkekeh. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan. Cici mengarahkan supir mereka untuk berhenti di restoran yang tidak jauh dari apartemen Ana. Sebagai seorang manajer, Cici di haruskan untuk serba bisa termasuk membuat perut Ana penuh dengan makanan.
"Astaga Kak Cici! Lagi?" pupil mata Ana sampai membesar saat melihat pesanan yang dibawa manajernya itu. "Kenapa akhir-akhir ini Kak Cici semangat sekali soal makananku?" tanya Ana curiga.
Cici terkekeh. "Itu menjadi bagian dari misiku sekarang, Ana. Habiskan makan malam ini nanti ya," ucap Cici dengan lembut. Berbeda sekali dengan biasanya yang selalu memaksa.
Ana mencebikan bibirnya. "Lihat saja nanti," balasnya. Mereka sudah kembali melajukan kendaraam roda empat itu. Bangunan tempat tinggal Ana sudah terlihat. Sebentar lagi ia bisa mengistirahatkan diri.
"Pak anterin Kak Cici sampai rumah dengan selamat ya," ucap Ana saat mobil sudah berhenti basement apartemennya.
"Siap non. Makasih makan malamnya non," balas pak supir yang mencoba akrab dengan majikannya itu.
"Masuk sana!" ujar Cici. Ana mengangguk. "Terima kasih untuk makanannya, Kak," ucapnya.
"Itu kan pakai uangmu sendiri! Aku cuma beliin," balas Cici pura-pura kesal. Iya, Cici memang hanya orang yang memesan makanan, sementara Ana yang membayarnya. Persis seperti apa yang tadi Ana janjikan di lokasi pemotretan bahwa dia akan mentraktir Cici sekaligus supir mereka.
Ana terkekeh. Kemudia ia melambai pada Cici. "Aku masuk dulu. Hati-hati di jalan," ucapnya.
Ana mengintip dibalik pintu lift yang perlahan tertutup, syukurlah mobil yang membawa manajernya sudah pergi. Ana menatap makanan yang Cici belikan, dia tak yakin bisa menuruti permintaan Cici untuk menghabiskan makan malam ini.
Pintu lift kembali terbuka. Ana keluar dari sana dan berlari kecil menuju unitnya. Namun, betapa perempuan itu terkejut saat melihat siapa yang sedang menunggunya. Tatapan mata Ana mendadak setajam silet. "Ngapain Elang di sini?" tanya Ana pada dirinya sendiri.
"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Ana pada Elang saat dirinya berada tepat di depan lelaki itu.
Elang terkekeh, akhirnya perempuan yang dirinya tunggu-tunggu muncul juga di depannya. "Aku rindu," jawaban Elang membuat pupil mata Ana membesar. Bukan berarti dia senang mendengar itu, tetapi dirinya kesal karena Elang sedang mempermainkannya.
.
.
.
Bersambung.