Hana bingung harus membalas seperti apa karna yang ia rasakan sekarang adalah dingin bukan panas terlebih dirinya memang sedang berada di puncak yang terkenal dingin pada malam hari. Anehnya laki laki ini mengatakan jika ini panas.
Nafas laki laki itu terdengar begitu berat seperti sedang menahan gejolak di dalam tubuhnya karna Hana takut ia kemudian memilih untuk pergi meninggalkan laki laki itu tampa melihat kearahnya.
Hana berlari kecil menuju kamarnya dan kemudian ia tidur di atas kasurnya, ia berharap melupakan hari ini karna Hana kembali berpikir yang tidak tidak jika itu adalah hantu. Terlebih laki laki itu mengatakan jika panas, Hana berpikir jika Iblis kan tempat nya di neraka wajar jika panas. Untung saja Hana tidak melihat wajah hantu itu.
*°*°*°*°*
Sudah setengah jam Hana memejamkan matanya tetapi tak kunjung tertidur juga kini jam di dinding kamarnya menunjukkan jam 1 pagi yang berarti 2 jam lagi sisa waktu Hana untuk tidur karna pasti serentak akan bangun jam 3 pagi untuk sholat tahajud dan subuh, dengan berat hati Hana kembali melangkah kan kakinya keluar dari kamarnya.
Hana berencana untuk mengunjungi kamar guru yang bertanggung jawab di bidang kesehatan karna Hana membutuhkan obat sakit perut, ia tak bisa tidur karna perutnya sudah dari tadi bergejolak sakit. Mungkin saja maagnya kambuh tidak mungkin kan jika ini jadwal menstruasi nya karna baru 4 hari yang lalu Hana selesai dengan datang bulannya.
Langkah demi langkah Hana lalui di tengah malam menjelang pagi ini, rasanya sangat dingin jika di bandingkan dengan kota Jakarta tempatnya tinggal.
"Pak," panggil Hana pelan pada penjaga di depan Villa yang gurunya singgahi.
"Pak," panggil Hana lagi sanggil menepuk nepuk pelan sisi tangan penjaga itu.
"Pak," Terlihat penjaga itu tertidur pulas hingga tak kunjung bangun padahal Hana sudah memanggilnya berkali kali.
Secarik kertas yang tergeletak di meja yang di tadahi kepala penjaga itu pun Hana ambil. Terlihat denah denah dengan tulisan tangan yang menunjukan guru guru siapa saja yang ada berada di kamar itu dan ruangan apa saja yang di jadikan tempat khusus. Sepertinya Hana sudah menemukan nya.
"Belok Kanan terus Di lorong C nomer 5," ujar Hana pelan. Walau ia tahu tidak siapa pun akan mendengarnya terlebih ini sudah malam sudah waktunya tidur. Hana saja dengan berat hati datang ke guru bagian kesehatan jika tidak dirinya lah yang akan benar benar sakit esok terlebih esok adalah jadwalnya pulang kembali ke Jakarta. Tidak boleh sakit.
Hana melangkahkan kakinya dengan percaya diri, ia tak harus mengganggu waktu tidur penjaga itu karna dirinya sudah bisa menemukan nya. Kalau seperti ini kan mudah jika tidak ada kertas itu mungkin Hana tidak akan bisa menyembuhkan sakit perutnya dan bahkan akan terjaga semalaman menahan sakit perutnya.
Tokk! Tokk! Tokk!
Hana dengan perlahan mengetuk pintu yang ia tebak benar kamar guru bidang kesehatannya itu. Tetapi tak ada respon apa pun dari kamar itu sama sekali tidak ada respon apa pun.
Tokk! Tokk! Tokk!
"Bu? Pak?" Panggil Hana pelan karna jika tidak akan membangunkan seluruh penginapan yang ada di lorong itu. Tetapi sepertinya setiap kamar memiliki alat perendam suara, itu tidak berpengaruh kan jika suara dari luar hanya merendam suara dari dalam jadi tetap saja Hana harus mengecilkan suaranya.
Akhirnya setelah beberapa menit Hana berdiri di depan pintu kamar yang ia yakin adalah kamar guru kesehatan itu terbuka.
Alangkah terkejutnya Hana jika bukan guru yang ia maksud, tetapi malah alumni sekolahnya dengan wajah yang memerah dan kulit yang penuh keringat seperti sedang menahan sesuatu.
"Pa-nas," ucapnya yang membukakan pintu untuk Hana.
Hana sedikit merasa bersalah dengan apa yang ia lakuka tadi di taman jangan jangan yang duduk di sampingnya alumni ini bukanlah Hantu yang Hana percaya.
"Kakak kenapa?" Tanya nya sambil ikut masuk kedalam kamarnya terlihat beberapa obat tergeletak di antara meja meja.
Hana melangkahkan kakinya menuju meja di pojok kamar yang terdapat beberapa serbuk obat yang sepertinya tertukar hingga membuat Kakak Senior nya ini kepanasan. Mungkin saja penyakitnya kambuh.
Brukk!!!
Suara pintu tertutup hingga kunci pintu yang sedang bergerak mengunci membuat Hana penasaran, kakak senior nya itu malah mengunci pintunya dan membuang kunci itu asal.
Hana takut. Sangat takut. Berniat ingin menolong kakak senior nya yang sedang kesakitan. Mengapa menjadi seperti ini, terlihat sangat seram.
"Kak K—kok di tu—tup," ujar Hana terbata bata.
"Panas, kamu bantu aku yaa," balas Mukhlis yang kemudian menanggalkan pakaiannya. Hana terdiam terduduk di tepi kasur kamar seniornya itu sambil menutup kedua matanya dengan kedua tangannya. Hana tak ingin melihat sesuatu yang seharusnya belum saatnya untuk dilihat, itu haram untuk agamanya.
Seniornya itu berjalan semakin mendekati Hana, sedangkan Hana berdoa meminta tolong. Bukannya menyembuhkan sakit perutnya malah Hana terjebak di ruangan gelap ini yang bahkan kamar asing untuknya.
"Aaaaaaaa," teriak Hana yang kaget karna perilaku Mukhlis yang mendorongnga hingga ke tengah kasur, posisinya kini terlentang dengan Mukhlis yang berada di atasnya.
"Panass," ujar Mukhlis lagi sedangkan Hana berusaha mendorng tubuh lelaki itu tetapi nihil kekuatan lelaki itu jauh lebih besar dari Hana yang jauh kecil di bawahnya.
"I-ya ka-k a-ku panggil guru ya," balas Hana terbata bata karna sekarang dirinya dengan Muklis sangat dekat.
Hana tiba tiba merasakan perih di bawahnya, seperti ada sesuatu yang masuk pada miliknya. Hana tak bisa melihatnya karna kamar seniornya itu sangat gelap dan seniornya juga sangat dekat dengannya jadi nihil jika Hana bisa melihat kebawah nya.
Mukhlis tiba tiba bergerak maju mundur dengan sangat agresif sedangkan Hana merasakan kesakitan yang sangat perih di bagian miliknya. Apakah sakit perutnya karna ia sedang menstruasi? Tapi bukan kah 4 hari yang lalu ia baru saja selesai dengan masa datang bulannya.
Sekujur tubuh Hana tiba tiba terasa dingin, Hana bisa merasakan d**a nya bertubrukan dengan d**a bidang seniornya itu. Tunggu? Sejak kapan Hana sudah melepaskan bajunya.
"Ahhhhhhhhh," Hana dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Bagaimana bisa terjadi secara tiba tiba, suara itu begitu saja keluar dari mulutnya. Apakah karna Hana menahan rasa sakit. Ahhh Hana sangat tersiksa disini. Ya tuhan, tolong Hana tak sanggup lagi menahan sakit dan perihnya. Tetapi mengapa lama lama terasa sangat nikmat? Sebenarnya seniornya sedang melakukan apa di hadapannya ini.
"Terimakasih," seniornya itu lalu tertidur di sampingnya sudah tidak lagi berjoget ria di hadapannya.
Terimakasih? Memang apa yang sudah Hana lakukan? Tunggu kenapa ia merasakan dingin di sekujur tubuhnya dan tetesan keringat yang terasa di kulitnya.
*°*°*°*°*