EPS 3 - ANEH

1072 Words
Hana mengerjapkan matanya, terlihat dinding kamar yang Hana kenal adalah kamar yang di singgahi dirinya dan juga teman temannya di bogor. Pinggang nya terasa linu dan badannya yang tiba tiba entah mengapa seperti remuk bahkan miliknya terasa linu, tidak mungkin kan ini jadwalnya menstruasi. "Hann," panggil Caca yang terlihat sudah rapi. Matahari dari jendela pun sudah sedikit nampak dari kamarnya, sepertinya Hana melewatkan sholat tahajud nya dan hampir saja akan melewatkan sholat subuh nya. Hana bangkit dari tidurnya dan membuat tubuh yang baru terasadar ini duduk di tepi kasur, "Kok gak bangunin sih." "Kan lo lagi haid," balas Caca yang lalu di balas dengan tatapan bingung meminta jawaban. Caca menunjuk ke arah rok putih yang Hana kenakan terdapat bercak merah bata di bagian rok atas depannya, "Tuh merah bocorkan." "Gue kan baru selesai haid emoat hari yang lalu," ucap Hana tak terima. Aneh, tak biasanya seperti ini. Bensr benar memalukan harusnya ia tak mengenakan rok berwarna putih agar tidak terlihat jelas seperti ini. "Lo yang haid kok komennya ke gue," balas Caca tak habis pikir dengan sahabat nya itu. "Rara mana?" Tanya Hana yang merasa sedikit berbeda karna biasanya Caca, Rara dan bahkan dirinya tak pernah saling berpisah pisah seperti ini. "Lo berantem sama Rara?" Tambah Hana lagi yang menebak nebak. "Nggak, kan harusnya udah dari tadi jadwal pagi kita jadi guru nyuruh olahraga pagi karna jadwal paginya itu," jawab Caca yang tidak memberikan jawaban dimana Rara berada hanya berputar putar dengan kalimat nya seperti biasa. "Terus?" Tanya Hana yang membutuhkan jawaban. "Terusssss, Rara lari pagi katanya mau modus sama Kak Mukhlis," jawab Caca dengan cepat sepertinya ia tak ingin membuat mood Hana memburuk karna Hana sepertinya akan mengikuti Rara yang tak menyerah hilir mudik dengan modus lari pagi untuk melihat seniornya itu. Tetapi sepertinya Hana ingat sesuatu tentang malam kemarin, Hantu Villa yang mengajaknya berbicara di taman. Sepertinya menyeramkan, untung saja hari ini sekolah nya sudah hendak pulang jadi Hana tidak perlu takut lagi bertemu dengan hantu taman di villa nya itu. Kemudian dengan langkah bangun tidurnya Hana memasuki kamar mandi dengan sedikit terburu buru agar tertinggalannya tidak diketahui para guru guru nya karna merasa ketidak hadiran Hana sedari sholat tahajud. "Hann, gua duluan yaa nyamperin Rara," teriak Caca dari luar kamar mandi. "Iyaaa," teriak Hana dari dalam kamar mandi. *°*°*°*°* Hana sudah berada di depan villa yang ia singgahinya, ingin rasanya menghampiri teman temannya di lapangan tetapi rasanya enggan. Entah mengapa melihat sosok seniornya itu membuat dirinya enggan untuk berdekatan, sangat aneh. Padahal dirinya saja belum pernah berbicara langsung dengan seniornya itu. "Hannn," teriak Rara dari lapangan sambil melambaikan tangannya. Hana bisa melihat bahwa seniornya ikut melihat ke arah Hana dengan tatapan yang tak hingga hingganya di lepasnya. Sangat menakutkan. Tetapi sepertinya rasanya Dejavu. "Ayoo sini!" Teriak Caca yang ikut meneriaki Hana, dan benar saja seniornya yang tak jauh dari teman temannya itu ikut melihat ke arahnya sedari tadi tanpa melepaskan pandangan nya sedikit pun. Hana pun memilih berlari ringan menghampiri teman temanya itu tetapi rasanya miliknya ngilu sedari ia bangun tidur. Entah kenapa seperti itu, padahal ia sudah melihat dengan jelas darahnya tak mengalir lagi berarti ini bukanlah darah haid. Sebenarnya dirinya mengapa? Hana kembali berpikiran negatif tentang dirinya sendiri ia takut jika ia terkena kanker seperti yang di ajarkan guru biologi nya. "Kayaknya gua gak enak badan deh," ucap Hana pada teman temannya sesampainya di lapangan. "Alasan aja lu, bilang aja males kan," balas Rara dengan senyum jahilnya. Huh! Rara tak tahu kalau Hana benar benar sedang sakit. Hana bisa melihat seniornya itu tampak sangat populer sudah seperti selebritis saja, di kelilingi perempuan perempuan dari angkatan nya sambil tanya menanya seperti sedang di introgasi saja. Dia lupa? Kenapa reaksinya biasa saja. Batin Mukhlis. Sedangkan di lain sisi Mukhlis bertanya tanya perihal Wanita yang semalam baru saja ia rusak masa depannya. Mengapa reaksi nya terlihat tidak pernah terjadi apa apa? Apakah dia lupa? Atau justru dirinya yang sedang bermimpi. Mata seniornya itu untungnya tak lagi melihat ke arahnya. Jika tidak Hana akan berpikir seperti apa lagi dengan tatapan horor seniornya itu. Apakah karna kemarin malam ia memilih untuk tidur pada sesi jadwalnya? Huh sepertinya masalah sepele. "Kak! Udah punya pacar belum!?" Tanya salah satu teman Hana. Ahhh Hana sangat malu sekali karna mendengar pernyataan aneh dari temannya yang benar saja ia sangat malu karna memiliki teman tak tahu malu seperti itu. Mungkin urat malu temannya itu sudah putus. Mukhlis melihat kearah Hana dengan singkat namun tersenyum tipis, "Belum punya, tapi udah ada calon." Suara sorak kecewa dari teman teman Hana pun memenuhi satu lapangan hingga membuat teman teman Hana yang berjenis kelamin laki laki itu menghentikan aktivitas bermain bolanya itu, saling menatap meminta jawaban. Hana tersenyum tipis, ia sedikit malu karna teman temanya itu terlalu tertarik hingga menanyakan demikian dan lucu karna reaksi teman laki lakinya yang penuh tanda tanya. "Gua duduk di taman aja lahh, Raa Caa," ijin Hana yang sepertinya tidak kuat untuk berdiri lagi karna merasa ngilu. "Lu kenapa sih? Tumben banget," tanya Rara khawatir, begitupun Caca yang menampakkan wajah khawatir nya. "Gapapa, Gak enak badan aja," jawab Hana menenangkan keduanya. "Gua anterin ke Bu Siti ya biar di kasih obat," tawar Caca yang terlihat begitu khawatir. Guru yang memegang di bidang kesehatan kali ini adalah Bu Siti, guru Sejarahnya. "Gak usah gapapa," balas Hana yang kemudian duduk di kursi yang berada di tepi lapangan. Tanpa sadar dari kejauhan tatapan rasa bersalah itu kembali menatap Hana dari kejauhan. Maaf. Batin seseorang yang menatapnya dari kejauhan. "Ayo Hann, hari ini kan pulang kalo lu kenapa napa gimana," bujuk Caca sambil menarik narik tangan Hana. "Iya Hann, Ayoo cuman minta obat kok gak ngomong yang lain lain deh," Rara ikut membujuk Hana yang sedari tadi menolak. Hana mengangguk menerima tawaran Caca dengan pasrah jika tidak di terima Caca akan seperti ini terus hingga pulang, "Oke." " Gua ikut yaa!" Ucap Rara girang karna Hana menerima tawaran Caca. "Tapi gua aja ya yang ngomong ke bu siti," pinta Hana lalu di angguki Rara dan Caca. Akhirnya langkah kaki Hana yang semula berada di lapangan kini meninggalkan lapangan dan beranjak pergi menuju Villa guru. Hana merasa sangat menolak untuk ke Villa guru entah kenapa hatinya seperti pernah merasakan hal yang mengerikan di villa itu. Padahal Hana merasa belum pernah da merasa asing dengan villa guru. Kok Rasanya makin gak enak ya. Batin Hana. *°*°*°*°*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD