Setelah Hana mendapatkan obatnya yang Hana katakan pada guru yang berjaga sebagai bidang kesehatan adalah obat sakit perut, karna sudah jadi rahasia umum jika Hana memang memiliki Maag untung saja penyakit itu menolong Hana jika tidak ia tidak tahu harus berkata seperti apa karna Hana tak ingin jujur dengan keadaan nya sekarang. Biarkan itu menjadi rahasianya sendiri.
Waktu sudah menunjukan pukul 08:32 sekarang adalah jadwal makan pagi untuk angkatannya serta guru guru. Sebenarnya Hana sedang tidak ada mood untuk makan jadi ia memilih untuk ke villa ketimbang makan bersama di aula.
Tetapi belum juga langkah kakinya masuk Villa seniornya sudah memanggil nya, sepertinya ia ketahuan tidak akan makan. Namun mengapa suara seniornya itu terdengar membuat Hana bergelidik ngeri. Ada apa sebenarnya? Villa dan seniornya.
"Hana!" Panggil Mukhlis yang berjalan tidak jauh dari Hana yang berada di depan Villa perempuan. Memang Villanya sangat dekat dengan Aula bisa di bilang sebelahan jadi tak heran jika Seniornya memanggilnya.
Sepertinya ada yang salah, tunggu dulu sejak kapan seniornya itu tahu namanya. Bukankah Hana belum pernah mengatakan namanya bahkan mengajaknya berbicara sepertinya ada yang aneh.
Wanita itu terlihat seperti biasa saja memandangnya tak sekalipun menanyakan perihal semalam jika memang Hana ingat ia akan histeris melihatnya. Tetapi ini mengapa justru Hana lupa tentang semalam. Mukhlis terus bertanya tanya.
"Han?" Panggil Mukhlis lagi yang sepertinya meminta jawaban. Sedangkan Hana baru saja sadar dari lamunannya akibat suara Mukhlis yang terdengar semakin jelas dan dekat.
"Ehhh iya kak, Ada apa?" Tanya Hana balik. Sebenarnya ia ingin menanyakannya mengapa seniornya ini bisa tahu namanya tetapi sepertinya itu tidak penting juga mungkin saja memang seniornya ini tahu dari guru ataupun temannya, Hana tak mau ambil pusing memikirkan sesuatu yang sepele.
"Gak Sarapan dulu? Sarapannya di aula loh, kok balik ke Villa?" Tanya Mukhlis. Benar tebakan Hana dirinya sudah ketahuan jika tidak ingin sarapan. Tetapi kan memang Hana sedang tak ingin sarapan di bandingan nasi ia lebih memilih sarapan dengan roti. Sarapan nasi di pagi hari menurut Hana terlalu berat untuk nya.
"Mmmm mauu—" Hana menggantungkan jawabannya entah alasan apa yang akan ia keluarkan.
Muklis tersenyum tipis mendengarkan jawaban dari Hana yang sebenarnya ia tahu jika itu adalah sebuah alasan, "Mau apa?" Tanya Muklis yang tak sabaran.
Sepertinya jika seperti ini sudah terlihat jika Hana sedang mencari alasan. Huh! Bagaimana bisa ia ketahuan tanpa alasan seperti ini.
Hana pun melihat lihat kesekeliling alasan apa yang akan ia keluarkan, tetapi proporsi tubuh seniornya ini terlihat sangat sempurna di matanya hingga matanya pun menjelajah pada jaket yang dikenakannya. Seketika idenya keluar yaitu Jaket karna di bogor dingin alasan itu akan bagus jika ia gunakan.
"Mauuuu ambil jaket, Dingin," jawabnya dengan senyum berdosa.
Mukhlis tersenyum tipis, "Pake punya saya aja," balas Mukhlis sambil melepaskan jaket yang ia pakai.
Mati lo skakmat duh Hana bego Hana bego dia kan pake jaket. Batin Hana meronta ronta.
Kemudian dengan lembut Mukhlis memakaikan jaket yang tadi ia kenakan ke tubuh perempuan yang semalam dengan pengaruh obat sudah ia hancurkan hidup perempuan itu.
Maaf, Tapi kenapa kamu lupa? Atau Allah yang sudah mengaturnya. Batin Muklis dengan rasa bersalahnya.
"Udah bisa Sarapan kan?" Tanya Mukhlis memastikan karna ia tahu perempuan ini hanya memberi alasan agar dirinya tidak sarapan. Mukhlis tahu wataknya anak remaja seperti apa karna ia juga pernah merasakan semasanya.
Hana mengangguk pasrah, "Iya kak."
"Yaudah, Yuk sarapan," ajak Mukhlis pada Hana yang terdiam terpaku karna dirinya baru saja di pakaikan jaket milik seniornya itu, terlalu dekat hingga membuat Hana terpaku. Tetapi wangi jaketnya membuat Hana sedikit nyaman.
"Iyaa," balas Hana menurut ikut mengiringi langkah Mukhlis menuju aula.
Langkah seniornya itu sangat besar membuat Hana harus cepat cepat menyamainya dengan langkah Hana yang kecil. Mungkin karna masalah tinggi badannya. Hana memang pendek.
"Ehhh, Hana tadi ke bu Siti yaa minta obat, sinii sarapan biar di perjalanan gak masuk angin," ujar salah satu guru di aula yang bertanggung jawab dengan makanan sesampainya Hana di aula, memberikan anak anaknya makanan.
"Makan yang banyak biar gak sakit," ucap Mukhlis tanpa melihat Hana sambil mengambil makan untuk dirinya sendiri, berusaha terlihat tidak peduli di depan teman teman Hana begitupun gurunya.
Hana mengangguk,"Dikit aja ya bu."
Kemudian Hana mengambil makanan yang di siapkan gurunya dengan Nasi sedikit Capcay dan Chicken Teriyaki sesuai dengan kesukaan Hana, sedangkan Mukhlis sudah selesai mengambil makanannya sendiri dan meninggalkannya.
Mata Hana menjelajahi Aula sambil membawa piring makanan serta gelas minuman miliknya, matanya mencari cari keberadaan teman temannya yang tidak kunjung ia dapati.
Langkahnya menjadi bimbang karna ia tak berhasil mendapatkan kumpulan teman teman dekatnya, Hana terdiam dengan mata yang terus menjelajah.
"Hann!! Disini!!" Panggil teman temannya yang tahu jika Hana sedang mencari mereka. Benar saja bagaimana Hana bisa menemukan nya jika mereka berada di ujung aula tertutupi para teman temannya dan duduk dekat dengan guru serta seniornya.
"Kok dalem banget," ujar Hana kesal sesampainya di perkumpulan teman temannya.
"Apanya yang dalem?" Tanya Caca yang sudah selesai dengan makanannya yang benar saja Hana saja yang masih banyak. Mungkin karna kedatangan nya terlalu telat.
"Duduknya lah bego," jawab Hana kesal dengan umpatan di akhir kalimat.
"Santuy Han, kenapa deh lu lagi datang bulan?" Balas Caca.
"Kan emang dia Haid tadi pagi pea," Rara tak kalah kesal, sepertinya tak hanya Hana yang kesal ternyata Rara juga ikut kesal. Atau jangan jangan karna jaket yang Hana pakai? Rara kan sedang jatuh cinta dengan seniornya itu.
"Kalian pada kenapa sih?" Tanya Caca yang tak mengerti karna keduanya terlihat sudah dengan tatapan kesal padahal baru saja bertemu biasanya umpatan umpatan yang di keluarkan bukanlah karna kesal tetapi latahnya saja.
"Gapapa," jawab Hana dan Rara bersamaan. Sedangkan Caca hanya bisa menggelengkan kepalanya karna tak mengerti dengan tingkah tiba tiba dari kedua sahabatnya itu.
"Ayolah kalian kenapa pada kesel ayo cerita cerita sini sama gua," Caca sepertinya butuh jawaban atas kesalnya kedua sahabatnya itu.
"Tuh ketauan kalo gua gak mau sarapan bangke kan," balas Hana memberikan jawaban yang entah bagaimana makanannya yang semula berisi sekarang sudah habis masuk begitu saja ke perutnya. Mungkin karna rasanya kesalnya hingga makanan yang Hana makan masuk begitu saja hingga tak lama habis.
"Yeh lagian niatnya buruk, ya ketauan lah..makan tuh yang banyak biar gak sakit terus," ujar Caca seperti ibu ibu yang sedang mengomeli anaknya.
"Btw, Ketauan sama siapa?" Lanjut Caca penasaran. Sedangkan Rara berusahalah bersikap tidak peduli entah kenapa satu anak ini lagi.