EPS 5 - Pulang

1047 Words
"Btw, Ketauan sama siapa?" Lanjut Caca penasaran. Sedangkan Rara berusahalah bersikap tidak peduli entah kenapa satu anak ini lagi. "Itu sama Kak Mukhlis. Gua mau ke Villa alasannya cari jaket malah di kasih jaket dia kan skakmat," ujar Hana dengan nada kesal dan penuh penekanan. "Jadi lo bisa dapet jaket dia karna ketauan?" Tanya Rara yang tak kalah kaget. "Jadi lo kesel cuman gara gara jaket?" Tanya Caca yang tak kalah kesal. Yaps Caca ikut kesal karna sahabatnya ini marah karna sesuatu yang sepele. "Ngg-nggak," jawab Rara ragu. "Udah deh, Ra. Gua dah kenal lu berapa tahun udah dari SD gua tau gelagat lu bohong sama jujur," Hana tak kalah kesal. Rara menghela nafas panjang, "Iyaa, abisss masa lo bisa dapet jaket Kak Muklis kan gua suka sama dia," ucap Rara jujur. "Yeh, Raa kan lo gak harus gitu, tanyain dulu kek gak perlu langsung kesel gitu," balas Caca dengan yang juga sedikit kesal. "Iya deh maaf maaf lagi pula ngapain ya gua gitu kak Mukhlis juga belum tentu suka sama gua," ucap Rara yang kemudian tidak percaya diri. Memang jik di bandingkan Rara hanyalah Fans akut Mukhlis yang datang secara dadakan, jatuh cinta pandangan pertama. "Gini deh, nanti abis beresin barang barang balikin ke kak Muklisnya berdua, Gimana?" tawar Hana pada Rara si Fans akut itu. Caca mengerutkan alisnya tanda tidak setuju, " Gua gak di ajak?" Tanya Caca dengan wajah cemberutnya. Hana tertawa kecil, "Iya iya kita bertiga," jawab Hana dengan suapan terakhir nya. Hana, Caca dan Rara pun mengembalikan piring yang sudah mereka pakai makan dan kembali ke kamar untuk merapikan barang bawaannya karna pukul 10:00 sudah jadwalnya pulang. Bus yang sedari berangkat teman temannya tumpangi itu sudah menunggu sejak pagi di gerbang Villanya, menunggu untuk berjelajah pulang kembali. *°*°*°*°* Tadinya ingin mengembalikan jaketnya bertiga, namun baru saja keduanya menolak karna lelah dan ingin tidur di bus. Hanya Hana yang sudah siap sedia bahkan sudah melipat rapih jaket yang di pinjamkan seniornya itu. "Jadi gak jadi nemenin gue?" Tanya Hana histeris. Keduanya menggelengkan kepala dengan mata yang terpejam, tidur sambil duduk. Hana, Caca dan Rara memang duduk di satu barisan sama Hana lah mendapat baviany jendela karna dirinya yang lebih dahulu sampai di bus dari pada kedua sahabatnya ini. "Lo aja deh, Han. Gua capek," jawab Caca yang masih memejamkan matanya. Rara mengangguki perkataan Caca dengan mata yang jjga terpejam. Ohhh ya tuhan, cobaan apa lagi ini. Hana pun dengan langkah berat berjalan keluar bus mencari keberadaan seniornya itu, ia hilir mudik dari ujung hingga ujung kembali tetapi ia sampai saat ini belum menemukan batang hidung Kak Mukhlis. "Kok gak ada sih," gerutu Hana kesal. Sebenarnya Hana sedikit takut jika dirinya di tinggal dengan bus yang membawanya karna jika benar ia akan bingung harus menaiki apa lagi untuk sampai ke Jakarta, belum lagi tasnya ada disana hanya Handphone yang ia bawa. Akhirnya Hana memutuskan untuk bertanya dengan guru yang sedang berjaga di depan bus. "Buu," panggil Hana yang langkahnya sudah tidak jauh lagi dari keberadaan gurunya itu. "Iya Hana, Ada apa? Kok gak masuk bus, nanti kalo ketinggalan gimana," balas Guru Bahasa Indonesia itu dengan khawatir. "Ini buu, saya mau mengembalikan jaketnya Kak Mukhlis tadi di pinjemin karna dingin. Kak Mukhlis di bus mana ya bu? Saya udah caru cari dari ujung ke ujung kok gak ketemu," keluh Hana yang sepertinya sudah lelah mencari cari keberadaan Kak Mukhlis. "Ohh si Mukhlis, dia pake mobil pribadi kesininya jadi pulangnya juga sendiri udah dari tadi pulang, Han," jelas Guru Bahasa Indonesia itu. Sebenarnya Hana sangat kesal dan sangat kesal sekali karna ia sudah hilir mudik mencari keberadaan Seniornya itu tetapi yang ia dapatkan hanyalah nihil. Hana pun mengeluarkan Handphone di saku celananya, "Bu, boleh minta nomer w******p nya gak? Buat ngembaliin jaket dia atau ibu bakal ketemu lagi? Biar saya nitip," pinta Hana yang to the point karna memang dirinya tak ingin memiliki hutang. Walaupun itu bukan termasuk hutang tetap saja bagi Hana itu terasa hutang yang belum di kembalikan. Guru bahasa Indonesia itu pun ikut mengeluarkan Handphone di balik Tasnya dan mengotak atik Handphone nya untuk mencari nomer anak didikannya itu yang sudah menjadi alumni, " Boleh, nih 081234567890," Guru bahasa Indonesia itu melafalkan nomernya dengan jelas dan cukup cepat membuat Hana sedikit kewalahan. "Terimakasih bu," ucap Hana setelah mendapatkan nomer seniornya itu. Kemudian kembali pada Bus nya untuk melakukan perjalanan. *°*°*°*°* Di sisi lain Orang yang memiliki jaket itu memang sudah sengaja dengan niatan akan terikat selanjutnya dengan kata 'Jaket' , ia tersenyum tipis sambil membuka ikon i********: dan mencari cari i********: milik wanita itu dengan menggunakan nama panjangnya yang tak sengaja ia lihat ketika menggendong wanita itu ke Kamar Villa wanita itu secara diam diam pada malam hari. Kesalahannya sendiri karna salah mengambil obat, yang ia ambil adalah obat perangsang milik temannya sendiri yang di titipkan padanya. Entah, Mungkin tuhan yang menghukumnya karna membantu temannya berbuat dosa atau memang sudah di takdir kan oleh tuhannya. "Alara Hana," Ucap Mukhlis melafalkan nama lengkap Hana, sambil memegang setir mobil dengan sisi tangan yang mengetik nama Hana di pencarian i********:. Memang Jalanannya sedang macet jadi tidak bahaya jika Mukhlis bermain handphone untuk menghilangkan rasa jenuhnya. Pencarian itu menemukan akun i********: yang Mukhlis cari tanpa pikir panjang Mukhlis pun men Follow gadis itu dan memberikannya sebuah pesan dengan alasan jaketnya. Memang ini yang Mukhlis harapkan. Mukhlis pun kembali bertanya tanya tentang gadisnya yang lupa akan malam itu, padahal malam itu adalah malam yang merusaknya. Mengapa justru gadis itu lupa? Jika itu adalah orang lain Mukhlis yakin pasti orang itu akan mengingat dan bahkan akan trauma. Tetapi gadis itu berbeda dia justru melupakan ketimbang mengingatnya. Walaupun gadis itu tidak mengingatnya itu bukanlah hal bagus untuknya karna tetap saja Mukhlis harus mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan, terlebih di agamanya itu adalah hal yang sangat di larang maka dari itu Mukhlis bersikeras bertanggung jawab. Bagaimana pun ia harus cepat cepat menikahi Hana sebelum benih benih itu menjadi buah. Jika mengambil hati Hana adalah perihal sulit ia mungkin akan langsung menemui orang tuanya. Bagaimana pun harus secepatnya karna di dalam tubuh Hana sudah ada benih benih darinya, Mukhlis tidak ingin melakukan dosa yang lebih berat. *°*°*°*°*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD