EPS 6 - Pesan

1020 Words
Matahari terlihat sudah menampakkan sinarnya, sedangkan Hana sudah sedari tadi siap dengan seragamnya. Sudah seminggu setelah acara pergi pergi itu berlangsung kini waktunya Hana fokus untuk masa ujiannya yang tinggal 2 minggu lagi. Bahkan Hana saja sudah seminggu sejak acara pergi pergi itu tidak memegang handphone nya, ia ingin fokus untuk ujiannya. Suara klakson mobil dari supir pribadinya yang biasa mengantarkannya ke sekolah pun berbunyi tanda sudah siapa. Hana melangkahkan kakinya dengan lebar bersemangat berangkat menuju sekolahnya untuk melakukan ujian praktek nya yang terakhir. "Pak, nanti jemputnya jam 12 siang yaa, hari ini ujian praktek jadi pulangnya lebih cepat," pinta Hana pada supir pribadinya ketika sudah di tengah perjalanan nya menuju sekolah. "Baik, Non," jawab supir itu dengan sopan. Memang hari ini waktunya untuk ujian praktek sebelum ujian penentuan nya dilaksanakan karna Hana bosan di perjalanan dan sudah lelah belajar dan membaca untuk ujiannya, ia memutuskan untuk membuka handphone setelah seminggu tak ia buka. Banyak notifikasi yang bertebaran dimana mana. Entah di w******p, i********:, line, dan bahkan telegram. Sepertinya teman temannya masih bermain handphone padahal ujian sudah di depan mata. "Non, sudah sampai," ucap supir itu memberitahu. Baru saja Hana membuka handphone nya belum sempat membaca semua notifikasi nya, satu notifikasi saja belum habis habisnya ia buka mobilnya sudah lebih dulu mendahuluinya. Memang waktu harus di manfaatkan ya. *°*°*°*°* Kedatangan Mukhlis ke sekolah Hana, yang mungkin bisa di sebut juga sekolah Mukhlis juga, menggemparkan satu sekolah. Tatapan mata dari adik kelas Hana bahkan teman seangkatan Hana terus saja tak lepas dari seniornya itu. Hana pun sebenarnya bingung ada apa seniornya datang ke sekolahnya. Apakah karna jaketnya yang masih berada di tangannya atau justru memang ada hal lain yang masih harus di urus. Jika memang itu adalah jaket miliknya, ini adalah hari sial Hana karna tentu saja Hana tidak membawa nya. "Han, masa tadi kak Mukhlis dateng terus dia ke ruang guru," Rara tak habis habisnya membahas Kak Mukhlis padahal sudah berulang kali ia mengucapkan nya ke beberapa temanya, tak perlu bertatapan juga Hana sudah jelas mendengarnya. "Gue tau," jawabnya dengan singkat karna entah harus bagaimana lagi merespon temannya itu yang sedang jatuh cinta. Bukannya memikirkan pelajaran untuk ujian 2 minggu kedepan temannya ini tak habis habisnya membahas laki laki, begini lah Rara sejak dulu mudah menyukai laki laki pada pandangan pertama dan akan hilang perasaanya sangat cepat jika sang idola tidak meresponnya sama sekali. "Jangan jangan dia nyamperin gue ya," lanjut Rara dengan percaya diri, Hana hanya bisa menggelengkan kepala dan mengiyakan temannya ini yang sangat halu akut. Sebenarnya Hana sudah terbiasa dengan tingkah Hana seperti ini sejak Sekolah Dasar tetapi tetap saja itu adalah tindakan memalukan belum lagi Rara mengatakannya di kelas dan banyak teman temannya yang melihat maupun mendengar percakapannya. "Astaga gua kalo disini terus malu deh," keluh Caca yang duduk di belakang Hana sedangkan Rara duduk di sebelah Hana dengan jalan pemisah. Memang tempat duduk di kelasnya dibuat sebaris agar memudahkan jika ada ujian, tidak ada kata mencontek lagi. "Lo aja malu apalagi gue," Hana ikut mengeluh dengan tingkah Rara yang terlihat berlebihan. Tetapi gerakan Hana seperti membiarkan temannya itu berbicara sendiri, ia menyibukkan diri dengan menulis indah di buku tulisnya. Walaupun ia tahu kelas ujian praktek nya telah usai kini waktunya pulang, tetapi tetap saja masih banyak murid yang menetap di kelas dengan alasan akan rindu dengan suasana kelas ketika nanti telah lulus dan melanjutkan kejenjang kuliah. "Btw Han, jaketnya Kak Mukhlis kemarin udah lo balikin?" Celetuk Rara yang lalu diberikan tatapan diam Hana. Sedangkan temannya ralat musuhnya yang duduk tepat di depannya itu tiba tiba membalikan badan ke arahnya. "Lo deket sama Kak Mukhlis?" Tanya musuhnya, Airin. "Kok bisa deket?" Lanjut Airin lagi dengan pertanyaan yang Hana bingung ingin menjawabnya seperti apa. Walaupun Airin adalah musuh bebuyutan nya tetapi Hana tidak pernah menampakan rasa tidak suka terhadap Airin justru Airin lah yang sering menampakan rasa tidak sukanya terhadap Hana bahkan dari sikapnya kepada Hana, ia sendiri pun bingung awal masalahnya bermula dari siapa dan kenapa. Hana hanya tersenyum tipis menanggapi nya bingung ingin menjawab seperti apa karna ia sendiri pun hanya tidak sengaja bertemu senior nya itu. Hana memilih untuk pergi meninggalkan Temannya dan Airin ketimbang harus menjawab pertanyaan Aiirin. *°*°*°*°* "Kamu memang ada apa minta alamat dia sama nomer orang tuanya?" tanya seorang guru Biologi pada mantan muridnya itu. Yaps benar pada alumni sekolah itu tentu saja, Mukhlis. "Bukan saya pak yang mau, ayah saya minta karna ayahnya Hana emang teman dekat ayah saya nah mereka udah lama gak Contact an," jawab Mukhlis sepenuhnya berbohong, ia hanya mengandalkan ayahnya untuk bisa mendapatkan alamat dan nomer orang tua Hana dari guru kesayangan nya itu. Yaps! Guru Biologi nya itu adalah guru yang sangat dekat dengannya dari ia bersekolah hingga ia sekarang, tak pernah sekalipun ia dan guru itu putus kontak. Guru Biologi nya sudah seperti orang tua kedua baginya, ia sering mendapat saran dan bahkan nasihat yang bisa mengubah dirinya menjadi lebih baik di bandingkan dulu. "Nanti saya kirim di chat deh, kamu kesini ngapain?" Guru Biologi itu sudah memberikan lampu hijau padanya sesuai dengan tebakannya. "Saya mau ketemu Bapak sekalian ambil jaket saya yang ketinggalan kemarin," ujar Mukhlis dengan nada sennag karna sudah mendapatkan lampu hijau dari guru Biologi nya itu. Tingg! Suara notifikasi handphone Mukhlis berbunyi tanda mendapatkan pesan baru, "Sudah Bapak kirim ya, Bapak sibuk lain kali kamu kesini nya Baoak masih harus ngurus hasil ujian anak anak," keluh guru Biologi itu sambil memijat pelipisnya. "Baik pak, terimakasih," balas Mukhlis dengan sopan lalu kelusr dsri ruangan guru kesayangan nya itu. Baru saja Mukhlis keluar dari ruangan guru Biologi, ia sudah terpanggil oleh guru yang sebenarnya ia tak terlalu mengenalnya karna ia tak pernah di ajari pelajaran dengan guru itu karna penasaran ia melihat tanda pengenal yang menempel pada pakaian guru tersebut, Guru Bahasa Indonesia. "Iya Bu, Ada apa?" Tanya Mukhlis sopan. "Kemarin, jaketnya udah di kembalikan belum sama Hana? Dia nyariin kamu sampai hampir ketinggalan sama bus nya," jelas Guru Bahasa Indonesia itu dengan tampang khawatir. Hana nyariin Saya? Karna Jaket. Batin Mukhlis yang bertanya tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD