EPS 7 - Bertemu

1028 Words
"Kemarin, jaketnya udah di kembalikan belum sama Hana? Dia nyariin kamu sampai hampir ketinggalan sama bus nya," jelas Guru Bahasa Indonesia itu dengan tampang khawatir. Hana nyariin Saya? Karna Jaket. Batin Mukhlis yang bertanya tanya. "Kamu disini ngapain, Nak?" Lanjut Guru bahasa Indonesia itu lagi. Mukhlis tersenyum tipis, "Temu kangen sama guru Biologi, bu." Jawab Mukhlis yag sepenuhnya menjawab pertanyaan kedua dsri guru Bahasa Indonesia itu tanpa memedulikan pertanyaan pertamanya karna ia bingung akan menjawab seperti apa. "Yasudah, Ibu pergi dulu ya mau ngurus hasil ujian siswa, kamu hati hati pulangnya," Guru Bahasa Indonesia itu berlalu pergi seperti sedang terburu buru. Namun, justru Mukhlis merasa senang karna dirinya telah dicari cari oleh wanita itu tetapi yang membuat Mukhlis heran adalah kenapa pesannya di i********: tidak di balas oleh wanita itu. *°*°*°*°* Hana keluar dari kelasnya dengan perasaan kesal namun bingung. Baru saja ia mendapat telpon dari supirnya bahwa ia tak bisa menjemputnya karna ayahnya baru pulang dari dinas dan di minta untuk menjemput nya. Huft! Hana bingung akan pulang dengan apa jika ia harus menggunakan Gojek berati ia harus mengeluarkan uang jajannya. "Hana," panggil seorang laki laki dari sampingnya yang ia tahu itu adalah ruang guru. Hana membalikan wajahnya melihat sang pemanggil namanya itu, "Iya?" Alangkah terkejutnya ia mendapati seniornya lah yang memanggil nya ia kira adalah guru. Namun ini lain, ini adalah sang senior. Ada apa memanggil nya? Apakah karna jaket itu? Huft Hana belum membawa jaket tersebut, benar benar ini adalah hari sial bagi Hana sudah tidak di jemput tidak membawa jaket Kak Mukhlis pula padahal jaketnya sudah di cuci bersih oleh pembantu rumahnya. "Udah pulang ya," ucap Mukhlis pada Hana. "I-iya kak," balas Hana yang terbata bata karna jaket yang tidak ia bawa. Lagi pula salah seniornya tidak memberitahu nya jika ia ke sekolah hari ini. "Temenin saya ke kantin dong, saya udah lumayan lupa," pinta Mukhlis yang sepenuhnya dusta karna sebenarnya ia tahu dimana letak kantin dari jaman nya ia bersekolah disini 6 tahun lalu sampai saat ini letak kantin itu tidak berubah. "I-iya kak," balas Hana lagi dengan menurut lalu langkah kakinya beriringan dengan langkah seniornya itu. Tubuh seniornya tak jauh ada di sebelahnya bisa di bilang dekat dan sangat dekat. Namun, tidak sampai bersentuhan kulitnya antaran kulit seniornya itu. Jelas, itu adalah haram di agamanya. Langkah kakinya terus saja menyelusuri tepi tepi lapangan hingga menuju kantin sekolahnya, setidaknya dirinya bisa memikirkan alasan apa yang akan ia katakan perihal jaket milik seniornya itu di sela sela hening nya jalan. Sesampainya di kantin senior nya memesan dua mangkuk mie ayam dan dua gelas es teh manis untuk dirinya dan Hana. Padahal Hana sangat kenyang untuk menambahkan lagi semangkuk mie ayam ke dalam perutnya. "Aku makan ya, kak," ijin Hana dengan semangkuk mie ayam dan segelas es teh manis di depannya begitupun Mukhlis. Mukhlis mengangguk meng iyakan, "Lagi ujian ya?" Tanya Mukhlis pada Hana yang kini sudah duduk berdua di bangku kantin. Tatapan siswa maupun siswi yang melihatnya duduk berdua dengan Mukhlis kini terlihat mencengkram berintidimasi. Hana buru buru menelan mie ayam yang ada di mulutnya lalu menjawab pertanyaan seniornya ini yang mendadak ketika ia sedang makan, "I-iya kak" jawab Hana lagi yang terbata bata. Entah ini rasanya canggung untuknya. Mukhlis tersenyum tipis, "Ujian apa?" Tanya Mukhlis lagi. Ahhhh ya tuhan dirinya seperti sedang di introgasi. "Ujian Praktek, hari ini hari terakhir," jawab Hana sambil memikirkan pertanyaan apa yang akan ia tanyakan sebelum seniornya itu berbalik bertanya lagi padanya. Sepertinya Hana lihat seniornya itu hanya memakan mie ayamnya beberapa sendok saja seperti tidak sedang lapar terlebih seniornya ini hanya fokus menanyainya saja. "Kakak ngapain ke sini?" Hana berbalik bertanya pada Mukhlis sebelum ia di tanya kembali. Mukhlis tersenyum menanggapi pertanyaan wanitanya ini ternyata ia bisa bertanya tidak hanya terdiam kikuk saja, "Temu kangen sama guru biologi, saya kan Deket sama guru biologi," jawab Mukhlis. Hana seketika ingat dengan celotehan Rara yang dengan percaya diri mengatakan bahwa Kak Mukhlis ingin bertemu dengannya, "Kirain ketemu doi," celetuk Hana yang sepenuhnya candaan. "Iya nih sekalian ketemu calon istri," balas jujur Mukhlis dengan senyuman hangatnya. Hana mengira itu adalah benar benar celetukan seniornya yang menanggapi candaannya, mana ada siswi yang mampu memikat seniornya itu terlebih seniornya itu sudah terbilang sukses dengan usia yang masih muda tak mungkin ada yang memikat hatinya. Mangkuk mie ayam Hana menit demi menit telah habis di makannya begitu pun Mukhlis mangkuknya telah habis tak bersisa sedari tadi, ternyata Mukhlis adalah pemakan yang cepat berbeda dengan Hana jadi tak heran jika Hana terlihat sudah makan sejak dulu sebelum Mukhlis padahal dirinya yang di traktir. "Saya minta nomer kamu dong," pinta Mukhlis setelah menghabiskan makanannya sedangkan Hana melihat seniornya itu dengan diam bingung ingin menanggapi seperti apa. "i********: kamu off ya? Saya Dm gak di bales bales," lanjut Mukhlis sambil sibuk mengotak atik Handphone nya. "Ahh anu sebenernya masih on cuman aku kan lagi ujian jadi udah seminggu gak buka handphone nanti aku bales deh kak," balas Hana dengan jelas, mungkin karna jaket yang masih ada di rumahnya yang membuat seniornya ini susah susah mencarinya di i********:. "Nomer w******p nya sekalian biar lebih enak," pinta Mukhlis lagi sambil menyodorkan handphonenya sedangkan Hana menolaknya itu yang membuat Mukhlis kaget atas penolakan itu. Kok di tolak? Dia risih sama saya? Atau mungkin mau fokus ujian yaa. Bantin Mukhlis bertanya tanya atas penolakan Hana. "Aku udah punya nomer kakak dari guru bahasa Indonesia," ujar Hana jujur lalu mengeluarkan handphone nya dan memberi pesan melalui w******p untuk seniornya itu agar mudah tersimpan. Pantesan tadi guru Bahasa Indonesia nanyain jaket. Batin Mukhlis. Tingg!! Notifikasi dari handphone Mukhlis bergetar memberi tanda pesan masuk lalu dengan sigap Mukhlis menyimpan nomer itu dengan nama 'Istriku', untung saja Hana tidak melihatnya jika tidak ia akan curiga. Mukhlis tersenyum hangat, "Sudah saya simpan, terimakasih ya," ujar Mukhlis mengucapkan terimakasih pada wanitanya itu. "Habis ini kamu mau pulang ya?" Tebak Mukhlis karna ia sudah pernah merasakan sekolah tentunya ia sudah tahu jika sedang ujian praktek pulang akan lebih awal dari Biasanya. "Iya kak," jawab Hana lalu memasukan handphone nya dalam saku roknya. "Pulang sendiri atau di jemput?" Tanya Mukhlis yang berharap ada kesempatan untuk dirinya mengantar pulang gadisnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD