EPS 8 - Satu Mobil

1054 Words
"Habis ini kamu mau pulang ya?" Tebak Mukhlis karna ia sudah pernah merasakan sekolah tentunya ia sudah tahu jika sedang ujian praktek pulang akan lebih awal dari Biasanya. "Iya kak," jawab Hana lalu memasukan handphone nya dalam saku roknya. "Pulang sendiri atau di jemput?" Tanya Mukhlis yang berharap ada kesempatan untuk dirinya mengantar pulang gadisnya itu. "Sendiri," jawab Hana lalu mengeluarkan handphone nya lagi teringat ia harus cepat cepat memesan ojek online karna akan lama menunggu jika tidak cepat. "Pulang sama saya ya," ajak Mukhlis dengan hati yang senang akhirnya modusnya bisa berjalan hingga mengantarnya pulang. Seketika gerakan Hana yang tadinya sudah mengklik aplikasi ojek online terhenti, "Gimana kak?" Tanya Hana yang memastikan jika ia tak salah dengar. "Iya, kamu pulang sama saya. Saya antar sampai rumah," jawab Mukhlis dengan lengkap. Hana berpikir sejenak mungkin saja hanya karna jaketnya, "Iya kak, jaketnya nanti sekalian aku kembalikan," ujar Hana lalu memasukan Handphone nya ke saku seragam nya lagi. Dia pasti masih mengira karna jaket. Batin Mukhlis. "Iya, yaudah ayo mobil saya ada di parkiran depan gedung Tk," ajak Mukhlis mendahului langkah Hana sedangkan Hana hanya menurut mengikuti langkah seniornya itu, lumayan hemat uang jajannya selagi dapat tumpangan gratis. Walaupun tatapan siswa siswi yang hilir mudik menghujani dengan tatapan tajam, Hana tak memedulikan nya selagi mata miliknya, tangan miliknya, dan tubuh miliknya untuk apa ia takut akan hall itu. Hana bisa melihatnya jika teman angkatan nya memang sudah mengupingnya sedari ia makan dengan Kak Mukhlis. Sekolahnya memang seperti sebuah yayasan, semua tingkatan ada Playground, Taman kanak kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perkuliahan pun ada di sekolahnya itu, tak heran jika sekolahnya termasuk nominasi sekolah internasional. Langkah Hana terhenti di depan mobil yang terbilang cukup mewah, mobil Hana saja sepertinya tidak semewah ini. Hana bisa melihatnya dari Merk mobil yang cukup terbilang dari kalangan atas tak heran jika gurunya memanggil Mukhlis sebagai motivator agar teman temannya termotivasi dengan seniornya ini lihat saja mobilnya saja dari kalangan atas. Mukhlis membuka pintu mobilnya, "Ayo, Masuk," ajak mukhlis pada Hana yang terdiam menatapi mobil seniornya itu. "I-iya kak," jawab Hana terbata bata karna malu terlihat sedang menatap kosong. Tak lama Hana masuk kedalam mobil milik seniornya itu dan Mukhlis melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Hana. Mukhlis berharap ini adalah perjalanan yang panjang. "Kamu abis ini mau lanjut kemana?" Tanya Mukhlis sambil mengendarai mobil menghilangkan keheningan yang ada sekaligus menanyai Hana perihal apa yang ia inginkan kedepannya. "Mmmmm mau nya sih ke Universitas X, ikut aja deh dapet nya apa itu kan sesuai ridhonya Allah juga," jawab Hana yang sepertinya sangat dalam memahami agamanya mirip seperti dirinya bedanya Mukhlis dalam hingga mengikuti politiknya, Hana tidak. "Kalo gak dapet? Mau dimana?" Tanya Mukhlis lagi yang tak ingin waktu berharga ini tersia sia kan dengan keheningan. "Paling kalau gak dapet di Universitas X ya mau gak mau harus di Universitas Y kak, tapi katanya kakak saya malah lebih bagus kak disana gurunya guru dari universitas X," jawab Hana yang sepertinya sudah siap dengan pilihannya. "Ohhh kamu punya kakak yaa," ujar Mukhlis menanggapi Hana sambil dengan sibuk mengendarai mobilnya. "Iya kak," balas Hana sambil sesekali melihat wajah Mukhlis yang sangat fokus dengan arah jalannya. Mobil terhenti karna berada di lampu merah per empataan dengan durasi waktu yang lumayan lama 2 menit di lampu merah. "Kakanya cewe atau cowo?" Tanya Mukhlis yang kini matanya menatap ke arah Hana melihat wajah cantik itu yang kini juga menatapnya. Degh Sedangkan Hana merasakan jantungnya sedang terpompa kencang, tunggu perasaan apa ini. Hening. Mukhlis tersenyum tipis dengan keduanya masih saling menatap, "kakaknya cewe atau cowo Hana?" Tanya Mukhlis lagi yang sepertinya belum mendapatkan jawaban dari wanita itu. Hana membuang wajahnya menatap ke arah lain, "Em co-cowo kak," jawab Hana dengan terbata bata. Rasanya seperti sedang tertangkap basah sedang menatapnya. Tiba tiba saja tubuh Mukhlis mendekat ke arah Hana, snagat dekat mungkin kali ini menempel. Hana bisa merasakan nafas seniornya ini. Ada apa dengan seniornya ini? Mengapa terlalu dekat. Degh "Ma- mau ngapain kak?" Tanya Hana yang malu karna terlalu dekat terlebih lagi di dalam agamanya itu terkesan tidak baik dan bahkan haram hukumnya. Mukhlis tersenyum tipis lalu tangannya sibuk megambil seatbelt yang ternyata Hana belum pasang sedari berangkat. Ohhh ya tuhan yang benar saja Hana lupa memang biasanya Hana duduk di belakang karna di antar jemput supirnya jadi tidak perlu memakai seatbelt. "Pasang seatbelt doang kok, emang mau ngapain? Cium kamu?" Jawab Mukhlis dengan candanya. Pipi Hana kini merona karna malu, harusnya tadi Hana pasang saja sejak berangkat jika begitu Hana tidak perlu menahan malu seperti ini. Lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah silih waktu berganti hijau kemudian Mukhlis melanjutkan perjalanan nya, menginjak gas, melajukan mobilnya. Sedangkan Hana masih dengan pipi merah merona menahan malu. "Belok kanan kak," ujar Hana memberi perintah jalan ke arah rumahnya. Kemudiam Mukhlis memutarkan setirnya ke arah kanan mengikuti arahan Hana. Tak selang waktu lama mobilnya mendarat selamat di depan gerbang rumah Hana, "Bentar kak aku ambilin jaketnya." Jaket lagi. Batin Mukhlis. "Jangan lupa bales Chat aku yaa," balas Mukhlis tanpa menanggapi yang di ucapkan Hana yaitu jaket. Hana keluar dari mobil Mukhlis lalu berlari kecil ke arah pagar rumahnya, "iya kak aku pasti bales kok, tunggu ya aku ambil jaketnya." ucap Hana lalu menghilang di balik pagar sedangkan Mukhlis yang tak mau jaketnya kembali karna nantinyabia tak punya alasan lagi ia pun memutuskan melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Hana. Jaket? Hahahha jaket. Batin Mukhlis dengan senyum kecilnya. *°*°*°*°* Hana keluar dari rumahnya dengan membawa sebuah jaket berwarna hitam yanv terlammpir di sisi lengan tangannya, "Ini Kak— eh kok ilang," ujar Hana yang merasa kaget karna tidak tampak mobil Mukhlis maupun sosoknya karna penasaran ia pun sedikit keluar ke jalan depan rumahnya sambil memutarkan kepalanya ke arah kanan dan kiri melihat ke ujung jalan rumahnya berpikir mungkin saja seniornya itu memarkirkan mobilnya di sisi jalan. Tetapi tetap saja tak tampak batang hidungnya dan bahkan wujud mobilnya. "Huh! Dari kemarin gitu deh suka ngilang kayak hantu aja," gerutu Hana kemudian kembali masuk kerumahnya, merebahkan tubuhnya yang sudah lelah dengan hari ini di kasurnya tak lupa membersihkan diri dan mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih santai. Besok mungkin gue bawa terus aja nih jaket biar kalo ketemu gak ribet kayak gini lagi. Batin Hana. *°*°*°*°*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD