Bareng Lagi

1075 Words
Langit sudah berubah warna menjadi senja. Hari itu terasa sekali sangat panas, Alya menuruni anak tangga rumahnya untuk membuat es teh manis. Sepertinya akan terasa segar, di bawah cuaca yang panas seperti ini, dia membuat es teh manis. Sambil mengikat rambutnya, Alya berjalan menuju dapur. Mengambil gelas favoritnya dan juga teh celup. Sebelah tangannya menuju dispenser panas, untuk melarutkan gula dan juga teh celupnya. Tidak lama terdengar suara pintu kamar ibunya seperti terbuka. Benar saja ternyata ibunya berjalan menuju dapur menghampiri Alya. "Lagi apa kamu Al?" "Bikin es teh manis, mama mau? Panas banget soalnya hari ini!" tawar Alya. "Boleh deh, mamah juga ngerasa haus sama panas banget hari ini." Alya menganggukan kepalanya, dia mengambil kembali gelas untuk ibunya. "Al..." "Apa mah? Es teh manisnya belum selesai!" ucap Alya. "Bukan itu Al, mama mau bicara yang lain!" Seketika saat Alya sedang mengaduk gula di dalam gelas dengan sendok, gerakannya menjadi memelan. "Mama mau ngomong apa?" Perasaan Alya sudah tidak enak saat ibunya ingin mengobrol tentang hal lain. Apa ini tentang jodoh lagi? Sebenarnya Alya juga sama seperti Rangga, sama-sama muak dengan ibunya yang terus menuntut untuk segera menikah. Padahal ini sudah tahun 2026 di mana teknologi sudah sangat maju, menikah muda sudahlah bukan prioritas, yang terpenting dalam hidup adalah bisa menghasilkan uang, di tengah kehidupan yang keras seperti ini. "Begini, tiba-tiba aja mama kepikiran sama kalian." Sebelah alis Alya naik ke atas, bingung dengan kata-kata kalian? Ia segera menoleh ke arah ibunya sambil membawa es batu yang ada di dalam kulkas. "Kalian? Maksud mama siapa?" tanya Alya dengan perasaan sudah tidak enak. "Kamu sama Rangga, siapa lagi?" ucap Maya sambil duduk di pantry. Alya semakin bingung dengan ucapan ibunya, memangnya ada apa aku dengan Rangga sampai ibunya terpikirkan. Alya sudah selesai membuat es teh manisnya, ia berjalan menuju meja pantry dengan membawa dua gelas berisikan es teh manis, untuknya dan juga ibunya. "Nih mah!" Alya duduk berhadapan dengan ibunya sambil mulai menyeruput minumannya. "Memangnya aku sama Rangga kenapa mah?" tanya Alya. "Kalian kan udah kenal dari sejak kecil, emangnya kamu gak pernah ngerasa ada rasa gitu sama Rangga?" tanya Maya, dengan tatapan penuh menyelidik. Alya menautkan ke dua alisnya melihat sikap ibunya. Tumben sekali ibunya seperti ini, sejak bertahun-tahun baru kali ini dia bertanya tentang perasaannya pada Rangga. Alya sedikit ternganga mendengarnya, "Hah maksud mama apa? Aku suka sama Rangga gitu?" tanya Alya penuh keterkejutan. Maya menganggukkan kepalanya, "Iya, emang kamu nggak punya perasaan sama Rangga? Memangnya bisa cowok sama cewek bersahabatan tanpa perasaan?" SKAKMAT! Alya terdiam sejenak, mana mungkin dia jujur kepada ibunya. Kalau dia pernah memiliki rasa sama Rangga. Tapi karena sikap Rangga yang seperti itu, pada akhirnya Alya menguburkan perasaannya sendiri. Dan selalu berusaha untuk bersikap biasa di depan Rangga. Alya segera menggelengkan kepalanya, sambil meneguk kembali minuman di depan. "Aku nggak punya perasaan sama bocah tengil itu! Dia benar-benar merepotkan!" ucapnya. "Kok mama nanya kayak gitu sih?" "Merepotkan gimana maksud kamu? Ya nggak kenapa-napa sih, cuman tiba-tiba kepikiran aja. Terus kemarin juga Rangga celetuk aja, kenapa nggak jodohin dia sama kamu!" ucap Maya. Alya memutar bola matanya jengah, "Astaga mah, jangan dengerin dia ngomong. Dia kan emang orangnya begitu! Malah disangkanya beneran lagi!" "Bukannya gitu Al, Iya kan siapa tahu. Soalnya kalian sama-sama jomblo, Ya udah saling sama tahu lah. Kalau jodoh kan nggak ada yang tahu, siapa tahu ternyata kamu jodohnya Rangga!" Alya langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak ada ya, mending Alya nggak nikah dari pada harus sama Rangga!" ucap Alya langsung beranjak dari tempat duduknya. "Eh Al kamu mau ke mana?" tanya Maya. "Ke atas, males di sini!" papar Alya yang sudah mulai menaiki anak tangga rumahnya. Maya hanya bisa membuang napasnya pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan. --- BRUKK "Awh..." Alya membuka matanya saat dirinya terjatuh dari tempat tidur. Untung saja tempat tidurnya tidak tinggi. Ya, Alya lebih suka kasurnya tidak memakai tempat kasur yang tinggi. Dia lebih suka tempat tidurnya pendek, terlihat begitu simpel dan terlihat luas untuk kamarnya. Alya mengusap-ngusap keningnya yang terbentur lantai. Ini bukanlah pertama kalinya bagi Alya jatuh dari tempat tidurnya. Ia mulai beranjak dari tempatnya sambil meringis. "Kebiasaan banget ya lu, jatuh dari tempat tidur! Gak bisa apa tidurnya lebih anggun?" Alya langsung membuka matanya lebar-lebar saat mendengar suara Rangga. Benar saja Rangga kini sudah ada di hadapannya dengan setelan kantor yang sudah rapih "Angga ngapain lu udah di sini pagi-pagi?" tanya Alya heran. "Pagi-pagi mata lu! Noh liat udah jam setengah tujuh, lu mau berangkat ke kantor jam berapa?" tanya Rangga. Alya semakin terkejut mendengar jam yang di sebutkan oleh Rangga. "Hah apa jam setengah tujuh?" Alya langsung menoleh ke arah jam dinding kamarnya. Benar saja jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, Alya segera bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Rangga menghela napasnya panjang, melihat kelakuan sahabatnya. "Al, gua tunggu di bawah ya..." teriak Rangga yang tidak di gubris oleh Alya. Butuh waktu 10 menit Alya berganti pakaian dan bersiap-siap. Kini dia segera menuruni anak tangga rumahnya. Dia masih melihat Rangga yang tampak tenang duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi. "Lu udah siap?" tanya Rangga. Alya menautkan ke dua alisnya heran, "Lu ngapain masih di sini? Bukannya berangan ke kantor?" "Nungguin lo lah, ngapain lagi?" balas Rangga sambil beranjak dari tempat duduknya dan menyugarkan rambutnya ke belakang. Seketika Alya terpesona dengan ketampanan Rangga. "Yuk berangkat, lu gak usah gitu liat guanya, gua tau kok kalau gua cakep!" Kekeh Rangga sambil berpamitan pada tante Maya. "Tante, Angga sama Alya pergi ke kantor dulu ya..." teriak Rangga membuat Tante Maya segera datang ke ruang tamu. "Kalian udah mau berangkat? Ya udah hati-hati ya..." Alya masih bingung dengan drama pagi ini, kalian? Maksudnya apa? "Ok tante, Assalamualaikum..." Rangga langsung menarik tangan Alya keluar dari rumahnya, menuju halaman. "Ga, apa sih? Lu mau ngapain?" "Kita ke kantor bareng!" jawab Rangga yang langsung memasangkan helm pada Alya. "Bareng? Lu gila apa? Kantor kita tuh gak searah, jaraknya aja jauh banget! Nanti lu kesiangan kalau nganter gua!" tolak Alya. Rangga membuang napasnya kasar. "Biar gak kesiangan, makanya lu cepet naik. Jangan banyak ngoceh buruan Alyana Saseno Putri!" titah Rangga dengan tatapan tegas. Setelah di tatap seperti itu, Alya pasti tidak bisa menolaknya. Dia akan mendadak patuh dengan Rangga. Pada akhirnya Alya pun langsung naik ke motor Rangga, dengan mencuatkan bibirnya ke depan. "Nah anak pinter, pegangan yang bener!" "Udah!" Alya hanya memegang ujung baju Rangga, detik itu juga Rangga langsung menarik tangan Alya agar memeluknya. "Megang yang bener, gua bakal ngebut soalnya! Dah, let's go!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD