Nikah Kontrak Aja

1335 Words
Rangga merasa dirinya benar-benar terancam, setelah ucapannya semalam pada ibunya yang bilang, kalau dirinya sudah memiliki calon. Kini Rangga menunggu Alya di taman komplek rumah mereka, sekalian lari pagi. Tetapi, sudah jam 07.00 pagi, Alya tidak kunjung datang. Rangga sudah mondar mandir seperti setrikaan, perasaannya tidak karuan karena belum bertemu dengan Alya. Rangga meraih ponselnya, ia segera mencari nama Alya di atas layar ponselnya. Setelah menemukan nama Alya, Rangga segera menghubungi Alya. "Halo, Al lu di mana?" tanya Rangga. "Gua di belakang lu!" Rangga langsung membalikkan tubuhnya ke belakang. Benar saja ternyata Alya sudah ada di belakangnya dengan pakaian olahraga berwarna abu muda, yang tidak di sengaja warna itu senada dengan Rangga. "Lu lama amat sih, ngapain dulu sih?" tanya Rangga yang langsung mematikan ponselnya. Alya menautkan ke dua alisnya bingung. "Emangnya kenapa? Biasanya juga lu gak seribut ini kalau gua kesiangan." Rangga langsung menarik tangan Alya mengajaknya untuk duduk, di kursi taman komplek di sana. "Ini beda ceritanya, gua kena masalah baru!" ucap Rangga. Perasaan Alya sudah tidak enak, firasatnya mengatakan kalau dirinya akan di seret-seret oleh Rangga ke dalam masalahnya. "Apaan? Jangan bawa-bawa gua, males banget dari jaman Majapahit, tiap lu ada masalah pasti gua di bawa-bawa sama lu!" cibir Alya yang langsung memprotes sebelum Rangga memberi tahu masalahnya. Rangga memijat pelipisnya yang tidak gatal, dia jadi terdiam sejenak mencari kata-kata yang pas agar Alya tidak mengamuk saat di beritahu tentang ucapannya semalam pada ibunya. "Lu mau ngomong apa sih? Malah diem!" ucap Alya menatap curiga ke arah Rangga. "Lu jangan sewot gitu dong, kan gua jadi syok terapi!" pinta Rangga. "Gimana gak sewot gua, pasti ini masih tentang kemarin kan? Lu pengen minta gua jadi pacar lu lagi kan?" tuding Alya sambil menyipitkan matanya. Rangga langsung menapakkan gigi putihnya yang rapih pada Alya. "Lu emang cenayang yang hebat, bisa tahu aja masalah gua!" paparnya. Alya memutar bola matanya kesal, entah dia harus bersikap seperti apa pada Rangga yang tidak tahu diri. Sudah di tolak berkali-kali, tapi pria berkumis itu terus merengek meminta bantuannya. Sepertinya Rangga akan melakukan berbagai macam cara, untuk membuat Alya mengiyakan permintaannya sebagai kekasihnya agar lepas dari desakan ibunya. Rangga memegang ke dua bahu Alya agar menghadapnya. Alya memasang wajah malas, mau tidak mau harus menatap wajah menyebalkan sahabatnya ini. "Al, jadi semalam itu gua—" Rangga menceritakan kronologis tentang ucapannya pada ibunya semalam. "—Jadi please bantuin gua, setelah lepas dari rencana perjodohan ibu gue, lu boleh kok mutusin gue!" Alya membuang napasnya kasar. "Kalau gitu, gua mau putus sama lu dari sekarang! Udah ah jangan bawa-bawa gua ke masalah hidup lu! Bagian apes aja ke gua lu! Bagian lu seneng mana ada lu inget gua!" timpal Alya yang langsung beranjak dari tempat duduknya. Rangga panik dia langsung menyusul Alya yang sudah pergi dari sana. "Al, tunggu Al!" Alya yang sambil berlari pun, tetap tidak menggubris panggilan Rangga. Langkah Rangga yang lebar pun berhasil menyusul Alya yang sedang berlari. "Lu tega banget sih sama gua, kalau gitu bantuin gua cari solusinya dong!" pinta Rangga yang ikut berlari pagi. "Banyak banget solusinya, lu tinggal bayar cewe aja buat jadi pacar bayaran lu, selesaikan?" "Duh Al gak semudah itu astaga! Kan gua bilang kalau calon gua itu kenal sama nyokap gua!" papar Rangga mengingatkan Alya. Tatapan Alya fokus ke depan, sambil mengatur napasnya. "Kalua gitu cari temen cewe lu yang kenal sama nyokap lu, bayar dia terus bikin surat kontrak, bereskan?" "Ok, kalau gitu nanti gua buat. Terus lu tanda tangan? Ok?" Rangga menyentil kening Alya dan langsung kabur dari kejaran Alya. "Rangga sialan emang lo!!" --- "Eh ada nak Rangga," sapa bu Maya pada Rangga yang mengikuti Alya pulang ke rumahnya. "Halo Tante apa kabar?" Rangga mencium punggung tangan Maya menandakan hormat padanya. "Baik, kamu sendiri? Udah jarang banget dateng ke sini, sibuk ya sama pacar barunya?" goda Maya sambil terkekeh pelan. Rangga mengusap-ngusap tengkuk lehernya. Pacar dari mana? Yang ada Rangga sampai detik ini masih saja jomblo, malahan Alya-lah yang menjadi target Rangga untuk di jadikan pacar bohongannya. Jika Maya tahu, tentu saja akan marah, anaknya di jadikan tumbal agar selamat dari perjodohan. "Ah tante, kata siapa? Gak ko tan, Angga masih setia jomblo," jawabnya. Maya menyipitkan matanya curiga. "Masa sih? Tapi kata mama kamu, katanya udah punya calon dan mau di kenalin?" sambung Maya. Rangga langsung menoleh ke arah Alya, yang membulatkan matanya ke arah Rangga dengan tatapan mengintimidasi. Ternyata kabar burungnya sudah sampai ke telinga ibunya Alya, mulut emak-emak benar ras terkuat. "Ah, itu... Hmm gimana ya Tan, tunggu kelanjutannya aja deh Tan," kekeh Rangga. Alya mengambil dua botol air mineral dingin dan melangkahkan kakinya ke lantai atas. Melihat Alya yang akan meninggalkannya dengan ibunya, Rangga pun segera berpamitan pada Maya, untuk menyusul Alya. "Permisi tante, saya mau ikut Alya aja. Sebelum di interogasi lebih banyak!" ucap Rangga sambil cekikikan. "Ish kamu ini Angga gak berubah, udah cepet nikah sana kamu. Kasian kan mama kamu udah galau gitu, sekalian kalau kamu punya temen cowo kenalin ke Alya ya..." ucap Maya sambil melihat Rangga yang naik ke tangga rumahnya. "Siap tante, atau gimana kalau sama Angga aja?" canda Rangga saat berada di atas tangga. Maya ternganga mendengar ucapan Rangga, melihat ekspresi Maya yang seperti itu membuat Rangga langsung menarik ucapannya. "Bercanda tante, lagian mana mau si Alya sama Angga, di tolak mulu!" paparnya. "Udah ya tante, Angga ke atas dulu mau main game sama Alya!" Rangga pun langsung melanjutkan kembali langkahnya ke atas. Maya hanya menggelengkan kepalanya pelan. Namun, Maya menjadi kepikiran dengan ucapan Rangga. "Iya juga ya, merekakan sama-sama jomblo. Kenapa gak jadian aja?" Rangga mengatur napasnya, sambil memegang dadanya. Dia segara duduk di sofa yang tersedia. Di lantai atas menyediakan ruangan tv, hanya Alya yang menempatinya. Sedangkan ibunya menonton tv di lantai bawah. Rangga masih mengatur napas, sedangkan Alya baru keluar dari kamar sudah berganti pakaian, dengan pakaian rumah. Kaos polos dengan celana di atas lutut. Alya melihat Rangga yang sedang mengaturnya napasnya. "Lu kenapa? Kaya abis di tanya sama malaikat!" ujar Alya yang menyalakan tvnya. "Emang iya, nyokap lu tuh nanya ini itu sama gua!" paparnya. Alya menautkan ke dua alisnya. "Kok nyokap gua? Lu duluan yang ngomong ke nyokap lu, kaya yang gak tau aja mereka bestian kaya gimana?" "Iya juga sih! Pasti bakal langsung nyampe ke telinga nyokap lu!" "Nah itu lu tahu!" Alya mencari film untuk di tonton mereka berdua, sedangkan Rangga sibuk memesan makanan online untuk mereka berdua, ah tidak untuk ibu Alya juga calon mertua Rangga. "Ga, lu mau nonton film apa?" tanyanya. "Pengen nonton film si Devina yang baru itu loh, hot banget kayanya!" Wajah Rangga sudah seperti membayangkan aktris yang ingin dia tonton itu. "Davina astaga, keliatan banget lu cuman pengen nonton filmya. Bukan karena emang suka," papar Alya. Rangga tertawa mendengarnya. "Nah itu maksud gua, soalnya kata temen-temen gua , menggugah selera!" ucapnya. "Nonton sono sama temen lu, ogah gua nonton sama lu! Kita nonton film horor aja, gak ada protes!" ucap Alya sambil menoyorkan kepala Rangga. "Ah gak asik lu! Ya udah deh terserah lu aja udah! Gua ngikut aja!" Alya menganggukan kepalanya, ia beranjak dari tempat duduknya dan menutup gordeng agar tampak lebih gelap. Saat mereka sedang asyik menonton film, Rangga menoleh ke arah Alya. Dia melihat Alya dari atas sampai bawah. "Ternyata dia cantik juga, kenapa gua baru sadar ya!" batinnya. Merasa di lihat oleh Rangga, Alya langsung menoleh ke arahnya. "Ngapain lu lihat-lihat gua?" "Lu kalau di lihat-lihat cantik juga ya!" "Baru tau lu!" Rangga menganggukan kepalanya. "Iya, jadinya kan emang gak sia-sia gua mau di jodohin sama lu!" Alya langsung menoleh ke arah Rangga dengan tatapan tajam. "Maksud lu apa?" "Tadi gua ngomong ke nyokap lu, kan katanya lu jomblo. Nah nyokap lu minta di cariin buat lu, ya udah gua ngomong aja kaya gini!" Rangga terdiam sejenak melihat ekspresi Alya yang sedang menunggu jawabannya. "Ngomong apaan? Jangan di potong-potong kaya gitu Angga!" kesal Alya. Rangga terkekeh pelan, "Penasaran ya?" Alya langsung mencubit perut Rangga. "Awh iya, iya gua ngomong. Gua bilang kenapa gak sama gua aja nikahnya!" "ANGGA!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD