Pacaran yuk!

1166 Words
"Al pacaran yuk!" Sebuah semburan air, langsung mendarat pada pria berumur 28 tahun, yang sedang duduk manis sambil memegang sendok yang berisi makanan miliknya. "Kalau lu gak mau, gak usah sembur gua juga kali Al!" Rangga Kaiden Juanda—pria mapan dan juga tampan sampai detik ini belum saja menikah, dan sedang di hantui oleh perjodohan yang ibunya buat. "Lu gila apa?" balas Alyana Saseno Putri, gadis berumur 28 tahun, dengan nasib yang sama belum juga menikah atau memiliki calon. "Gua gak gila, lu tau kan gua gak mau di jodohin!" timpal Rangga sambil mengusap wajahnya dengan tisu yang Alya berikan. "Sekali lagi gak usah sembur gua Al!" lanjutnya dengan penuh penekanan. "Sorry, gua gak sengaja. Abisnya gua kaget tiba-tiba banget lu ngajak gua pacaran. Sorry ya gua gak mau terlibat sama urusan hidup lu. Hidup gua aja udah ribet, gak mau gua nambah beban hidup," tolak Alyana atau lebih akrab di panggil Alya. Rangga melengkungkan bibir bawahnya kecewa mendengar ucapan Alya yang menolaknya. "Al, please tolongin gua kali ini. Gua gak mau di jodohin mulu sama nyokap gua!" rengek Rangga sambil menggenggam tangan Alya dengan tatapan memohon. Alya mendesah kasar, bisa-bisanya Rangga sahabatnya menjadikan dia kambing hitam untuk menyelamatkan dirinya dari perjodohan. "Gak ya, gua gak mau nolongin lu. Sama aja gua masuk ke lubang buaya kalau gua mau pura-pura jadi pacar lu!" cibir Alya yang masih tetap memasukkan makanannya. Rangga membuang napasnya kasar, pasalnya dia sudah bingung mencari alasan apa lagi pada ibunya, yang hobi sekali menjodohkan dirinya dengan anak teman-temannya. Tidak tahu saja, kalau Rangga itu sebenarnya belum move on sama kekasihnya yang dulu pergi meninggalkannya tanpa alasan. Padahal Alya sudah mencoba untuk menyadarkannya, kalau mantan kekasih Rangga itu tidak akan kembali. Dia sudah pergi meninggalkan Rangga selama tiga tahun lamanya tanpa kabar. Sedangkan keberadaan orang tuanya saja, tidak Rangga temukan sejak saat itu. Jangan tanya, bagaimana tanggapan dari ibunya Rangga. Tentu saja murka, karena mereka akan melaksanakan acara tunangan yang tiba-tiba saja harus di batalkan begitu saja. Dari sanalah ibunya Rangga—tante Amina tidak percaya lagi sama Rangga. Dan sialnya, itu terjadi pada Rangga setiap kali dia memiliki pacar yang benar-benar Rangga cintai. Alya adalah saksi hidup cinta Rangga. Di mana Rangga pasti akan merengek pada Alya jika cintanya kandas, dan Alya gadis yang harus menemani hari-hari Rangga saat hatinya di sakiti. Begitu miris nasib Alya sebenarnya. Sedangkan Rangga di saat Alya tersakiti, pria itu hanya menghiburnya, jika dia sempat. Sama sekali tidak menyempatkan seperti Alya. Tetapi, itulah persahabatan mereka yang sampai saat ini terus langgeng seperti air sungai yang mengalir tenang. "Al, gua juga tahu kok. Sebenernya lu juga di tuntut kan sama nyokap lu buat cepet nikah?" tuding Rangga. "Jangan sok tahu lu!" balas Alya kesal. "Gua bukannya sok tau! Lu tahu kan nyokap kita bestian? Nah mereka tuh saling curhat di rumah gua, gak sengaja aja gua denger, nyokap lu mau jodohin sama anak temennya yang umurnya 10 tahun lebih tua dari lu, dan dia duda anak lima!" ucap Rangga yang sedang membohongi Alya. Berharap sahabatnya itu ketakutan dan menerima saran dari Rangga untuk menjadi kekasihnya. "Emangnya lu mau?" sambung Rangga tang terus memanasi Alya. Alya menautkan ke dua alisnya, sebenarnya dia kurang percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Tapi kenapa wajahnya begitu meyakinkan? "Masa sih? Duda lima anak? Kalau satu sih gak masalah!" timpal Alya membuat mata Rangga melebar. "Hah emang lu mau nikah sama duda tua? Anjir kalau gua sih jadi lu ogah ya. Mending gua nyari yang masih fresh, contohnya kaya gua!" tunjuk Rangga pada dirinya sendiri. Alya memutar bola matanya jengah, dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang di ucapkan Rangga, selama dia belum merasakannya langsung. Ya, Alya kurang percaya pada Rangga karena entah berapa kali juga dia sering di bohongi oleh Rangga. Jadi, sejak itu Alya tidak percaya dengan Rangga, lebih tepatnya kurang percaya. "Yang fresh juga belum tentu menjamin membahagiakan. Buktinya lo!" tuding Alya. Rangga mengernyitkan keningnya heran. "Kok gua sih?" protesnya tidak terima. "Iyalah lu, buktinya lu mau jadiin gua korban lu kan? Agar lu terselamatkan dari perjodohan, nah itu aja baru jadi permulaan kalau niat lu itu jelek!" papar Alya. Rangga tidak terima dengan pernyataan Alya tentang dirinya. Maksud Rangga toh ini juga menguntungkan baginya. "Gua gak gitu Al, ini kan menyelamatkan lu juga dari perangkap duda, win win solution!" "Bagi lu, gak bagi gua!" ucap Alya yang langsung menyeruput minumannya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya. "Al, lu mau ke mana? Jangan tinggalin gua dong!" "Lama lu!" --- Langkah Rangga terdengar begitu mengendap-ngendap. Ia sengaja memilih pulang larut malam ke rumahnya, tentu saja untuk menghindari ibunya yang sejak dua hari yang lalu sudah mewanti-wanti dirinya untuk datang ke acara ibunya bertemu dengan teman lamanya. Tentu saja, untuk menjodohkan kembali Rangga. Ibunya Amina benar-benar pantang menyerah, dia melakukan berbagai macam cara untuk membuat anaknya untuk menikah, dengan pilihannya. Rangga benar-benar melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Ia tidak Bertemu dengan ibunya, di tambah ini sudah larut malam sekali. Rangga ingin menghindari ocehan ibunya, yang lambat laun bisa menggangu pendengarnya. Saat Rangga sudah memasuki ruang tengah, tiba-tiba saja lampu rumah mendadak menyala, membuat ruang tengah tidak lagi minim pencahayaan. Mata Rangga terkejut, saat melihat ibunya kini tengah terduduk di atas sofa. Sambil melipatkan ke dua tangannya di depan dadanya. Tatapannya begitu tajam ke arah Rangga. "Mamah? Belum tidur?" ucap Rangga sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Niat ingin menghindar dari ibunya, tapi ternyata gagal. "Dari mana saja kamu? Jam segini baru pulang?" tanya Amina dengan penuh penekanan dan tatapan curiga. "Biasa mah habis lembur banyak kerjaan!" ucapnya. "Jangan bohong kamu, tadi mama telpon ke kantor kamu. Kalau kamu udah pulang dari jam lima sore, sedangkan ini jam 22.00 malam. Dari mana kamu hah?" tanya Amina lagi, kali ini Amina beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan berjalan ke hadapan Rangga. Mata Rangga melihat ke kanan dan ke kiri, otaknya sedang berpikir untuk mencari alasan pada ibunya. "Eungh! Itu aku ada kerjaan lain, di luar mah. Aku ketemu klien!" jawab Rangga. "Udah ah mah aku cape! Terserah mamah mau percaya apa gak juga!" lanjut Rangga sambil berjalan menghindari ibunya. "Rangga kamu mau ke mana? Tunggu mama belum selesai bicara!" Amina berjalan menyusul Rangga dan menggenggam tangan anaknya. "Apa lagi sih mah? Aku cape tahu, pengen istirahat!" pinta Rangga dengan wajah sedikit kesal. "Sebentar doang, lusa kamu harus ikut mama ya. Tidak ada boleh penolakan, pokoknya kali ini kamu harus terima gadis yang akan mamah jodohkan!" pinta Amina. Rangga langsung menatap ke arah Amina. Lagi-lagi soal perjodohan itu. Wajah Rangga terlihat begitu kesal, dia benar-benar sangat lelah menuruti permintaan ibunya. "Mah kenapa sih, selalu jodohin aku? Aku tuh udah gede mah, gak usah di jodohin lagi! Aku bisa pilih sendiri wanita yang nyaman buat aku jadiin istri!" tolak Rangga pada permintaan ibunya. "Udah jangan membantah! Pokonya kamu harus—" "Gak mah, untuk kali ini aku gak bisa. Aku lagi menjalin hubungan sama seseorang, dan mamah juga kenal wanita itu!" ucap Rangga yang langsung pergi meninggalkan Amina. Amina sedikit terkejut dengan ucapan anaknya. "Hah? Gadis aku kenal?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD