Salah Paham

2217 Words
Di dalam sebuah ruangan, kini sudah berjajar beberapa wanita di hadapan Rangga, dengan berpakaian layaknya seorang sekretaris. Ada yang memakai pakaian ketat, dan wajahnya yang sedikit menggoda ke arah Rangga. Bukannya tergoda, justru Rangga merasa mual, asam lambungnya tiba-tiba naik ke ulu hati, saat digoda oleh wanita. Sempat ada beberapa rumor, yang menggosipkan kalau Rangga itu menyukai Dani. Karena mereka selalu bersama kemana-mana, Rangga tidak menggubris rumor itu, tetapi kalau boleh jujur Dani merasa risih. Apalagi kalau mereka jalan berdua di lobi, semua tatapan karyawan tertuju pada mereka. Dan kadang sialnya, Rangga justru sengaja lebih mendekat ke Dani, membuat Dani sangat geram pada tingkah Rangga. Dan itu pun menjadi sebuah alasan, Amina yang sangat gencar mencarikan jodoh untuk Rangga. Tetapi alhasil Rangga selalu menolak perjodohan itu. Rangga mendengus kesal, saat wawancara berlangsung secara pribadi, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Sialnya beberapa dari kandidat terang-terangan menggoda Rangga, dan menawarkan servis satu malam. Tentu saja detik itu juga Rangga langsung menolaknya, yang ada Rangga merasa jijik, melihat saat wanita itu sedikit memamerkan d**a yang sedikit menyembul keluar. Rangga pun sebenarnya heran pada dirinya sendiri, bukannya tergoda tapi malah merasa jijik melihat wanita yang suka menggodanya. Ia membuang nafasnya kasar, setelah menolak mentah-mentah, Dani masuk ke dalam. "Lu ngapain anak orang sampai nangis kayak gitu?" tanya Dani setelah masuk ke dalam ruangan. Sebelah alis Rangga terangkat, saat Dani menghampirinya. Dengan santai Rangga hanya menaikkan sebelah bahunya tidak tahu. "Lu mau sekretaris yang kayak gimana sih, Udah 10 sekretaris yang lu tolak hari ini!" cibirnya. "Gua mau sekretaris yang normal, mereka semua hampir menggoda gua. Lu kira gue cowok gampangan apa, gua kan gak kaya lo!" ledek Rangga. "Nggak usah bawa-bawa gua! Ya kan mereka kayak gitu biar diterima sama lo!" "Justru bakalan ditolak sama gue! Lu cari sekretaris yang normal aja bisa nggak sih? Dari banyaknya wanita memang nggak ada yang normal?" Dani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya tidak sulit permintaan dari Rangga. Justru di mana rata-rata bosnya ingin mendapatkan sekretaris yang gatal, hanya Rangga-lah yang ingin mendapatkan sekretaris yang normal. "Kalau gitu nanti gua udah aturannya deh, harus memakai pakaian yang tertutup, dan tidak boleh menggoda! Pemilik perusahaan alergi perempuan!" tawa Dani. "Sialan lu, malah nambah rumor yang nggak bener!" seru Rangga. "Udahlah gua males pake sekretaris lagian ada lo yang atur jadwal gue!" sambung Rangga yang bangkit dari tempat duduknya. Dani mengerjapkan matanya, "Lu mau ke mana?" "Mending gua kerja aja lah, daripada gua ngadepin para siluman itu!" papar Rangga yang pergi meninggalkan Dani. "Siluman dia bilang astaga! Tuh orang emang kelainan kayanya ya!" gumam Dani. "Ngga tunggu, masih ada beberapa lagi!" Namun Rangga tidak menggubris ucapan dari Dani, saat dia keluar ruangan. Ternyata masih ada beberapa yang duduk di kursi menunggu panggilan. Rangga dengan wajah dinginnya, menatap mereka semua dari atas sampai bawah. Semua calon sekretaris Rangga mendadak tegang. Suasana pun terasa mencekam, seolah kalau Rangga itu adalah hakim, yang akan menjatuhkan hukuman. "Lebih baik kalian pulang, kalian ditolak!" ucapnya dengan tegas dan penuh kewibawaan. Dan semua ternganga, mendengar pernyataan Rangga, yang langsung pergi meninggalkan mereka semua. Dani yang melihat sikap Rangga pun, hanya bisa mengusap-usap d**a. Dia menoleh, pada calon sekretaris yang masih menunggu giliran. "Maaf ya, tapi kalian sebaiknya buang saja. Katanya lho sementara waktu tidak dibutuhkan sekretaris dulu!" Timpal Dani yang mendapatkan protes dari beberapa wanita tersebut. Kini Rangga sudah masuk ke dalam ruangannya, dia langsung membuka laptopnya, dan membuka beberapa email. Tiba-tiba saja dia kepikiran Alya, yang ketakutan jika dirinya akan di PHK. Rangga mengetuk-ngetuk mejanya dengan jari telunjuk, seolah Dia sedang merencanakan sesuatu untuk Alya. "Dia jadi di PHK nggak ya?" "Siapa yang di PHK?" Tiba-tiba saja Dani masuk ke ruangan Rangga, dan mendengar ucapan Rangga. "Lo!" "Pecat aja kalau lo berani, susah tahu cari yang kayak gue!" ucap Dani dengan bangga. Sebelah alis Rangga naik ke atas, sambil menatap remeh ke arah Dani. "Lu yakin banget sih kayak begitu?" "Yakinlah, gue udah bekerja bertahun-tahun sama lo ya. Gue juga kenal lo dari waktu masih zaman ingusan!" Rangga tertawa pelan mendengar ocehan Dani. "Iya, iya pokoknya lu the best deh!" paparnya. "Iya lah lu harus mengakui itu sekarang!" paparnya. "Iya, mereka udah pada pulang?" tanya Rangga. "Siapa? Calon-calon sekretaris lo itu?" Rangga menganggukkan kepalanya. "Udahlah mereka pulang, beberapa dari mereka protes ke gua. Dan gue lagi kan yang ngeberesin!" "Ya karena emang tugas lo itu kan, terus lu maunya kayak gimana?" ucap Rangga, sambil menopang wajahnya dengan sebelah tangan. "Gua mau cuti dulu lah Ngga, boleh kan?" tanya Dani dengan wajah yang memelas. Rangga langsung menegakkan tubuhnya, saat mendengar Dani akan mengambil cuti. "Lu mau cuti ngapain?" tanya Rangga. "Menghilangkan stres, gue juga pengen lah refreshing. Gue kan belum pernah ngambil cuti!" pinta Dani. "Lah terus gue gimana?" tanya Rangga. "Ya makanya, lu cari sekretaris sana. Jangan andalin gue doang, masih mending sekarang gua belum nikah, Gimana kalau nanti gue udah nikah. Bini gua lahiran masa gua kagak cuti?" papar Dani. Rangga mengusap wajahnya kasar, benar juga apa yang dikatakan Dani. Sebenarnya dia kasihan juga kepada sahabatnya itu. Dia jarang sekali mengambil cuti, dia orang yang paling selalu stand by di saat Rangga butuh. Berarti inilah saatnya untuk Rangga memberikan apresiasi kepada Dani. "Ok lu boleh cuti, dengan catatan hp lu tetep standby ya!" Dani mengerutkan alisnya, ingin sekali dia melayangkan protes. "Nanti gua kasih lu duit lembur lagi cuti mau?" Namun belum sempat Dani protes, Rangga sudah lebih dulu memotong percakapan mereka, yang membuat Dani pun tidak bisa menolak, karena ini berhubungan dengan uang. "Ok deal! Gue setuju, jangan kecil ya Lu ngasih ke guenya!" pinta Dani. Rangga berdecak kesal, "tergantung sesuai job lu!" papar Rangga. "Udah sana lu kerja lagi, infoin jadwal gue selama lu cuti!" pinta Rangga yang diangguki oleh Dani. "Btw lu cuti berapa lama?" "Satu minggu doang!" --- Jam sudah menunjukkan waktunya pulang, ponsel Alya tiba-tiba berbunyi, dia menoleh untuk melihat Siapa yang memberikan dia pesan. Berharap Rangga tapi ternyata bukan, ternyata Evan, pria yang tidak Alya harapkan. Alya membuang nafasnya kasar, bisa dilihat dari bubble chat yang muncul di layar ponselnya sebagian isi pesan Evan. Ternyata pria itu akan menjemputnya untuk pulang bersama. Alya tidak langsung membalas pesan dari Evan, dia mengabaikan pesan tersebut. Namun tidak lama ponsel Alya berbunyi kembali, Evan kembali mengirimkan pesan padanya. Dan kali ini langsung tiga pesan muncul di layar ponselnya. Dengan pesan terakhir bertuliskan, 'Jangan pernah menolak ajakanku, jika kamu tidak mau tahu akibatnya.' Alya menarik nafasnya dalam-dalam, mau tidak mau Alya pun membalas pesan dari Evan. Alya: ya. Evan: aku udah di depan kantor kamu. Alya: bentar masih ada kerjaan yang harus di beresin, kalau kelamaan lo boleh tinggalin gue. Evan: aku tunggu sayang. Membaca pesan terakhir dari Evan, Alya membuang napas kasar. Pada akhirnya dia memilih untuk berlama-lama di ruang kerjanya. Berharap Evan merasa bosan dan pergi meninggalkan Alya. Cukup lama Alya masih berada di ruang kerjanya, dia sengaja melihat dari jendela ruang kacanya. Benar saja Evan masih menunggunya di parkiran dengan setia. Alya hafal betul mobil yang selalu dipakai oleh Evan. Gadis itupun bingung harus melakukan apa untuk menghindari mantan kekasihnya itu. Tiba-tiba saja terdengar suara Fares. "Al ada yang nyariin lo tuh!" ucapnya. Alya menautkan kedua alisnya, "siapa?" Tiba-tiba saja Evan menampakan dirinya dari balik tubuh Fares. Detik itu juga tubuh Alya menegang, lihat senyum tipis Evan yang mengarahkan kepadanya. Fares menoleh ke arah Alya dan juga Evan, sebenarnya Fares bisa merasakan ada yang berbeda dari Alya, saat melihat pria yang ada di sebelahnya. Namun Fares tidak mau ikut campur, pada akhirnya dia pun berpamitan pulang lebih dulu dari Alya. "Al, gue balik duluan ya. Bye!" Fares menganggukkan kepalanya ke arah Evan menandakan sopan. Evan pun membalas anggukan dari Fares. Kini hanya ada Evan dan juga Alya di ruangan itu. Pria itu melangkahkan kakinya mendekati Alya. "Udah beres kerjanya?" tanya Evan dengan tatapan tajam. Alya menganggukkan kepalanya, terlihat sekali wajahnya begitu tegang. Sampai Evan pun berjalan mendekati Alya, tapi langkah Alya mundur ke belakang agar bisa menjauh dari Evan. "Kamu kenapa hmm?" tanya Evan, sambil mengusap pipi Alya dengan ke dua jarinya. Alya segera menggelengkan kepalanya, "gue gak apa-apa kok, sebentar gue beresin dulu meja kerja gue!" papar Alya yang langsung berjalan menuju meja kerjanya. Alya langsung membereskan barang-barangnya. Evan hanya berdiri tidak jauh darinya, melihat bagaimana sikap Alya saat membereskan barangnya. "Tenang aja sayang, aku nggak akan ngapa-ngapain kok!" ucap Evan. Alya menelan salivanya kasar, dia tidak menggubris ucapan Evan. Alya hanya fokus pada barang-barang yang akan dia masukkan ke dalam tasnya. Sudah semua selesai, Alya pun segera menoleh ke arah. "Udah?" tanya Evan. Alya hanya menganggukkan kepalanya, kini Evan berjalan mendekati Alya dan langsung menggenggam tangannya menariknya keluar dari sana. Sontak Alya langsung menepis tangan Evan. "Nggak usah pegang-pegang tangan gue!" Tolak Alya. Evan langsung menatapnya sinis, dia tidak suka jika Alya menolaknya. "Jangan membuat kesabaran saya habis, cepat ikut dengan saya!" paparnya. Evan kembali memegang tangan Alya dengan erat, hingga pergelangan tangan Alya sedikit sakit. "Evan lepasin nggak sakit tahu!" Evan menatap tajam ke arah Alya, "kamu bisa diem nggak sih, ikutin apa yang aku mau atau enggak!" "Iya, iya!" Pada akhirnya Alya tidak bisa melakukan apa-apa, karena dia akan di ancam oleh Evan akan mencelakai ibunya. Ini mereka melangkahkan kakinya menuju tempat parkir mobil Evan. Di saat yang bersamaan juga, ternyata Rangga berada di sana untuk menjemput Alya. Rangga cukup terkejut, saat melihat Alya yang berjalan bersama Evan, dan masuk ke dalam mobil Evan. "Alya pulang sama Evan?" Bukannya kemarin dia menolak mentah-mentah Evan? Kenapa sekarang dia berubah pikiran?" gumam Rangga. "Atau jangan-jangan!" Secara tidak langsung Rangga merasa kecewa dengan Alya, padahal dia sudah membela Alya demi melindunginya dari Evan. Tetapi sore ini dia melihat Alya bersama Evan masuk ke dalam mobilnya. Rangga yang merasa penasaran pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka. Rangga sedikit menjaga jarak agar tidak dicurigai oleh Evan. Hingga pada akhirnya mereka menuju ke sebuah cafe, Rangga tidak ikut masuk, dia hanya melihat mereka dari kejauhan. Terus memegang tangan Alya, dan gadis itu pun membiarkan tangannya digenggam oleh Evan. Melihat itupun Rangga hanya tersenyum miring, pada akhirnya Rangga memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka berdua. "Cih, yang katanya udah gak suka!" gumamnya. Rangga langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah kenapa dia merasakan emosi yang menggebu-gebu. Dia kasar kepada Alya kenapa bisa menerima Evan kembali. Padahal Alya tahu bagaimana sikap Evan. "Kenapa lu terima dia sih Al!" Di sisi lain Alya tidak memasang wajah ramah, dia benar-benar ingin melarikan diri dari Evan. Namun kali ini dia harus melakukan dramanya, agar membuat Evan percaya kepadanya. "Kamu mau pesan apa?" "Ini aja!" Tunjuk Alya pada sebuah gambar yang ada di buku menu. Evan menganggukkan kepalanya dan segera memesan makanan tersebut. Setelah memesan makanan, Evan duduk kembali dan berhadapan dengan Alya. "Gimana kerjaan kamu hari ini?" tanyanya. "Baik!" "Dari mulai sekarang kamu akan aku antar jemput ya!" Alya langsung mengerutkan keningnya, "ngapain lo antar jemput gue!" "Kamu itu calon istri aku Alya. Jadi saya berhak atas Kamu paham!" "Kalau gue nggak mau!" Evan memutar bola matanya, "kamu masih belum paham juga? Kalau kamu menolak permintaan saya, berarti kamu akan terima resikonya!" Alya mendesah kasar, di dalam pikirannya. Sepertinya dia harus meminta tolong kepada Rangga. Tidak lama pesanan mereka pun datang, Evan langsung menyuruh Alya segera memakan makanannya. "Makan dulu sayang!" Alya menarik nafasnya dalam-dalam, dan memasukkan makanannya ke dalam mulutnya. Setelah makan bersama dengan Evan selesai, Alya pun benar-benar diantar oleh Evan sampai rumahnya. Dan Evan sempat bertemu dengan Maya, ibu Alya. Evan benar-benar pria yang licik, saat bertemu dengan Maya dia memasang wajah yang sangat ramah. "Eh Evan, loh kalian?" Evan tertawa pelan, melihat keterkejutan Maya, melihat dirinya dengan Alya yang bersama lagi. "Iya tante, saya dan Alya mulai deket lagi!" ucap Evan dengan bangga. Namun tidak ada raut wajah senang dari Maya. Tetapi Maya, seolah memasang raut wajah heran pada Alya. Alya hanya memberikan isyarat kepada ibunya, untuk tetap diam tidak banyak berbicara. "Oh iya," jawab Maya singkat. Maya tidak mempersilahkan Evan masuk ke dalam rumahnya. Karena dia ingin segera bertanya kepada Alya. Untung saja Evan tidak ingin mampir terlebih dulu. "Kalau gitu Evan pulang dulu ya Tante!" "Oh iya Van, hati-hati ya. Udah nganterin Alya!" "Iya sama-sama tante." Evan pun segera pergi meninggalkan rumah Alya. Dan detik itu juga Maya langsung berjalan menghampiri Alya. "Al, kamu balikan lagi sama Evan?" Alya terdiam sejenak dia bingung ingin menjawab pertanyaan dari Maya. Namun sebelum menjawab, Maya sudah memberikan pertanyaan lagi kepada Alya. "Bukannya kamu benci banget sama si Evan? Terus kenapa? Apa kamu masih cinta?" Alya malas sekali untuk menjawab pertanyaan dari ibunya, akhirnya dia memilih untuk berjalan menuju kamar. "Nanti lagi deh Mah ngobrolnya, aku cape!" Alya langsung berjalan menuju kamar nya yang ada di atas. Sesampainya di dalam kamar Alya langsung mengambil ponselnya, dan mencoba untuk menghubungi Rangga. Tetapi Rangga tidak mengangkat telepon dari Alya. Dia pikir mungkin Rangga masih sibuk, sehingga tidak bisa mengangkat telepon darinya. Pada akhirnya Alya pun mengirimkan pesan kepada Rangga, yang isinya. Alya: Ngga lu sibuk gak? Tanpa ragu, Alya pun langsung mengirimkan pesan itu kepada Rangga. Sambil menunggu jawaban dari Rangga, Alya pun memutuskan untuk membersihkan dirinya. Cukup lama Alya membersihkan dirinya, Alya Alya sudah selesai. Dia segera meraih ponselnya berharap Rangga sudah membaca pesannya. Tapi tidak ada balasan dari Rangga, tetapi pria itu bisa membuat story di aplikasi hijau. Alya pun merasa aneh dengan sikap Rangga. "Dia mengabaikan pesan gua?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD